Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sisa dua hari menginap di Presidential Suite menjadi masa-masa yang begitu hangat bagi Barra dan Farra. Jauh dari hiruk-pikuk tugas praktek dan simulasi Ujian Nasional, mereka menghabiskan waktu dengan bersantai penuh kenyamanan. Di sofa empuk bernuansa krem, Farra bersandar nyaman di dada bidang Barra sembari menonton maraton film favorit mereka. Barra tak segan-segan memanjakan istrinya—sesekali menyuapkan potongan buah segar, mengusap lembut jemari Farra, hingga memastikan bantal di punggung Farra berada di posisi paling nyaman.
Tak lupa, dedikasi mereka sebagai murid berprestasi tetap berjalan. Di meja kerja suite room yang luas, modul-modul farmakologi dan kisi-kisi UN kedokteran hewan terbentang rapi. Barra dengan sabar membantu Farra mengulang hafalan kalkulasi dosis obat ternak besar, sementara Farra menuntun Barra memperdalam teori analisis penyakit. Perhatian Barra tak kunjung surut; setiap kali melihat Farra tampak lelah atau sedikit meringis, ia langsung menghentikan sesi belajar untuk menyodorkan minuman hangat dan memberikan pijatan lembut di bahu istrinya.
Suasana kamar master Presidential Suite malam itu terasa begitu redup dan tenang. Hanya ada pendar cahaya kuning hangat dari lampu tidur di sisi ranjang serta kelap-kelip lampu pencakar langit Jakarta dari balik jendela kaca raksasa. Keheningan malam seolah menjadi saksi bisu bagi dua sejoli yang akan menghabiskan malam terakhir mereka di tempat perlindungan rahasia ini.
Usai menyikat gigi bersama di kamar mandi, Farra berjalan canggung menuju ranjang berukuran king-size dengan piyama sutra tipis berwarna salem. Barra yang baru saja mematikan televisi ruangan tengah melangkah masuk, hanya mengenakan celana kain santai tanpa atasan, memperlihatkan bahu dan dada bidangnya yang tegap.
Farra menarik selimut hingga sebatas dada, tetapi tatapan mata Barra yang begitu dalam dan intens saat berjalan mendekat membuat dadanya berdesir hebat. Rasa gugup yang sempat hilang di siang hari mendadak muncul kembali, namun bukan karena takut, melainkan karena kehangatan yang mulai menjalar di pembuluh darahnya.
Barra naik ke atas tempat tidur, merangkak pelan hingga kini berlutut di atas tubuh Farra. Ia menyangga bobot tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Farra, menatap manik mata istrinya lekat-lekat.
"Masih ada yang terasa sakit, Farra?" bisik Barra rendah. Suaranya serak dan sarat akan perhatian, berhembus hangat di permukaan kulit wajah Farra.
Farra menggeleng pelan, jemarinya yang gemetar terulur menyentuh rahang tegas Barra. "Nggak ada... udah sembuh kok."
"Beneran?" Barra memastikan sekali lagi, memiringkan kepalanya sedikit untuk menyapukan bibirnya di pipi Farra, turun menyusuri garis rahang hingga ke leher jenjang istrinya. "Aku nggak mau bikin kamu kesakitan kayak kemarin pagi."
"Beneran, Barra..." suara Farra mulai melirik pasrah saat bibir Barra mendaratkan kecupan-kecupan basah dan lembut di area sensitif di lehernya. Tangannya refleks berpindah, meremas pelan bahu tegap Barra.
Mendengar konfirmasi dari Farra, senyum tipis yang sarat akan gairah terbit di bibir Barra. Dengan sangat telaten dan tanpa terburu-buru, jemari tegap Barra melepaskan kancing piyama Farra satu per satu. Setiap kali kulit mulus Farra terekspos udara malam yang dingin, Barra langsung menggantikannya dengan sentuhan jemari dan usapan bibirnya yang hangat.
Kecupan Barra kembali naik, mengunci bibir Farra dalam sebuah ciuman yang dalam, lambat, dan memabukkan. Barra memainkan lidahnya dengan lembut, mengajak Farra larut dalam irama yang ia bangun. Farra membalas ciuman itu dengan kepasrahan penuh, menyatukan jemarinya di antara sela-sela rambut hitam Barra yang halus.
Suasana di atas ranjang sutra itu makin memanas. Barra bergerak dengan sangat hati-hati, memastikan setiap transisi sentuhannya memberikan kenyamanan maksimal bagi Farra. Setiap kali Farra menahan napas atau merintih pelan, Barra akan menghentikan gerakannya sejenak, menatap mata Farra dan membisikkan kata-kata penenang sembari mengecup dahinya hingga rasa rileks kembali menyelimuti istrinya.
"Kamu indah banget, Farra..." bisik Barra di depan bibir Farra, napasnya yang memburu beradu dengan deru napas Farra yang makin tidak beraturan.
Penyatuan mereka malam itu bergulir seperti tarian lambat yang dipenuhi rasa hormat dan kasih sayang. Barra menahan seluruh dorongan energinya, menyelaraskan setiap tempo gerakannya dengan hembusan napas dan desahan halus yang lolos dari bibir Farra. Tak ada rasa sakit yang melintas, hanya ada gelora kehangatan dan rasa memiliki yang begitu membuncah di dada mereka berdua.
Keringat tipis melapisi kulit mereka di balik remang cahaya kamar. Desahan manja Farra dan bisikan lembut Barra menyatu dalam simfoni malam yang intim, mengikat janji suci mereka bukan lagi sekadar karena dokumen emas orang tua, melainkan karena benih cinta yang mulai tumbuh semakin kokoh.
Hingga menjelang dini hari, gelombang gairah itu perlahan surut, menyisakan dua tubuh yang saling berpelukan erat di balik selimut tebal. Farra menyandarkan kepalanya di dada telanjang Barra, mendengarkan detak jantung suaminya yang masih berdetak maraton namun menenangkan. Barra mengusap punggung polos Farra secara teratur, mendaratkan kecupan lama di puncak kepala Farra sebelum mereka berdua akhirnya tertidur lelap dalam dekapan satu sama lain.