Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN ENAM BELAS
Pertandingan basket dilanjutkan kembali, sementara Andy segera dilakukan tindakan untuk mengobati terkilirnya oleh tim medis. Pertandingan semakin, poin kedua tim saling susul menyusul. Waktu pertandingan tinggal menyisakan beberapa detik lagi, bisa dibilang ini adalah kesempatan terakhir bagi Langit yang saat ini sedang memegang bola , nilai pada papan angka tercatat 95 untuk SMA Merah putih dan 97 untuk SMK Pemuda. Langit berpikir ini kesempatan terakhir dia, dia harus memasukkan bola dari jarak ini agar menambah 3 angka dan memenangkan pertandingan.
Dari jarak yang hampir setengah lapangan, tanpa berpikir lagi Langit melemparkan bola ke arah ring, seketika seluruh mata terpaku kepada bola yangmelambung ke arah ring SMK Pemuda. Namun, bola tersebut tidak langsung masuk, melainkan mengenai besi ring tersebut dan beberapa kali berputar. Seluruh penonton termasuk pemain yang berada dilapangan menatap beku pada ring tersebut. Langit dan timnya berharap bola tersebut masuk, sementara tim SMK Pemuda berharap sebaliknya. Hingga akhirnya bola itu masuk kedalam ring, seketika itu pula Langit dan timnya melumpat gembira begitu pula yang berada di tenda SMA Merah Putih semua bersorak riang melihat hal tersebut. Wasit akhirnya meniupkan peluitnya menandakan berakhirnya pertandingan ini. Sesaat setelah peluit berbunyi, para pemain SMK Pemuda tertunduk lesu mengetahui akhir dari pertandingan ini adalah sebuah kekalahan bagi mereka.
Sementara disisi lain, pemain SMA Merah Putih terlihat bahagia satu sama lain, semua luapan kebahagiaan mereka curahkan, Langit berlari kearah tenda mereka dan langsung disambut oleh teman-temannya. Rindu yang duduk di barisan depan langsung segera berdiri dan mengulurkan tangan nya kepada Langit. "Selamat ya, akhirnya menang juga tinggal besok harus lebih berjuang lagi di semifinal, doain juga ya cheer kita menang" ucap Rindu smbil mengulurkan tangan nya.
"Iya nih nggak nyangka itu bakalan masuk, gue tadi udah pasrah aja heheehehe, mudah-mudahan aja penilaian tim lu juga bagus, biar besok sama-sama semifinal , tapi inget lu harus fokus kalau lagi pertunjukkan" jawab Langit sambil menyambut tangan Rindu untuk berjabat tangan.
Langit dan timnya langsung merebahkan tubuhnya dibelakang, dekat dengan tim medis. Allisya datang mendekati Langit membawakannya sebotol air minum dengan lemon didalam nya. "nih kak diminum dulu, biar capeknya hilang, oh iya selamet ya kak, semoga besok juga bisa menang lagi" ucap Allisya sambil menyerahkan botol minum.
Langit segera meluruskan kakinya. Dia menerima minuman yang diberikan Allisya dan tanpa ragu langsung meminumnya hingga habis tanpa sisa. "Iya sya makasih ya, enak nih minumannya, minuman apa ini? Iya mudah-mudahan aja besok lawannya bisa dikalahin, sekarang yang terpenting semoga cheerleader kita bisa menang juga ya" ujar Langit.
"Ya ampun kakak, haus apa doyan sih , hehehe itu air putih biasa kak, cuma dikasih lemon, kata orang-orang sih infus water heehehe , tapi tenang bukan iar yang buat infus kok. Iya kak amin, kan biar dua-duanya juara, aku seneng deh kak dari tadi aku liatin kakak sama kak Rindu udah akur" ucap Allisya. "Mudah-mudahan aja sya, mudah-mudahan dia lagi nggak pakai topeng hanya menjaga nama baik sekolah, mudah-mudahan semua dalam pikiran kakak selama ini salah" Langit berharap dengan sangat dalam.
"Aku yakin kok kak, kalau lagi ngobrol sama aku aja baik kok, cuma sama kakak aja begitu, makanya aku bingung" ucap Allisya mencoba meyakinkan Langit.
"Amin de, heheh eh tuh kayaknya mau ada pengumuman de, kakak duduk didepan dulu ya" ucap Langit seraya dirinya berpamitan dengan Allisya.
"Iya kak silahkan" jawab Allisya.
Langit bangun dari posisi duduknya dilantai, sedikit dia melakukan gerakan kecil pada tubuh nya yang letih dan langsung berjalan ke kursinya Langit kembali duduk didekat teman-teman tim basketnya, tidak lama setelah Langit duduk dia sedikit berbincang dengan temannya, sekedar mengucapkan kata bersyukur karena menang dan berjabat tangan atas kerja samanya dalam tim.
Dari barisan depan terlihat Rindu menoleh kebelakang, walau dia terlihat tersenyum melihat keceriaan di wajah Langit dan teman-temannya atas kemenangan tadi, tetap saja Rindu tidak dapat menutupi perasaan cemasnya, perasaan cemas akan tim cheerleadernya.
Langit yang menyadari Rindu mengamatinya sedari tadi, dengan senyuman dan isyarat kedua tangan didepan dada Langit, Langit meminta agar Rindu berdoa saja semoga diperoleh hasil yang terbaik. Rindupun tersenyum dan mencoba untuk optimis.
Tidak berselang lama perwakilan panitia berjalan ketengah lapangan dengan selembar catatan di tangan kirinya dan microfon di tangan kanannya. Setibanya ditengah lapangan, perwakitan panitia itu segera membacakan isi dari catatannya tersebut.
"Berdasarkan seluruh pertandingan yang berlangsung tadi, sudah dapat dipastikan yang mewakili grup B dengan poin 6 , untuk melaju ke babak semifinal besok melawan pemenang dari grup D adalah..... SMA Merah Putih" ucap perwakilan panitia.
Seketika itu juga Langit beserta tim basketnya bangkit dan berdiri dari posisi duduknya, dengan diiringi gemuruh sorak sorai suara tepuk tangan dari seluruh yang ada disana. Tidak terkecuali tepukan tangan dari Rindu yang sedang duduk di depan Langit.
"Dan , untuk cheerleader, yang akhirnya juri sependapat bahwa dengan rasa hormat meminta maaf SMK Pemuda terpaksa didikualifikasi karena adanya musibah tadi, untuk sisanya juri sangat sulit menentukan pemenangnya, tiga orang juri telah memberi penilaiannya masing-masing, untuk SMAN 1 Lembang juri memberi nilai dengan total 268 poin, dan untuk SMA Merah Putih dengan nilai....." ucap panitia.
Di tempat duduknya sangat terlihat wajah Rindu yang semakin cemas seirama dengan detak jantung yang berdebar-debar dengan kencang. Dalam diamnya Langit, jelas tersirat untaian doa dihatinya, semua dapat terlihat dari wajah Langit yang tak henti memejamkan matanya, dan tangan Langit yang terung menggenggam dengan kencang.
" ....., dan untuk SMA Merah Putih dengan nilai .... 276 poin, selamat kembali kepada SMA Merah Putih" lanjut panitia.
Rindu yang mendengar pengumuman itu sekitaka bersujud didepan kursinya, dengan air mata haru yang mengalir membasahi kedua pipinya yang merah. Diiringi dengan suara tepuk tangan dari sekelilingnya, seluruh tim cheerleader SMA Merah putih saling berpeluk dengan disebelahnya ditemani air mata bahagia.
Langit yang duduk dibelakang melihat Rindu yang masih berlutut dan bersujud syukur di depannya segera bangkit dari tempat duduknya. Langit berjalan kearah Rindu dan membangunkan Rindu, Langit mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan Rindu. "Selamat ya, tuh kan gue juga yakin kok kalau penampilan lu tadi itu udah bagus. Terbuktikan sekarang lu bisa ke babak berikutnya" ucap Langit sambil menarik tangan Rindu untuk membangkitkan Rindu dari posisi berlututnya.
Entah ada angin apa, mungkin karena rasa kebahagiaan yang tak terbendung lagi, Rindu yang bangkit berdiri langsung memeluk Langit. Tak berselang lama , dengan jantung yang berdetak semakin cepat dan aliran darah yang mengalir makin deras, Langit dan Rindu saling bertatapan muka dengan jarak yang dekat. Dengan tangan kanannya, Langit berusaha menghapus air mata yang sedari tadi membanjiri wajahnya.
"Udah stop air mata lu, sekarang lu pikirin pertunjukkan lu yang besok harus lebih bagus dari yang sekarang. Kalau bisa sih ada surprise nya gitu dipertunjukkan berikutnya, benerkan filling gue, lu pasti bisa" ucap Langit sambil terus berusaha menghapus air mata Rindu.
"Iya makasih ya buat supportnya, pastinya, pasti gue bakal nunjukin yang lebih bagus lagi besok, liat aja pasti ada yang bakalan pada kaget liat pertunjukan gue besok" jawab Rindu.
Allisya yang sedari tadi duduk dibarisan paling belakang, ternyata mengamati yang terjadi antara Langit dengan Rindu. Allisya merasa senang bahwa pertandingan kali ini merubah pola pikir mereka berdua yang semula memiliki ego yang tinggi masing-masing, yang keduanya selalu merasa benar dan menyalahkan yang lainnya. Kini dengan melihat yang terjadi antara Langit dan Rindu di dedepan matanya , Allisya percaya sepulangnya dari sini mereka tidak akan ada lagi permusuhan.
Halaman depan SMAN 1 Lembang terlihat ramai oleh para siswa yang memenuhi jalan dari dalam sekolah menuju gerbang sekolah. Langit bersama teman-teman satu sekolahnya terlihat berjalan dengan suka cita , mereka berjalan dengan menyanyikan lagu-lagu ceria bersama-sama. Tidak lupa beberapa orang siswa mengabadikannya dengan berfoto selfie dan wefie sambil berjalan keluar gerbang sekolah SMAN 1 Lembang.
Di tempat parkir bis, terlihat supir bis 2 sekolah tamu sudah mulai menghidupkan mesin mobilnya. Para siswa dari 2 sekolah tamu yang sudah tiba ditempat parkir langsung menaiki bis masing-masing. Ada suasana yang aneh didalam bis SMA Merah Putih, teringat waktu awal perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, dimana Langit dan Rindu saling bertengkar enggan duduk bersama, tapi kali ini mereka langsung duduk bersama bersebelahan tanpa ada rasa sungkan satu sama lain.
Beberapa saat setelah seluruh siswa SMA Merah Putih duduk dikursinya masing-masing, bis pun mulai melaju meninggalkan tempat parkir.