Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Mulai Dicurigai & Diawasi

Tiga minggu….

Hanya tiga minggu sejak Dhana diangkat menjadi salah satu anak buah kepercayaannya, tetapi dalam waktu sesingkat itu, pria tersebut telah melakukan sesuatu yang jarang berhasil dilakukan orang lain yaitu membuat Reval mengakui kemampuannya. Reval menutup sebuah berkas laporan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Dhana.”

Pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya segera menegakkan tubuh. “Ya, Tuan?”

“Kinerjamu selama tiga minggu terakhir…” Reval berhenti sejenak, membiarkan keheningan menggantung.

“Cukup bagus.” Dua kata… namun dari mulut Reval, itu nyaris setara dengan penghargaan tertinggi.

“Bahkan sangat memuaskan.” Tatapan Reval tetap tajam. “Kau menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari perkiraan. Kau tidak banyak bertanya. Kau tahu kapan harus bertindak dan kapan harus diam.”

Dhana menundukkan kepala sedikit. “Saya hanya menjalankan kepercayaan yang Tuan berikan.”

Senyum tipis muncul di wajah Reval. “Begitu?”

“Ya, Tuan.” Dhana menjawab dengan mantap, meski hatinya berkata, “Dia sepertinya belum sepenuhnya memberikan kepercayaan itu padaku. Jelas ada keraguan dan kecurigaan di wajahnya.”

Reval tidak menjawab. Ia justru memperhatikan pria di depannya lebih lama. Ada sesuatu yang mengganggunya. Bukan kesalahan, bukan kegagalan justru malah sebaliknya.

Dhana terlalu baik, terlalu tenang, terlalu cepat beradaptasi dengan lingkungan Black Gold. Dan Reval telah hidup terlalu lama di dunia yang membuatnya tahu satu hal… orang yang terlihat sempurna biasanya menyimpan sesuatu di balik kesempurnaannya itu.

“Bagus,” ulang Reval akhirnya. “Kau boleh pergi.”

Dhana memberi hormat singkat sebelum meninggalkan ruangan. Pintu tertutup bersamaan senyuman Reval yang lenyap seketika. Wajahnya berubah dingin dan serius penuh akan pertimbangan yang sangat matang.

“Kau bisa keluar sekarang.”

Seorang pria keluar dari sudut ruangan yang sejak tadi gelap. Reon Gaviano, itulah nama pria tersebut. Orang yang dikatakan paling misterius di dalam klan Black Gold, sekaligus orang yang bertanggung jawab atas wilayah bagian Selatan kekuasaan Reval. Orang yang telah bersama Reval melewati terlalu banyak pengkhianatan untuk dihitung dengan jari.

“Siapa sangka kali ini anda memilih orang yang cukup menarik, Tuanku!” ujar Reon dengan senyuman jahilnya.

“Karena itulah aku ingin kau sendiri yang mengawasi dia,” perintah Reval.

Reon mengangkat alis. “Seberapa dekat?”

“Sedekat mungkin tanpa membuatnya sadar.”

“Dicurigai?”

“Jangan.”

Reval membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah ponsel berisi laporan singkat. “Aku ingin tahu siapa yang dia hubungi. Ke mana dia pergi. Siapa yang ditemuinya. Apa yang dilakukannya ketika tidak sedang bersamaku.”

Reon menerima perangkat itu. “Dan ponselnya?”

“Pantau terus.”

“Baik, Tuan! Serahkan saja padaku.”

Tidak perlu penjelasan lebih jauh, namun Reon langsung bisa memahami maksudnya. Dan mulai malam itu, Dhana tidak pernah benar-benar sendirian. Ke mana pun ia pergi, selalu ada seseorang beberapa puluh meter di belakangnya.

Ketika Dhana memasuki sebuah kedai, seseorang duduk di meja paling ujung. Ketika ia pergi berlatih, sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Ketika ia menerima telepon, percakapan itu diam-diam dicatat. Bahkan ponselnya telah menjadi jendela kecil bagi Reval untuk mengintip kehidupan pria tersebut.

...****************...

Disisi lain, setelah menemui Reval di ruangannya. Rupanya Dhana tidak langsung kembali ke apartemennya. Ia duduk sendirian di dalam mobil, memandangi pantulan wajahnya pada kaca jendela yang gelap.

Satu hal terus berputar di kepalanya. Reval tengah berniat mengujinya. Namun, bukan sekadar menguji kesetiaan. Reval sedang mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Dhana mengembuskan napas perlahan. Selama tiga minggu terakhir, tidak… lebih tepatnya sudah empat tahun lebih ia berhasil menjaga penyamarannya sebagai salah satu anak buah Reval. Tidak ada kesalahan berarti. Tidak ada gerakan yang seharusnya menimbulkan kecurigaan.

Namun malam ini berbeda. Reval sudah mulai mencium sesuatu. Dan hal itu terjadi setelah ia resmi ditetapkan sebagai salah satu orang kepercayaan yang berdiri disisinya. Kalau benar demikian, maka semua gerakan Dhana sejak tiga minggu terakhir mungkin sudah berada di bawah pengawasan Reval. Ia sungguh tidak menyangka bahwa kepekaan Reval terhadap musuh begitu kuat. Hingga hanya dalam tiga minggu saja Reval menemukan sesuatu dan menyadari penyamarannya.

Pikiran itu membuat Dhana tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap kaca spion, dimana sebuah mobil melintas. Kemudian sebuah motor. Lalu sebuah sedan hitam yang berhenti cukup jauh di belakang. Dhana tidak bereaksi, ia mengira bahwa mobil itu tengah mengikutinya. Orang yang Reval perintahkan untuk mengawasinya.

Ia memilih menyalakan mesin dan mulai berkendara. Satu putaran. Dua putaran. Ia sengaja melewati dua ruas jalan yang sebenarnya tidak perlu dilewati untuk menuju apartemennya hanya untuk memastikan dugaannya.

Namun, rupanya Sedan hitam itu masih terlihat. Dhana tersenyum tipis. “Jadi memang ada.”

Ia tidak mempercepat laju mobil. Tidak pula mencoba menghilangkan jejak. Kalau Reval ingin mengawasinya, biarkan. Masalahnya bukan apakah ia sedang diawasi. Masalahnya adalah seberapa dalam pengawasan itu sudah dilakukan. Karena itu, sebelum pulang, Dhana mengambil keputusan untuk mampir ke sebuah warung makan kecil di pinggir jalan.

Tempat yang terlihat biasa, bahkan terlalu biasa. Namun bagi Dhana, tempat itu bukan sekadar warung. Di sana ada seseorang yang bisa memberinya jawaban. Tapi siapa sangka, ketika dibelokan mobil itu tetap berjalan lurus melewatinya begitu saja yang membuat Dhana sedikit kebingungan.

Tidak ingin hanya menebak-nebak dugaannya. Dhana tetap memilih menemui seseorang di warung makan tersebut untuk lebih memastikannya. Ia langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk ke warung makan tersebut.

“Seperti biasa?”

Suara pelayan terdengar ramah ketika Dhana masuk. Pria itu mengenakan celemek sederhana dan topi hitam. Wajahnya biasa saja, nyaris tidak menarik perhatian. Siapa lagi kalau bukan Zeno sang pengantar informasinya selama ini. Dhana lantas memilih duduk di kursi paling pojok.

“Ya, seperti biasa.”

Zeno mengangguk. “Teh tawar?”

“Dan makanan yang paling lama dibuat.”

Zeno tertawa kecil. “Kenapa? Sedang tidak buru-buru?”

“Tidak.”

“Bagus. Malam ini dapurnya memang lambat.”

Obrolan itu terdengar biasa. Namun, bagi Dhana dan Zeno memiliki arti tersendiri yang hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya. Dari percakapan itu, Dhana menyiratkan bahwa ada sesuatu yang ingin Zeno pastikan. Zeno lantas segera menuju ke arah dapur untuk menyiapkan pesanan Dhana.

Hingga tak lama kemudian, Zeno kembali dan meletakkan segelas teh di atas meja. “Belakangan ini banyak orang suka memperhatikan jalanan.”

Dhana mengangkat alis. “Memangnya kenapa?”

“Katanya ada razia.”

“Razia?”

“Entahlah.” Zeno mengambil lap dan mengusap meja di depan Dhana. “Orang-orang sekarang aneh. Suka berdiri terlalu lama di tempat yang sama.”

Dhana tidak menanggapi. Ia mengambil cangkirnya dan menyesap teh yang Zeno bawakan. Seakan ia sedang mendengarkan gossip biasa yang sering diceritakan oleh pelayan ataupun pelanggan yang datang ke warung makan tersebut. Padahal Zeno sedang memberikan jawaban bahwa memang ada beberapa orang yang sedang mengawasi Dhana secara diam-diam.

Bersambung….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!