Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Anya memajukan tubuhnya dan menaruh kedua tangannya di atas meja.
"Aku ini mahasiswi jurusan fisika murni semester empat, Bayu," ucap Anya dengan nada bangga.
"Aku sangat paham tentang hukum inersia, momentum, dan lintasan benda jatuh."
Bayu mulai merasa tidak nyaman, tapi ia berusaha mempertahankan wajah datarnya.
"Lalu apa hubungannya jurusan fisikamu dengan perampok yang tiba-tiba kualat itu?" tanya Bayu balik.
"Botol kecap yang menghantam kepala perampok itu bukan jatuh dari atas, Bayu," jelas Anya memelankan suaranya.
"Pecahan kaca dan arah cipratan kecapnya menunjukkan bahwa botol itu dihantamkan dari arah belakang sejajar dengan kepala perampok."
Bayu menelan ludah mendengarkan analisis gadis di depannya ini.
"Mungkin botolnya terlempar dari rak sebelah karena perampok itu menendang sesuatu?" sangkal Bayu mencari alasan.
Anya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak mungkin. Rak kecap berada tepat tiga meter di sebelah kiri tempat kita berdiri," debat Anya.
"Satu-satunya rak di belakang perampok itu adalah rak alat tulis, dan kamu bersembunyi tepat di ujung rak itu."
Penjual es kelapa datang membawa dua gelas minuman dingin dan meletakkannya di meja.
"Silakan diminum, Mas, Mbak," sapa penjual itu lalu kembali ke gerobaknya.
Anya tidak menyentuh minumannya sama sekali dan terus mengintimidasi Bayu dengan tatapannya.
"Selain itu, pergelangan tangan perampok yang pegang pistol juga retak tanpa sebab," tambah Anya.
"Dilihat dari memarnya, itu akibat hantaman benda tumpul bersudut kecil yang diayunkan dengan sangat keras."
Bayu menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
"Otak gadis ini terlalu pintar dan observasinya sangat menakutkan," batin Bayu mulai panik.
"Kamu menuduhku memukul dua preman bersenjata itu tanpa terlihat oleh siapa pun?" tanya Bayu mencoba memojokkan Anya.
"Kalau aku secepat itu, aku pasti sudah jadi atlet olimpiade, bukan pemuda pengangguran."
Anya menyandarkan punggungnya ke kursi dan mendengus pelan.
"Memang tidak masuk akal secara logika manusia normal," akunya dengan nada agak frustrasi.
"Tapi saat aku memejamkan mata di bawah ancaman parang tadi, aku merasakan sesuatu yang sangat aneh," lanjut Anya.
"Suara dengungan mesin pendingin minuman tiba-tiba hilang total, seolah dunia ini mati sesaat."
Tiba-tiba, layar biru neon muncul berkedip di depan wajah Bayu.
[Peringatan Dini Sistem.]
[Detak jantung pengguna meningkat drastis. Tingkat stres terdeteksi.]
[Rahasia relik memiliki potensi bocor sebesar tujuh puluh persen.]
"Diam kau sistem cerewet," batin Bayu kesal melihat tulisan biru yang melayang itu. Ia mengambil gelas es kelapanya dan meminumnya perlahan untuk menenangkan diri.
"Dengar, Anya," ucap Bayu setelah meletakkan gelasnya kembali.
"Kadang-kadang, saat manusia berada dalam kondisi stres ekstrem, otak kita bisa menciptakan ilusi waktu dan suara."
Bayu menatap lurus ke dalam mata Anya yang berada di balik kacamata bulatnya.
"Mungkin kamu hanya mengalami distorsi waktu psikologis karena ketakutan setengah mati," jelas Bayu mengarang teori.
Anya terdiam mendengar penjelasan Bayu yang terdengar lumayan ilmiah itu.
"Distorsi waktu psikologis?" ulang Anya sambil mengetuk dagunya dengan jari.
"Ya, sama seperti saat orang mengalami kecelakaan, semua hal terasa bergerak dalam gerak lambat, kan?" tambah Bayu meyakinkan.
Anya tampak berpikir keras memproses alasan yang diberikan Bayu.
"Memang ada penelitian tentang takikipsia dalam neurosains," gumam Anya pada dirinya sendiri.
"Tapi tetap saja arah serpihan botol kecap itu menyalahi hukum fisika dasar."
Bayu tertawa kecil dan mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat.
"Dunia ini luas, Anya. Terkadang ada kebetulan gila yang tidak bisa dijelaskan oleh rumus fisikamu," ucap Bayu.
Anya menatap Bayu agak lama, mencari celah kebohongan di wajah pemuda itu.
"Baiklah, anggap saja teori ilusi stresmu itu benar untuk saat ini," kata Anya akhirnya menyerah.
Ia mengambil dompet dari tasnya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.
"Ini untuk bayar es kelapanya, sisanya buat kamu," ucap Anya sambil meletakkan uang itu di meja.
"Terima kasih sudah membantuku mengambilkan sampo tadi pagi sebelum kejadian gila itu," tambah Anya sambil tersenyum tipis.
Bayu ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sama-sama. Hati-hati di jalan pulangnya, Anya," balas Bayu.
Anya berdiri dan berjalan beberapa langkah, lalu ia tiba-tiba berbalik menatap Bayu lagi.
"Aku masih belum percaya sepenuhnya padamu, Bayu Rahaja," ucap Anya dengan nada menantang.
"Aku pasti akan mencari tahu kebenaran insiden botol kecap itu."
Setelah mengatakan itu, Anya berbalik dan berjalan cepat menuju halte bus terdekat.
Bayu hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang mulai pusing lagi.
"Dari sekian banyak orang di minimarket itu, kenapa aku harus menyelamatkan mahasiswi yang kelewat pintar," keluh Bayu.
Ia tahu Anya tidak akan berhenti mengusut kejadian aneh ini begitu saja.
[Energi Waktu: 7/10]
[Saran Sistem: Pengguna diharap lebih berhati-hati meninggalkan jejak fisik selama penggunaan Jeda Waktu.]
"Iya, aku paham," batin Bayu membalas peringatan sistem.
"Lain kali aku tidak akan pakai botol kaca yang bisa pecah sembarangan."
Bayu menghabiskan sisa es kelapanya dan beranjak pergi dari kedai tersebut.
Ia harus segera menyelesaikan belanjanya dan kembali ke rumah sebelum hari menjadi gelap.
Masalah preman kampung, kecurigaan Anya, dan geng Cobra kini menjadi beban baru di pundaknya.
Namun, Bayu tidak merasa takut sama sekali.
Ia meraba batu dingin di saku celananya dan tersenyum penuh percaya diri.
"Biar saja mereka datang mencariku, aku sudah siap," batin Bayu menantang dunia.