Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Menantu Kesayangan

Klik!

Pintu ruang ICU terbuka.

Brian segera melangkahkan kakinya masuk.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok Kakek Barra kembali terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.

Brian mengembuskan napas panjang.

Tadi Robby mengatakan bahwa kakeknya telah sadar.

Namun saat dirinya datang, pria tua itu kembali terdiam.

Brian berdiri di sisi ranjang, tangannya perlahan meremas rambutnya sendiri.

Seandainya Rania berada di sini...

Mungkin Kakek Barra akan lebih cepat sadar. Mungkin suara wanita itu bisa membuat pria tua tersebut membuka matanya kembali, sambil memberikan pijatan refleksinya untuk kakeknya. Keahlian yang sekarang Brian akui khasiatnya.

Brian menghela napas.

Tangannya sempat terangkat mengambil ponsel dari saku jas. Jarinya bahkan sudah hampir menekan sebuah nama.

Rania. Nomor ponsel barunya yang baru Brian dapatkan dari Robby sebelum masuk ke ruangan ICU.

Namun Brian menghentikan gerakannya.

"Tidak." Ia menurunkan ponselnya kembali. "Kau tidak akan menghubunginya, Brian."

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Aku akan membuatnya datang sendiri kepadaku."

Brian kemudian menggenggam tongkatnya lebih erat sebelum mendekati ranjang.

Ia membungkukkan tubuhnya sedikit. "Kakek..." Suara Brian terdengar rendah di sisi telinga pria tua itu.

"Aku tahu Kakek bisa mendengarku." Brian menatap wajah pucat Kakek Barra.

"Kakek sudah sadar, bukan?" Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan sang kakek.

"Tenanglah." Brian menarik napas. "Cicit Kakek baik-baik saja. Dia sehat."

Ada senyum tipis di wajahnya.

"Dan aku akan segera membawa Rania kembali." Jemari Brian bergerak perlahan mengusap punggung tangan Kakek Barra.

"Aku janji." Brian terdiam sejenak.

"Lalu ketika Kakek sudah benar-benar sadar nanti..." suaranya semakin pelan. "Jangan mencari-cari aku."

Ia menggenggam tangan sang kakek sedikit lebih erat. "Jangan memaksakan diri. Bersikaplah tenang dan fokuslah untuk sembuh."

Brian menundukkan kepalanya. "Karena kali ini, biarkan aku yang menyelesaikan semuanya."

Setelah beberapa saat, Brian akhirnya berdiri. Ia melirik wajah kakeknya sekali lagi sebelum berbalik dan meninggalkan ruang ICU.

Di Ruang Tunggu VIP

Begitu Brian keluar, Robby sudah menunggunya.

"Tuan Muda." Robby segera berdiri dan menyodorkan sebuah map berwarna merah. "Ini dokumen yang saya bicarakan sebelumnya."

Brian menerima map tersebut, ia membukanya.

Beberapa lembar dokumen mengenai pembangunan sebuah pabrik teh herbal terlihat di dalamnya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari ibu kota.

Brian membaca beberapa halaman dengan saksama sebelum akhirnya berhenti pada sebuah nama.

Rania Almira.

Senyum perlahan muncul di wajah Brian. "Jadi, Kakek memberikan ini juga untuk Rania?"

Robby mengangguk. "Benar, Tuan Muda."

Brian kembali membaca dokumen tersebut.

Sebuah pabrik teh herbal. Pabrik yang sengaja dipersiapkan Kakek Barra untuk Rania.

Gadis desa yang berhasil merebut seluruh perhatian pria tua itu. Bahkan ketika dirinya sendiri sebagai cucu kandung tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.

Brian tersenyum kecil. "Menarik." Ia mengangkat wajah. "Apa tujuan Kakek membangun pabrik ini?"

"Tujuannya hanya satu," jawab Robby. "Beliau ingin Nyonya Rania mengembangkan bisnis teh herbal peninggalan keluarganya dan membuatnya dikenal lebih luas lagi."

Brian terdiam beberapa saat. Kemudian senyumnya semakin lebar. "Bagus."

Tatapannya kembali jatuh pada nama Rania. "Ini jauh lebih menarik dari pada yang aku kira." Brian menutup map tersebut.

"Robby." Panggil Brian.

"Ya, Tuan Muda?" Sahut Robby.

"Atur pertemuan bisnis dengan Nona Rania." Titah Brian.

Robby sempat terdiam. "Tuan Muda?"

Brian menyerahkan kembali dokumen itu kepadanya. "Aku ingin bertemu dengannya dalam konteks bisnis."

"Maksud Anda... Anda ingin menjalin kerja sama dengan pabrik teh herbal tersebut?" tanya Robby.

Brian berdiri dan berjalan menuju jendela kaca ruang tunggu VIP. "Aku akan menjadi investor pertama di pabrik itu."

Robby menatap punggung Brian. Pria itu berdiri dengan tongkat di tangannya, menatap langit sore dari balik kaca.

Senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Ia bahkan sudah bisa membayangkan ekspresi Rania ketika mengetahui bahwa Kakek Barra memberikan bisnis tersebut kepadanya.

Brian mengembuskan napas pelan. "Rania..."

Tatapannya menjadi lebih dalam, saat mengingat sosok wanita yang sangat menghormati kakeknya. "Aku ingin melihat wajahmu ketika mengetahui betapa Kakek sangat menyayangimu."

Namun Robby justru terlihat ragu. "Tuan Muda."

Brian menoleh.

"Ada satu kabar lagi yang belum Anda ketahui," ucap Robby

Senyum Brian perlahan menghilang. "Apa?"

Robby menarik napas. "Paman Rania telah meninggal."

Brian terdiam.

"Dan seluruh peninggalan kedua orang tuanya, termasuk pabrik teh herbal yang berada di Desa Bambu, telah diserahkan kepada Daffa Anggara." Jelas Robby.

Tatapan Brian berubah. "Daffa?"

"Benar." Sahut Robby.

"Kenapa?" tanya Brian.

"Karena surat wasiat yang ditulis oleh ibu Rania memang mencantumkan hal tersebut, Tuan." Jelas Robby.

Brian terdiam beberapa saat, kemudian ia mengangguk pelan. "Begitu rupanya."

Tidak ada kemarahan di wajahnya. Justru senyum tipis kembali muncul.

"Kalau begitu..." Brian menatap langit di balik jendela. "Semuanya menjadi semakin mudah untukku."

Robby mengernyit.

Brian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Rania sekarang hanya memiliki satu aset yang harus ia kembangkan."

Ia tersenyum. "Pabrik teh herbal baru yang diberikan Kakek kepadanya di ibu kota." Brian menatap nama Rania yang masih terlihat pada dokumen tersebut.

"Aku tidak perlu mencarinya lagi." Senyumnya semakin dalam. "Aku akan terus memiliki alasan untuk bertemu dengannya."

Brian terdiam sejenak. "Dan aku penasaran..."

Tatapannya berubah tajam. "Apa yang akan Daffa lakukan ketika mengetahui semuanya."

Robby tidak menjawab.

Brian kemudian kembali memanggilnya. "Robby."

"Ya, Tuan Muda."

"Kau bisa pergi." Brian mengalihkan pandangannya kembali ke jendela. "Segera atur jadwal pertemuan bisnis antara aku dan Rania."

Robby membungkuk sopan. "Baik, Tuan Muda." Robby kemudian meninggalkan ruang tunggu VIP.

Pintu tertutup.

Brian tetap berdiri seorang diri. Senyum tipis masih terlihat di wajahnya.

"Rania..." Jemarinya menyentuh cincin pernikahan yang masih melingkar di jarinya. "Kali ini, aku tidak akan datang untuk memintamu kembali."

Tatapannya mengeras.

"Aku akan membuatmu sendiri yang datang kepadaku."

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!