Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Orang Ketiga Bernama Bima

Kalau ada istilah "orang ketiga adalah setan", gue rasa itu diciptakan khusus buat sahabat gue yang satu ini, Bima.

Setelah kejadian mobil Kian memanjat trotoar, yang untungnya cuma berakhir dengan bemper lecet dan harga diri Kian yang hancur lebur, mobil itu akhirnya selesai dibenerin. Seminggu kemudian, Kian dengan bangga menjemput gue lagi. Katanya mau menebus kencan kami yang sempat tertunda gara-gara tragedi trotoar.

Gue sudah pakai baju paling cantik. Kian juga sudah wangi banget, wanginya kayak cowok yang siap melamar, bukan cowok yang pernah bikin gue hampir mati di dalam kabin mobil.

Tapi masalah terbesarnya adalah, sejak kemarin gue manggil dia 'Sayang', Kian resmi kehilangan kewarasannya. Dia ketagihan setengah mati.

"Kamu mau makan apa nanti, Sayang?" tanya Kian sambil memutar setir dengan satu tangan.

"Terserah aja, Ki," sahut gue.

"Oke, Sayang. Jalanannya agak macet ya, Sayang? Mau aku puterin lagu dulu enggak, Sayang? Biar kamu enggak bosan, Sayang," cerocos Kian tanpa henti, sengaja menyisipkan kata keramat itu di setiap ujung kalimatnya.

Gue memegang pelipis gue yang mendadak berdenyut pusing. "Kian, bisa enggak kata 'sayang'-nya dikurangin?"

"Loh, kenapa Sayang? Kan kemarin kamu duluan yang panggil aku Sayang. Masa aku enggak boleh bales panggil Sayang? Nanti kalau aku enggak panggil Sayang, kamu kangen kata Sayang lagi, Sayang."

"STOP YA, KIAN!" bentak gue akhirnya, udah mau meledak. "Gue gak mau lagi pakai aku-kamu atau sayang-sayangan!"

Kian langsung menoleh kaget sambil melotot. "Lho, kok gitu?!"

"Gak usah protes!" potong gue cepat sambil menunjuk mukanya pakai telunjuk. "Gara-gara panggilan itu, nyawa gue hampir melayang! Kalau lu protes sekali lagi, gue gak bakal sudi pakai aku-kamu atau sayang SEUMUR HIDUP GUE!"

Mendengar ancaman seumur hidup itu, muka Kian langsung berubah panik setengah mati. Dia buru-buru mengangkat satu tangannya pasrah.

"HAH?! Iya... iya... ampun! Jangan seumur hidup juga dong!" sahut Kian cepat-cepat, langsung kuncup tak berdaya.

Kian cuma bisa menghela napas pasrah. "Iya deh, iya... Gue ngikut," ucapnya mengalah. Dia mengacak-acak rambut gue gemas sebelum kembali fokus membelah jalanan sore menuju kafe rooftop pilihan kami.

Suasana di kafe rooftop itu sebenarnya sudah pas banget. Lampu temaram, musik akustik pelan, Kian duduk di depan gue sambil menatap dengan tatapan yang sialnya bikin gue nggak bisa napas.

Semuanya sempurna sampai tiba-tiba sebuah bayangan jatuh di atas meja kami.

Gue menengadah. Di sana, Bima berdiri. Mukanya kucel, kantung matanya menghitam kayak habis maraton nonton drakor tiga hari tiga malam, dan auranya... suram. Kayak orang yang baru kehilangan warisan.

"Bim?" panggil gue bingung. "Ngapain di sini? Tiba-tiba banget?"

Bima nggak menjawab. Dia langsung menarik kursi kosong di sebelah Kian, lalu duduk dengan gerakan lambat, seolah-olah tulang-tulangnya sudah nggak sanggup menopang beban hidup yang berat. Dia menatap kosong ke arah gelas kopi Kian.

"Hidup itu berat, ya," gumam Bima tiba-tiba.

Gue dan Kian bertukar pandang.

"Lu kesambet apa lagi, Bim?" tanya Kian. "Kita lagi kencan ini. Bukannya lagi sesi curhat di ruang BK."

Bima cuma menghela napas panjang. Bukan helaan napas biasa, tapi helaan napas yang sanggup menerbangkan jemuran tetangga. "Gue cuma heran. Kenapa dunia ini jahat banget sama gue? Kenapa kebahagiaan itu cuma kayak fatamorgana di tengah padang pasir buat gue?"

Gue menatap Kian. Kian menatap Bima. Bima menatap langit-langit kafe seolah-olah dia lagi menagih keadilan sama Tuhan.

"Bim," kata gue. "Kalau lu mau minjem duit, bilang aja langsung.

"Bukan soal duit, Ra," jawab Bima dramatis. Dia memijat pelipisnya. "Masalahnya lebih besar dari itu. Jauh lebih besar."

Kian menaruh sendok kopinya. "Ya udah, kalau nggak mau cerita mending pergi. Kita lagi kencan ini!"

Bima nggak pergi. Dia malah memesan iced americano kepada pelayan yang lewat, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Dia menghabiskan waktu kencan kami dengan cara menatap kosong ke depan, sesekali menghela napas, dan kalau gue atau Kian mencoba ngobrol, dia bakal menyahut dengan kata-kata puitis yang nggak nyambung.

"Cinta itu cuma ilusi, Ki," gumam Bima pas Kian lagi mau pegang tangan gue. "Saat orang baru hadir, cinta itu akan hilang."

"Kok tangan gue gatel pengen nampol muka lu ya, Bim?," sahut Kian kesal.

Malam itu, kencan gue dan Kian resmi hancur karena kehadiran Bima yang tiba-tiba jadi parasit. Dia duduk di antara kami, meratapi nasibnya sendiri tanpa mau buka suara apa masalahnya.

Setelah dua jam terbuang sia-sia dengan atmosfer seberat beton, Kian akhirnya menyerah. Dia membayar tagihan, lalu menarik lengan gue buat pergi dari sana.

"Yuk, pulang. Gue udah nggak sanggup," bisik Kian di telinga gue.

Kami pergi meninggalkan Bima yang masih duduk terpaku di sana, merenungi nasibnya. Gue tahu ada yang nggak beres. Bima nggak pernah sedrama ini, bahkan pas diputusin pacarnya tiga kali berturut-turut.

Di perjalanan pulang di dalam mobil, Kian yang biasanya jahil mendadak diam sambil tetap fokus membelah jalanan malam.

"Menurut lu dia kenapa, Ki?" tanya gue memecah keheningan di mobil.

Kian melirik sekilas lewat kaca spion tengah, lalu berdecak pelan. "Nggak tahu gue. Palingan besok juga balik kayak biasa lagi tuh anak. Lagi kumat aja pusingnya."

"Masa sih?" gumam gue pelan.

"Iya, tenang aja. Paling besok udah ketawa-ketawa lagi," sahut Kian santai, berusaha menenangkan.

Gue memilih diam dan menatap keluar jendela mobil. Sepanjang jalan menuju rumah, perasaan gue makin nggak enak.

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!