ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

1. Malam Anniversary Kedua

Sore itu, langit Bandung mulai berubah jingga. Dari dapur, aroma ayam bakar yang sejak siang dimarinasi memenuhi seluruh rumah. Arini tersenyum kecil sambil menata piring-piring terbaik yang hanya ia keluarkan untuk momen spesial.

Hari ini tepat hari ulang tahun kedua pernikahannya dengan Galang. Meski sederhana, ia ingin malam ini menjadi malam yang hangat. Apalagi keluarga suaminya akan datang dari Yogyakarta.

Ponselnya berdering. Nama Mas Galang muncul di layar. Wajah Arini langsung berbinar.

"Assalamualaikum, Mas."

"Waalaikumsalam, Rin. Aku sampai rumah paling abis magrib. Ini masih di Tasik."

"Ok, Mas. Hati-hati ya."

"Tentu. Jadinya anniversary kita dirayakan di mana, Rin?"

"Di rumah aja, Mas. Kalau dirayakan di luar kasihan ibu, bapak, dan Vera. Masa udah perjalanan jauh harus diajak jalan lagi?"

Galang terkekeh pelan. "Ya udah, terserah kamu aja."

"Kamar untuk ibu dan bapak sudah disiapkan."

"Ok, makasih ya, Sayang. Kamu memang istri yang sangat pengertian."

Arini tersipu. "Ah Mas Galang ini. Kayak ke siapa aja pakai bilang gitu segala. Ibu Mas Galang adalah ibuku juga."

Beberapa detik suasana menjadi hangat. Hangat seperti rumah tangga yang selama ini Arini yakini baik-baik saja. Tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya bahwa dalam hitungan jam, seluruh hidupnya akan hancur berkeping-keping.

Seminggu lalu, Bu Sumarni, ibu mertuanya, menelepon. Katanya sedang sakit dan meminta Galang pulang ke Yogyakarta. Awalnya Arini ingin ikut. Namun Bu Sumarni menolak dengan halus.

"Nggak usah, Rin. Galang aja yang pulang!"

Meski sedikit kecewa, Arini mengalah.

Dua hari lalu, Galang kembali menelepon. Katanya kondisi Bu Sumarni sudah membaik dan ingin ikut tinggal bersama mereka di Bandung.

Arini langsung menyetujuinya. Walaupun ia tahu, selama dua tahun pernikahannya dengan Galang Bu Sumarni tak pernah benar-benar menyukainya. Tak pernah memujinya. Tak pernah menunjukkan kasih sayang seperti seorang ibu kepada anak perempuan. Namun Arini tetap berusaha. Ia percaya, jika hidup serumah, mereka bisa saling mengenal lebih dekat.

Mungkin selama ini hanya ada kesalahpahaman.

Mungkin suatu hari nanti Bu Sumarni akan menerimanya sepenuh hati.

Malam pun tiba.

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh tepat ketika suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.

Arini yang sejak tadi menunggu di ruang tamu langsung berdiri. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Pintu rumah terbuka. Galang masuk lebih dulu.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Arini segera menghampiri suaminya. Seperti biasa, ia mencium tangan Galang dengan takzim.

"Capek, Mas?"

"Sedikit." Jawaban itu terdengar singkat. Namun Arini tidak terlalu memikirkannya.

Ia kemudian menyambut Pak Hardi dan Bu Sumarni yang masuk setelahnya.

"Selamat datang di Bandung, Pak, Bu. Bagaimana sudah sehat, Bu?"

"Lumayan."

Jawaban Bu Sumarni terdengar datar. Arini hanya tersenyum. Mungkin ibu mertuanya memang lelah karena perjalanan jauh.

Tak lama kemudian Vera turun dari mobil. Arini tersenyum menyambut adik iparnya itu. Namun sesaat kemudian, senyumnya perlahan menghilang.

Karena ada seseorang yang ikut masuk ke dalam rumah. Seorang wanita muda. Cantik. Sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Rambut panjangnya tergerai rapi. Penampilannya elegan dan berkelas.

Wanita itu berdiri di dekat Vera adik iparnya.

Entah mengapa, jantung Arini mendadak berdebar tidak nyaman.

"Ver.." Arini tersenyum canggung. "Ini siapa ya?"

Belum sempat siapa pun menjawab, Bu Sumarni melangkah maju. Tatapannya datar. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun.

"Ini Mayang."

Arini mengangguk sopan.

"Halo, Mbak Mayang!"

Namun kalimat berikutnya membuat dunianya runtuh seketika. "Mayang adalah istri kedua Galang. Baru lima hari yang lalu menikah."

Hening. Seolah seluruh suara di dunia menghilang.

Arini merasa telinganya berdenging.

"Apa...?" Bibirnya bergetar.

Bu Sumarni justru melanjutkan dengan tenang.

"Dia cinta pertama Galang. Mereka sudah saling mencintai sejak SMA. Harusnya dari dulu Galang menikah dengan Mayang."

Deg!

Tubuh Arini seakan kehilangan tenaga. Wajahnya memucat. Matanya langsung mencari sosok suaminya. Galang.

Pria yang dua tahun terakhir menjadi pusat dunianya. Pria yang beberapa jam lalu masih memanggilnya sayang melalui telepon. Pria yang tadi siang masih membahas perayaan anniversary mereka.

"Mas..." Suara Arini pecah.

"Apa yang Ibu bilang itu nggak benar, kan?"

Galang tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala. Diam. Dan diamnya terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.

Jantung Arini seperti diremas kuat-kuat. "Mas, jawab aku!"

Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. "Katakan kalau ini bohong!"

Tetapi lagi-lagi Galang memilih diam. Tidak membela. Tidak menjelaskan. Tidak menyangkal.

Seolah dirinya memang bersalah. Seolah semua yang dikatakan ibunya adalah kebenaran.

Arini mundur selangkah. Dadanya terasa sesak.

Sulit bernapas. Pikirannya kacau. Baru beberapa jam lalu ia sibuk menyiapkan kamar untuk mertuanya. Menyiapkan makanan favorit keluarga suaminya. Menata rumah agar mereka merasa nyaman. Bahkan ia rela merayakan anniversary pernikahannya di rumah demi menghormati keluarga yang datang dari jauh.

Namun balasan yang diterimanya justru seperti ini. Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta. Di hari yang seharusnya menjadi kenangan indah. Suaminya pulang membawa perempuan lain.

Membawa seorang istri baru. Tanpa pemberitahuan. Tanpa penjelasan. Tanpa sedikit pun menghargai perasaannya.

"Mas..." suara Arini bergetar hebat. "Jadi selama ini aku dianggap apa?"

Galang masih menunduk. Sikap itu membuat amarah yang bercampur luka mulai memenuhi dada Arini.

"Jawab aku, Mas!" Tangisnya akhirnya pecah. "Selama dua tahun aku menemanimu Mas. Selama dua tahun aku berusaha jadi istri yang baik. Apa aku pantas diperlakukan seperti ini?"

Namun yang menjawab justru Bu Sumarni.

"Kamu harus belajar menerima kenyataan, kamu harus sadar diri, kamu itu mandul."

Arini menoleh. Tatapan wanita paruh baya itu dingin. Menusuk. "Tapi Bu—"

"Mayang lebih dulu ada di hati Galang."

Kalimat itu seperti pisau yang kembali mengoyak luka. Air mata Arini mengalir semakin deras.

Tangannya mengepal kuat. Tubuhnya gemetar menahan marah. Arini tertawa pahit. Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.

"Kamu harus legowo, Rin. Laki-laki sukses itu biasa memiliki wania lebih dari satu." Ucap Pak Hardi enteng.

"Iya, lagian kan Mas Galang gak menceraikan Mbak Arin." Itu yang paling penting." Vera ya selama ini selalu membebaninya berbicara lugas.

Berikut versi yang lebih natural dan emosional:

"Kamu harus legowo, Rin. Laki-laki sukses itu biasa memiliki wanita lebih dari satu," ucap Pak Hardi enteng, seolah apa yang terjadi bukan luka yang sedang merobek hati Arini.

"Iya, lagian kan Mas Galang nggak menceraikan Mbak Arini. Itu yang paling penting," timpal Vera tanpa rasa bersalah.

Seperti biasa, iparnya itu selalu berbicara lugas, bahkan cenderung menyakitkan. Tak pernah ada usaha untuk menjaga perasaan Arini. Seolah keberadaan perempuan lain dalam rumah tangganya bukan masalah besar selama statusnya masih tetap sebagai istri sah.

Arini menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Mereka berbicara tentang hidupnya, tentang pernikahannya, tentang suaminya yang akan berbagi cinta dengan wanita lain, tetapi tak seorang pun tampak peduli pada perasaannya.

Di mata mereka, yang penting Arini masih menyandang status istri. Tidak peduli jika hatinya perlahan hancur berkeping-keping.

Jadi itu ukuran kebahagiaan seorang istri menurut mereka? Tidak diceraikan. Meskipun hatinya diinjak-injak. Meskipun harga dirinya dihancurkan. Meskipun suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Air mata kembali jatuh tanpa bisa dibendung. Tangannya gemetar. Dadanya terasa sakit hingga sulit bernapas.

"Oh ya, Mbak," sela Mayang sambil tersenyum manis, seolah tidak menyadari betapa menyakitkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Sekarang kan kami sedang honeymoon. Bisa nggak disediakan kamar yang nyaman? Ya setidaknya seperti di hotel."

Mayang melirik ke arah Galang sebelum melanjutkan ucapannya. "Atau nggak apa-apa kan kalau kami tidur di kamar utama rumah Mas Galang ini? Soalnya lima hari kemarin kami honeymoon di hotel, jadi masih terbiasa tidur di kamar yang nyaman."

Arini membeku di tempatnya. Kamar utama?

Kamar yang selama dua tahun terakhir menjadi ruang pribadinya bersama Galang? Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan, tawa, doa, dan harapannya sebagai seorang istri? Wanita itu mengatakannya dengan begitu enteng, seolah meminta kamar tamu biasa.

Arini menoleh ke arah Galang. Dalam hati, ia berharap suaminya akan menolak. Mengatakan bahwa kamar itu adalah hak Arini. Bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.

Namun harapan itu kembali hancur. "Kalau itu yang kamu mau, nggak masalah," jawab Galang santai.

Jantung Arini seperti diremas. "Mas..." suaranya bergetar.

"Apa?"

"Itu kamar kita."

Galang mengembuskan napas panjang, seolah Arini sedang mempermasalahkan sesuatu yang sepele.

"Arin, izinkan aja lah. Cuma kamar, kan?"

Cuma kamar. Dua kata itu terasa seperti tamparan keras. Bagi Galang mungkin hanya sebuah ruangan. Namun bagi Arini, itu adalah simbol rumah tangga yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.

"Benar, Mbak," sahut Vera cepat. "Lagian Mas Galang kan sekarang harus adil. Masa Mbak masih mau menguasai semuanya sendiri?"

Pak Hardi mengangguk setuju. "Kamu harus belajar berbagi, Rin. Sekarang status Mayang juga istri Galang."

Arini tersenyum pahit. Berbagi? Dulu mereka meminta dirinya berbagi waktu suaminya. Lalu berbagi perhatian. Sekarang bahkan tempat tidurnya pun harus dibagi.

Entah setelah ini apa lagi yang harus ia relakan.

Dan yang paling menyakitkan, tidak seorang pun di ruangan itu menganggap pengorbanannya sebagai sesuatu yang berharga. Mereka hanya menuntutnya untuk terus legowo, sementara hatinya perlahan hancur sedikit demi sedikit.

Kini di hadapannya berdiri orang-orang yang menganggap penderitaannya sebagai sesuatu yang wajar. Bu Sumarni yang sejak awal menginginkan Mayang. Pak Hardi yang menyuruhnya legowo.

Vera yang menganggap semua ini bukan masalah.

Dan Galang...Lelaki yang seharusnya membelanya.

Lelaki yang seharusnya berdiri di sisinya. Bukannya menjelaskan alasan dia menikah lagi, ini malah meminta kamar pribadi mereka.

Dia jelas-jelas tidak membela perasaannya. Kelakuan Galang malam itu menjadi bukti paling menyakitkan. Bahwa dalam keputusan ini... Dia memang tidak pernah memikirkan Arini. Sama sekali.

Sakit. Kecewa. Hancur. Semua bercampur menjadi satu. Dan yang paling menyakitkan...Orang yang menghancurkan hatinya bukan hanya mertuanya.

Melainkan lelaki yang ia cintai sepenuh hati.

Lelaki yang dua tahun lalu mengucapkan akad di hadapannya. Lelaki yang berjanji akan menjaganya.

Kini justru berdiri diam saat dirinya dipermalukan di rumahnya sendiri.

Malam anniversary kedua pernikahan mereka yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi malam paling menyakitkan dalam hidup Arini.

Dan ini baru permulaan.

___________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Terpopuler

Comments

Mamah Dini11

Mamah Dini11

baru baca udh nyesek thor , pergi aja rin balas perbuatan mereka kmu gk di anggap ada sm sekali , tetap kuat arini semangat💪💪. peermisi thor mampir nii , ceritanya bagus walau di awal. udh melow , pesan ku jjgn

2026-08-25

0

Yuni Ngsih

Yuni Ngsih

Authooor ceritramu bgs tapi.....klw mau punya istri lg kan hrs seijin istri pertama ,ini suami Arini menurutku lk" yg biadab tdk punya perasaan dasar klwrga mokondo smg kedepannya adiknya si Galang diperlakukan seperti Arini .....yg sabar Arini smg badai cepat berlalu & muncul pelangi kehidupan ....ok

2026-07-27

0

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

Arini jadi lah wanita kuat yg bisa menghancurkan mereka pengkhianat... pergi dari rumah itu untuk menghancurkan mereka

2026-08-09

0

lihat semua
Episodes
1 1. Malam Anniversary Kedua
2 2. Aku Bukan Pembantumu
3 3. Arini Buka Kartu
4 4. Memilih Pergi
5 5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6 6. Menjemput Ketenangan
7 7. Sarapan yang Mengusik Selera
8 8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9 9. Alasan yang Memalukan
10 10. Kamar Itu Milikku
11 11. Kekecewaan Pak Hardi
12 12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13 13. Menggugat Demi Harga Diri
14 14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15 15. Kepanikan di Pagi Hari
16 16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17 17. Jauh Panggang dari Api
18 18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19 19. Penyesalan Yang Terlambat
20 20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21 21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22 22. Menuju Lembaran Baru
23 23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24 24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25 25. Konflik Batin Arini
26 26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27 27. Selalu Menyalahkan Arini
28 28. Diambang Kehilangan
29 29. Mempertahankan Prinsip
30 30. Menyusun Rencana
31 31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32 32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33 33. Tamu Tak Diundang
34 34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35 35. Ditampar Kenyataan
36 36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37 37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38 38. Rencana Menjual Rumah
39 39. Sidang Pertama
40 40. Tak Lagi Menunggu
41 41. Rencana yang Mulai Retak
42 42. Malam Pengumpulan Bukti
43 43. Dua Kabar Baik
44 44. Emosi Membawa Petaka
45 45. Wajah Asli Mayang
46 46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47 47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48 48. Topeng yang Mulai Retak
49 49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50 50. Kekhawatiran Galang
51 51. Rahasia Dibalik Tawa
52 52. Bayang-bayang Pemecatan
53 53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54 54. Siaga Satu
55 55. Rumah yang Memikat Hati
56 56. Langkah Tegas Arini
57 57. Amarah yang Kian Membara
58 58. Pertemuan Pembuka Jalan
59 59. Takdir Mempertemukan Kembali
60 60. Baru Merasakan Kehilangan
61 61. Amarah yang Salah Arah
62 62. Sebuah Janji untuk Arini
63 63. Awal dari Sebuah Harapan
64 64. Hari Pertanggungjawaban
65 65. Rencana Terakhir Galang
66 66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67 67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68 68. Mengikuti Vera
69 69. Ada Apa Dengan Vera?
70 70. Vera Diinterogasi
71 71. Dibalik Sidang Kedua
72 72. Harapan yang Kian Nyata
73 73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74 74. Pemandangan yang Mengusik
75 75. Dilabrak Istri Sah
76 76. Kekecewaan Bu Sumarni
77 77. Interogasi Dibalik Pintu
78 78. Harga Diri yang Tercabik
79 79. Ketuk Palu Hakim
80 80. Rahasia Yang Mengguncang
81 81. Saling Menyalahkan
82 82. Malam Pengkhianatan
83 83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84 84. Strategi Licik Mayang
85 85. Ketika Semua Telah Berakhir
86 86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87 87. Batas Waktu
88 88. Kabar yang Menghancurkan
89 89. Trauma yang Masih Tersisa
90 90. Tamu Dari Masa Lalu
91 91. Pintu yang Mulai Terbuka
92 92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93 93. Rahasia yang Menunggu
94 94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95 95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96 96. Kembali Ke Rumah
97 97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98 98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99 99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100 100. Perjalanan ke Bandung
101 101. Akan Menunggu
102 102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103 103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104 104. Surat Keputusan
105 105. Pilihan Hati Satria
106 106. Terlambat Menyadari
107 107. Kehilangan Mata Pencaharian
108 108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109 109. Dibalik Candaan Kalina
110 110. Batas Waktu Terakhir
111 111. Rumah yang Menyimpan Luka
112 112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113 113. Saat Pintu Ditutup
114 114. Bukan Rumah Impian
115 115. Di Rumah Kontrakan
116 116. Langkah Baru Arini
117 117. Satu Langkah Bersama
118 118. Gunjingan Dibalik Audit
119 119. Saat Angka Mulai Bicara
120 120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121 121. Saat Kelicikan Terungkap
122 122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123 123. Kabar Baik di Pagi Hari
124 124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125 125. Beban yang Harus Dibagi
126 126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127 127. Teman Baru di Tempat Kerja
128 128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129 129. Telepon Selepas Isya
130 130. Malam Penuh Luka
131 131. Saat Karma Menyapa
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. Malam Anniversary Kedua
2
2. Aku Bukan Pembantumu
3
3. Arini Buka Kartu
4
4. Memilih Pergi
5
5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6
6. Menjemput Ketenangan
7
7. Sarapan yang Mengusik Selera
8
8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9
9. Alasan yang Memalukan
10
10. Kamar Itu Milikku
11
11. Kekecewaan Pak Hardi
12
12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13
13. Menggugat Demi Harga Diri
14
14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15
15. Kepanikan di Pagi Hari
16
16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17
17. Jauh Panggang dari Api
18
18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19
19. Penyesalan Yang Terlambat
20
20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21
21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22
22. Menuju Lembaran Baru
23
23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24
24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25
25. Konflik Batin Arini
26
26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27
27. Selalu Menyalahkan Arini
28
28. Diambang Kehilangan
29
29. Mempertahankan Prinsip
30
30. Menyusun Rencana
31
31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32
32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33
33. Tamu Tak Diundang
34
34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35
35. Ditampar Kenyataan
36
36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37
37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38
38. Rencana Menjual Rumah
39
39. Sidang Pertama
40
40. Tak Lagi Menunggu
41
41. Rencana yang Mulai Retak
42
42. Malam Pengumpulan Bukti
43
43. Dua Kabar Baik
44
44. Emosi Membawa Petaka
45
45. Wajah Asli Mayang
46
46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47
47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48
48. Topeng yang Mulai Retak
49
49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50
50. Kekhawatiran Galang
51
51. Rahasia Dibalik Tawa
52
52. Bayang-bayang Pemecatan
53
53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54
54. Siaga Satu
55
55. Rumah yang Memikat Hati
56
56. Langkah Tegas Arini
57
57. Amarah yang Kian Membara
58
58. Pertemuan Pembuka Jalan
59
59. Takdir Mempertemukan Kembali
60
60. Baru Merasakan Kehilangan
61
61. Amarah yang Salah Arah
62
62. Sebuah Janji untuk Arini
63
63. Awal dari Sebuah Harapan
64
64. Hari Pertanggungjawaban
65
65. Rencana Terakhir Galang
66
66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67
67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68
68. Mengikuti Vera
69
69. Ada Apa Dengan Vera?
70
70. Vera Diinterogasi
71
71. Dibalik Sidang Kedua
72
72. Harapan yang Kian Nyata
73
73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74
74. Pemandangan yang Mengusik
75
75. Dilabrak Istri Sah
76
76. Kekecewaan Bu Sumarni
77
77. Interogasi Dibalik Pintu
78
78. Harga Diri yang Tercabik
79
79. Ketuk Palu Hakim
80
80. Rahasia Yang Mengguncang
81
81. Saling Menyalahkan
82
82. Malam Pengkhianatan
83
83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84
84. Strategi Licik Mayang
85
85. Ketika Semua Telah Berakhir
86
86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87
87. Batas Waktu
88
88. Kabar yang Menghancurkan
89
89. Trauma yang Masih Tersisa
90
90. Tamu Dari Masa Lalu
91
91. Pintu yang Mulai Terbuka
92
92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93
93. Rahasia yang Menunggu
94
94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95
95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96
96. Kembali Ke Rumah
97
97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98
98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99
99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100
100. Perjalanan ke Bandung
101
101. Akan Menunggu
102
102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103
103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104
104. Surat Keputusan
105
105. Pilihan Hati Satria
106
106. Terlambat Menyadari
107
107. Kehilangan Mata Pencaharian
108
108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109
109. Dibalik Candaan Kalina
110
110. Batas Waktu Terakhir
111
111. Rumah yang Menyimpan Luka
112
112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113
113. Saat Pintu Ditutup
114
114. Bukan Rumah Impian
115
115. Di Rumah Kontrakan
116
116. Langkah Baru Arini
117
117. Satu Langkah Bersama
118
118. Gunjingan Dibalik Audit
119
119. Saat Angka Mulai Bicara
120
120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121
121. Saat Kelicikan Terungkap
122
122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123
123. Kabar Baik di Pagi Hari
124
124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125
125. Beban yang Harus Dibagi
126
126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127
127. Teman Baru di Tempat Kerja
128
128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129
129. Telepon Selepas Isya
130
130. Malam Penuh Luka
131
131. Saat Karma Menyapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!