"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Siapa yang tidak mengenal nama Ashford?
Di balik kemilau lampu-lampu pencakar langit, di balik kemewahan galeri seni di Soho hingga ruang-ruang rapat berkarpet tebal di Wall Street, nama Ashford bergema bagaikan legenda urban yang ditakuti sekaligus dihormati.
Mereka bukan sekadar keluarga kaya; mereka adalah fondasi imperium New York. Konon, satu jentikan jari keluarga Ashford mampu mengubah peta bisnis kota ini dalam semalam.
Namun, hampir tidak ada yang tahu seperti apa rupa anggota keluarga itu. Mereka tertutup, misterius, dan tak pernah membiarkan identitas personal mereka menjadi konsumsi media massa.
Bahkan ayah Glow—pernah berkata di meja makan bahwa keinginan terbesar dalam hidupnya setiap tahun hanya satu: bisa berhadapan langsung dan menjalin kerja sama dengan penguasa New York, sang kepala keluarga Ashford.
Sebab itulah, ketika Angelina membisikkan nama Orion Leander Ashford di tengah bentangan bengkel yang penuh noda oli ini, respon pertama Pearl Glow Hurt bukanlah rasa takut atau takjub.
Melainkan sebuah absurditas tingkat tinggi.
"Pfffttt... Hahaha!"
Tawa Glow meledak seketika. Suara tawa nyaring dan renyah itu memantul keras di antara dinding-dinding kaca tebal dan derum mesin, memutus atmosfer tegang yang sempat terbangun. Glow memegangi perutnya, menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi paling meremehkan yang bisa ditunjukkan oleh seorang wanita Manhattan.
"Dia? Pria ini?" Glow menunjuk mekanik ber-jumpsuit abu-abu itu dengan jarinya yang lentik, menatap Angelina seolah sahabatnya baru saja mengutarakan lelucon paling konyol abad ini. "Dia Lean? Dan dia seorang Ashford? Kau konyol, Angelina! Otakmu pasti ikut kempes bersama ban mobil tadi!"
Angelina meringis, berusaha menarik tangan Glow agar menyembunyikan penunjuknya. "Glow, pelankan suaramu! Aku membaca pendaftarannya langsung di kantor depan—"
"Oh, ayolah!" potong Glow tajam, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap pria di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mencemooh. "Ini modus paling tidak kreatif dari seorang rakyat jelata! Menggunakan nama besar Ashford untuk menarik pelanggan bisnis bengkel kumuh? Pantas saja tempat ini ramai! Orang-orang bodoh pasti mengira mereka sedang diservis oleh bangsawan New York!"
Glow melangkah mendekat satu pukulan, tidak takut sedikit pun pada sosok tegap yang berdiri di bawah hoist hidrolik itu. "Dan lebih konyolnya lagi, Angelina... kau mau tahu apa yang dikatakan 'Pangeran Ashford' milikmu ini lima menit yang lalu? Dia bilang dia seorang kanibal! Dia mau memakan dagingku! Pria gila mana dari keluarga penguasa New York yang nongkrong di bengkel berbau bensin sambil mengancam akan memakan pengunjungnya? Please, pakai logikamu!"
Glow mengibaskan rambutnya yang hitam bergelombang ke belakang, memasang senyum paling sombong yang ia miliki. Rasa pedih akibat pengkhianatan Leonardo tadi siang seolah menguap, terapis oleh gelombang keangkuhan yang sengaja ia bakar untuk menutupi lukanya.
Di hadapannya, Orion Leander Ashford—pria yang dituduh sebagai "rakyat jelata penipu"—sama sekali tidak bergerak. Kunci pas tebal di tangannya tetap tergenggam erat. Sorot matanya yang sejernih es menyipit pelan, mengunci wajah Glow yang dipenuhi tumpukan makeup tebal.
Pria itu sebenarnya sudah memperhatikan Glow sejak awal. Ia tahu betul wanita cerewet ini adalah sosok membahayakan—tipe wanita bangsawan manja yang beberapa menit lalu mengamati struktur bangunan dan dinding kaca tersembunyi milik bengkelnya dengan tatapan curiga yang terlampau jeli.
Bengkel ini bukan sekadar tempat memperbaiki mesin; dinding-dinding kaca tebal itu adalah lapisan pertahanan. Dan kecurigaan wanita ini bisa menjadi ancaman jika dibiarkan.
Namun, mendengarkan celotehan sombong dan tawa nyaring wanita itu justru membuat bibir Lean terangkat tipis. Senyumnya dingin, penuh ironi.
"Tawamu sungguh menyebalkan, Nyonya," ucap Lean. Suaranya rendah, berat, dan tenang, namun sanggup membungkam tawa Glow dalam satu detik.
Glow melotot. "Nona! Aku Pearl Glow Hurt, bukan Nyonya! Dan tawaku mahal, Pria Penipu!"
Lean melangkah maju. Sepatu boot kerjanya berdecit pelan di atas lantai semen beroli. Ia menunduk sedikit, memangkas jarak di antara mereka hingga Glow bisa menghirup aroma maskulin yang aneh dari pria ini—campuran bensin, kayu cedar, dan sesuatu yang sangat mahal di balik baju kerjanya yang kusam.
Lean menatap lurus ke dalam mata Glow yang ada di balik kacamata hitam, lalu berkata dengan suara lirih yang tajam menusuk:
"Dan kutebak... kau sedang patah hati, Nona."
Deg.
Kalimat singkat itu menghantam dada Glow bagaikan hantaman tumpul. Tawa sombong di wajahnya membeku seketika. Bibirnya yang tadi siap meluncurkan serangkaian umpatan mendadak terkatup rapat.
Bagaimana... bagaimana bisa pria asing berbau oli ini menembak tepat di pusat lukanya?
"A-apa?" staccato Glow, berusaha merebut kembali kendali suaranya yang mendadak gemetar. "Patah hati? Kau mimpi apa semalam, Tukang Bengkel? Pria sepertimu tidak punya hak untuk menganalisis kehidupanku!"
"Riasan tebal untuk menyamarkan mata sembab," Lean menyebutkan poin demi poin dengan nada datar tanpa emosi, matanya menyapu wajah Glow. "Aroma parfum mahal bertabrakan dengan bau air mata yang mengering di lehermu. Dan sikap defensif berlebihan yang konyol ini... kau baru saja dicampakkan, atau baru sadar kalau kau cuma jadi wanita simpanan?"
"Kau...!" Wajah Glow memerah padam. Amarah membakar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Ia maju satu langkah, menuding dada Lean dengan jarinya. "Jaga mulutmu, Brengsek! Kau tidak tahu apa-apa tentangku! Aku tidak pernah dicampakkan! Aku yang meninggalkan pria-pria di luar sana karena mereka tidak selevel denganku!"
"Oh, ya?" Lean mengangkat sebelah alisnya, tampak sama sekali tidak terintimidasi oleh gertakan Glow. "Lalu kenapa wanita anggun sepertimu berkeliaran di bengkel kotor Queens sambil berteriak mencari pria bernama Lean? Kau begitu frustrasi sampai harus mencari pelampiasan di trotoar jalanan?"
"Aku tidak frustrasi!" jerit Glow gemas. "Aku hanya sedang mencari pria yang pantas untuk kubayar mahal demi membuktikan sesuatu! Dan kau—siapa pun namamu, mau kau penipu yang memakai nama Ashford atau kanibal gila—kau sama sekali tidak masuk dalam kriteria itu!"
Angelina di belakang mereka menutupi wajahnya dengan kedua tangan, hampir menangis melihat sahabatnya sedang beradu mulut dengan pria paling berbahaya di New York tanpa menyadarinya sama sekali.
"Glow, sudah... cukup..." bisik Angelina ketakutan.
Namun Glow sudah terlanjur membara. "Dengar ya, Tukang Bual! Kau pikir dengan wajah stoik dan kata-kata sok misteriusmu itu kau terlihat keren? Kau cuma pria bengkel yang frustrasi karena harus bekerja keras di bawah kap mesin orang lain! Kalau kau memang seorang Ashford, kenapa kau tidak membeli seluruh New York ini ketimbang berdiri di sini memegang kunci pas kotor?!"
Lean menatap wanita cerewet di hadapannya tanpa berkedip. Di mata Lean, Glow seperti seekor kucing rumahan yang bulunya berdiri karena ketakutan, namun tetap berusaha mencakar apa saja di sekitarnya agar tidak kelihatan lemah. Sangat rapuh, sangat transparan, tapi juga... sangat keras kepala.
Secara mengejutkan, sudut bibir Lean kembali terangkat. Sebuah kekeh tipis yang berbahaya lolos dari tenggorokannya.
Ia maju setengah langkah lagi, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Glow secara refleks menahan napas, tertahan oleh dominasi aura pria di depannya yang mendadak terasa begitu menghimpit.
"Aku begitu penasaran..." bisik Lean pelan, matanya berbinar dengan kilatan samar yang sukar diartikan. "...apa kau juga akan secerewet ini jika—"
Lean menghentikan kalimatnya di udara. Matanya bergulir sejenak ke arah pintu kaca, lalu kembali menatap Glow.
Glow mengedipkan matanya, dadanya naik-turun menahan ketegangan yang mendadak membumbung tinggi. "Jika apa, Sialan?! Lanjutkan katamu!"
Lean menarik tubuhnya kembali tegak. Wajahnya yang sempat memperlihatkan sedikit ketertarikan seketika berubah kembali menjadi topeng es yang sangat dingin dan tidak terjangkau. Seolah gelombang kehangatan singkat tadi hanyalah ilusi optik semata.
"Oh, tidak. Aku salah bicara," ucap Lean datar, memutar kunci pas di tangannya dengan gerakan lihai.
Ia berbalik membelakangi Glow, menunjuk ke arah pintu keluar bengkel dengan dagunya.
"Mobilmu sudah selesai," sambung Lean dingin, tanpa sudi menoleh lagi pada mereka berdua. "...Dan jangan pernah kembali lagi ke sini."
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍