Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dosa Sang Mafia

Pewaris Dosa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Yamila22

Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.

Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.

"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."

Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.

Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sangkar Kaca

Tiga tahun sebelumnya...

Gesekan sutra Italia di kulitku mengingatkanku, setiap detik, tentang siapa yang seharusnya kujadikan diriku. Kupandangi diriku di cermin ruang ganti, ruang yang lebih luas daripada apartemen tempatku tinggal bertahun-tahun kemudian, lalu kuembuskan napas. Gaun hijau zamrud itu memeluk lekuk tubuhku dengan keanggunan yang selalu ibuku coba "perbaiki" dengan korset dan tatapan mencela.

"Alessandra, demi Tuhan, berhenti menyentuh rambutmu. Kau tampak gelisah, dan perempuan dengan posisimu tidak diizinkan ragu," suara ibuku, sedingin marmer di pintu masuk, sampai ke telingaku dari ambang pintu.

Dia menghampiriku, bukan untuk memelukku, melainkan untuk membetulkan kalung berliannya yang menggantung di leherku bagai belenggu. Keluargaku, para Valente, tidak melihat manusia; mereka melihat aset, aliansi, dan reputasi. Aku adalah "putri pemberontak", si putri dengan "terlalu banyak daging" untuk standar catwalk kalangan atas, dan otak yang terlalu tajam untuk apa yang ayahku harapkan dari seorang istri pajangan.

"Malam ini penting," lanjutnya, tak menghiraukan diamku. "Keluarga Smirnov akan hadir. Ini kesempatan emas bagi ayahmu untuk menutup kesepakatan pelabuhan. Jadi tersenyumlah, tegakkan punggungmu, dan demi apa pun yang paling kausayangi, jangan bicara soal buku-buku hukummu yang konyol itu. Para pria tidak suka perempuan yang mempertanyakan otoritas."

"Pria yang sepadan justru suka, Ma," balasku, merasakan racun dalam suaraku sendiri.

Kami menuruni tangga mansion. Aula itu penuh sesak oleh orang-orang yang berbau parfum mahal dan kemunafikan. Ayahku berdiri di tengah, dikelilingi pengawal dan pengusaha yang mencium cincinnya. Aku merasa seperti benda pajangan, satu hiasan kristal tambahan.

Aku menyelinap ke balkon, butuh udara malam untuk membersihkan paru-paruku dari begitu banyak dupa dan kepalsuan. Kusandarkan tubuh ke pagar batu, memandang taman yang gelap, saat sebuah aroma menghentikanku seketika.

Cendana. Tembakau. Dan sesuatu yang bermuatan listrik, seperti udara sebelum badai musim panas.

"Para putri seharusnya tidak bersembunyi dalam bayang-bayang." Suara dalam, bagai guruh di kejauhan, bergetar di belakangku.

Aku berbalik cepat. Jantungku berdebar hingga menyita napasku.

Di sanalah dia, bersandar ke dinding, kedua tangan di saku celana setelan gelap. Dia tak memakai dasi, dan kancing-kancing teratas kemeja putihnya terbuka, menantang aturan berpakaian ketat ayahku. Ada bekas luka kecil melintang di alisnya, dan sepasang mata cokelat terang sewarna madu; matanya seakan menyalakan sedikit cahaya yang ada di aula itu, begitulah yang kurasakan.

Itu Damian. Meski saat itu, bagiku, dia hanyalah pria paling berbahaya dan paling memikat yang pernah kulihat dalam dua puluh satu tahun hidupku.

"Aku bukan seorang putri," sergahku, berusaha memulihkan ketenanganku. "Dan aku tidak sedang bersembunyi. Aku sedang menghindari agar kebodohan di dalam sana tidak menular."

Dia tertawa pendek, sarat kesombongan yang, alih-alih membuatku kesal, justru menyalakan darahku. Dia melangkah ke arah cahaya, membiarkanku melihat intensitas tatapannya. Dia menyusuri tubuhku dari atas ke bawah, berhenti di bibirku dengan sikap kurang ajar yang membuatku gemetar.

"Kau punya api, Alessandra Valente. Sayang sekali kau tinggal di rumah dari kertas," katanya, mempersempit jarak di antara kami.

"Dari mana kau tahu namaku?" tanyaku, merasakan udara jadi berat.

"Aku tahu segala hal yang menarik minatku. Dan kau, sejak menuruni tangga itu dengan rupa seorang ratu yang membenci mahkotanya, terlalu menarik minatku."

Ayahku muncul di balkon, wajahnya pucat pasi saat melihat siapa yang bersamaku.

"Damian... aku tak tahu kau sudah tiba," kata ayahku, dengan nada takut yang tak pernah kudengar sebelumnya. Dia mencengkeram lenganku terlalu kuat. "Alessandra, masuk ke dalam bersama ibumu. Sekarang."

Damian tak melepaskan pandangannya dariku. Bibirnya melengkung dalam senyum lambat, penuh nafsu memangsa.

"Biarkan dia, Valente. Putrimu satu-satunya orang yang layak diajak bicara di pesta topeng ini." Suaranya sebuah perintah yang menyamar jadi komentar.

Itulah kali pertama seseorang membelaku dari ayahku sendiri. Dan itulah langkah pertama menuju kehancuranku. Aku tak tahu bahwa pria itu, yang menatapku seolah aku harta paling berharga di dunia mafia, adalah pria yang sama yang bertahun-tahun kemudian akan mencampakkanku di jalanan dengan seorang bayi dalam gendongan.

Saat itu, aku hanya merasa bahwa api di matanya adalah satu-satunya hal yang bisa melelehkan es dalam hidupku. Aku tak tahu bahwa api, ketika begitu berkobar, pada akhirnya melumat segalanya menjadi abu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!