Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pangeran Ziyu dan yang lain mendengar suara bayi menangis, tatapan mata pangeran Ziyu yang tadinya terus mengarah ke pintu gerbang, kini beralih ke arah suara bayi menangis itu.
'Guru... cucu keduamu telah lahir, kali ini dia adalah penerus keluarga Bai. Aku akan menjaganya, aku akan melindunginya!' batin Xuan Ziyuan.
Ucapan itu muncul dari dasar lubuk hatinya yang paling dalam. Ada keteguhan di dalam hatinya yang membuatnya menyatakan pernyataan itu dengan begitu serius. Dia berhutang nyawa pada jenderal Bai, dia akan melindungi keturunan satu-satunya jenderal Bai itu, dengan jiwa dan raganya. Ibaratnya begitu.
"Nyonya besar! bayinya laki-laki, sudah lahir!" ketika pelayan yang bahkan mengatakan semua itu sambil menangis.
Lin Qingxue yang baru keluar bersama dengan orang tua Mu Wanqing, segera berjalan dengan langkah cepat menuju ke kamar Mu Wanqing.
"Cucuku, bagaimana Wan'er? bagaimana keadaan menantuku!" tanya Lin Qingxue.
Pelayan itu terisak, pelayan itu sepertinya sangat sedih. Dan itu membuat Lin Qingxue terdiam dengan berbagai prasangka di pikirannya.
"Kenapa diam? menantuku bagaimana? Wan'er...."
Langkah tua itu segera menuju ke kamar Mu Wanqing. Kedua orang tua Mu Wanqing juga tampak cemas dan segera mengikuti langkah Lin Qingxue.
Begitu pintu kamar itu terbuka, Lin Qingxue berhenti.
Matanya membesar ketika melihat keadaan kamar yang berantakan. Baskom-baskom berisi air telah diletakkan di beberapa sudut, kain-kain yang ternoda darah menumpuk di dekat ranjang, sementara seorang pelayan wanita berdiri dengan wajah sembap karena menangis.
"Wanqing!"
Ibu Mu Wanqing langsung hendak berlari ke ranjang, tetapi Tabib He segera mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Jangan terlalu dekat dulu, Nyonya."
"Bagaimana keadaan anakku?" tanyanya panik. "Dan cucuku, tabib?"
Tabib He menghela napas berat sebelum menjawab. Wajahnya tampak kelelahan setelah berjuang selama berjam-jam.
"Anaknya sudah lahir. Syukurlah dia lahir dan langsung menangis!"
Semua orang terdiam. Untuk sesaat, tak terdengar apa pun selain suara napas mereka sendiri. Mendengar itu ada kelegaan, tapi wajah mereka tetap menunjukkan kekhawatiran.
"Cucuku...!" Lin Qingxue bertanya dengan suara gemetar.
Tabib He mengangguk.
"Iya. Bayinya selamat nyonya jenderal!"
Kabar itu seharusnya membawa kelegaan, tetapi wajah Tabib He sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan. Justru sorot matanya membuat dada mereka kembali sesak.
"Namun kondisinya lemah," lanjutnya. "Tangisnya sangat kecil dan tubuhnya membutuhkan pengawasan. Bayi itu terlalu lama berada dalam proses persalinan."
Ibu Mu Wanqing langsung menutup mulutnya.
"Tidak..."
Ayah Mu Wanqing mengepalkan tangan.
"Lalu Wanqing? bagaimana dengan anakku?"
Tatapan Tabib He beralih kepada perempuan yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.
Mu Wanqing terlihat sangat pucat. Bibirnya kehilangan warna, rambutnya basah oleh keringat, dan tubuhnya hampir tidak bergerak selain naik-turunnya dada yang begitu lemah.
Lin Qingxue berjalan mendekat dengan langkah gemetar.
"Wan'er..." panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban. Lin Qingxue menggenggam ujung selimut menantunya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Mengapa dia tidak bangun?" suara seorang ibu mertua yang begitu sedih melihat menantunya tak sadarkan diri setelah melahirkan, terdengar begitu menyayatt hati.
Tabib He menundukkan kepalanya.
"Karena dia kehilangan terlalu banyak darahh"
Kalimat itu membuat seluruh ruangan seolah membeku. Sebenarnya sebelum tabib He datang, mereka sendiri juga sudah melihat bagaimana kondisi Mu Wanqing yang membuat mereka semua ketakutan dan khawatir.
Tapi, mereka sungguh berharap. Setelah kedatangan tabib dari istana, akan ada keajaiban. Ternyata semua yang mereka harapkan, terkadang memang tidak akan sesuai dengan kenyataan yang mungkin bisa terjadi.
"Persalinannya sudah berlangsung terlalu lama sebelum saya tiba. Tubuhnya telah kehilangan terlalu banyak tenaga dan darah. Dia bahkan sempat berada dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan." Tabib He mengatakan yang sebenarnya.
Dia sungguh tak ingin membuat keluarga merasa putus asa, tapi dia harus mengatakan semuanya sesuai kondisi Mu Wanqing.
Ayah Mu Wanqing segera bertanya, "Apakah dia akan sadar?" tanyanya penuh harap.
Mu Huitong sungguh berharap akan ada keajaiban untuk putrinya lewat tangan tabib He.
Tabib He terdiam sejenak.
"Kita harus membuatnya melewati masa kritis ini terlebih dahulu." jawabnya dengan nada pelan dan datar.
Tabib He juga sedang mempertimbangkan langkah apa yang harus dia ambil.
"Tabib He!" Lin Qingxue menatapnya tajam. "Jangan bicara berputar-putar. Katakan kepada kami apa yang harus dilakukan!"
Suara perempuan tua itu bergetar, tetapi ketegasannya membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
Tabib He menarik napas panjang.
"Ada obat yang saya perlukan, obat yang sangat penting untuk membantu kondisi nyonya Mu!"
"Obat apa? berikan saja tabib. Aku akan ambilkan uangnya....!"
"Beberapa jenis obat untuk membantu memulihkan kondisinya dan menghentikan kelemahan akibat kehilangan darah. Tetapi..." Tabib He berhenti sebentar. "Obat-obatan itu bukan sesuatu yang dapat ditemukan di apotek biasa." sela tabib He saat Lin Qingxue bicara.
Lin Qingxue langsung mengerutkan kening.
“Lalu di mana? di mana bisa mendapatkan obat itu. Aku akan berusaha mendapatkannya!" kata Lin Qingxue.
Wanita yang sudah tak muda lagi itu, sangat bersemangat untuk mencarikan obat bagi menantunya.
Tatapan Tabib He menjadi serius. Dia bahkan berpikir, meskipun ada uang. Obat itu tetap tidak akan mudah di dapatkan.
"Nyonya, masalahnya obat ini, hanya bisa di dapatkan di... istana!"
Semua orang membeku.
"Di istana?" Ayah Mu Wanqing mengulang dengan suara berat.
Semua langsung terdiam. Hubungan keluarga jenderal Bai, meskipun ada salah atau anggota keluarga yang menjadi selir di istana. Tapi sangat tidak baik. Apalagi ibu suri dan permaisuri, bahkan mungkin saja kaisar juga sudah tidak menganggap lagi hubungan dengan keluarga Bai.
Sementara keluarga Mu, mereka sungguh hanya keluarga biasa yang tidak mungkin bisa mendapatkan perhatian dari pihak kerajaan.
Tabib He mengangguk.
"Beberapa bahan obat tersebut merupakan persediaan khusus yang disimpan di gudang obat kerajaan. Saya membutuhkannya secepat mungkin." kata tabib He.
Dari caranya keluar istana tadi, tabib He bahkan tidak berpikir untuk kembali ke istana sebelum memastikan Mu Wanqing selamat.
Ibu Mu Wanqing langsung memandang putrinya yang masih tak sadarkan diri.
'Wanqing' lirih wanita yang telah melahirkan Mu Wanqing itu.
Lin Qingxue juga terdiam, tapi dia ingat di depan ada pangeran Ziyu. Mungkin pangeran bisa membantunya sekali lagi.
Lin Qingxue segera berbalik, dia berjalan dengan cepat keluar.
"Pangeran... pangeran!"
Lin Qingxue terdiam, dia melihat Bai Ningyuan datang.
***
Bersambung...
Permaisuri udah capek² cari perhatian pun, masih juga di abaikan.. 🤭
Dia tak tahu, bahkan jika dia berhasil tidur dengan kaisar, Permaisuri tak akan punya keturunan..
👧🏻 :"Ape abang.. Ingat ya, dedek selir mulia.. "
🧔🏻 :"Abang mencintaimu Ning'er.. "🤤
👧🏻 :" Dihh.. Lap dulu tuh ilerrr woyy.. "🫢
Agar tak ada yg mempersulit mu untuk datang & pergi..
Kena kan dikit tuh pedang ke lehernya, biar cacat tuh kulit nya Permaisuri Su.. 🤭
kelakuanmu aja macam a Su , Bai terus yang kau salahkan dan jadi pelampiasan 😔
boleh tanya gak sama teman teman disini, aku kan baca neh, tapi aku gak bisa nge like cerita ( dan ada tulisan akun aku di blokir) itu kenapa ya.. padahal aku gak pernah ngelapor atau ngeblok loh tapi ko aku gak bisa koment itu cerita.. padahal bagus loh cerita dia.. selama ini aku baca baik baik aja.. ko di dia aku d blok ya.. sedih..
makasih teman semua udah dengerin curhatku...
semangat kaka othor nulisnya😍😍😍😍
Kenapa hanya Kaisar yg kau buat mandul..?
Andai saja jika kau ingin menaburkan racun di sumur kediaman Perdana Menteri itu, aku bisa membantu mu selir Bai.. 🤧
Termasuk tabib², tujuan nya untuk mempersulit Bai Ningyuan sebagai selir istimewa..
Begitulah intrik yg terjadi di dalam kehidupan dunia kerajaan..