⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 27: Titah Kaisar
Keesokan harinya, kabut tipis masih membungkus pilar-pilar batu megah di Istana Kekaisaran. Suasana di dalam Ruang Kerja Pribadi Kaisar terasa amat hening dan menekan.
Aroma asap kayu cendana yang terbakar di dalam tungku porselen tua membumbung pelan, seakan mengiringi derak napas sang penguasa tertinggi kekaisaran.
Kaisar duduk di atas kursi naga kayu jati berukir perosot emas. Di hadapannya, Putra Mahkota Zhao Xiao berlutut di atas lantai batu pualam yang dingin.
Jubah brokat emas yang dikenakannya tampak kusam akibat penderitaan batin dan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya sepanjang malam usai insiden di Hutan Barat.
Kaisar menyesap teh krisannya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu dengan denta lunak yang bergema di seluruh ruangan.
"Zhao Xiao," panggil Kaisar dengan suara berat dan dalam.
Zhao Xiao menundukkan kepalanya lebih dalam, dan menempelkan dahinya ke lantai batu pualam. "Hamba mendengarkan titah Ayahanda Kaisar."
"Apakah kau menyadari betapa dalam jurang kemerosotan yang hampir kau masuki semalam?" tegur Kaisar, sorot matanya yang bijak namun tajam menatap lurus ke arah putranya. "Kau adalah pewaris tahta kekaisaran ini! Namun kau membiarkan dirimu dijadikan alat, dituntun seperti sapi berhidung keluh oleh kecerdikan dan intrik Perdana Menteri Lin serta putrinya!"
"Hamba mengakui kebodohan hamba, Ayahanda," sahut Zhao Xiao dengan suara serak namun tanpa intonasi mengelak. "Hamba telah bertindak ceroboh, membutakan mata dari kebenaran, dan hampir saja menghilangkan nyawa seorang gadis tak berdosa di Hutan Barat. Hamba bersedia menerima hukuman apa pun yang Ayahanda jatuhkan."
Kaisar menarik napasnya, kemarahannya perlahan mereda menggantikan rasa kekecewaan seorang ayah yang menginginkan anaknya menjadi pemimpin yang bijaksana.
"Kejadian semalam adalah pelajaran berdarah untukmu," ujar Kaisar tegas. "Shen Yue tidak hanya selamat karena ketangguhannya, tetapi ia juga menunjukkan wibawa yang tidak kau miliki saat ini. Dengar baik-baik, Zhao Xiao, apa pun yang terjadi, Shen Yue adalah satu-satunya gadis yang akan dijodohkan dan disandingkan denganmu di atas takhta Istana Timur! Dia bukan hanya pilihan yang paling tepat untuk menjadi Putri Mahkota demi menopang kekaisaran ini, tetapi dia adalah satu-satunya wanita yang bisa menjadi penyeimbang atas kelemahan dan kecerobohanmu!"
Zhao Xiao mengepalkan tangannya di atas lantai batu. Kata-kata sang Ayahanda merasuk dalam ke dadanya.
Setelah menyaksikan sendiri bagaimana Shen Yue menghadapi delapan pembunuh bayaran dengan keberanian dan kepribadiannya yang agung, Zhao Xiao tidak bisa lagi menampik kebenaran ucapan Kaisar.
Shen Yue memang berada di tingkatan yang sama sekali berbeda darinya.
Hening sejenak melingkupi ruang kerja pribadi tersebut. Zhao Xiao perlahan menegakkan tubuhnya, dan menatap lurus ke dalam mata sang Kaisar dengan kesungguhan yang jarang terlihat sebelumnya.
"Ayahanda," ucap Zhao Xiao dengan nada suara yang terdengar tegas. "Hamba telah memahami dan menerima titah Anda. Hamba bersedia menerima pertunangan ini dan akan menyambut Nona Shen Yue sebagai Putri Mahkota resmi di Istana Timur."
Kaisar mengangguk puas dan mengira debat panjang ini telah selesai. Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari bibir sang Putra Mahkota langsung membuat alis sang penguasa mengerut dengan tajam.
"Namun, Ayahanda..." lanjut Zhao Xiao sambil berlutut tegak, "hamba memohon satu hal lagi dari kebaikan hati Anda. Izinkan hamba memilih dan mengangkat seorang selir bersamaan di hari pernikahan agung tersebut."
Brak!
Kaisar menepuk pegangan kursi naganya, matanya membelalak gusar. "Apa yang kau bicarakan, Putra Mahkota?! Hari pernikahan Putri Mahkota adalah peristiwa suci bagi kekaisaran! Bagaimana mungkin kau berniat mengangkat selir di hari yang sama?!"
"Ayahanda, dengarkan hamba!" seru Zhao Xiao dengan nada memohon. "Hamba menghormati Nona Shen Yue atas kecerdasan dan keberaniannya yang tak tertandingi, dan hamba akan memberikan seluruh hak, kehormatan, serta posisi Putri Mahkota kepadanya tanpa kurang satu apa pun. Tetapi... hati hamba tetap tidak bisa meninggalkan Nona Lin Wanru. Hamba telah berjanji padanya. Izinkan hamba mengangkanya menjadi Selir di hari pernikahan itu."
"Kau...!" Kaisar berdiri dari kursinya dengan napas yang memburu. "Lin Wanru adalah putri dari Perdana Menteri Lin yang hampir saja menjerumuskanmu ke dalam jurang makar! Apakah kau masih tertipu oleh keluguannya?!"
"Hamba tau Perdana Menteri Lin memiliki ambisi politik yang mengerikan," sela Zhao Xiao cepat. "Namun Wanru-er adalah gadis yang tumbuh bersama hamba sejak kecil. Hamba percaya hatinya tidak sebobrok ayahnya. Dengan mengangkatnya menjadi selir di bawah pengawasan ketat Shen Yue sebagai Putri Mahkota, hamba bisa menetralisir faksi Lin sekaligus menepati janji pribadi hamba sebagai seorang pria!"
Kaisar menatap Zhao Xiao lebih dalam. Di balik permohonan tersebut, sang Kaisar melihat kompromi dan kedewasaan pahit yang baru tumbuh dalam diri putranya.
Zhao Xiao tidak lagi mengamuk atau menolak Shen Yue secara buta, ia mencoba menyeimbangkan kewajiban negara dengan perasaan pribadinya.
Setelah merenung cukup lama, Kaisar mendesah dengan berat, hingga aura ketegangannya pun mereda.
"Kebijakan seorang penguasa terkadang harus mengakomodasi kelemahan hati bawahannya," gumam Kaisar. "Baiklah. Aku mengabulkan permintaanmu. Pada hari pernikahan agung bulan depan, Shen Yue akan diangkat menjadi Putri Mahkota Utama dengan tata cara Istana Kekaisaran tertinggi. Sedangkan Lin Wanru akan dimaksukkan ke Istana Timur melalui pintu samping sebagai Selir Tingkat Tiga."
Zhao Xiao membungkuk dalam-dalam hingga dahinya kembali menyentuh lantai. "Hamba menghaturkan terima kasih yang tak terhingga atas kemurahan hati Ayahanda Kaisar!"
_________
Kabar mengenai titah khusus Kaisar, tentang pernikahan ganda Pangeran Zhao Xiao yang mengangkat Shen Yue sebagai Putri Mahkota Utama dan Lin Wanru sebagai Selir di hari yang sama, menyebar cepat bagaikan kilat ke seluruh pelosok ibu kota.
Di Kediaman Perdana Menteri Lin, berita ini disambut dengan perasaan campur aduk. Meski Perdana Menteri Lin murka karena putrinya hanya dijadikan selir sekunder dan kehilangan posisi Putri Mahkota, Lin Wanru justru menyunggingkan senyum licik di balik tangis palsunya.
"Selir?" bisik Lin Wanru di dalam kamarnya sambil meremas saputangan sutranya. "Tidak masalah... Selama aku bisa melangkah masuk ke dalam Istana Timur di hari yang sama dengan Shen Yue, aku akan memiliki akses harian untuk memikat hati Putra Mahkota dan menjatuhkan kedudukan Shen Yue dari dalam!"
Sementara itu, di Paviliun Barat Kediaman Shen, suasana justru tampak sangat tenang.
Qingzhu masuk ke dalam kamar utama dengan wajah memerah karena marah, sambil membawa baki berisi teh hangat.
"Nona Muda!" seru Qingzhu tak tahan lagi. "Ini sungguh tidak adil! Bagaimana mungkin Yang Mulia Kaisar menyetujui permintaan Putra Mahkota untuk mengangkat Nona Lin sebagai selir di hari pernikahan Anda?! Ini adalah penghinaan bagi status Anda sebagai Putri Mahkota Utama!"
Shen Yue yang sedang duduk di dekat jendela sambil membolak-balik peta logistik militer tidak menunjukkan sedikit pun riak emosi di wajah cantiknya. Ia hanya menyeruput tehnya dengan santai, lalu menoleh pada pelayannya.
"Penghinaan?" Shen Yue tersenyum miring, sebuah senyuman elegan yang dipenuhi ironi. "Qingzhu, kau melihat ini sebagai penghinaan, tapi aku melihat ini sebagai komedi politik yang sangat menguntungkan."
Qingzhu tertegun dan nampak bingung. "M-maksud Nona?"
"Dengar," jelas Shen Yue dengan logika dingin khas prajurit modern. "Jika Lin Wanru berada di luar istana, dia akan terus menggunakan pengaruh ayahnya untuk merancang intrik terselubung yang sulit kulacak. Namun, jika dia masuk ke Istana Timur sebagai selir di bawah kekuasaanku... dia hanyalah seekor burung dalam sangkar emas yang seluruh pergerakannya berada di bawah jemariku."
Shen Yue meletakkan cangkir tehnya, matanya berkilat dengan ketajaman tingkat tinggi.
"Putra Mahkota berpikir dia telah menyelamatkan cinta kecilnya dengan memberikannya posisi selir," lanjut Shen Yue pelan. "Dia tidak sadar bahwa dengan membawa Lin Wanru masuk ke dalam wilayah kekuasaanku, dia justru menyerahkan senjata utama musuh langsung ke tanganku. Biarkan mereka bermain rumah-rumahan dengan cinta mereka... sementara aku mengonsolidasikan kekuasaan atas seluruh Istana Timur!"
Bersambung...