3. Arini Buka Kartu

Arini membereskan sarapannya dengan santai. Setelah itu ia membawa piringnya ke dapur dan mencucinya sendiri. Tidak ada lagi kebiasaan melayani semua orang seperti yang selama ini ia lakukan. Hari itu, entah kenapa, hatinya terasa jauh lebih ringan.

Selesai mencuci piring, Arini kembali ke ruang keluarga sambil membawa sebuah buku catatan tebal berisi seluruh pemasukan dan pengeluaran rumah tangga selama dua tahun terakhir.

Ia meletakkan buku itu di atas meja. "O ya, semuanya kumpul di sini dulu deh. Biar sama-sama tahu. Aku mau serah terima keuangan."

Bu Sumarni yang sejak tadi duduk di samping Mayang langsung tersenyum lebar. "Nah, itu baru bagus. Dengan senang hati. Ayo, Mayang sini! Kamu yang nanti jadi ratunya rumah ini. Kamu yang akan mengatur uang gajinya Galang."

Mayang terlihat berbinar. Namun sebelum ia sempat menjawab, Galang lebih dulu menyela.

"Gak usah, Bu. Kalau soal itu biar Arin aja yang pegang."

Arini menoleh ke arah suaminya. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Kok aku, Mas? Takut ketahuan ya?"

Galang langsung salah tingkah. "Maksudku bukan begitu..."

"Tapi memang begitu, kan?" Ruangan mulai terasa tidak nyaman.

Arini membuka buku catatannya. "Bu, Pak, Vera, dan Mbak Mayang. Sebelum Mbak Mayang resmi mengambil alih semuanya, ada baiknya kalian tahu kondisi keuangan yang sebenarnya."

Bu Sumarni melipat tangan di dada. "Memangnya kenapa? Gaji anakku gede kok." Katanya jumawa.

Arini tersenyum tipis. "Perlu kalian ketahui, gaji Mas Galang sebagai PNS beserta tunjangannya itu cuma enam juta tujuh ratus ribu rupiah per bulan."

Mayang yang tadinya tampak percaya diri mulai mengernyit.

Arini melanjutkan. "Tiga juta dikirim ke Ibu di kampung."

Bu Sumarni langsung mengangguk bangga. "Itu memang kewajiban anak."

"Dua juta untuk biaya kuliah Vera." Vera yang sedang bermain ponsel langsung melirik ke arah Arini.

"Delapan ratus ribu untuk listrik. Tiga ratus ribu untuk internet. Tujuh ratus ribu untuk cicilan motor Vera." Vera kembali melirik Arini, tak acuh.

"Dan dua juta untuk pegangan Mas Galang sendiri."

Arini menutup bukunya perlahan. "Nah, sekarang coba dijumlah."

Tak ada yang menjawab. "Totalnya delapan juta delapan ratus ribu rupiah."

Ruangan mendadak hening. "Padahal gajinya Mas Galang cuma enam juta tujuh ratus ribu."

Arini menatap satu per satu wajah mereka.

"Artinya setiap bulan sudah defisit dua juta seratus ribu rupiah."

Bu Sumarni yang tadi begitu percaya diri mulai kehilangan kata-kata.

"Itu gak mungkin, itu hanya akal-akalan kamu aja. Kamu takut ya uangnya Galang diambil Mayang?"

"Kenapa mesti takut Bu? Aku malah bersyukur, ada yang mau gantiin aku pegang uang itu. Soalnya tiap bulan harus nombok."

"Ah bohong banget kamu, Mana ada orang yang mau begitu."

Arini tersenyum pahit. "Nah itulah bodohnya aku, kok mau-maunya jadi tulang punggung keluarga ibu ya? Gak ada uang untuk makan. Gak ada uang untuk bayar kebutuhan rumah. Uang untuk beli beras dari mana? Bayar gas, sabun, kebutuhan sehari-hari dari mana? Emh menyala dompetku."

Tak ada yang mampu menjawab. "Semua dari uangku."

Kalimat itu meluncur begitu tenang, tetapi menghantam keras. "Maksudmu?" tanya Pak Hardi.

Arini menatap mertuanya. "Mas Galang bukan cuma tidak pernah memberi uang belanja. Bahkan untuk kebutuhan dirinya sendiri saja sering tidak cukup."

Wajah Galang memerah. "Arin, cukup!"

"Tidak, Mas. Bukankah sekarang waktunya semua orang tahu?"

"Menantu lancang, anakku itu PNS yang gajinya gede."

"Terserah ibu kalau gak percaya." Arini mengeluarkan map berisi tumpukan struk dan tagihan.

"Karena sekarang, alhamdulillah, sudah ada yang bersedia menggantikan tugasku." Ia meletakkan satu per satu di atas meja. "Ini tagihan listrik. Ini tagihan internet. Ini cicilan motor Vera."

Lalu ia mendorong semuanya ke arah Mayang.

"Mulai bulan depan silakan dibayar!"

Mayang menelan ludah.

Wajahnya yang tadi berseri-seri perlahan pucat.

Ia baru menyadari bahwa yang selama ini ingin ia rebut bukanlah kehidupan mewah seperti yang dibayangkannya.

Arini berdiri dari duduknya. "Jadi mulai hari ini, aku pensiun dari bayar ini itu."

Bu Sumarni terbelalak. "Maksudmu apa?"

Arini tersenyum tipis. "Artinya aku berhenti menjadi ATM keluarga ini."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.

Untuk pertama kalinya selama dua tahun pernikahan, Arini tidak lagi berbicara sebagai menantu yang selalu mengalah. Ia berbicara sebagai seseorang yang akhirnya lelah dimanfaatkan.

"Lho... kok jadi gini?" Mayang menatap tumpukan tagihan di depannya dengan wajah pucat. Ia terlihat benar-benar syok.

"Katanya Mas Galang uangnya banyak. Rumahnya bagus. Mobilnya mewah..."

Arini tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip sindiran. "Oh iya, hampir lupa bilang."

Semua orang menoleh ke arahnya. "Rumah ini bukan rumah Mas Galang."

Mayang mengernyit. "Terus?"

"Mobil yang ada di garasi juga bukan milik Mas Galang." Mayang semakin bingung.

"Lalu milik siapa?"

"Itu semua milikku."

Beberapa detik suasana mendadak hening. Lalu...

"Hahahaha!"

Bu Sumarni tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai menepuk-nepuk paha sendiri. "Kalau berbohong jangan keterlaluan, Rin!"

Pak Hardi ikut menyeringai. Sementara Vera memutar bola matanya malas.

"Dari mana anak yatim piatu seperti kamu punya uang untuk beli rumah sebesar ini?" sindir Bu Sumarni.

"Tahu diri sedikitlah. Sakit hati karena Galang nikah lagi, bukan berarti kamu harus depresi, sampai berhalusinasi." Bu Sumarni tertawa sampai mengeluarkan air mata.

Arini sama sekali tidak terlihat tersinggung. Justru ia terlihat santai. Seolah ucapan itu sudah terlalu sering ia dengar selama ini.

"Ya terserah ibu, mau percaya syukur, gak juga aku gak rugi. Atau tanyakan saja sama putra kebanggaan Ibu itu!"

Semua mata langsung beralih kepada Galang. Galang yang sejak tadi duduk diam langsung menegang.

"Mas?" tanya Mayang penasaran.

Galang mengusap tengkuknya. "Sudahlah, nggak usah bahas itu."

Jawaban itu justru membuat Mayang semakin curiga. Bu Sumarni langsung mendengus.

"Gak usah ditanya! Ibu juga nggak akan percaya sama semua omong kosongnya Arini."

"Ya terserah Ibu." Arini menjawab datar.

Tidak ada lagi usaha untuk membela diri. Tidak ada lagi kebutuhan untuk mencari pengakuan. Percuma.

Selama ini apa pun yang ia lakukan tidak pernah dianggap. Jadi untuk apa menjelaskan? Yang penting ia tahu kenyataannya. Dan Galang juga tahu.

Arini lalu merapikan buku catatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. "Pokoknya mulai bulan depan semua tagihan itu bukan urusanku lagi."

Ia menunjuk tumpukan kertas di hadapan Mayang.

"Listrik, internet, cicilan motor, dan kebutuhan lain yang biasanya aku tanggung. Silakan diatur sendiri dengan uang yang ada."

Wajah Mayang langsung berubah.

"Tapi aku kan belum bekerja..."

"Itu bukan masalahku."

Jawaban Arini membuat Mayang terdiam.

Kini perempuan itu menyadari bahwa menjadi pasangan Galang tidak semudah yang dibayangkannya.

Sementara Bu Sumarni masih terlihat kesal.

"Sudahlah Mayang, itu hanya omong kosong dia. Gak usah percaya!"

Arini tersenyum hambar.

"Tapi Bu..." Mayang mencoba menjawab.

"Kamu mau percaya sama ibu atau sama orang stress karena dia disingkirkan oleh Galang?" Bu Sumarni menatap Mayang.

"Ya ibu lah."

"Ya udah kalau gitu."

"Sudah ya, aku sudah menjelaskan semuanya."

Arini bangkit dari duduknya.

"Mas, mana kunci mobil? Aku mau pakai."

"Apa? Gak bisa Aku mau ngajak jalan-jalan Mayang keliling Bandung."

"Ngajak jalan-jalan kan bisa pakai motor Vera, gak usah pakai mobilku." Arini berkata sambil menyambar kunci mobil yang tergantung dekat pintu ruang keluarga."

Dia melangkah keluar, tak peduli dengan Bu Sunarni yang terlihat marah.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Terpopuler

Comments

Yuni Ngsih

Yuni Ngsih

Baguuuus Ariniiii lawan klwrga Mokondo itu Mobilmu klw dah pke jangan dibawa ke Rumah mu lg titipkan di Rumah orang lain beri pelajaran laki" dzolim seperti itu Arini....ok

2026-07-27

0

partini

partini

banyak Bangt novel Kaya gini ini beda sendiri Langsung di ULTI ma istri ga muter" dulu ompe pegel scroll ni tunggu cerai nya lama atau tidak ok lnajut

2026-06-22

0

Mamah Dini11

Mamah Dini11

keren rin begitu jadi orang jgn takut jgfn lemah minta ceri aja rin masa suami udh nyakitin kmu ,masih mau di pertahankan

2026-08-25

0

lihat semua
Episodes
1 1. Malam Anniversary Kedua
2 2. Aku Bukan Pembantumu
3 3. Arini Buka Kartu
4 4. Memilih Pergi
5 5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6 6. Menjemput Ketenangan
7 7. Sarapan yang Mengusik Selera
8 8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9 9. Alasan yang Memalukan
10 10. Kamar Itu Milikku
11 11. Kekecewaan Pak Hardi
12 12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13 13. Menggugat Demi Harga Diri
14 14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15 15. Kepanikan di Pagi Hari
16 16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17 17. Jauh Panggang dari Api
18 18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19 19. Penyesalan Yang Terlambat
20 20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21 21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22 22. Menuju Lembaran Baru
23 23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24 24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25 25. Konflik Batin Arini
26 26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27 27. Selalu Menyalahkan Arini
28 28. Diambang Kehilangan
29 29. Mempertahankan Prinsip
30 30. Menyusun Rencana
31 31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32 32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33 33. Tamu Tak Diundang
34 34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35 35. Ditampar Kenyataan
36 36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37 37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38 38. Rencana Menjual Rumah
39 39. Sidang Pertama
40 40. Tak Lagi Menunggu
41 41. Rencana yang Mulai Retak
42 42. Malam Pengumpulan Bukti
43 43. Dua Kabar Baik
44 44. Emosi Membawa Petaka
45 45. Wajah Asli Mayang
46 46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47 47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48 48. Topeng yang Mulai Retak
49 49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50 50. Kekhawatiran Galang
51 51. Rahasia Dibalik Tawa
52 52. Bayang-bayang Pemecatan
53 53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54 54. Siaga Satu
55 55. Rumah yang Memikat Hati
56 56. Langkah Tegas Arini
57 57. Amarah yang Kian Membara
58 58. Pertemuan Pembuka Jalan
59 59. Takdir Mempertemukan Kembali
60 60. Baru Merasakan Kehilangan
61 61. Amarah yang Salah Arah
62 62. Sebuah Janji untuk Arini
63 63. Awal dari Sebuah Harapan
64 64. Hari Pertanggungjawaban
65 65. Rencana Terakhir Galang
66 66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67 67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68 68. Mengikuti Vera
69 69. Ada Apa Dengan Vera?
70 70. Vera Diinterogasi
71 71. Dibalik Sidang Kedua
72 72. Harapan yang Kian Nyata
73 73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74 74. Pemandangan yang Mengusik
75 75. Dilabrak Istri Sah
76 76. Kekecewaan Bu Sumarni
77 77. Interogasi Dibalik Pintu
78 78. Harga Diri yang Tercabik
79 79. Ketuk Palu Hakim
80 80. Rahasia Yang Mengguncang
81 81. Saling Menyalahkan
82 82. Malam Pengkhianatan
83 83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84 84. Strategi Licik Mayang
85 85. Ketika Semua Telah Berakhir
86 86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87 87. Batas Waktu
88 88. Kabar yang Menghancurkan
89 89. Trauma yang Masih Tersisa
90 90. Tamu Dari Masa Lalu
91 91. Pintu yang Mulai Terbuka
92 92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93 93. Rahasia yang Menunggu
94 94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95 95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96 96. Kembali Ke Rumah
97 97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98 98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99 99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100 100. Perjalanan ke Bandung
101 101. Akan Menunggu
102 102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103 103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104 104. Surat Keputusan
105 105. Pilihan Hati Satria
106 106. Terlambat Menyadari
107 107. Kehilangan Mata Pencaharian
108 108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109 109. Dibalik Candaan Kalina
110 110. Batas Waktu Terakhir
111 111. Rumah yang Menyimpan Luka
112 112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113 113. Saat Pintu Ditutup
114 114. Bukan Rumah Impian
115 115. Di Rumah Kontrakan
116 116. Langkah Baru Arini
117 117. Satu Langkah Bersama
118 118. Gunjingan Dibalik Audit
119 119. Saat Angka Mulai Bicara
120 120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121 121. Saat Kelicikan Terungkap
122 122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123 123. Kabar Baik di Pagi Hari
124 124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125 125. Beban yang Harus Dibagi
126 126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127 127. Teman Baru di Tempat Kerja
128 128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129 129. Telepon Selepas Isya
130 130. Malam Penuh Luka
131 131. Saat Karma Menyapa
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. Malam Anniversary Kedua
2
2. Aku Bukan Pembantumu
3
3. Arini Buka Kartu
4
4. Memilih Pergi
5
5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6
6. Menjemput Ketenangan
7
7. Sarapan yang Mengusik Selera
8
8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9
9. Alasan yang Memalukan
10
10. Kamar Itu Milikku
11
11. Kekecewaan Pak Hardi
12
12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13
13. Menggugat Demi Harga Diri
14
14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15
15. Kepanikan di Pagi Hari
16
16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17
17. Jauh Panggang dari Api
18
18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19
19. Penyesalan Yang Terlambat
20
20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21
21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22
22. Menuju Lembaran Baru
23
23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24
24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25
25. Konflik Batin Arini
26
26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27
27. Selalu Menyalahkan Arini
28
28. Diambang Kehilangan
29
29. Mempertahankan Prinsip
30
30. Menyusun Rencana
31
31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32
32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33
33. Tamu Tak Diundang
34
34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35
35. Ditampar Kenyataan
36
36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37
37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38
38. Rencana Menjual Rumah
39
39. Sidang Pertama
40
40. Tak Lagi Menunggu
41
41. Rencana yang Mulai Retak
42
42. Malam Pengumpulan Bukti
43
43. Dua Kabar Baik
44
44. Emosi Membawa Petaka
45
45. Wajah Asli Mayang
46
46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47
47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48
48. Topeng yang Mulai Retak
49
49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50
50. Kekhawatiran Galang
51
51. Rahasia Dibalik Tawa
52
52. Bayang-bayang Pemecatan
53
53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54
54. Siaga Satu
55
55. Rumah yang Memikat Hati
56
56. Langkah Tegas Arini
57
57. Amarah yang Kian Membara
58
58. Pertemuan Pembuka Jalan
59
59. Takdir Mempertemukan Kembali
60
60. Baru Merasakan Kehilangan
61
61. Amarah yang Salah Arah
62
62. Sebuah Janji untuk Arini
63
63. Awal dari Sebuah Harapan
64
64. Hari Pertanggungjawaban
65
65. Rencana Terakhir Galang
66
66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67
67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68
68. Mengikuti Vera
69
69. Ada Apa Dengan Vera?
70
70. Vera Diinterogasi
71
71. Dibalik Sidang Kedua
72
72. Harapan yang Kian Nyata
73
73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74
74. Pemandangan yang Mengusik
75
75. Dilabrak Istri Sah
76
76. Kekecewaan Bu Sumarni
77
77. Interogasi Dibalik Pintu
78
78. Harga Diri yang Tercabik
79
79. Ketuk Palu Hakim
80
80. Rahasia Yang Mengguncang
81
81. Saling Menyalahkan
82
82. Malam Pengkhianatan
83
83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84
84. Strategi Licik Mayang
85
85. Ketika Semua Telah Berakhir
86
86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87
87. Batas Waktu
88
88. Kabar yang Menghancurkan
89
89. Trauma yang Masih Tersisa
90
90. Tamu Dari Masa Lalu
91
91. Pintu yang Mulai Terbuka
92
92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93
93. Rahasia yang Menunggu
94
94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95
95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96
96. Kembali Ke Rumah
97
97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98
98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99
99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100
100. Perjalanan ke Bandung
101
101. Akan Menunggu
102
102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103
103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104
104. Surat Keputusan
105
105. Pilihan Hati Satria
106
106. Terlambat Menyadari
107
107. Kehilangan Mata Pencaharian
108
108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109
109. Dibalik Candaan Kalina
110
110. Batas Waktu Terakhir
111
111. Rumah yang Menyimpan Luka
112
112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113
113. Saat Pintu Ditutup
114
114. Bukan Rumah Impian
115
115. Di Rumah Kontrakan
116
116. Langkah Baru Arini
117
117. Satu Langkah Bersama
118
118. Gunjingan Dibalik Audit
119
119. Saat Angka Mulai Bicara
120
120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121
121. Saat Kelicikan Terungkap
122
122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123
123. Kabar Baik di Pagi Hari
124
124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125
125. Beban yang Harus Dibagi
126
126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127
127. Teman Baru di Tempat Kerja
128
128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129
129. Telepon Selepas Isya
130
130. Malam Penuh Luka
131
131. Saat Karma Menyapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!