Indonesia
NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Menggugat Demi Harga Diri

Setelah menerima secarik kertas berisi alamat kantor pengacara dari Bu Khadijah, Arini menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tas.

"Datang saja, Nak. Ibu sudah menghubungi Bu Elsa. Beliau sudah menunggumu," ujar Bu Khadijah dengan senyum menenangkan.

Arini mengangguk. "Terima kasih banyak, Bu. Doakan semoga semua urusanku dimudahkan."

"Tentu, Nak. Semoga Allah selalu menyertaimu."

Arini mencium tangan Bu Khadijah sebelum berpamitan. Ia kemudian berjalan menuju area parkir panti, tempat mobilnya terparkir sejak ia datang kemarin.

Setelah mesin mobil menyala, Arini menarik napas panjang. Kedua tangannya menggenggam kemudi dengan mantap. Ada sedikit rasa gugup karena untuk pertama kalinya ia benar-benar mengambil langkah hukum terhadap suaminya sendiri. Namun, tekadnya jauh lebih besar daripada keraguannya.

Mobil perlahan meninggalkan halaman panti.

Sepanjang perjalanan, Arini lebih banyak larut dalam pikirannya. Lampu lalu lintas, deretan pertokoan, dan kendaraan yang berlalu-lalang seolah hanya menjadi pemandangan yang lewat begitu saja di depan matanya.

Pikirannya kembali pada perjalanan rumah tangganya bersama Galang. Dulu, lelaki itu adalah sosok yang membuatnya yakin bahwa pernikahan akan menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Namun kenyataannya, rumah tangga yang dibangunnya justru berubah menjadi tempat yang penuh luka.

Ia masih mengingat jelas bagaimana Galang tega membawa Mayang ke rumah mereka. Lebih menyakitkan lagi, Galang membohongi keluarganya dengan mengaku bahwa rumah itu adalah miliknya, sehingga Bu Sumarni dan Mayang merasa berhak atas rumah Arini yang dibelinya dengan hasil kerja kerasnya.

Rahang Arini mengeras.

"Cukup," gumamnya pelan di balik kemudi. "Aku sudah terlalu lama diam. Dia memanfaatkanku hanya karena aku punya uang. Ternyata dia tidak mencintaiku."

Keputusan untuk menggugat cerai bukan lagi didasari emosi sesaat. Semua telah ia pikirkan matang-matang. Berkali-kali ia mencoba mempertahankan rumah tangganya. Ketika Bu Sumarni memeperlakukannya tidak baik, dia masih terima. Tetapi kini, setelah Galang menikah lagi, tidak ada alasan dia untuk bertahan. Karena kalau dia bertahan, bisa jadi yang ia dapat hanyalah penghinaan, pengkhianatan, dan perlakuan yang semakin tidak manusiawi.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Arini memasuki kawasan perkantoran. Ia memperlambat laju kendaraan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah gedung bertingkat yang tampak elegan.

Di bagian depan gedung terpasang papan nama bertuliskan:

Kantor Hukum Elsa Damayanti, S.H. & Rekan.

Arini mematikan mesin mobil. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

"Inilah awal dari hidup baruku," bisiknya lirih.

Dengan membawa tasnya, Arini turun dari mobil, mengunci pintu kendaraan, lalu melangkah memasuki kantor hukum tersebut dengan penuh keyakinan. Hari itu, ia datang bukan sebagai perempuan yang lemah.

Arini melangkah memasuki lobi kantor hukum dengan perasaan yang bercampur aduk. Ruangan itu tampak tenang dan tertata rapi. Dindingnya didominasi warna krem dengan beberapa pigura berisi sertifikat dan penghargaan yang menunjukkan profesionalisme pemilik kantor.

Seorang resepsionis yang sedang duduk di balik meja langsung berdiri menyambutnya.

"Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"

"Selamat siang. Nama saya Arini. Saya sudah membuat janji bertemu dengan Ibu Elsa Damayanti."

Resepsionis tersenyum ramah. "Oh, benar, Bu Arini. Ibu Elsa sudah menunggu. Silakan duduk sebentar, saya akan memberi tahu beliau."

Tak sampai dua menit, resepsionis kembali.

"Silakan, Bu. Ibu Elsa sudah mempersilakan Anda masuk!"

Arini mengangguk pelan, lalu mengikuti resepsionis menuju sebuah ruangan yang cukup luas. Rak-rak berisi buku hukum memenuhi salah satu sisi ruangan. Di sisi lain terdapat sofa untuk menerima klien. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahunan dengan penampilan rapi dan berwibawa berdiri dari kursinya begitu Arini masuk.

"Assalamu'alaikum." Arini mengucapkan salam.

"Wa'alaikumussalam, silakan masuk, Bu Arini. Saya Elsa Damayanti."

Mereka berjabat tangan. "Terima kasih sudah bersedia menerima saya, Bu."

"Tidak perlu sungkan. Duduklah dulu. Bu Khadijah sudah menghubungi saya tadi."

Keduanya duduk berhadapan. Tak lama kemudian, seorang staf masuk membawakan teh hangat dan air mineral.

Elsa tersenyum menenangkan. "Sebelum kita mulai, saya ingin Ibu merasa nyaman dulu. Apa pun yang Ibu ceritakan di ruangan ini bersifat rahasia. Jadi silakan sampaikan semuanya tanpa takut atau ragu!"

Kalimat itu membuat Arini sedikit lebih tenang.

"Baik, Bu."

Elsa membuka buku catatan dan menyiapkan pulpen.

"Silakan mulai dari awal. Saya ingin mengetahui kronologi lengkapnya."

Arini menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.

Dengan runtut, ia menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya sejak hari yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam rumah tangganya.

"Dia hari itu adalah ulang tahun pernikahan kami yang kedua, Bu. Saya sudah menyiapkan makan malam spesial dan berharap bisa merayakannya bersama suami. Tapi yang datang justru mimpi buruk."

Suara Arini mulai bergetar. "Mas Galang pulang... membawa seorang perempuan bernama Mayang. Bersama kedua mertuanya juga."

Elsa menghentikan catatannya sejenak, lalu menatap Arini. "Silakan lanjutkan!"

"Di depan saya sendiri, ibu mertua saya memperkenalkan perempuan itu sebagai istri kedua Mas Galang. Seolah-olah saya tidak ada. Seolah-olah saya harus menerima begitu saja kenyataan itu."

Elsa tampak terkejut, tetapi tetap tenang mendengarkan. "Itu terjadi di rumah saya sendiri, Bu."

"Maksud Nak Arin, rumah yang ditempati selama ini?"

"Iya. Rumah itu saya beli sebelum menikah. Sertifikat, akta jual beli, semuanya atas nama saya. Tapi Mas Galang membohongi keluarganya. Dia mengatakan bahwa rumah itu miliknya. Akibatnya, ibu mertuanya dan Mayang menganggap saya hanya menumpang."

Arini mengusap sudut matanya sebelum melanjutkan.

"Sejak itu, mereka tinggal di rumah saya."

Elsa kembali mencatat setiap penjelasan Arini.

"Lalu kemarin saya pergi dari rumah, saya mengunci kamar saya sendiri karena tidak ingin mereka keluar masuk seenaknya. Saya keluarkan dulu barang-barang suami saya. Mereka justru marah. Ibu mertua saya mengatakan saya kurang ajar karena mengunci kamar di rumah yang katanya milik Galang. Padahal kamar itu memang kamar saya."

Arini menarik napas panjang. "Yang paling menyakitkan bukan hanya karena suami saya berselingkuh. Tapi karena dia membiarkan ibunya dan perempuan itu memperlakukan saya seperti itu. Bahkan dia ikut membela mereka."

Ruangan kembali hening. Arini menatap Elsa dengan mata yang kini jauh lebih tegas.

"Saya sudah memikirkan semuanya dengan matang, Bu. Apa yang dilakukan Galang dan keluarganya sudah benar-benar keterlaluan. Saya tidak mungkin lagi mempertahankan rumah tangga seperti ini."

"Karena itu..." suara Arini mantap, "...saya ingin menggugat cerai Mas Galang."

Elsa mengangguk pelan sambil kembali membuka map berisi catatan hasil konsultasi mereka.

"Dalam gugatan tersebut, Nak Arin ingin mengajukan tuntutan apa saja? Misalnya mengenai harta bersama atau harta gono-gini?"

Arini menggeleng tegas.

"Tidak ada, Bu. Tidak ada harta gono-gini dalam pernikahan saya dengan Mas Galang. Justru kalau bicara soal materi, saya yang paling banyak dirugikan."

__________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Marina Tarigan
sdj kere masih Arogan mantan suami
Marina Tarigan
baru sadar ya merendahkan orang yg bertanggung jawab dan menyakiti nokmati kehancuran kalian
Marina Tarigan
amankan semua aseymu karen a bisa timbul perlawanan dari pihak suamimu dan galamg laki2 tolol itu
Marina Tarigan
waniya tangguh dan mandiri tdk perlu suami dan keluarga arogan
Marina Tarigan
diam2 menysun rencana untk dirimu tak usah punya suami bisfap dan mertua songong dhn kata2 merendahkan dan egois
Marina Tarigan
lanjut terus berantamnya Arini sdg menyusun renvana yg mematikan semuanya
Marina Tarigan
cerai saja dan usir merela dari rmh Arini bari yahu tasa
Marina Tarigan
lejutan sebentar lagi yg sangat mengejutkan kalian
Marina Tarigan
benar 2 inu bijaksana benar nasihat dan masukan ibu khadizah karena pernikahan antara laki2 dan wanita harus saling menghargai saling mencintai saling menghormati bukan menyakiti dan merendahkan mknya berverailah dp terbelenggu oleh manusia serakah tdk punya etika tdk punya hati
Marina Tarigan
bofoh kali suamimu benalu itu Arini dia tdk tahu penghasilanmu dari usaha yg besar ya. idiot kali timggalkan saja benalu itu sebelu pergi siapkan semua aset2mu dan surat2 penting baru singkirkan semua ular beludak itu baru tahu rasa utk apa suami bodoh
Marina Tarigan
galang orsng tolol iq nya hanya 3 neg kam dia lihst selama ini keadaan rumah dan belanja berapa yg dia kasih sm istrinya
Marina Tarigan
rupanya galang suami katak lompat bodoh dungu tdk punya atitude langko losong tdk punya harga diri ya. ampun keluarga benalu songong
Marina Tarigan
begitu dong eanita tangguh jgn mau ditindad kalau mereka tambah kasar dan galang hanya diam awa barang2mu tinggalkan rmh
Marina Tarigan
bacaan ini memang cerita tapi alurnya terlampau biadap deh seorang istri sah terlampau dihina keluarga dan suaminya sendiri lebib baik mundur Arini
echa purin
👍
Bella. pr1ncess
peran utama kok menye menye bebal banyet banyak mikir
Bella. pr1ncess
kenapa tidak sat set sih kok lambat banget kapan cerainya muter muter terus
Sri Lestari
kalau sdah pergi..baru terasa betapa berharganya orang tsb...
Dandelion
makan tuh si mayang bu sumarni menantu kesanyangan mu bu 😁🤣
Dandelion
galang dan keluarganya bnr2 medusa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!