Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 : Keputusan yang tak di sukai.

‎Suara langkah kaki berat dan tenang perlahan terdengar dari arah tangga satu per satu. Para pelayan yang sedang menata meja sarapan langsung menunduk. Tak ada yang berani menarik napas terlalu keras.

‎‎Damian berjalan turun perlahan, satu tangannya masih sibuk mengancingkan kancing lengan kemeja hitamnya. Wajahnya tenang namun dingin, tak ada sedikit pun tanda terkejut atau terganggu. Goresan tipis di pipinya masih terlihat jelas, namun ia seolah tak merasakannya sama sekali. Begitu kakinya menginjak lantai bawah, pandangannya jatuh tepat ke wajah adiknya yang menatapnya penuh amarah.

‎‎Valentina langsung melangkah cepat mendekati kaki tangga, menengadah ke atas, suaranya tajam dan tak sabar.

‎‎"Dimana dia?!" tanyanya ketus, matanya menyapu ke belakang punggung Damian seakan Celine bersembunyi di sana. "Wanita itu belum bangun juga? Sudah jam segini masih berbaring malas‑malasan? Apa dia pikir ini penginapan?"

‎‎Damian berhenti tepat di bawah anak tangga terakhir. Ia berdiri tegak, menjulang tinggi, auranya begitu kuat hingga membuat napas Valentina tercekat sejenak meski ia berusaha tetap menatapnya tajam.

‎‎"Dia sedang bersiap," jawab Damian rendah, namun ada penekanan tegas yang membuat udara di ruangan itu mendadak berat.

‎‎"Dan hati-hatilah, Valen." ia menjeda kalimatnya, tatapannya mengunci adiknya. "Dia itu kakak iparmu. Istriku. Nyonya Celine Salvatore."

‎‎Rahang Valentina mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuh. Kata 'Nyonya' itu terasa seperti tamparan.

‎‎Pandangannya tiba‑tiba tertuju tajam pada pipi kakaknya, matanya menyipit melihat goresan merah yang masih terlihat jelas dan belum diobati. Ia mendengus sinis, senyum miring penuh cemooh terukir di bibirnya.

‎‎"Istri? Istri macam apa?" suaranya meninggi, penuh nada meremehkan. "Istri yang bahkan tidak peduli, tidak mau repot sedikit pun mengobati luka suaminya sendiri? Bukankah tugas istri merawat suaminya? Atau dia hanya tahu tidur dan menuntut hak saja?"

‎‎"Luka ini sengaja tidak di obati," kata Damian pelan. Jarinya menyentuh goresan di pipi. "Ini bukti dia memilih untuk tetap tinggal. Berbeda dengan orang lain yang hanya bisa menuntut."

‎‎Valentina terdiam, dadanya naik turun menahan marah. Sementara Damian melangkah melewati adiknya itu tanpa menoleh lagi, ‎duduk di kursi kepala meja dengan tenang. Merapikan manset kemejanya ‎yang tadi belum selesai dikancing.

‎‎"Sarapan," perintahnya singkat. Suaranya datar, seolah tidak terjadi apa-apa. ‎Para pelayan langsung bergerak cepat. Piring, sendok, dan kopi panas ‎dihidangkan dalam hitungan detik. Tak ada yang berani bersuara.

‎‎Valentina masih berdiri mematung di kaki tangga dengan mata menyala, lalu berjalan cepat ke meja makan dan berdiri di samping meja.

‎"Kau... tidak marah?!" bentaknya. "Aku bicara soal istrimu! Wanita yang bahkan tidak becus mengobati lukamu!"

‎‎Damian mengambil cangkir kopi, menghirupnya perlahan baru setelah itu ia menatap adiknya dari balik uap panas.

‎‎"Untuk apa aku marah?" katanya pelan. "Istriku sangat penurut. Sedangkan kau... dari tadi hanya berdiri di sini dan berisik."

‎‎BRAK!

‎‎Valentina menghantam meja hingga piring di atasnya bergetar. "Dia itu tidak pantas menyandang nama Salvatore!"

‎‎"Kalau begitu," Damian meletakkan cangkirnya dengan tenang. Tatapannya mengunci Valen. "Sebaiknya kau bicara langsung padanya. Karena mulai hari ini, ‎nama itu miliknya."

‎‎Tap. Tap.

‎‎Langkah pelan terdengar dari arah tangga, semua mata langsung menoleh. ‎Celine muncul di anak tangga terakhir. Rambutnya masih setengah basah, ‎wajahnya hanya di poles make up tipis, mengenakan dress berwarna krem dan tas selempang di bahu kanannya. Matanya langsung bertemu dengan tatapan Valentina yang penuh kebencian.

‎‎Celine menghela napas panjang, lalu kembali melangkah dan berhenti tepat di samping kursi Damian.

‎‎"Aku tidak sarapan," ucapnya sambil menatap wajah dingin Damian dari samping, tangan kanannya meremas kuat tali tasnya. "Aku mau pergi dulu, ada urusan yang harus diselesaikan."

‎‎Damian tidak menoleh, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan santai. Namun dibalik sikap santainya itu tatapannya menajam.

‎‎"Duduk," perintahnya rendah, "Aku tidak mengulang dua kali, Celine."

‎‎Pegangan tangan Celine semakin kuat di tali tasnya, dadanya bergemuruh hebat. Ia menatap Valentina sejenak yang masih menatapnya dengan tatapan tidak suka, lalu kembali menatap Damian dengan wajah kesal.

‎‎"Kau tidak bisa mengatur kebebasanku seperti ini, Damian! Aku bukan boneka yang bisa kau kurung terus di sangkar emas ini!"

‎‎Damian akhirnya menoleh pelan. Tatapannya gelap. Suasana ruang makan yang tadinya ramai pelayan, mendadak senyap total.

‎Ia bersandar, kedua tangannya bertaut di atas meja. "Kau memakai nama Salvatore. Tinggal di rumahku. ‎Dan kau pikir aku tidak bisa mengatur?"

‎Bibir Celine terbungkam seketika. Jika bukan karena Jason berselingkuh dan dia bisa mendapatkan pinjaman dua ratus juta lagi dari pria itu untuk operasi Ibunya, mungkin ia tidak akan sampai terikat perjanjian pernikahan dengan iblis bernama Damian ini.

‎Keheningan berat menggantung di udara, nyaris terdengar seolah waktu berhenti. Hanya suara napas Celine yang tertahan, halus dan gemetar, memecah kesunyian itu.

‎‎Damian sama sekali tak menanggapi kata‑kata tajamnya. Ia berdiri perlahan, menarik kursinya mundur hingga mengeluarkan bunyi halus di atas marmer. Semua mata pelayan tertuju padanya, tak ada yang berani berkedip.

‎‎Ia berjalan keluar dari kursinya, menarik kursi kosong di sebelahnya.

‎‎"Duduk," ucapnya sekali lagi, kali ini lebih rendah, lebih dekat, berat dan tegas.

‎‎Celine mendongak, bingung sekaligus menahan diri. "Untuk apa? Aku bilang aku mau pergi."

‎‎Damian sedikit mencondongkan tubuh, bayangannya langsung menaungi tubuh kecil wanita itu. Satu tangannya bertumpu di sandaran kursi, sisinya begitu dekat hingga Celine bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

‎‎"Nyonya Salvatore..." bisiknya, rendah sekali, hanya telinga Celine yang mendengar, nadanya tak marah namun tak bisa dibantah sedikit pun. "...nada suaramu tidak boleh setinggi itu saat bicara denganku di depan orang lain."

‎‎Ia menegakkan tubuh kembali, lalu pandangannya berubah dingin dan tajam, menyapu seluruh ruangan, membuat para pelayan serentak menunduk semakin dalam. Damian menahan napas sampai akhirnya berhenti tepat di wajah Valentina yang masih membara amarah.

‎‎"Kau mau pergi? Baik." Damian meraih serbet, menyekanya pelan di ujung jari, lalu meletakkannya kembali di meja dengan tegas. "Aku yang akan mengantarmu."

‎‎Valentina tersentak mundur sedikit, tak percaya. "Kak!"

‎‎"Aku tidak butuh—" Celine segera memotong cepat.

‎‎"Kau butuh," potong Damian lebih cepat, matanya terkunci pada Celine, tak ada tawar‑menawar. "Karena apa pun urusanmu hari ini... itu juga urusanku."

‎‎‎‎"Jadi sekarang duduk. Sarapan sepuluh menit. Setelah itu kita berangkat."

‎‎Jari‑jemari Celine yang sedari tadi mencekal tali tas perlahan melemah. Ia melirik sekilas ke arah Valentina yang merah padam, matanya menyala penuh kebencian dan tak terima.

‎‎Celine menarik napas panjang, menekan segala rasa kesal dan tak berdaya yang mengganjal di dada. Akhirnya ia mengangguk pelan, lalu duduk perlahan di kursi yang sudah disiapkan itu.

‎‎Damian menatap Valentina, tatapannya dingin dan tak kenal ampun. ‎"Kau bisa pergi sekarang."

‎‎Valentina melotot tak percaya, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap-luap. "Kak! Kau menyuruhku pergi? Demi wanita ini?!"

‎‎"Pergi." Ulang Damian sekali lagi, singkat namun tegas. Tak ada ruang untuk membantah.

‎‎Valentina menghentakkan kakinya keras ke lantai marmer, bunyinya nyaring penuh kemarahan. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dengan kasar, melangkah cepat mendekati Leon yang sedang berdiri bingung di sudut ruangan. Ia menarik tangan putranya itu dengan sedikit kasar, membuat anak kecil itu terhuyung-huyung kaget.

‎‎"Mommy sakit..." gumam Leon pelan, namun Valentina tak peduli, terus menariknya pergi tanpa menoleh sedikit pun. Pintu utama tertutup keras di belakang mereka, meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti ruangan itu.

‎Damian kembali menatap Celine setelah suasana kembali tenang, wajahnya sedikit melunak meski masih terlihat tegas.

‎‎Ia mendorong piring porselen putih berisi panini yang masih mengepulkan asap. Kejunya meleleh, aroma prosciutto dan roti panggang memenuhi meja. Di sampingnya, secangkir espresso hitam pekat tanpa gula.

‎"Makan," ucapnya lembut namun tetap berwibawa. "Waktumu tinggal sembilan menit."

Celine tak lagi membangkang dan langsung melahap sarapannya perlahan. Di luar mansion, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Dengan sopir dan dua pengawal.

-

-

-

‎Suasana ruang kerja itu sunyi mencekam, hanya dipenuhi detak jarum jam yang berirama kaku dan dengungan halus AC yang terdengar semakin dingin.

‎‎Jason duduk terkulai di kursi kulit hitamnya. Jasnya sudah dilepas tergeletak sembarangan, dua kancing teratas kemejanya terbuka memperlihatkan dada yang naik turun tak tenang. Matanya merah padam, kantung mata menghitam jelas, bekas semalaman tak terpejam, menanti sesuatu yang tak kunjung datang.

‎‎Di tengah meja kerjanya yang berantakan, satu ponsel terbaring diam. Layarnya menyala samar. Kosong. Tak ada panggilan masuk bernama Celine. Tak ada pesan. Tak ada satu notifikasi pun. Sudah delapan belas jam berlalu sejak wanita itu pergi, dan tak ada satu kata pun yang ia terima.

‎‎Ketukan pintu terdengar pelan. Sekretarisnya masuk dengan wajah pucat, tangan gemetar memegang berkas.

‎‎"Pak... rapat jam sembilan dengan investor dari—"

‎‎"KELUAR!" bentaknya meledak. Tanpa peringatan, gelas kristal di samping tangannya melayang menghantam dinding.

‎‎PRANG!

‎‎Pecahan berhamburan ke segala arah. Sekretaris itu berbalik lari terbirit‑birit, pintu tertutup buru‑buru di belakangnya.

‎‎Jason tertawa pendek, suaranya kering, hampa, penuh kepahitan yang menyakitkan. Ia kembali meraih ponselnya, menggeser layar berulang kali. Ke atas. Ke bawah. Terus berulang.

‎‎Masih kosong. Tak ada “Maaf Jay”. Tak ada “Aku kangen”. Tak ada “Aku butuh uang”. Semua alasan, semua kebutuhan yang selama ini ia percayai... ternyata semuanya bohong.

‎‎"Pengawal... Nyonya Salvatore..." gumamnya pelan, lalu tinjunya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Darah mendidih memenuhi kepalanya.

‎‎Ia berdiri gemetar, melangkah berat ke jendela kaca raksasa yang menatap lurus ke bawah. Kota itu tampak kecil dan tak berdaya dari ketinggian lantai tiga puluh ini.

‎‎"Dua tahun..." desisnya, suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan. "Dua tahun aku yang membiayai hidupnya. Saat ibunya sakit, aku yang transfer. Tempat tinggal? Aku yang bayar. Semua kebutuhannya... aku yang penuhi."

‎‎Tiba‑tiba ia berbalik mendadak, wajahnya merah padam menahan luapan kemarahan yang tak lagi terkendali.

‎‎"BERANI‑BERANINYA DIA!"

‎‎BRAAAK!!!

‎‎Ponsel di tangannya melesat keras menghantam dinding kaca di sudut ruangan. Layarnya retak berkeping‑keping, jatuh berantakan ke lantai marmer dengan bunyi nyaring yang memecah keheningan.

‎Napas Jason memburu, dadanya naik turun kasar. Ia menendang kursi kerjanya sekuat tenaga hingga terbalik dan berguling menjauh.

‎‎"Tidak mungkin..." bisiknya menggeleng pelan, menatap kosong ke arah jendela. "Tidak mungkin dia bisa bahagia tanpa aku!"

--

--

--

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!