Indonesia
NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Capo

Tawanan Sang Capo

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:59
Nilai: 5
Nama Author: Yesenia Stefany Bello González

Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.

Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.

Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.

Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.

Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?

Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketiadaannya

Alessia

Aku bangun dengan yakin bahwa hari ini akan lebih baik.

Entah kenapa. Mungkin karena kemarin Fabiano bersikap aneh, dan aku suka berpikir itu hanya hari buruk.

Semua orang punya hari buruk.

Bahkan para penculik sekalipun.

Aku tertawa sendiri sambil menyisir rambut di depan cermin.

"Aku benar-benar butuh bantuan profesional," gumamku.

Kukenakan jeans terang, atasan merah, dan tentu saja sweter besar milik Fabiano.

Aku tidak berniat mengembalikannya.

Tidak akan pernah.

Sekalipun dia mengancamku dengan seluruh La Corona.

Kuturuni tangga hampir sambil melompat-lompat kecil.

Bukan karena lapar. Karena… yah. Karena aku ingin melihatnya.

Pikiran itu membuatku berhenti di tengah tangga.

Aku ingin melihatnya?

Tentu saja. Itu normal. Aku tinggal di rumahnya.

Justru aneh kalau aku tidak ingin melihatnya.

Aku mengangguk, puas dengan penjelasanku sendiri, lalu masuk ke ruang makan.

Meja besar itu sudah tersaji. Ada kopi, buah, roti yang baru dipanggang, dan telur. Tapi kursi Fabiano kosong.

Kupandangi sekeliling.

"Pak Conti?" tanyaku pada salah satu pelayan.

"Beliau pergi pagi-pagi sekali, Nona."

"Oh."

Cuma itu.

Sebuah "oh" singkat.

Aku duduk dan mencoba sarapan.

Kopinya terasa berbeda. Rotinya juga. Semuanya terasa… entahlah.

Pokoknya hambar, tidak seenak biasanya.

Setelah beberapa suap saja, aku meletakkan sendok garpu.

"Tidak lapar?" tanya Viola tanpa mengangkat pandangan dari pekerjaannya.

"Lapar."

"Tidak kelihatan begitu."

Aku tidak menjawab.

Aku keluar dari ruang makan sambil meyakinkan diri bahwa aku sama sekali tidak peduli di mana Fabiano berada.

Sama sekali tidak peduli.

Lima menit kemudian aku sudah berdiri di depan ruang kerjanya.

Pintunya terbuka.

Aku mengerutkan kening.

Mungkin dia di teras.

Kususuri lorong ke sana, dan yang kutemukan hanya suara laut. Tak ada jejaknya.

Lalu aku turun ke pantai… Juga tidak ada.

Aku berpapasan dengan salah satu pengawal.

"Mencari Pak Conti?"

Jantungku berdebar kecil.

"Aku? Tidak," paksaku menjawab.

Tak seorang pun perlu tahu bahwa gadis yang diculik ini sedang mencari-cari penculiknya ke seluruh penjuru properti.

Ia menundukkan kepala lalu berlalu.

Memalukan sekali.

Aku tidak sedang mencarinya.

Aku hanya… sedang berjalan-jalan.

Ya. Berjalan-jalan.

Setengah jam kemudian aku kembali melewati pengawal yang sama. Kali ini ia berdeham untuk menyembunyikan senyum.

Sialan.

Kuubah arah dan masuk ke dapur. Setidaknya di sana aku bisa mengalihkan perhatian.

"Selamat pagi," sapaku.

Para wanita itu menjawab dengan ramah. Bahkan Viola tampak dalam suasana hati yang lebih baik.

"Hari ini kamu akan belajar membuat roti," katanya sambil menyodorkan celemek.

Mataku berbinar.

"Sungguh?"

"Jangan terlalu bersemangat. Kalau hasilnya keras, kita berikan ke para pengawal."

Aku tersenyum.

"Kejam sekali."

"Mereka selamat dari peluru. Pasti selamat juga dari rotimu."

Pagi itu berlalu di antara tepung, air, dan ragi.

Aku belajar menguleni.

Melipat.

Menunggu.

Aneh. Aku selalu membayangkan memasak itu berarti mengerjakan, tapi ternyata separuhnya adalah menunggu.

Menunggu adonan mengembang.

Menunggu oven panas.

Menunggu.

Dan sementara menunggu… aku memikirkan Fabiano.

Aku mendapati diriku memandangi pintu setiap kali ada yang masuk.

"Menunggu seseorang?" tanya Viola.

"Tidak."

"Kamu sudah melirik pintu itu sekitar dua puluh kali."

"Aku cuma…"

Aku terdiam. Karena aku sendiri tak tahu mau bilang apa.

Viola mendengus.

"Laki-laki datang saat mereka memang harus datang."

Aku mengerjap.

Apa maksudnya? Aku tidak menunggu siapa-siapa… kurasa.

Ketika roti itu akhirnya keluar dari oven, muncul keinginan besar agar Fabiano mencicipinya.

Pikiran itu datang tanpa minta izin.

Pasti dia suka. Dia bisa memberitahuku apakah hasilnya bagus. Dia bisa… Aku terpaku.

Kenapa aku ingin dia yang mencicipinya?

Siapa saja bisa memakannya.

Viola.

Para pengawal.

Mattheo.

Tapi tidak. Aku ingin dia.

Sisa sore itu kuhabiskan untuk meyakinkan diri bahwa itu tak berarti apa-apa.

Tidak berhasil.

Aku naik ke ruang tengah dan duduk di depan piano. Kutekan dua nada. Aku salah lalu mulai lagi. Aku salah lagi, karena aku tidak fokus. Aku sedang memikirkan seorang pria yang bahkan tak ada di sini.

Konyol sekali.

Kusandarkan dahiku di atas tuts. Bunyi sumbang memenuhi ruangan.

"Anggun sekali, Nona Castelli."

Aku mengangkat kepala, terkejut.

Bukan Fabiano.

Hanya salah satu pengawal yang lewat di lorong.

Aku tersenyum sekadarnya.

Ketika keheningan kembali, kurasakan kekosongan yang aneh. Seolah aku berharap mendengar suara lain. Tawa lain. Ejekan lain.

Aku memeluk sweter besar itu. Masih ada sedikit aromanya.

Kayu. Laut. Kebebasan… dan sesuatu yang lain.

Kupejamkan mata.

Tidak. Ini tidak benar. Seharusnya ini tak penting.

Dia menculikku. Seharusnya aku ingin pergi. Seharusnya aku menghitung hari untuk pulang.

Pulang.

Kata itu terasa perih.

Aku memikirkan Mama.

Aku merindukannya. Sangat merindukannya.

Aku memikirkan kamarku. Memikirkan gitarku. Memikirkan… Lucio.

Adriano.

Pernikahan itu.

Gaun-gaun itu.

Kurungan itu.

Udara meninggalkan paru-paruku.

Kalau besok Fabiano membuka pintu dan bilang aku boleh pulang… seharusnya aku jadi wanita paling bahagia di dunia.

Seharusnya.

Lalu… kenapa begitu sulit membayangkan diriku jauh dari rumah ini?

Kenapa kurasakan beban di sini?

Kuletakkan tangan di dadaku.

Jantungku berdetak cepat. Sangat cepat.

Ini bukan ketakutan. Sudah berhari-hari ini bukan lagi ketakutan.

Lalu… apa ini?

Aku tak punya jawaban.

Aku hanya tahu satu hal. Hari ini rumah ini persis sama seperti biasanya.

Lorong-lorong yang sama.

Pantai yang sama.

Dapur yang sama.

Piano yang sama.

Namun begitu… ada yang terasa kurang.

Bukan sesuatu. Seseorang.

Dan pikiran itu membuatku jauh lebih takut daripada apa pun.

Karena, untuk pertama kalinya sejak aku tiba di mansion Conti… aku tidak takut kehilangan kebebasanku.

Aku takut kehilangan dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!