Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Bab 3: Rahasia di Balik Bilah Hitam dan Janji Malam Hari

​Riuh tepuk tangan membahana, memantul di antara pilar-pilar granit Aula Agung Akademi Kerajaan saat Anastasia—Sang Wanita Suci Bangsa Elf—mengakhiri pidato diplomasinya dengan anggukan kecil yang elegan. Senyum di bibirnya tampak sempurna di mata ribuan pasang mata, namun bagi Wiliam yang berdiri jauh di barisan paling belakang, senyuman kecil yang diarahkan tepat ke posisinya itu terasa bagaikan sebuah ancaman tak kasat mata.

​Kepala Akademi sibuk membungkuk dalam-dalam, mengantar sang tamu kehormatan menuju area tertutup. Perlahan, kerumunan murid mulai membubar, bergerak mengalir keluar dari pintu-pintu raksasa aula menuju gedung pembelajaran utama.

​"Gila, Wil! Kau lihat tidak?" Leo menyikut rusuk Wiliam dengan pendar mata yang masih berbinar penuh rasa kagum. "Dia memandang ke arah kita! Maksudku... ke barisan kita! Aku bersumpah aura matanya membuat bulu kudukku berdiri. Rasanya seperti ditatap oleh dewi purba!"

​"Bukan ke arahmu, Leo, tapi ke arah roti bakar di dalam tas milikku," cetus Reno seraya menepuk perutnya yang kembali berbunyi. "Tapi harus kuakui, tekanannya sangat luar biasa. Padahal dia tersenyum begitu manis, tapi rasanya seperti ada gunung es yang melayang di atas kepala kita. Benar kan, Wil?"

​Wiliam hanya mengusap tengkuknya seraya memasang wajah mengantuk yang biasa. "Aku tidak terlalu menyadarinya. Aku hanya berpikir kapan acara ini selesai agar aku bisa meluruskan punggungku."

​"Kau ini benar-benar tidak punya jiwa apresiasi," kekeh Leo seraya merangkul bahu Wiliam saat mereka bertiga melangkah menyusuri lorong batu yang ramai. "Dia itu Level 20! Salah satu dari empat penguasa benua! Bisa melihatnya dari jarak lima puluh meter saja sudah cukup untuk jadi bahan pamer ke anak-anak kelas sebelah selama satu semester."

​Namun, langkah mereka bertiga terhenti secara mendadak saat berbelok di persimpangan lorong menuju kelas.

​Seorang wanita bergaun zirah perak ringkas dengan jubah biru gelap berdiri mengadang jalan. Telinga runcingnya dan aura dingin yang memancar dari tubuhnya menandakan secara jelas bahwa dia adalah salah satu pengawal pribadi sang Wanita Suci. Tangan wanita Elf itu terlipat anggun di depan dada, dan mata hijaunya yang tajam langsung mengunci sosok Wiliam.

​"Apakah kau yang bernama Wiliam Pendragon?" tanya pengawal itu, suaranya jernih namun sedingin es di puncak gunung.

​Leo dan Reno membeku seketika. Rangkulan lengan Leo di bahu Wiliam terlepas perlahan. Kehebohan di sekitar lorong mendadak mereda saat murid-murid lain yang melintas ikut menoleh, berbisik-bisik heran melihat pengawal pribadi sang Wanita Suci menghampiri seorang murid yang terkenal paling tak mencolok di akademi.

​"Ya, aku Wiliam Pendragon," jawab Wiliam datar. Dalam hatinya, ia sudah bisa menduga ke mana arah situasi ini, namun ia tetap mempertahankan garis wajahnya yang polos. "Ada yang bisa kubantu?"

​"Nona Anastasia memanggilmu untuk menghadap beliau di ruang istirahat utama," ucap sang pengawal singkat tanpa ada keraguan sedikit pun.

​"APA?!" jerit Leo dan Reno berbarengan, membuat beberapa murid yang lewat terlonjak kaget.

​"Wiliam?!" Leo menatap teman sekelasnya itu dengan mata membelalak tak percaya, lalu menoleh ke pengawal Elf tersebut. "P-Permisi, Mbak Pengawal... apakah Anda tidak salah sebut nama? Dia ini Wiliam! Wiliam Pendragon! Yang kerjaannya tidur di kelas Balthazar dan nilai praktek sihirnya selalu di batas kelulusan!"

​"Mungkin maksud Nona Anastasia adalah Julius Pendragon?" timpal Reno panik, ikut membela teman dekatnya. "Julius itu kakak tertuanya, dia murid nomor satu di tingkat tiga! Wiliam ini cuma..."

​"Aku tidak salah menyebut nama," potong pengawal Elf itu dingin, menatap Leo dan Reno dengan pandangan yang membuat kedua pemuda itu bungkam seketika. "Wiliam Pendragon. Hanya dia yang dipanggil."

​Wiliam menghela napas pelan di dalam hati. Ia menepuk bahu Leo dan Reno secara bergantian untuk menghentikan kepanikan kedua temannya. "Sudahlah. Mungkin ada urusan keluarga Pendragon yang ingin beliau sampaikan dariku. Kalian duluan saja ke kelas."

​Leo menatap pelayan Elf itu dengan raut penuh harapan konyol. "Anu... Mbak Pengawal, apakah kami berdua sebagai teman setia Wiliam tidak diajak sekadar untuk menyicipi teh atau biskuit ras Elf di dalam?"

​Pengawal itu menatap Leo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tanpa ekspresi. "Tidak."

​"Singkat, padat, dan menyakitkan," gumam Reno seraya memegangi dadanya dengan drama, sementara Leo merengek kecewa seraya diseret oleh Reno menuju arah kelas.

​"Tunjukkan jalannya," kata Wiliam tenang pada sang pengawal.

​Ruang istirahat khusus tamu agung terletak di lantai paling atas menara barat akademi. Ruangan itu berdinding kayu cedar yang diukir indah, beraroma harum bunga lavender, dan dilengkapi jendela busur raksasa yang memperlihatkan pemandangan seluruh ibu kota.

​Pengawal Elf itu membukakan pintu jati yang tebal, membiarkan Wiliam melangkah masuk, lalu membungkuk hormat ke dalam.

​Di dekat meja teh berukir emas, Anastasia sedang duduk santai. Cangkir porselen berisi teh herbal hangat melayang pelan di dekat jemarinya. Begitu Wiliam melangkah menembus ambang pintu, Anastasia melambaikan tangannya pelan.

​"Tinggalkan kami berdua. Kunci pintunya dari luar dan jangan biarkan siapapun mendekat dalam radius dua puluh meter," perintah Anastasia lembut.

​"Baik, Nona," jawab sang pengawal tanpa ragu, lalu mundur dan menutup pintu rapat-rapat. Suara kait besi yang terkunci dari luar bergema ringkas, menyisakan keheningan yang kental di dalam ruangan.

​Wiliam berdiri beberapa langkah dari meja, lalu membungkuk dengan gestur sopan yang sangat standar untuk seorang murid akademi di hadapan pejabat tinggi. "Wiliam Pendragon memberi hormat kepada Nona Anastasia. Boleh saya tahu alasan Anda memanggil murid biasa seperti saya?"

​Anastasia tidak langsung menjawab. Ia menyesap tehnya perlahan, membiarkan uap hangat membelai pipinya yang mulus tanpa cela. Mata birunya yang jernih menatap Wiliam dari ujung rambut hingga ke ujung sepatu, memindai postur tubuh pemuda itu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang sangat dalam.

​"Wiliam Pendragon..." gumam Anastasia, menaruh cangkirnya kembali ke tatakan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. "Apakah kau tahu tentang insiden penyerangan markas iblis di Hutan Larangan kemarin malam?"

​Wiliam memasang raut bingung yang sangat alami. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Insiden iblis? Saya mendengar rumor di lorong tadi pagi bahwa ada pertarungan di hutan, tapi saya tidak tahu detailnya, Nona. Saya berada di kamar saya sepanjang malam."

​Anastasia tersenyum kecil—sebuah senyuman yang menyimpan ribuan tahun kelicikan dan kecerdasan ras Elf. Dari balik lipatan gaun anggunnya, ia mengeluarkan dua benda dan meletakkannya di atas meja kayu.

​Benda pertama adalah pecahan material hitam berkilau yang retak—serpihan topeng bertanduk.

Benda kedua adalah belahan kepingan besi gelap yang patah—ujung dari bilah pedang kegelapan Wiliam yang hancur dalam pertempuran semalam.

​Wiliam menatap kedua benda itu dengan mata yang tak berkedip, menjaga detak jantungnya agar tetap stabil di frekuensi normal.

​"Kemarin malam, aku bertarung dengan seorang Bangsawan Iblis di dalam gua," ucap Anastasia santai, menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. "Dan sebelum aku melumat iblis itu, aku sempat melihat dengan sangat jelas... wajah seorang pemuda bertopeng yang terlepas karena pukulan sang Iblis. Wajah seorang pemuda 17 tahun bermata merah menyala, berambut hitam acak-acakan, dan memiliki struktur tulang pipi yang persis seperti yang sedang berdiri di depanku saat ini."

​Wiliam tetap menatapnya tanpa perubahan ekspresi. "Nona Anastasia, Anda pasti bercanda. Penglihatan di dalam gua yang gelap sering kali menipu. Saya hanyalah murid biasa dengan bakat sihir yang sangat rendah."

​"Oh, begitu?" Anastasia terkekeh renyah. "Aku akan merahasiakan identitas asli sang Hantu Topeng kepada seluruh benua, kepada para Archmage, bahkan kepada keluargamu sendiri. Tapi ada syaratnya."

​Anastasia memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan seraya menatap Wiliam dengan pendar mata antusias. "Kau harus mengajariku ilmu pernapasan pedang unik yang kau gunakan semalam. Teknik yang menggabungkan aliran mana kegelapan ke dalam sirkulasi darah dan ayunan fisik... aku belum pernah melihat struktur sihir seperti itu selama ribuan tahun hidupku!"

​Wiliam menaikkan satu alisnya. "Nona Anastasia... jadi Anda benar-benar menyangka bahwa aku adalah Hantu Topeng?"

​"Bukan menyangka. Aku yakin," tegas Anastasia manis.

​"Bagaimana jika pria yang Anda temukan sebagai Hantu Topeng semalam hanyalah orang yang kebetulan memiliki wajah yang mirip denganku?" tanya Wiliam dingin, mencoba beralih ke argumen logis. "Dunia ini luas, Nona. Kemungkinan kemiripan fisik—"

​Sebelum Wiliam menyelesaikan kalimatnya, jemari lentik Anastasia bergerak kilat.

​Fwooosh!

​Sebuah pena bulu berujung besi tajam yang berada di atas meja terlempar melintasi udara dengan kecepatan yang melampaui kecepatan anak panah—membawa pendar mana tipis yang sanggup menembus dinding batu. Serangan itu meluncur lurus menyasar tepat di antara kedua mata Wiliam.

​Itu adalah refleks murni dari insting membunuh seorang petarung Level 20.

​Thwip!

​Tanpa ada waktu untuk berpikir atau mengubah ekspresi wajahnya, tangan kanan Wiliam bergerak secara refleks murni. Dua jarinya melayang ke atas, menjepit ujung pena besi yang melaju kencang itu tepat satu milimeter sebelum menyentuh kulit keningnya. Gelombang angin kecil tercipta dari dorongan pena tersebut, menyapu poni rambut hitam Wiliam.

​Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa detik.

​Wiliam berdiri kaku dengan pena terjelepit di antara jarinya, memaki refleks tubuhnya sendiri di dalam hati.

​Anastasia menyandarkan tubuhnya kembali, bertepuk tangan pelan seraya tertawa gembira bagaikan seorang gadis kecil yang baru saja memenangkan permainan hide-and-seek.

​"Lihat?" ucap Anastasia dengan nada penuh kemenangan. "Refleks murni dari seorang pejuang yang terlatih di ambang kematian. Kau dikenal sebagai murid malas tanpa bakat di akademi ini, tapi bagaimana mungkin seorang murid biasa bisa menjepit lemparan energi kecepatanku hanya dengan dua jari tanpa berkedip?"

​Wiliam perlahan menurunkan tangannya. Ia melihat pena di jarinya, lalu menatap Anastasia yang sedang tersenyum lebar. Posisinya sudah tidak bisa disangkal lagi. Bermain bodoh di hadapan entitas Level 20 yang sengaja memancingnya adalah hal yang sia-sia.

​Hah... Wiliam menghela napas panjang—kali ini napas yang sarat akan kepasrahan.

​Wiliam meletakkan pena itu kembali ke atas meja secara perlahan. Pandangan matanya yang tadinya redup dan mengantuk mendadak berubah; aura dingin, tajam, dan pekat yang selama ini tersembunyi di balik ketidaksukaannya pada perhatian meledak tipis di sekitar tubuhnya.

​"Aku minta Anda untuk tidak membocorkan hal ini kepada siapapun," kata Wiliam dengan suara yang tidak lagi melayani formalities murid, melainkan suara dingin sang pengeksekusi malam. "Terutama kepada keluargaku dan teman-temanku."

​"Tentu saja! Aku memegang janjiku," sahut Anastasia antusias, matanya berbinar gembira melihat perubahan sikap Wiliam yang asli. "Tapi ingat syaratku! Kau harus mengajariku Pernapasan Pedang Kegelapan itu! Dan oh... jangan panggil aku 'Nona Anastasia' jika kita sedang berdua. Terlalu kaku! Panggil aku Anya!"

​"Anya?" Wiliam memiringkan kepalanya.

​"Iya, Anya! Itu nama panggilanku untuk orang-orang yang kuanggap menarik!" Anastasia berdiri, melangkah mendekati Wiliam dengan riang. Keanggunan seorang Wanita Suci yang diperlihatkannya di aula tadi menguap total, berganti menjadi kepribadian eksentrik dan penuh rasa ingin tahu yang tak tertahankan.

​"Sekarang, kembalilah ke kelasmu," kata Anya seraya menepuk dada Wiliam dengan gembira. "Belajar yang rajin, Murid Biasa! Kita akan bertemu lagi setelah jam sekolah selesai untuk memulai latihan kita."

​Wiliam menatap wanita Elf yang usianya puluhan kali lipat dari usianya itu dengan perasaan campur aduk. "Baiklah... Anya."

​Wiliam berbalik dan melangkah keluar dari ruangan istirahat setelah pintu dibuka dari luar. Sepanjang jalan kembali ke kelasnya, kepalanya berdenyut pelan. Menghadapi faksi kejahatan atau Bangsawan Iblis rasanya jauh lebih sederhana daripada berurusan dengan Wanit Suci Level 20 yang bertingkah bagaikan anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

​Sisa jam pelajaran hari itu berlalu bagaikan mimpi buruk bagi Wiliam. Di dalam kelas, Leo dan Reno tidak berhenti menembakinya dengan belasan pertanyaan.

​"Wil! Apa yang dibicarakan Wanita Suci denganku?!" bisik Leo setengah berteriak saat Balthazar sedang menulis di papan tulis. "Apakah keluarga Pendragon mau dijodohkan dengan ras Elf?! Atau kau ditunjuk jadi pengawal khusus?!"

​"Dia hanya menanyakan beberapa dokumen administrasi milik Ayah yang tertinggal," jawab Wiliam datar seraya menatap keluar jendela.

​"Hanya itu? Booh! Membosankan sekali!" keluh Reno kecewa seraya kembali mengunyah biskuitnya.

​Saat bel pulang sekolah berbunyi, Wiliam segera merapikan tasnya dan berpamitan pada kedua temannya. Ia ingin cepat sampai di rumah, menenangkan pikirannya, dan menyusun strategi bagaimana cara mengajari seorang penguasa Level 20 tanpa membocorkan seluruh rahasia esensi usahanya.

​Wiliam melangkah menelusuri lorong berkerikil menuju kediaman utama Pendragon. Mansion megah bergaya gotik itu tampak berdiri kokoh di balik gerbang besi tempa. Namun, ada yang aneh sore ini. Kereta-kereta kuda berornamen kerajaan dan pengawal berzirah perak Elf terlihat berjejer di halaman depan mansion.

​Wiliam memicingkan matanya. Jangan-jangan...

​Dengan langkah cepat, Wiliam mendorong pintu utama mansion. Di dalam aula penerima tamu yang megah, ibunya—Seorang wanita anggun berbaju sutra biru—sedang duduk di sofa empuk seraya tertawa lembut. Di hadapannya, menyeduh cangkir teh dengan gerakan yang sangat sopan dan anggun, duduklah Anastasia.

​Julius dan Hector, kedua kakak Wiliam, berdiri kaku di sisi ruangan dengan pakaian terbaik mereka, berusaha keras menyembunyikan rasa gugup dan rasa bangga karena mansion mereka dikunjungi oleh pilar dunia.

​"Ah, Wiliam! Kau sudah pulang, Nak?" panggil ibunya dengan senyum hangat begitu melihat anak bungsunya melangkah masuk.

​Julius menatap Wiliam dengan tatapan tajam dan penuh peringatan, berbisik pelan saat Wiliam melintas, "Jaga sikapmu, Wiliam. Jangan memalukan keluarga di depan Nona Anastasia."

​Wiliam tidak memedulikan kakaknya. Ia mendekati meja dan membungkuk sopan. "Ibu. Nona Anastasia."

​Anastasia menatap Wiliam dengan senyuman paling manis yang pernah ia buat, mata birunya berkilat jahat yang hanya bisa ditangkap oleh Wiliam.

​"Wiliam, kebetulan sekali," kata ibunya lembut. "Nona Anastasia baru saja menyampaikan bahwa beliau sangat menyukai ketenangan di wilayah kediaman kita. Beliau memutuskan untuk menginap di mansion kita selama beberapa hari ke depan!"

​Wiliam hampir saja memutar matanya, namun berhasil ditahannya. "Menginap... di sini?"

​"Tentu saja!" potong Anya gembira, bertepuk tangan pelan. "Ibumu sangat ramah, Wiliam. Dan aku sudah meminta agar kamarku diletakkan di lantai atas... tepat di sebelah kamar tidurmu, agar jika aku membutuhkan bantuan administrasi akademi, aku bisa langsung memanggilmu!"

​Julius dan Hector membelalak kaget. Raut wajah iri dan tidak percaya terpancar jelas di wajah kedua kakak Wiliam. Bagaimana mungkin seorang 'produk gagal' seperti Wiliam mendapatkan perhatian sebesar ini dari seorang Wanita Suci?

​"Itu... sebuah kehormatan besar untuk keluarga kami, Nona Anastasia," ucap Julius cepat, berusaha mengambil alih percakapan. "Jika Anda membutuhkan bantuan sihir atau pengawalan, saya sebagai putra tertua Pendragon siap melayani—"

​"Tidak perlu, Julius," potong Anya dingin tanpa menoleh pada Julius sedikit pun. "Aku hanya butuh Wiliam. Wiliam sangat... efisien."

​Wiliam memijit pelipisnya yang mulai berdenyut kembali. "Saya mengerti, Ibu. Saya akan berganti pakaian dulu di kamar."

​Malam hari menyelimuti kediaman Pendragon. Suasana mansion menjadi sangat sunyi setelah jamuan makan malam yang dipenuhi kepalsuan dari para anggota keluarga Pendragon yang berusaha menarik perhatian Anya.

​Sekitar pukul sebelas malam, saat seluruh penghuni mansion telah tertidur lelap, pintu kamar Wiliam terbuka tanpa suara.

​Anya melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Ia tidak lagi mengenakan gaun diplomasi resminya, melainkan jubah latihan berwarna putih longgar yang memperlihatkan lekuk leher dan bahunya yang mulus. Rambut peraknya diikat tinggi, memberikan kesan segar dan antusias.

​Wiliam sedang duduk bersila di atas karpet hitam di tengah kamarnya, sudah mengenakan pakaian hitam serba longgar tanpa topeng. Matanya yang merah menyala menatap kedatangan Anya tanpa terkejut.

​"Kau tidak mengetuk pintu," kata Wiliam datar.

​"Untuk apa mengetuk pintu jika aku bisa melipat ruang dan masuk begitu saja?" goda Anya seraya melompati tempat tidur Wiliam dengan gerakan lincah bagaikan seekor kucing, lalu mendarat duduk bersila tepat di hadapan Wiliam.

​Anya memajukan wajahnya, menatap mata merah Wiliam dari jarak beberapa sentimeter. "Mata merah ini... sangat indah. Kenapa kau menyembunyikannya di sekolah?"

​"Untuk menghindari pertanyaan tidak penting seperti yang sedang kau tanyakan sekarang," jawab Wiliam seraya mendorong dahi Anya pelan dengan ujung jarinya agar wanita Elf itu mundur sedikit. "Kita mulai latihannya atau tidak?"

​"Aduh! Kau kasar sekali pada dewi berusia ribuan tahun!" ringis Anya konyol seraya memegangi kerut dahinya, sebelum matanya kembali berbinar serius. "Ayo! Ajari aku! Bagaimana cara memasukkan sihir kegelapan ke dalam jalur pernapasan fisik?"

​Wiliam menghela napas panjang, lalu mengangkat tangan kakinya. "Dengar, Anya. Kau adalah pengguna sihir cahaya, ruang, dan kosmik di Level 20. Struktur manamu sangat murni dan terang. Sihir kegelapan yang kugunakan berakar dari sifat penyerapan dan kehampaan. Jika kau memaksakan mana kegelapan masuk ke paru-parumu tanpa memahami hakikat dasarnya, pembuluh darahmu bisa pecah."

​"Aku tahu!" sahut Anya antusias. "Justru karena itulah aku tertarik! Aliran sihir biasa membiarkan mana mengalir di luar tubuh melalui lingkaran sihir. Tapi teknik Pernapasan Pedang-mu memaksa mana membasahi sel-sel otot dan sirkulasi darah secara langsung. Itu adalah gabungan antara seni beladiri murni dan manipulasi esensi!"

​"Bagus kalau kau paham," kata Wiliam. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan kabut hitam tipis memancar dari telapak tangannya. "Langkah pertama bukan mengayunkan pedang. Langkah pertama adalah Pengendalian Napas Kehampaan."

​Wiliam menginstruksikan Anya untuk duduk tegak dan menirukan ritme napasnya. "Tarik napas empat hitungan, tahan di rongga dada bawah selama delapan hitungan, lalu hembuskan dalam dua hitungan. Tapi saat kau menarik napas, jangan tarik udara... bayangkan kau sedang menyedot ruang kosong di sekitarmu ke dalam aliran darah."

​Anya memejamkan matanya, mulai mengikuti instruksi Wiliam dengan tekun.

​Sebagai seorang jenius Level 20, penguasaan kontrol mana Anya sangatlah mengerikan. Dalam hitungan detik, ritme napasnya menyatu dengan instruksi Wiliam. Namun, begitu ia mencoba menarik mana kegelapan buatan yang dialirkan Wiliam ke udara, tubuh Anya gemetaran hebat. Ujung-ujung jarinya memucat, dan peluh dingin mulai membasahi dahi mulusnya.

​"Jangan dipaksakan," tegur Wiliam pelan, memegang kedua bahu Anya untuk menstabilkan posisinya. "Manamu terlalu dominan. Kau mencoba memimpin sihir kegelapan itu bagaikan seorang ratu memimpin prajurit. Kau harus membiarkan kegelapan itu meresap secara pasif, bukan menaklukkannya."

​Anya membuka matanya, terengah-engah pelan. Wajahnya yang biasa terlihat percaya diri kini menunjukkan raut sedikit frustrasi—sebuah ekspresi langka bagi seorang penguasa benua.

​"Sulit sekali..." bisik Anya seraya menatap jemarinya yang masih bergetar. "Elemen cahayaku secara otomatis menolak dan menghancurkan esensi kegelapan itu setiap kali masuk ke paru-paruku."

​"Tentu saja sulit," sahut Wiliam datar. "Aku butuh waktu bertahun-tahun menahan penderitaan ini saat menciptakan Pernapasan Pedang Kegelapan. Kau pikir teknik ini muncul hanya karena aku mengetuk jari?"

​Anya menatap Wiliam dengan pandangan yang perlahan berubah dari sekadar rasa ingin tahu menjadi rasa kagum yang mendalam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa di balik sosok pemuda 17 tahun yang diremehkan oleh keluarga dan temannya ini, tersimpan penderitaan, disiplin, dan ketabahan jiwa yang luar biasa keras untuk bisa menciptakan gaya bertarung orisinal yang diakui dunia.

​"Coba lagi," kata Wiliam lembut, memindahkan genggaman tangannya ke pergelangan tangan Anya, membantu menyalurkan jejak Pernapasan Pedang-nya sendiri sebagai pemandu aliran mana di dalam tubuh Anya. "Ikuti aliranku. Jangan melawan."

​Anya mengangguk pelan. Ia memejamkan mata kembali, membiarkan kehangatan dan ketenangan mana Wiliam membimbing sirkulasi darahnya.

​Sepanjang malam itu, di dalam kamar tidur yang sunyi di bawah naungan sinar rembulan, latihan rahasia itu terus berlanjut. Anastasia, Sang Wanita Suci Elf yang menguasai puncak dunia, secara sukarela menjadi murid dari Wiliam Pendragon—sang Hantu Topeng yang bergerak di balik bayangan.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!