Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Mulut Ember si Adi
Adi datang membawa kotak perkakas setelah sarapan.
"Perintah Komandan. Lampu, selot, jendela, semua dicek."
"Lampunya masih menyala."
"Katanya redup. Kalau Komandan sudah bilang redup, matahari pun mungkin disuruh ganti bohlam."
Ia naik ke kursi dan membuka penutup lampu. Aku menahan Sena jauh dari debu.
"Bram sering menyuruhmu memperbaiki kamar orang?"
Obeng Adi berhenti. "Bram?"
Wajahku panas. "Pak Danyon."
"Oh." Senyumnya melebar. "Jarang, Mbak. Biasanya penghuni lapor logistik. Tapi kamar ini spesial."
"Spesial karena ada Sena."
"Tentu. Karena Sena."
Nada itu terlalu riang.
Adi mengganti bohlam, memperkuat engsel, memasang selot baru, lalu menambal celah jendela. Dari tasnya keluar kepala pancuran kecil dan termos baru.
Ia bekerja sambil terus berbicara. Selot lama ternyata hanya ditahan dua sekrup pendek. Adi menggantinya dengan sekrup panjang yang masuk sampai rangka. Di jendela, ia menempel karet tipis agar air hujan tidak merembes.
"Komandan periksa sendiri ukuran sekrupnya," katanya. "Semalam beliau bangunkan petugas gudang."
"Semalam?"
"Katanya harus selesai sebelum pertemuan. Biar Mbak bisa istirahat setelah jamuan."
Ia baru sadar telah bicara terlalu jauh ketika aku menatapnya.
"Saya memang nggak cocok pegang rahasia," gumamnya.
"Itu saya sudah tahu."
Sena merangkak ke arah kotak perkakas. Aku memindahkannya ke tikar lain dan memberi sendok kayu. Adi langsung menghitung semua paku sebelum menutup kotak, memastikan tak ada benda kecil tertinggal di lantai.
"Yang itu ajaran siapa?"
"Komandan. Kalau kerja di tempat ada bayi, alat masuk dan keluar harus sama jumlahnya."
Bahkan dalam pekerjaan sekecil ini, Bram memikirkan risiko yang tidak kulihat.
"Itu juga untuk Sena?"
"Air panas buat mandinya. Jendela supaya nggak masuk angin. Selot supaya Mbak aman. Lampu supaya..."
Ia menutup mulut.
"Supaya apa?"
"Supaya terang."
Aku menyodorkan piring berisi dua bakpau uji. "Makan."
Adi mengambil satu. Setelah dua gigitan, pertahanannya runtuh.
"Komandan yang bayar semuanya. Dari lampu, selot, termos, sampai susu Nala. Waktu pertama kirim ke kampung juga uang beliau. Saya cuma disuruh jangan bilang."
"Pertama? Berarti sebelum kunjungan kemarin?"
"Sejak Mbak menangis karena susu susah. Beliau suruh saya lihat Nala, bawa formula, obat diare, obat Mbah."
Aku duduk perlahan.
Jadi bukan satu tindakan mendadak. Bram telah menjaga anakku sejak jauh sebelum aku tahu.
Aku teringat malam ketika ia berdiri di luar kamar dan mendengar aku menangis. Keesokan harinya paket pertama tiba di Sumberejo. Saat itu aku mengira logistik akhirnya bergerak cepat.
Aku teringat nasi tambahan yang tiba dengan stempel klinik, surat honor yang batas tugasnya begitu rapi, dan sarung tangan terlalu besar. Semua peristiwa yang kupikir kebetulan ternyata memiliki tangan yang sama di belakangnya.
Wahyu dulu mencintaiku dengan tawa terbuka. Jika pulang membawa pisang, ia akan mengangkatnya tinggi-tinggi agar seluruh rumah tahu. Bram mencintai orang, jika perasaan itu memang cinta, dengan cara menghapus jejak kakinya sendiri.
Perbandingan itu tidak mengkhianati siapa pun. Wahyu adalah hidup yang pernah kupunya. Bram mungkin jalan yang belum berani kupilih.
"Apa lagi yang dia lakukan?"
Adi mengunyah lebih lambat, sadar jebakan bakpau.
"Nggak ada."
Aku mengambil piringnya.
"Eh, masih setengah."
"Apa lagi?"
"Urus honor dipercepat, tapi tetap tarif resmi. Klinik diminta cek makan Mbak. Kebun diberi disposisi. Sarung tangan... itu beliau pilih sendiri dan salah ukuran. Sudah, itu saja."
Aku mengembalikan piring.
Adi menghabiskannya, lalu berkata, "Komandan nggak suka orang tahu. Katanya bantuan yang diumumkan berubah jadi pertunjukan."
Tenggorokanku mengencang.
"Kondisi Nala waktu kamu lihat? Ceritakan lagi, jangan dipermanis."
Ia menjelaskan berat badan, diare, hasil bidan, dan cara Mbah merawat dengan bantuan tetangga. Kali ini aku mencatat semua. Kapan susu diberikan, nomor warung, tanggal kontrol berikutnya.
"Mbah bilang sesuatu?"
"Beliau tanya siapa yang membantu. Saya bilang dari keluarga besar satuan."
"Bagus."
"Tapi Mbah lihat nota atas nama Bram."
Aku menutup wajah sebentar. "Lalu?"
"Beliau cuma bilang, orang yang menolong anak yatim tanpa ribut biasanya punya hati baik. Setelah itu beliau minta saya bawa pesan: Laras jangan lupa makan."
Kalimat sederhana itu memecahkan pertahananku. Aku menangis tanpa suara. Adi panik mencari tisu sampai menjatuhkan obeng.
"Mbak, jangan nangis. Nanti Komandan pikir saya bilang yang aneh-aneh."
"Kamu memang bilang banyak hal."
"Tapi semuanya benar."
Aku tertawa di antara air mata.
Setelah urusan Nala selesai, aku menuangkan teh untuk Adi.
"Sekarang soal pertemuan dan jamuan. Apa yang kamu tahu?"
"Mbak masih mau memeras informasi?"
"Saya memberi makan saksi. Itu namanya wawancara."
Adi tertawa. Ia mengatakan Sukandar akan hadir di pertemuan, Ratna menyiapkan pembacaan usulan, dan Hendra membawa data kesehatan Sena. Wardhana dijadwalkan tiba sore untuk inspeksi lalu makan malam.
"Pak Kolonel suka apa?"
"Kata anggota lama, beliau nggak suka makanan terlalu manis. Suka sambal matang, sop bening, sama jajanan kukus."
Informasi itu cocok dengan menu kami. Semur akan dikurangi manisnya untuk meja utama, sambal dibuat dua tingkat pedas, bakpau dikukus mendekati waktu saji.
Aku menggambar susunan waktu baru. Pertemuan selesai sekitar pukul tiga. Aku punya kurang dari dua jam untuk mengecek dapur sebelum tamu utama duduk. Darman harus mampu menjalankan kompor tanpa menungguku. Sari memimpin meja saji. Tuti membawa Sena saat aku perlu menyusui di ruang privat dekat dapur.
"Kalau pertemuan molor?" tanya Adi.
"Tim tetap jalan. Saya bukan satu-satunya tangan."
Itulah perubahan terbesar sejak datang. Dulu jika aku jatuh, semuanya berhenti. Sekarang ada orang-orang yang memegang bagian masing-masing.
"Sukandar?"
Adi menurunkan suara. "Dia minta susunan tempat duduk. Mau dekat meja utama. Komandan kurang suka."
"Kenapa?"
"Saya nggak tahu. Tapi sejak dengar Mayor datang ke dapur, wajah Komandan seperti pintu gudang dikunci tiga kali."
Aku hampir tersenyum, lalu teringat peringatannya.
Siang itu kamar menjadi terang. Selot bergerak mulus, jendela tidak lagi berderak, termos terisi air panas. Setiap perbaikan adalah kalimat yang Bram tidak ucapkan.
Adi membereskan alat.
"Mbak, jangan bilang saya yang bocor."
"Saya bilang bohlamnya yang terlalu terang."
"Itu tetap bikin saya dihukum."
"Tenang. Saya nggak akan mempermalukan niat baiknya."
Setelah Adi pergi, aku membuka buku jamuan. Di halaman kosong, kutulis dua daftar.
Daftar pertama berisi kebutuhan makan malam, tugas tim, dan risiko acara.
Daftar kedua berisi lampu, pintu, jendela, air panas, susu, obat, honor, kebun, dan sarung tangan.
Semua jejak Bram.
Aku menatap daftar itu sampai huruf-huruf kabur.
Besok aku akan memenangkan jamuan ini dengan tanganku sendiri.
Namun untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa selama aku berjuang di depan, ada seseorang yang diam-diam memastikan punggungku tidak terbuka.