Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Mulai Membalas
Kedua pengantin masih memamerkan cincin pernikahan mereka. Dan para undangan istimewa masih sibuk mengabadikan momen tersebut.
Namun, di tengah riuhnya suasana, Alvin sedikit menundukkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Cynara.
“Kamu sudah lihat?”
Cynara menoleh. “Apa?” bisiknya.
“Reaksi mantan suamimu dan keluarganya?”
Cynara langsung tersenyum tipis mengikuti arah tatapan mata Alvin.
Di sudut ruangan, Anugrah masih duduk kaku. Gadiza terlihat kebingungan. Danisha tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Sementara Ibu Anugrah tampak seperti baru saja menelan pil yang sangat pahit.
Cynara tersenyum tipis, kemudian ia mengangguk. “Sudah.”
“Puas?” tanya Alvin memastikan.
Cynara kembali menatap Alvin. “Belum.”
Alis Alvin terangkat. “Belum?”
Cynara mengangguk. Entah mengapa, setelah mengetahui orang tuanya tadi dihina oleh keluarga Anugrah, ada sesuatu dalam dirinya yang ingin meledak.
“Tadi mereka menghina orang tuaku.”
Senyum di wajah Alvin menghilang. “Begitu?”
“Di saat aku direndahkan oleh mereka selama tiga tahun, aku masih bisa diam. Tapi, ketika mereka menghina orang tuaku, aku tak rela. Mereka telah berjuang membiayai sekolahku hingga aku bisa cepat bangkit hingga bisa berdiri di kaki sendiri seperti saat ini.”
Alvin mengangguk tanpa menyela.
“Orang tuaku memang sederhana. Tetapi usaha mereka untuk kami, tidak lah sederhana."
Alvin diam beberapa detik. Kemudian ia tersenyum tipis.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai sekarang.”
Cynara menoleh. “Sekarang?”
“Sekarang.” Alvin mengambil mikrofon yang berada di atas meja.
Suasana di sekitar mereka perlahan hening. Beberapa tamu yang semula sedang berbicara langsung menoleh.
Alvin berdiri di tengah hingga menjadi pusat perhatian dan Cynara ikut berdiri di sampingnya.
“Terima kasih kepada semua tamu yang sudah hadir dalam pernikahan kami.” Suara Alvin terdengar tenang. “Namun, sebelum acara dilanjutkan, ada satu hal yang ingin saya sampaikan.”
Tatapan Alvin bergerak ke arah kedua orang tua Cynara. “Mulai hari ini, saya ingin memperkenalkan semua anggota keluarga istri saya.”
Ayah dan ibu Cynara tampak terkejut. Alvin berjalan menghampiri mereka.
Kemudian menyalami mereka dengan membungkukkan kepala. “Bak dan Mak adalah orang tua dari istri saya.”
Ia tersenyum. “Mulai hari ini, kalian adalah orang tua saya juga.”
Ibu Cynara langsung berkaca-kaca. “Pak Alvin...”
Alvin menggeleng. “Jangan panggil saya Pak.”
Ia tersenyum. “Sekarang saya sudah jadi anak buat Bak dan Mak.”
Kalimat itu membuat beberapa tamu tersenyum haru.
Namun di sisi lain... wajah ibu Anugrah berubah. Danisha menatap ibunya. Anugrah menunduk semakin dalam.
Alvin belum selesai. Ia kembali menghadap para tamu.
“Bapak dan Ibu Cynara memang berasal dari desa.”
Beberapa orang menoleh.
“Dan di sana, semua masyarakatnya memang hidup sederhana.”
Tatapan Alvin perlahan menjadi tajam.
“Tapi, usaha mereka telah membuahkan hasil yang tak sederhana. Mungkin tak banyak yang tahu, istri saya ini adalah seorang pengusaha sukses yang diawali oleh rasa sakit yang dalam.”
Ruangan mesjid itu semakin hening.
Anugrah mulai berkeringat dingin. 'Kak Alvin mengetahui kisah Cynara?'
“Sekarang, Cynara istri saya ini adalah founder sekaligus presiden direktur perusahaan bernama Narendra Group.”
Hening.
Benar-benar hening. Beberapa tamu saling menatap.
“Presiden Direktur?”
“Bukankah Narendra Group itu perusahaan yang sedang berkembang pesat?”
“Aku pernah mendengar namanya. Bukankah valuasinya cukup besar?”
Bisikan-bisikan mulai terdengar di antara para undangan.
Cynara yang berdiri di samping Alvin hanya tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak menyangka Alvin akan memperkenalkan dirinya seperti itu.
Namun, di balik itu semua, ada wajah-wajah yang berubah dengan seketika.
Wajah Danisha tampak sedikit tegang. “Presiden Direktur?”
Ia menoleh kepada ibunya. Ibu Anugrah tidak menjawab. Wajahnya telah memutih teringat apa saja yang ia ucapkan pada Cynara beberapa waktu yang lalu.
Tatapannya tertuju kepada kedua orang tua Cynara yang kini duduk di barisan keluarga inti. Orang tua yang beberapa menit lalu ia hina karena dianggap miskin.
Ia tak menyangka, perempuan yang pernah diperlakukan layaknya pembantu gratisan bagi keluarganya selama tiga tahun.
Ternyata, setelah perceraian dengan Anugrah, ia membangun perusahaan sendiri.
Dan sekarang... ia malah menjadi istri Alvin Mahendra, seorang CEO dari perusahaan besar JM Corporation.
Danisha menggertakkan gigi. “Ini sungguh tidak adil!”
Anugrah masih diam, menutupi getaran hebat dalam jiwanya. Ia hanya bisa menatap Cynara dari jauh. Perempuan yang ia kira hadir ke perusahaan untuk mencari dirinya, ternyata dengan tegas mengatakan tak pernah memikirkannya lagi.
Mata Anugrah berpindah kepada bocah yang asik bermain dengan Keanu, putra Alvin, yakni Naren. 'Kalau ini pernikahan keduanya, berarti Naren benar-benar anak...'
Namun, belum sempat ia berpikir, Alvin kembali melanjutkan sambutannya.
“Namun, saya tidak menikahi Cynara karena perusahaan yang dimilikinya.”
Tatapan para tamu kembali tertuju kepadanya.
“Saya menikahinya karena saya menghargai dirinya yang menjadi ibu hebat bagi putranya. Bahkan, kasih sayangnya pun ikut dirasakan oleh Keanu, putraku."
Cynara perlahan menoleh. Alvin menatapnya sejenak sebelum kembali menghadap para tamu.
“Saya bangga bisa menikah dengannya. Mohon doa, agar keluarga kami bahagia.” Senyum tipis terulas di bibirnya.
Ucapan Alvin membuat dada Cynara terasa hangat. Ia tidak menyangka pria yang menginginkan dirinya untuk menjadi ibu bagi Keanu, bisa mengatakan hal demikian di depan banyak orang.
Alvin kemudian mengangkat tangan Cynara. Cincin pernikahan mereka kembali terlihat jelas.
“Jadi, saya berharap tidak ada seorang pun yang menilai keluarga istri saya hanya dari pakaian, tempat mereka tinggal, ataupun latar belakang mereka.”
Tatapan Alvin bergerak ke seluruh ruangan. “Karena bagi saya, keluarga bukan tentang seberapa mahal rumahnya.”
Ia berhenti. “Bukan pula tentang seberapa tinggi jabatan seseorang.”
Kemudian suaranya terdengar lebih tegas. “Melainkan tentang bagaimana mereka memperjuangkan semuanya demi kebahagiaan anak-anaknya.”
DOR.
Tidak ada nama yang disebut. Tidak satu pun tuduhan terucap. Ibu Anugrah langsung menundukkan wajah. Danisha menggigit bibir. Sementara Anugrah hanya bisa membisu.
Gadiza yang sejak tadi kebingungan akhirnya menoleh kepada suaminya. “Mas…”
Anugrah tidak menjawab. “Kamu kenapa? Apa yang salah? Kenapa wajahmu sampai seperti itu?”
Anugrah menelan ludah. Matanya masih tertuju kepada Cynara.
Gadiza mengikuti arah pandangannya. Kemudian kembali menatap Alvin. “Mas, sebenarnya…”
Anugrah langsung memotong dengan suara rendah.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Jangan bertanya sekarang.”
Gadiza mulai merasakan ada yang tidak beres. 'Kalau kamu tak mau menceritakan padaku, maka aku akan mencarinya sendiri.'
Alvin telah mengembalikan mikropon kepada pembawa acara, lalu berdiri kembali di samping Cynara.
Kemudian membungkukkan kepala sedikit ke arah istrinya. “Sekarang puas?”
Cynara menahan senyum. “Sedikit.”
“Sedikit?”
Cynara melirik ke arah Anugrah. “Baru satu.”
*bersambung*