perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan harapan
Tak lama setelah itu, Aku melihat Mas Rama keluar rumah bersama dengan Ibu nya dengan membawa 2 tas milik Ibu yang beliau bawa kemarin waktu datang kesini.
Aku hanya bisa diam berdiri di dekat pintu melihat mereka. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku sudah berulang kali meminta maaf, sudah berusaha menjelaskan. Namun, sepertinya mereka sudah tidak mau memaafkanku.
Ibu mertuaku sempat menoleh dan melihat ke arahku. Senyum sinis langsung terlihat di wajahnya. Aku hanya diam, tak membalas apapun.
Setelah mereka pergi, aku menutup pintu lalu berjalan perlahan masuk ke dalam rumah. Terdengar suara Aldi memanggilku.
"Mama..." seru Aldi.
"Iya, Abang. Kenapa, Nak?" Tanyaku.
"Nenek tadi kok ikut sama Papa. Emangnya nenek mau kemana, Ma? Tadi Abang sempat tanya sama Papa dan Nenek, tapi Papa sama nenek diam saja." Tanya Aldi polos.
Mendengar perkataan Aldi, hati ku langsung terenyuh perih. Aku yakin, Aldi pasti merasa sedih karena di diamkan oleh Papa dan nenek nya. Lalu aku berjongkok di hadapannya, kuusap rambutnya pelan.
"Abang sayang,,, Nenek tadi mau kerumah kerabatnya, jadi di antar sama Papa. Mungkin Papa sama nenek tadi gak dengar waktu Abang tanya. Jangan dipikirkan, yaa. Yang terpenting sekarang Abang banyak istirahat dulu, supaya cepat sembuh dan bisa sekolah lagi." Jawabku beralasan.
Aldi yang mengerti, langsung menganggukkan kepalanya. Kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar. Aku menatap punggung kecilnya yang perlahan menjauh dari pandanganku. Ada rasa sakit yang memenuhi dadaku melihat anak ku merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan.
Aku tidak mau Aldi dan juga Aira tumbuh dengan rasa kebencian kepada Papa dan nenek nya. Bagaimanapun juga Mas Rama adalah Papa kandung mereka. Dan Bu Lastri adalah neneknya. Jadi sebisa mungkin aku akan memberikan pengertian yang baik tentang Papa dan neneknya.
Aku menyusul kedua anak ku yang sedang berada di dalam kamar. Begitu aku membuka pintu, Aira langsung melihat dan langsung berlari ke arahku.
"Mama......Adik mau minum susu." Ucapnya.
Seketika aku langsung teringat kalau dari semalam anak-anak ku belum minum susu. Aku benar-benar lupa.
"Astaga, sayang. Mama lupa. Yaudah sekarang ayo Mama buatkan susu." Jawabku sambil menepuk pelan dahiku.
Aku menggandeng tangan kecil Aira menuju dapur. Aldi pun mengikutiku dari belakang.
Sesampainya di dapur, aku langsung membuka lemari tempat dimana aku biasa menyimpan toples susu.
Aku membuka tutup toples nya. Saat sudah terbuka aku langsung tertegun. Ternyata toples susu nya kosong. Hanya tersisa sedikit bubuk susu yang menempel di dasar toples.
Aku menggigit bibir. Aku lupa membeli susu. Seharusnya kemarin Mas Rama memberikan jatah mingguan seperti biasanya. Tapi karena mungkin Mas Rama sedang marah padaku, ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan uang sepeserpun. Sisa uang yang kemarin aku pegang, sudah aku belanjakan untuk keperluan dapur. dan sekarang aku tidak punya uang sama sekali untuk membeli susu anak ku.
Aku memejamkan mata sebentar. Aku ingin menangis. Sebagai seorang Ibu, aku merasa tidak mampu memberikan sesuatu yang paling sederhana untuk anak ku.
kemudian aku tutup toples susu tersebut.
"Abang..Adik. Ternyata susu nya habis, Nak. Mama lupa beli. Nanti kalau uangnya sudah ada, Mama langsung belikan, ya. Sekarang kita sarapan dulu saja. Mama gorengkan ayam buat Abang sama Adik." ucapku pelan.
Aku mencoba tersenyum. Padahal hatiku terasa perih. Terlihat jelas kekecewaan di wajah mereka. Terutama Aira.
"Gak mau makan. Adik pokoknya mau minum susu." Rengek Aira, bibir kecilnya mulai bergetar, dan beberapa detik kemudian tangisnya pun pecah. Segera aku memeluknya.
"Maafin Mama ya, sayang. Mama janji, nanti Mama belikan susu yang banyak buat Adik." Kataku pelan sambil ketepuk tepuk punggungnya untuk menenangkan.
Aldi yang melihat sang Adik menangis langsung ikut menenangkan.
"Adik... Sudah jangan menangis. Abang juga ingin minum susu. Tapi kan susunya habis. Mama belu bisa beli karena toko nya masih tutup. Nanti kalau tokonya sudah buka, Mama pasti langsung belikan susu buat kita. Sekarang kita makan nasi dulu, ya." Ucap Aldi yang berusaha menengkan Adiknya. Di usianya yang masih kecil, Aldi sudah mengerti keadaan.
Setelah mendengar ucapakan Abang nya, Aira perlahan berhenti menangis, lalu menganggukkan kepala.
Aku menghela napas lega. Kucium kepala mereka berdua secara bergantian. Lalu aku segera bangkit untuk menyiapkan sarapan.
Aku menoleh ke arah kedua anak ku yang sedang duduk menunggu makanan. Mereka terlihat tersenyum satu sama lain. Dan senyum itu menjadi alasan bagiku untuk tetap kuat.
......................
Jam dinding menunjukkan pukul satu siang. Setelah memastikan kedua buah hatiku sudah tertidur pulas. Aku melangkah keluar kamar, kemudian duduk di ruang tengah sambil memegang ponsel. Aku berniat menghubungi Mas Rama, karena aku teringat kaleng susu telah kosong.
Ada rasa ragu dan juga rasa takut. Tapi demi kedua anak ku , aku harus memberanikan diri. Harga diri ku sudah kukubur dalam-dalam.
Dengan ragu, aku menekan tombol panggil di layar ponsel ku.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang di alihkan." Bukan suara Mas Rama, namun terdengar suara operator.
Perlahan aku menurunkan ponsel dari telinga ku. Kutatap layar ponselku. Aku mencoba berpikir positif. Kemudian aku kembali menekan tombol panggil. Berharap kali ini bisa tersambung denga Mas Rama.
Namun, hasilnya tetap sama. Suara operator yang sama. Dada ku langsung terasa sesak. Aku mengira apa Mas Rama memblokir nomorku.
Aku menundukkan kepala. Air mataku kembali menetes. Ku genggam ponsel ku erat. Bagaimana cara ku agar bisa membelikan susu untuk anak-anak ku. Ingin sekali rasanya pulang kerumah orang tuaku. Aku bisa menceritakan semua yang terjadi, mencurahkan segala beban yang aku rasakan saat ini. Namun, aku tidak mau mereka sedih, aku tidak mau mereka khawatir. Aku ingin mereka selalu mengira disini aku baik-baik saja.
Aku tidak tau apa yang akan terjadi besok . Aku tidak tau apakah Mas Rama bisa berubah. Aku juga tidak tau apakah pernikahan kami bisa di pertahankan atau tidak.
Kemungkinan terburuk yang akan aku alami adalah, aku akan benar-benar di ceraikan oleh Mas Rama. Itu berarti tidak ada cinta lagi dalam hati Mas Rama untuk ku. Aku tidak mungkin memaksa nya untuk tetap mencintaiku, karena cinta bukan sesuatu yang bisa di paksa. Jika hati sesorang sudah berubah, sekeras apapun kita berusaha, mungkin tetap tidak akan bisa mengubah keadaan.
...****************...
Terimakasih sudah membaca..
Maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan 🙏
Jangan lupa like dan juga follow 😘