2. Aku Bukan Pembantumu

Arini menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya. Wajah-wajah yang seharusnya menjadi keluarganya. Wajah-wajah yang seharusnya melindunginya.

Namun nyatanya, merekalah yang sedang menginjak harga dirinya tanpa belas kasihan.

Dadanya terasa sesak, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak.

Sejak kecil hidup memang tidak pernah ramah kepadanya. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Tidak ada satu pun kerabat yang benar-benar menginginkannya. #Bahkan tantenya sendiri lebih memilih menyerahkannya ke panti asuhan setelah berhasil menguasai rumah peninggalan orang tuanya.

Arini masih ingat bagaimana dirinya menangis di depan gerbang panti saat itu. Seorang anak kecil yang kehilangan semuanya dalam waktu bersamaan.

Keluarga. Rumah. Dan tempat pulang.

Sejak saat itu ia belajar satu hal. Jangan berharap terlalu banyak kepada manusia. Karena orang-orang terdekatlah yang sering kali meninggalkan luka paling dalam.

Kalau dulu ia hanya bisa diam saat diperlakukan tidak adil, kali ini tidak. Arini menarik napas panjang. Mengisi paru-parunya hingga penuh.

Mengumpulkan keberanian yang selama ini terkubur di dalam dirinya.

"Maaf, kalian tidak bisa seenaknya mengatur hidupku."

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

"Kamar pribadiku tidak akan pernah aku berikan kepada siapa pun. Itu milikku. Kalau Mayang butuh tempat tidur, silakan gunakan kamar tamu."

Mayang langsung memasang wajah tidak suka.

Sementara Galang menatap istrinya tajam.

"Kalau begitu aku juga akan tidur di ruang tamu."

Arini menatap suaminya tanpa gentar. "Silakan!"

Meski suaranya sedikit bergetar, ia tidak menundukkan kepala. Tidak kali ini. Ia memilih membela dirinya sendiri.

Suasana mendadak canggung. Bu Sumarni segera berdeham. "Ya sudah, ayo kita makan. Saya sudah lapar."

Wanita itu langsung melangkah menuju ruang makan. "O iya, ayo makan!" sambung Pak Hardi seolah tidak terjadi apa-apa.

Arini memandang mereka dengan getir. Hebat sekali. Baru saja menghancurkan perasaannya, sekarang mereka bisa bersikap santai seperti sedang merencanakan liburan keluarga.

"Wooow! Makan besar, nih!" seru Vera antusias begitu melihat meja makan.

Arini tidak berniat ikut. Ia ingin langsung naik ke kamar dan mengunci diri sampai pagi. Namun baru beberapa langkah berjalan, suara Bu Sumarni menghentikannya.

"Riiinnn! Sini kamu!" Arini mengepalkan tangannya sebelum akhirnya berbalik.

Ia berjalan menuju ruang makan. Namun sesampainya di sana, langkahnya terhenti.

Galang dan Mayang duduk berdampingan. Sangat dekat. Sangat mesra. Pemandangan yang membuat dadanya seperti ditusuk berkali-kali.

"Kamu ikut makan di sini!" perintah Bu Sumarni.

Arini tetap berdiri. "Layani kami!"

Arini tertawa pendek. Sebuah tawa yang lebih terdengar seperti ejekan. "Makan ya makan aja. Pakai minta dilayani segala."

Wajah Bu Sumarni langsung memerah. "Kamu jangan kurang ajar, Rin! Galang masih suamimu dan aku masih ibu mertuamu!"

"Terus aku harus melayani apa?" balas Arini tajam. "Itu kan tinggal ambil sendiri. Apa susahnya?"

"Ya sudah, Bu. Saya sudah lapar. Nggak usah berdebat lagi!" Pak Hardi akhirnya menghentikan pertengkaran itu.

Bu Sumarni mendengus kesal. Namun beberapa detik kemudian wanita itu kembali membuka suara.

"O ya, Rin." Arini berhenti melangkah. "Mulai besok kamu yang harus melayani kami. Masak, menyiapkan makanan, mencuci, dan mengurus kebutuhan rumah."

Arini menatap ibu mertuanya tanpa ekspresi.

"Karena Mayang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar." Bu Sumarni melirik Mayang yang tersenyum manis. "Dia wanita kaya." Lalu wanita itu melanjutkan kalimatnya dengan nada merendahkan. "Kalau kamu, kan sudah biasa kerja kasar sejak tinggal di panti asuhan."

Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang menegur.

Tidak ada yang membela. Bahkan Galang hanya diam. Arini tersenyum tipis. Bukan karena senang.

Tetapi karena akhirnya ia sadar. Di mata mereka, dirinya memang tidak lebih dari pembantu yang kebetulan berstatus istri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arini berbalik. Ia tidak ingin mendengar hinaan berikutnya.

Namun sebelum kakinya mencapai tangga, suara Bu Sumarni kembali terdengar.

"O ya, mulai besok yang mengelola keuangan rumah tangga adalah Mayang."

Arini berhenti.

"Biar dia yang mengaturnya dengan adil."

Kali ini Arini tersenyum. Senyuman yang membuat Galang tiba-tiba merasa tidak nyaman.

"Oh, baik, Bu." Jawabannya terlalu tenang.

Terlalu mudah. "Dengan senang hati."

Galang langsung mengernyit.

"Aku akan siapkan dulu laporannya." Arini menoleh ke arah mereka.

"Besok pagi semua data keuangan akan aku serahkan. Lengkap dengan daftar tagihan, cicilan, dan seluruh kewajiban yang harus Mas Galang bayar setiap bulan."

Wajah Galang langsung berubah. Untuk pertama kalinya sejak tadi, pria itu terlihat panik.

Arini menangkap perubahan itu. Dan ia sangat menikmatinya. Sementara yang lain masih belum memahami maksud ucapannya. Mereka mengira Arini sedang menyerahkan kekuasaan. Padahal yang akan mereka terima besok pagi bukanlah kekuasaan.

Melainkan kenyataan. Kenyataan yang selama ini sengaja disembunyikan Galang dari keluarganya.

Arini menyeringai tipis sebelum melanjutkan langkah menuju lantai atas. Besok pagi akan menjadi hari yang sangat menarik.

Pagi itu Arini sudah bangun sejak subuh. Seperti biasanya. Kebiasaan yang selama ini tidak pernah dihargai oleh siapa pun di rumah itu. Ia membersihkan dirinya, salat, lalu masuk ke dapur.

Di sana masih terlihat jelas sisa kekacauan makan malam tadi. Piring kotor bertumpuk di wastafel.

Gelas-gelas bekas minuman berserakan di meja.

Sisa makanan masih tergeletak begitu saja.

Biasanya semua itu sudah dibereskan Arini sebelum tidur.

Namun kali ini tidak. Ia hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya. Bukankah mulai sekarang Mayang yang akan mengatur rumah tangga? Biarlah mereka belajar. Arini membuka kulkas dan menemukan nasi sisa semalam.

Tak lama kemudian aroma bawang putih dan bawang merah yang ditumis mulai memenuhi dapur.

Beberapa menit kemudian sepiring nasi goreng hangat sudah tersaji. Lengkap dengan telur mata sapi dan kerupuk.

Sederhana. Tetapi cukup membuat perutnya kenyang. Setelah selesai memasak, Arini membawa sarapannya ke ruang keluarga.

Ia makan dengan santai sambil menikmati acara televisi pagi. Sudah lama ia tidak menikmati pagi setenang ini.

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh tepat.

Namun seluruh penghuni rumah masih tertidur lelap. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara orang mandi. Tidak ada suara kesibukan seperti biasanya.

Arini tersenyum tipis. Hari ini ia tidak akan membangunkan siapa pun. Biarkan saja mereka bangun sendiri.

Bukankah Mayang wanita kaya yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar? Mungkin wanita itu juga tidak terbiasa bangun pagi.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka. Vera muncul sambil mengucek matanya.

Hidungnya langsung mengendus-endus udara.

"Emmm... ini kayaknya nasi goreng buatan Mbak Arini, deh. Baunya enak banget."

Tak lama kemudian Bu Sumarni juga keluar dari kamarnya.

Wanita itu menguap lebar. "Iya, harum banget. Jadi lapar."

Keduanya langsung berjalan menuju ruang makan.

Namun beberapa detik kemudian terdengar suara teriakan. "Mbak Ariiiin! Mana sarapannya?"

Arini tetap tenang menyendok nasi gorengnya.

Lalu suara Bu Sumarni menyusul dengan nada tinggi. "Arin! Sini kamu! Mana sarapannya?"

Arini mengunyah makanannya dengan santai sebelum menjawab. "Mau sarapan, Bu?"

"Iya lah! Masa nanya lagi!" bentak Bu Sumarni.

Arini mengangguk pelan. "Ya bikin sendiri!"

Semua orang langsung terdiam. "Apa?" Vera melotot.

Arini menatap mereka tanpa rasa takut. "Aku bukan pembantu."

Wajah Bu Sumarni langsung merah padam. "Kamu berani sekali ngomong begitu sama orang tua!"

Arini berdiri dari kursinya. "Yang bilang aku harus melayani kalian siapa?"

Bu Sumarni terdiam sesaat.

"Ibu sendiri, kan? Nah, sekarang aku menolak."

"Kurang ajar kamu!"

"Bukan kurang ajar, Bu. Aku cuma sedang mengikuti aturan baru."

"Aturan apa?"

Arini tersenyum tipis. "Kata Ibu, sekarang Mayang yang mengatur rumah tangga."

Tatapan semua orang langsung beralih ke Mayang yang baru saja keluar dari kamar bersama Galang.

Rambutnya masih berantakan. Wajahnya terlihat bingung.

"Jadi silakan minta sarapan kepada pengelola rumah tangga yang baru."

Mayang langsung pucat. "Eh... aku nggak bisa masak."

"Ya belajar!"

Jawaban Arini membuat wajah Mayang semakin kaku.

Bukankah semalam mereka begitu bersemangat mengambil alih semua urusan rumah? Sekarang saat baru dimulai, semuanya malah saling pandang.

Arini kembali duduk. Ia melanjutkan sarapannya dengan tenang. Sementara di ruang makan, tidak ada satu pun makanan yang tersedia.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, keluarga Galang merasakan bagaimana rasanya tidak dilayani oleh Arini.

___________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Terpopuler

Comments

Mamah Dini11

Mamah Dini11

ayo arini bangkit kmu jgn mau di rendahkan terus ,tinggalkan rumah neraka itu , itu bukan rumah yg yaman lgi bagi kmu rin beri pelajaran mereka semua 💪semangat rin. jgfn lemot jddi orang harus kuat jadilah wanita hebat , buatlah suamimu bersujud pdmu karna merasa bersalah

2026-08-25

0

Mommy tulipp

Mommy tulipp

Arini kamu hari ini tersakiti, percayalah suatu hari nanti kamu lebih hebat dari pada mereka yang pernah menjatuhkanmu

2026-07-06

0

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

bagus Rin👍 aq pendukung mu... jangan takut sendiri ada para reader di sini...

2026-08-09

0

lihat semua
Episodes
1 1. Malam Anniversary Kedua
2 2. Aku Bukan Pembantumu
3 3. Arini Buka Kartu
4 4. Memilih Pergi
5 5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6 6. Menjemput Ketenangan
7 7. Sarapan yang Mengusik Selera
8 8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9 9. Alasan yang Memalukan
10 10. Kamar Itu Milikku
11 11. Kekecewaan Pak Hardi
12 12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13 13. Menggugat Demi Harga Diri
14 14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15 15. Kepanikan di Pagi Hari
16 16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17 17. Jauh Panggang dari Api
18 18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19 19. Penyesalan Yang Terlambat
20 20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21 21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22 22. Menuju Lembaran Baru
23 23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24 24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25 25. Konflik Batin Arini
26 26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27 27. Selalu Menyalahkan Arini
28 28. Diambang Kehilangan
29 29. Mempertahankan Prinsip
30 30. Menyusun Rencana
31 31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32 32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33 33. Tamu Tak Diundang
34 34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35 35. Ditampar Kenyataan
36 36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37 37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38 38. Rencana Menjual Rumah
39 39. Sidang Pertama
40 40. Tak Lagi Menunggu
41 41. Rencana yang Mulai Retak
42 42. Malam Pengumpulan Bukti
43 43. Dua Kabar Baik
44 44. Emosi Membawa Petaka
45 45. Wajah Asli Mayang
46 46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47 47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48 48. Topeng yang Mulai Retak
49 49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50 50. Kekhawatiran Galang
51 51. Rahasia Dibalik Tawa
52 52. Bayang-bayang Pemecatan
53 53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54 54. Siaga Satu
55 55. Rumah yang Memikat Hati
56 56. Langkah Tegas Arini
57 57. Amarah yang Kian Membara
58 58. Pertemuan Pembuka Jalan
59 59. Takdir Mempertemukan Kembali
60 60. Baru Merasakan Kehilangan
61 61. Amarah yang Salah Arah
62 62. Sebuah Janji untuk Arini
63 63. Awal dari Sebuah Harapan
64 64. Hari Pertanggungjawaban
65 65. Rencana Terakhir Galang
66 66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67 67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68 68. Mengikuti Vera
69 69. Ada Apa Dengan Vera?
70 70. Vera Diinterogasi
71 71. Dibalik Sidang Kedua
72 72. Harapan yang Kian Nyata
73 73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74 74. Pemandangan yang Mengusik
75 75. Dilabrak Istri Sah
76 76. Kekecewaan Bu Sumarni
77 77. Interogasi Dibalik Pintu
78 78. Harga Diri yang Tercabik
79 79. Ketuk Palu Hakim
80 80. Rahasia Yang Mengguncang
81 81. Saling Menyalahkan
82 82. Malam Pengkhianatan
83 83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84 84. Strategi Licik Mayang
85 85. Ketika Semua Telah Berakhir
86 86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87 87. Batas Waktu
88 88. Kabar yang Menghancurkan
89 89. Trauma yang Masih Tersisa
90 90. Tamu Dari Masa Lalu
91 91. Pintu yang Mulai Terbuka
92 92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93 93. Rahasia yang Menunggu
94 94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95 95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96 96. Kembali Ke Rumah
97 97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98 98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99 99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100 100. Perjalanan ke Bandung
101 101. Akan Menunggu
102 102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103 103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104 104. Surat Keputusan
105 105. Pilihan Hati Satria
106 106. Terlambat Menyadari
107 107. Kehilangan Mata Pencaharian
108 108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109 109. Dibalik Candaan Kalina
110 110. Batas Waktu Terakhir
111 111. Rumah yang Menyimpan Luka
112 112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113 113. Saat Pintu Ditutup
114 114. Bukan Rumah Impian
115 115. Di Rumah Kontrakan
116 116. Langkah Baru Arini
117 117. Satu Langkah Bersama
118 118. Gunjingan Dibalik Audit
119 119. Saat Angka Mulai Bicara
120 120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121 121. Saat Kelicikan Terungkap
122 122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123 123. Kabar Baik di Pagi Hari
124 124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125 125. Beban yang Harus Dibagi
126 126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127 127. Teman Baru di Tempat Kerja
128 128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129 129. Telepon Selepas Isya
130 130. Malam Penuh Luka
131 131. Saat Karma Menyapa
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. Malam Anniversary Kedua
2
2. Aku Bukan Pembantumu
3
3. Arini Buka Kartu
4
4. Memilih Pergi
5
5. Air Mata Tak Lagi Tertahan
6
6. Menjemput Ketenangan
7
7. Sarapan yang Mengusik Selera
8
8. Di Balik Pintu yang Terkunci
9
9. Alasan yang Memalukan
10
10. Kamar Itu Milikku
11
11. Kekecewaan Pak Hardi
12
12. Langkah Pertama Menuju Bebas
13
13. Menggugat Demi Harga Diri
14
14. Menyerahkan Seluruh Hidup
15
15. Kepanikan di Pagi Hari
16
16. Rumah yang Tak Lagi Sama
17
17. Jauh Panggang dari Api
18
18. Tak Bisa Lagi Ditahan
19
19. Penyesalan Yang Terlambat
20
20. Ketika Arini Menutup Pintu Hatinya
21
21. Selamat Tinggal Keluarga Suami
22
22. Menuju Lembaran Baru
23
23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan
24
24. Prasangka yang Tak Pernah Padam
25
25. Konflik Batin Arini
26
26. Tak Seindah yang Dibayangkan
27
27. Selalu Menyalahkan Arini
28
28. Diambang Kehilangan
29
29. Mempertahankan Prinsip
30
30. Menyusun Rencana
31
31. Hak yang Harus Direbut Kembali
32
32. Bukan Penyesalan, Melainkan Ketakutan
33
33. Tamu Tak Diundang
34
34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka
35
35. Ditampar Kenyataan
36
36. Rahasia Dibalik Pintu Kamar
37
37. Transaksi Sebuah Pengkhianatan
38
38. Rencana Menjual Rumah
39
39. Sidang Pertama
40
40. Tak Lagi Menunggu
41
41. Rencana yang Mulai Retak
42
42. Malam Pengumpulan Bukti
43
43. Dua Kabar Baik
44
44. Emosi Membawa Petaka
45
45. Wajah Asli Mayang
46
46. Melepas Rumah, Melepas Luka
47
47. Pertolongan Datang Pada Waktu Yang Tepat
48
48. Topeng yang Mulai Retak
49
49. Beban Dari Sebuah Pilihan
50
50. Kekhawatiran Galang
51
51. Rahasia Dibalik Tawa
52
52. Bayang-bayang Pemecatan
53
53. Bukti yang Tak Terbantahkan
54
54. Siaga Satu
55
55. Rumah yang Memikat Hati
56
56. Langkah Tegas Arini
57
57. Amarah yang Kian Membara
58
58. Pertemuan Pembuka Jalan
59
59. Takdir Mempertemukan Kembali
60
60. Baru Merasakan Kehilangan
61
61. Amarah yang Salah Arah
62
62. Sebuah Janji untuk Arini
63
63. Awal dari Sebuah Harapan
64
64. Hari Pertanggungjawaban
65
65. Rencana Terakhir Galang
66
66. Pertemuan yang Menghangatkan Hati
67
67. Fitnah Di Tengah Keramaian
68
68. Mengikuti Vera
69
69. Ada Apa Dengan Vera?
70
70. Vera Diinterogasi
71
71. Dibalik Sidang Kedua
72
72. Harapan yang Kian Nyata
73
73. Dibalik Pintu Hotel Melati
74
74. Pemandangan yang Mengusik
75
75. Dilabrak Istri Sah
76
76. Kekecewaan Bu Sumarni
77
77. Interogasi Dibalik Pintu
78
78. Harga Diri yang Tercabik
79
79. Ketuk Palu Hakim
80
80. Rahasia Yang Mengguncang
81
81. Saling Menyalahkan
82
82. Malam Pengkhianatan
83
83. Di Atas Reruntuhan Keluarga
84
84. Strategi Licik Mayang
85
85. Ketika Semua Telah Berakhir
86
86. Ketika Penyesalan Tak Lagi Berarti
87
87. Batas Waktu
88
88. Kabar yang Menghancurkan
89
89. Trauma yang Masih Tersisa
90
90. Tamu Dari Masa Lalu
91
91. Pintu yang Mulai Terbuka
92
92. Peringatan di Tengah Perjalanan
93
93. Rahasia yang Menunggu
94
94. Jejak yang Kembali Ditemukan
95
95. Masa Lalu Kembali Menyapa
96
96. Kembali Ke Rumah
97
97. Sosok Yang Mengaku Bersalah
98
98. Terperangkap Dalam Permainan Sendiri
99
99. Penyergapan Keluarga Om Indra
100
100. Perjalanan ke Bandung
101
101. Akan Menunggu
102
102. Dua Hari Sebelum Kehilangan
103
103. Cinta yang Tak Pernah Pergi
104
104. Surat Keputusan
105
105. Pilihan Hati Satria
106
106. Terlambat Menyadari
107
107. Kehilangan Mata Pencaharian
108
108. Ternyata Banyak yang Mencarinya
109
109. Dibalik Candaan Kalina
110
110. Batas Waktu Terakhir
111
111. Rumah yang Menyimpan Luka
112
112. Saat Arini Berhenti Mengalah
113
113. Saat Pintu Ditutup
114
114. Bukan Rumah Impian
115
115. Di Rumah Kontrakan
116
116. Langkah Baru Arini
117
117. Satu Langkah Bersama
118
118. Gunjingan Dibalik Audit
119
119. Saat Angka Mulai Bicara
120
120. Ketika Kesombongan Mulai Runtuh
121
121. Saat Kelicikan Terungkap
122
122. Menjemput Sebuah Kesempatan
123
123. Kabar Baik di Pagi Hari
124
124. Batas Waktu untuk Bertanggungjawab
125
125. Beban yang Harus Dibagi
126
126. Awal dari Sebuah Tanggung Jawab
127
127. Teman Baru di Tempat Kerja
128
128. Bahkan Hal Kecilpun Aku Ingat
129
129. Telepon Selepas Isya
130
130. Malam Penuh Luka
131
131. Saat Karma Menyapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!