4. Memilih Pergi

Meninggalkan Rumah

Arini melangkah cepat menuju halaman rumah. Dadanya masih terasa sesak. Rasanya semakin lama berada di dalam rumah itu, semakin sulit ia mengendalikan amarah dan luka yang memenuhi hatinya.

Di belakangnya, suara Bu Sumarni dan Galang masih terdengar memanggil. "Arin, bikin dulu sarapan! Kok malah pergi?" teriak Bu Sumarni dengan nada tidak senang.

Arini berhenti sejenak. Ia berbalik sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Lho, kok harus aku yang bikin sarapan? Bukannya Mayang yang mau ngatur rumah tangga ini?"

Kalimat itu membuat wajah Bu Sumarni langsung berubah. Arini tidak menunggu jawaban. Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Tangannya segera memutar kunci kontak.

Mesin mobil menyala. Namun sebelum ia sempat menjalankan mobil, Galang berlari mendekat.

"Rin, kamu jangan egois gitu lah," katanya dengan nada kesal. "Ini mobil mau aku pakai jalan-jalan bareng Mayang. Terus kamu juga belum bikin kami sarapan."

Arini tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu hambar. "Suruh istri mudamu yang menyiapkan sarapan!"

"Ya nggak bisa. Dia nggak terbiasa kerja kasar."

Kalimat itu membuat Arini menatap Galang beberapa detik. Jadi begitu. Mayang terlalu berharga untuk mencuci piring. Mayang terlalu istimewa untuk memasak. Tapi dirinya?

Selama dua tahun terakhir, ia harus bangun paling pagi, memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, bahkan melayani adiknya tanpa pernah mendapat ucapan terima kasih.

"Itu masalahmu. Jangan libatkan aku dalam kesulitanmu!"

Wajah Galang langsung mengeras. "Rin, kamu masih istriku. Kamu harus menghormati aku sebagai suami!"

Mendengar itu, Arini benar-benar ingin tertawa.

Menghormati? Kata itu terdengar sangat lucu keluar dari mulut seorang pria yang baru saja membawa wanita lain masuk ke rumah mereka.

"Enak banget ya, Mas. Mas aja nggak pernah menghormatiku sebagai istri, kok nuntut aku menghormatimu?"

Galang terdiam. Ia tidak memiliki jawaban.

Arini memundurkan mobil perlahan. Ia sudah terlalu lelah. Terlalu banyak air mata yang ia keluarkan untuk keluarga ini. Kini ia hanya ingin pergi. Pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang terus menyakitinya.

Saat mobil hendak keluar dari halaman, tiba-tiba seseorang berlari mengejarnya. "Mbak Ariiiin! Tunggu!"

Arini menginjak rem.

Ia menurunkan kaca mobil. Ternyata Vera. Adik iparnya itu tampak terengah-engah setelah berlari. "Ada apa lagi?" tanya Arini dingin.

Vera menggaruk tengkuknya. "Itu... cucianku banyak. Di kulkas juga nggak ada bahan buat bikin sarapan."

Arini memicingkan mata. "Terus?"

"Cuciin dulu bajuku dan bikinin dulu sarapan!"

Arini sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Di tengah semua kekacauan ini, Vera masih sempat menyuruhnya mencuci dan memasak?

"Suruh aja kakak iparmu!"

Vera langsung mengerucutkan bibir. "Bisa jadi dia nggak bisa apa-apa."

"Nah, kalau dia nggak bisa apa-apa, kenapa kalian semua begitu bangga menerimanya?" balas Arini tajam.

Vera langsung bungkam. Arini melanjutkan ucapannya. "Dengar ya, Vera. Aku ini istri Mas Galang, bukan pembantu keluarga kalian."

"Tapi selama ini Mbak yang ngerjain semuanya..."

"Karena aku masih punya hati dan rasa tanggung jawab."

Arini menatap satu per satu wajah yang berdiri di halaman rumah.

Bu Sumarni.

Galang.

Mayang.

Dan Vera.

"Sekarang kalian sudah punya anggota keluarga baru yang katanya lebih baik dariku. Jadi manfaatkan dia!"

Mayang yang sejak tadi diam langsung tersinggung. "Mbak ngomongnya kenapa nyindir terus sih?"

Arini tersenyum tipis. "Karena kenyataannya memang begitu."

Wajah Mayang memerah. Sementara Bu Sumarni mulai naik pitam.

"Arini! Jangan kurang ajar!"

Namun Arini sudah tidak peduli lagi. Ia menatap mereka untuk terakhir kalinya.

"Dua tahun aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Tapi ternyata semua itu nggak pernah cukup buat kalian." Suasana mendadak hening.

"Bersyukurlah. Mulai hari ini kalian nggak perlu lagi melihat wajahku."

Setelah mengatakan itu, Arini menaikkan kaca mobil. Meski dadanya terasa sesak, ada sedikit rasa lega yang mulai tumbuh.

Setelah sekian lama... Ia memilih dirinya sendiri.

Mobil itu pun melaju meninggalkan halaman rumah, sementara keluarga Galang hanya bisa memandang kepergiannya dengan wajah kesal dan kebingungan. Mereka belum sadar. Orang yang selama ini mereka remehkan baru saja pergi.

Dan saat Arini benar-benar berhenti peduli, mereka akan mengerti betapa berharganya sosok yang selama ini mereka sia-siakan.

***

"Ya sudah-sudah, nggak usah ditangisi kepergiannya. Malah harus disyukuri, benalu itu sudah pergi!" Bu Sumarni tertawa sumbang.

"Ayo, Vera, kita bikin sarapan!"

Vera yang sedang bermain ponsel langsung mendongak. "Kok aku?"

"Ya siapa lagi? Mayang nggak mungkin bisa bantu-bantu. Di rumahnya kan tinggal makan."

Mayang tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. "Iya sih, aku memang nggak bisa masak."

Vera memutar bola matanya. "Iya, iya. Tapi masalahnya nggak ada apa-apa yang bisa dimasak. Biasanya Minggu pagi Mbak Arin udah ke pasar."

Bu Sumarni mendecak.

"Ya tinggal beli. Ribet amat."

Ia lalu menoleh ke arah Galang. "Galang, kasih uang buat belanja. Tuh ada tukang sayur."

Galang merogoh dompetnya dan menyerahkan selembar uang seratus ribu.

"Nih."

Bu Sumarni langsung mengembalikan tatapan tak percaya. "Lah, seratus ribu cukup buat apa?"

Galang menghela napas lalu menambahkan satu lembar lagi. "Ini tambah."

"Nah, gitu dong."

Bu Sumarni segera keluar menghampiri tukang sayur. Begitu ibunya pergi, Vera menghempaskan tubuh ke sandaran kursi.

"Ya ampun."

"Kenapa?" tanya Mayang.

"Baru sekarang aku sadar kalau sarapan nggak muncul sendiri di meja makan."

Mayang terkekeh. Vera melirik ke arah dapur yang masih berantakan. Biasanya saat bangun tidur, meja sudah bersih. Sarapan sudah tersedia. Teh hangat sudah diseduh.

Baju yang ia butuhkan sudah dicuci dan disetrika.

Kalau kehabisan uang, tinggal minta pada kakak iparnya tersebut. Ia tidak pernah memikirkan bagaimana semua itu bisa terjadi.

Karena semuanya selalu dikerjakan Arini. "Tuh kan, baru ditinggal bentar aja udah ngeluh," sindir Galang.

Vera langsung menatap kakaknya. "Lho, memang iya. Selama ini aku tinggal makan doang."

"Makanya jangan manja!"

"Yang manja bukan cuma aku kali."

Tatapan Vera tanpa sadar beralih ke arah Mayang.

Mayang yang merasa tersindir langsung memasang wajah tidak suka.

"Ngapain lihat-lihat aku?"

"Nggak apa-apa."

Suasana kembali hening. Tak lama kemudian Bu Sumarni masuk membawa dua kantong belanja.

"Nih, Vera. Cepat masak!"

"Hah? Aku?"

"Iya kamu."

"Tapi aku nggak bisa masak, Bu."

Bu Sumarni langsung melotot.

"Terus selama ini ngapain aja?"

Vera membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Karena ia tidak punya jawaban. Selama ini memang ada Arini yang mengurus semuanya.

"Semoga Mbak Arini cuma pergi sebentar," ucap Vera tanpa sadar. "Nanti juga dia pasti kembali lagi."

Ucapan itu membuat semua orang menoleh ke arahnya.

Vera sendiri tampak terkejut. Ia tidak menyangka kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Entah kenapa, baru beberapa menit Arini pergi, rumah itu terasa berbeda. Biasanya saat bangun tidur, sarapan sudah tersedia. Pakaian yang menumpuk tiba-tiba sudah bersih dan rapi di lemari.

Tagihan-tagihan selalu terbayar tepat waktu. Bahkan stok kebutuhan rumah tak pernah habis.

Semua berjalan begitu normal sampai mereka lupa bahwa ada seseorang yang bekerja keras di balik semua kenyamanan itu.

"Kamu masih berharap benalu itu kembali ke rumah ini?" Bu Sumarni mendengus sinis.

Vera langsung menunduk.

"Ih, najis! Ibu malah berharap dia pergi selamanya."

"Ibu..." Galang mencoba menegur pelan.

"Apa? Memang begitu kenyataannya." Bu Sumarni menyilangkan kedua tangan di dada. "Sekarang Mayang sudah ada di sini. Rumah ini nggak butuh Arini lagi."

Mayang yang mendengar namanya disebut langsung tersenyum bangga.

"Iya, Bu. Lagian Mbak Arini juga yang memilih pergi sendiri."

Vera menggigit bibirnya. Kali ini ia merasa tidak nyaman mendengar mereka membicarakan kakak iparnya seperti itu. Bagaimanapun juga, selama ini Arini tidak pernah berbuat jahat padanya. Bahkan saat Vera berkali-kali merepotkan, Arini selalu membantu tanpa banyak bicara.

"Mungkin Mbak Arini capek," gumam Vera pelan.

"Alaah, capek apanya?" sahut Bu Sumarni. "Jadi istri itu memang tugasnya melayani suami dan keluarga suami."

"Tapi—"

"Nggak ada tapi-tapian. Kalau dia nggak kembali juga syukur. Berarti dia sadar diri."

Vera terdiam. Sementara itu, entah mengapa hati Galang terasa sedikit tidak nyaman. Biasanya kalau terjadi keributan seperti ini, Arini akan menjadi orang pertama yang menenangkan suasana.

Namun sekarang, kursi yang biasa ditempati istrinya kosong. Dan tidak ada seorang pun yang berusaha mengalah demi menjaga kedamaian rumah itu.

__________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Terpopuler

Comments

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

itulah ujian orang baik dan sabar seperti Arini... Rin usir dulu orang orang itu... rumah itu milik kamu kan

2026-08-09

0

lihat semua
Episodes
1 1. Malam Anniversary Kedua
2 2. Aku Bukan Pembantumu
3 3. Arini Buka Kartu
4 4. Memilih Pergi
5 5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6 6. Menjemput Ketenangan
7 7. Sarapan yang Mengusik Selera
8 8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9 9. Alasan yang Memalukan
10 10. Kamar Itu Milikku
11 11. Kekecewaan Pak Hardi
12 12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13 13. Menggugat Demi Harga Diri
14 14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15 15. Kepanikan di Pagi Hari
16 16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17 17. Jauh Panggang dari Api
18 18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19 19. Penyesalan Yang Terlambat
20 20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21 21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22 22. Menuju Lembaran Baru
23 23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24 24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25 25. Konflik Batin Arini
26 26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27 27. Selalu Menyalahkan Arini
28 28. Diambang Kehilangan
29 29. Mempertahankan Prinsip
30 30. Menyusun Rencana
31 31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32 32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33 33. Tamu Tak Diundang
34 34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35 35. Ditampar Kenyataan
36 36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37 37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38 38. Rencana Menjual Rumah
39 39. Sidang Pertama
40 40. Tak Lagi Menunggu
41 41. Rencana yang Mulai Retak
42 42. Malam Pengumpulan Bukti
43 43. Dua Kabar Baik
44 44. Emosi Membawa Petaka
45 45. Wajah Asli Mayang
46 46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47 47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48 48. Topeng yang Mulai Retak
49 49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50 50. Kekhawatiran Galang
51 51. Rahasia Dibalik Tawa
52 52. Bayang-bayang Pemecatan
53 53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54 54. Siaga Satu
55 55. Rumah yang Memikat Hati
56 56. Langkah Tegas Arini
57 57. Amarah yang Kian Membara
58 58. Pertemuan Pembuka Jalan
59 59. Takdir Mempertemukan Kembali
60 60. Baru Merasakan Kehilangan
61 61. Amarah yang Salah Arah
62 62. Sebuah Janji untuk Arini
63 63. Awal dari Sebuah Harapan
64 64. Hari Pertanggungjawaban
65 65. Rencana Terakhir Galang
66 66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67 67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68 68. Mengikuti Vera
69 69. Ada Apa Dengan Vera?
70 70. Vera Diinterogasi
71 71. Dibalik Sidang Kedua
72 72. Harapan yang Kian Nyata
73 73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74 74. Pemandangan yang Mengusik
75 75. Dilabrak Istri Sah
76 76. Kekecewaan Bu Sumarni
77 77. Interogasi Dibalik Pintu
78 78. Harga Diri yang Tercabik
79 79. Ketuk Palu Hakim
80 80. Rahasia Yang Mengguncang
81 81. Saling Menyalahkan
82 82. Malam Pengkhianatan
83 83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84 84. Strategi Licik Mayang
85 85. Ketika Semua Telah Berakhir
86 86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87 87. Batas Waktu
88 88. Kabar yang Menghancurkan
89 89. Trauma yang Masih Tersisa
90 90. Tamu Dari Masa Lalu
91 91. Pintu yang Mulai Terbuka
92 92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93 93. Rahasia yang Menunggu
94 94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95 95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96 96. Kembali Ke Rumah
97 97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98 98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99 99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100 100. Perjalanan ke Bandung
101 101. Akan Menunggu
102 102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103 103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104 104. Surat Keputusan
105 105. Pilihan Hati Satria
106 106. Terlambat Menyadari
107 107. Kehilangan Mata Pencaharian
108 108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109 109. Dibalik Candaan Kalina
110 110. Batas Waktu Terakhir
111 111. Rumah yang Menyimpan Luka
112 112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113 113. Saat Pintu Ditutup
114 114. Bukan Rumah Impian
115 115. Di Rumah Kontrakan
116 116. Langkah Baru Arini
117 117. Satu Langkah Bersama
118 118. Gunjingan Dibalik Audit
119 119. Saat Angka Mulai Bicara
120 120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121 121. Saat Kelicikan Terungkap
122 122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123 123. Kabar Baik di Pagi Hari
124 124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125 125. Beban yang Harus Dibagi
126 126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127 127. Teman Baru di Tempat Kerja
128 128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129 129. Telepon Selepas Isya
130 130. Malam Penuh Luka
131 131. Saat Karma Menyapa
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. Malam Anniversary Kedua
2
2. Aku Bukan Pembantumu
3
3. Arini Buka Kartu
4
4. Memilih Pergi
5
5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6
6. Menjemput Ketenangan
7
7. Sarapan yang Mengusik Selera
8
8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9
9. Alasan yang Memalukan
10
10. Kamar Itu Milikku
11
11. Kekecewaan Pak Hardi
12
12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13
13. Menggugat Demi Harga Diri
14
14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15
15. Kepanikan di Pagi Hari
16
16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17
17. Jauh Panggang dari Api
18
18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19
19. Penyesalan Yang Terlambat
20
20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21
21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22
22. Menuju Lembaran Baru
23
23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24
24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25
25. Konflik Batin Arini
26
26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27
27. Selalu Menyalahkan Arini
28
28. Diambang Kehilangan
29
29. Mempertahankan Prinsip
30
30. Menyusun Rencana
31
31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32
32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33
33. Tamu Tak Diundang
34
34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35
35. Ditampar Kenyataan
36
36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37
37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38
38. Rencana Menjual Rumah
39
39. Sidang Pertama
40
40. Tak Lagi Menunggu
41
41. Rencana yang Mulai Retak
42
42. Malam Pengumpulan Bukti
43
43. Dua Kabar Baik
44
44. Emosi Membawa Petaka
45
45. Wajah Asli Mayang
46
46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47
47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48
48. Topeng yang Mulai Retak
49
49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50
50. Kekhawatiran Galang
51
51. Rahasia Dibalik Tawa
52
52. Bayang-bayang Pemecatan
53
53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54
54. Siaga Satu
55
55. Rumah yang Memikat Hati
56
56. Langkah Tegas Arini
57
57. Amarah yang Kian Membara
58
58. Pertemuan Pembuka Jalan
59
59. Takdir Mempertemukan Kembali
60
60. Baru Merasakan Kehilangan
61
61. Amarah yang Salah Arah
62
62. Sebuah Janji untuk Arini
63
63. Awal dari Sebuah Harapan
64
64. Hari Pertanggungjawaban
65
65. Rencana Terakhir Galang
66
66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67
67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68
68. Mengikuti Vera
69
69. Ada Apa Dengan Vera?
70
70. Vera Diinterogasi
71
71. Dibalik Sidang Kedua
72
72. Harapan yang Kian Nyata
73
73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74
74. Pemandangan yang Mengusik
75
75. Dilabrak Istri Sah
76
76. Kekecewaan Bu Sumarni
77
77. Interogasi Dibalik Pintu
78
78. Harga Diri yang Tercabik
79
79. Ketuk Palu Hakim
80
80. Rahasia Yang Mengguncang
81
81. Saling Menyalahkan
82
82. Malam Pengkhianatan
83
83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84
84. Strategi Licik Mayang
85
85. Ketika Semua Telah Berakhir
86
86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87
87. Batas Waktu
88
88. Kabar yang Menghancurkan
89
89. Trauma yang Masih Tersisa
90
90. Tamu Dari Masa Lalu
91
91. Pintu yang Mulai Terbuka
92
92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93
93. Rahasia yang Menunggu
94
94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95
95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96
96. Kembali Ke Rumah
97
97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98
98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99
99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100
100. Perjalanan ke Bandung
101
101. Akan Menunggu
102
102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103
103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104
104. Surat Keputusan
105
105. Pilihan Hati Satria
106
106. Terlambat Menyadari
107
107. Kehilangan Mata Pencaharian
108
108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109
109. Dibalik Candaan Kalina
110
110. Batas Waktu Terakhir
111
111. Rumah yang Menyimpan Luka
112
112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113
113. Saat Pintu Ditutup
114
114. Bukan Rumah Impian
115
115. Di Rumah Kontrakan
116
116. Langkah Baru Arini
117
117. Satu Langkah Bersama
118
118. Gunjingan Dibalik Audit
119
119. Saat Angka Mulai Bicara
120
120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121
121. Saat Kelicikan Terungkap
122
122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123
123. Kabar Baik di Pagi Hari
124
124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125
125. Beban yang Harus Dibagi
126
126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127
127. Teman Baru di Tempat Kerja
128
128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129
129. Telepon Selepas Isya
130
130. Malam Penuh Luka
131
131. Saat Karma Menyapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!