Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 MENYAMBUT KEPULANGAN BABY KEMBAR
SELAMAT MEMBACA !!!
Hari ini Fira dan si Kembar sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Fira juga sudah sembuh dan sudah bisa beraktifitas.
"Assalamualaikum," sapa seseorang yang baru masuk ke dalam ruangannya Fira di rawat.
Fira dan Nyonya Sintya menoleh ke arah pintu. Mereka tersenyum melihat siapa yang datang.
"Walaikumsalam, kamu sudah datang, Nak. Aku kira sopir yang akan menjemput kami?"
Haikal tersenyum, hatinya menghangat saat melihat si kembar. Ia pun berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci tangan lebih dahulu, sebelum mendekat si kembar yang sedang tidur pulas.
"Uluh...uluh bisa mendengar suara Daddy ya, Sayangnya Daddy yang cantik!" seru Haikal dengan lembut mengambil anak yang cewek.
Bayi itu seakan merespons, mulutnya sedikit bergerak dan matanya terbuka perlahan, menatap wajah Haikal.
"Ayo Daddy gendong, kita pulang ke rumah ya. Biar Mama bisa istirahat dengan tenang di rumah," ucapnya sambil menggendong si cantik.
Nyonya Sintya menggendong si tampan, Fira membawa barang-barang yang tak terlalu banyak itu. Kemarin barang yang sekiranya tak penting sudah dibawa Amara pulang. Mereka bertiga keluar dari ruangan yang di tempatinya selama tiga hari.
"Pelan-pelan saja, Dek. Tak usah terburu-buru jalannya!" tegur Haikal yang melihat Fira jalannya terburu-buru.
Fira menoleh ke belakang dengan cengengesan, seperti tak merasa bersalah. Lalu ia berjalan pelan di samping Nyonya Sintya.
Haikal menyuruh Fira duduk dulu di kursi belakang, baru si cantik diberikan kepadanya. Haikal menaruh barang-barang yang tadi dibawa Fira ke bagasi mobil.
Ia menjalankan mobilnya dengan pelan, si tampan yang berada dipangkuan Nyonya Sintya membuka matanya lucu.
"Seneng ya, Sayang? Mau pulang ke rumah Daddy dan Mommy. Kamu harus menjadi kebanggaan kami semua ya, Sayang!" seru Nyonya Sintya dengan tersenyum mencium keningnya.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di halaman depan rumah berlantai tiga milik Haikal. Fira dan Nyonya Sintya disuruh masuk ke rumah duluan.
Saat sampai di depan pintu, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam rumah.
"SELAMAT DATANG BABY KEMBAR!!" seru semua orang serentak dengan ceria, suara bertepuk tangan dan sorak kebahagiaan seketika memenuhi ruangan itu. Bagian ruang tamu depan dihias begitu cantik, seakan menyambut pangeran dan putri cantik yang ditunggu-tunggu kedatangannya.
Di sana ada ketiga sahabatnya Fira, Tuan Andika juga hadir dengan senyum lebar untuk menyambut kepulangan kedua cucunya.
Betapa terharunya dirinya melihat semua orang menyambut kelahiran kedua buah hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca, "Terima kasih untuk semuanya sudah menyambut kedatangan kami. Terima kasih Papa sudah mau menjenguk aku dan kedua anakku. Dan terima kasih banyak untuk Kak Amara, terima kasih untuk segalanya."
Mereka semua ikut merasakan kepiluan hatinya Fira. "Sudah ini kan hari bahagia, ayo masuk, silahkan masuk semua. Kok Fira dibiarkan berdiri terus di depan pintu!" seru Haikal menyadarkan mereka semua.
"Astagfirullah ya Allah, maafin Onty Sasa, Sayang!" ucap Tasya dengan sedikit kelucuannya, mencoba mencairkan suasana dari haru jadi ceria lagi. Semua orang terkekeh melihat tingkahnya Tasya.
Tasya tersenyum lebar, matanya berbinar melihat wajah tampan dan cantiknya anaknya Fira. "Kalian sangat menggemaskan sekali, Sayang. Ma, boleh gendong si tampan ya?" tanya Tasya ingin sekali menggendong anak laki-lakinya Fira.
Nyonya Sintya tersenyum dan menganggukan kepalanya, "Boleh, ayo kamu duduk di sofa, Nak. Nanti Mama bantu cara menggendong si tampan ini!" seru Nyonya Sintya.
Sementara Elena hanya mengikuti mereka dari belakang, ia masih takut untuk menggendong bayi yang baru lahir.
Nyonya Sintya menaruh Si tampan ditangannya Tasya, sedangkan Si cantik berada dipangkuan Amara.
"Apa kamu sudah mempunyai nama untuk mereka, Fir?" tanya Zafran kepada adik angkatnya itu.
Fira menganggukkan kepalanya, "Untuk yang cowok DEVANO RAYYAN D, yang artinya laki-laki yang kuat, teguh dan penuh kebaikan.
Untuk yang cewek, DEVINA NAYARA D, yang artinya perempuan yang cantik penuh kasih sayang."
Mereka semua menganggukan kepalanya setuju, "Nama yang cantik seperti orangnya, kita panggil Devan dan Naya ya!" seru Elena dengan semangat.
Tuan Andika tersenyum dan bangga kepada Fira. semarah-marahnya putrinya, ia masih mencantumkan nama keluarga Bryan di belakang nama kedua anaknya.
"Devan keponakan Onty Sasa yang tampan!" seru Tasya sambil mencium pipinya Devan.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Braaakk!!!
Pintu dibuka kasar dari luar, membuat orang yang berada di dalam ruangan sampai terhuyung mundur, dia segera menatap orang yang baru masuk itu.
"Brengsek...kamu, Gas! Bikin orang jantungan saja. Ada apa? Awas kalau tak penting, aku akan potong bonusmu bulan ini?" tanya Bryan dengan sedikit kesal dengan asistennya itu, masuk ruangnya bukannya ucap salam atau ketuk pintu. Malah dengan mendobrak pintu.
"Bry...kata anak buahku ketiga sahabatnya Fira pergi ke Bandara dengan tujuan ke Negara Singapura. Tapi waktu sampai Singapura mereka kehilangan jejak mereka," ucap Bagas dengan serius.
Bryan menatap Bagas dengan tatapan tajamnya, ingin mencari kebenaran ucapan yang baru di dengarnya.
"Apa mungkin...Fira ada di Singapura, Gas?" ucap Bryan pelan dengan penuh keyakinan.
"Coba anak buahmu suruh melacak mereka, Gas. Kalau perlu cari di seluruh daerah Singapura!"perintah Bryan kepada Bagas.
Suasana di ruang itu setika berubah hening. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing. Harapan dihatinya Bryan mulai tumbuh lagi.
"Kamu dimana, Sayang. Apa benar kamu sudah melahirkan buah hati kita, Yang. Maafkan aku, Yang?" tanya Bryan dalam hatinya sambil mengepalkan tangannya.
Ia jadi teringat kejadian satu tahun silam, yang membuat istrinya meninggalkannya. Sampai sekarang Bryan juga tak pernah pulang ke Jakarta. Paling kalau Tuan Danendra kangen ingin ketemu, beliau yang datang ke Bandung.
Sementara sampai sekarang Nyonya Dinda tak pernah menampakan wajahnya di depan Bryan. Dulu pernah sekali dia menemui Bryan yang berakhir dengan pengusiran oleh Bryan.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sementara di Belanda suasana tambah seru dengan kedatangan Calista bersama Nyonya Celine.
"Adik kembar, Kak Calista datang nih!" seru saat masuk ke dalam rumahnya Haikal.
Semua orang menoleh ke arah sumber suara, datanglah anak kecil yang imut itu masuk ke dalam rumah dengan menarik dua boneka yang berada di kedua tangannya.
"Astagfirullah, itu anak siapa?" tanya Elena gemas dengan anak kecil itu. suaranya yang agak sedikit keras, sampai membuat Naya kaget dan nangis.
Calista yang mendengar adik kembarnya menangis, ia berlari meninggalkan bonekanya. "Kenapa adik nangis? Aunty berteriak-teriak ya, Dek. Cup...cup...sudah jangan nangis lagi. Di sini ada Kak Calista yang akan melindungimu!" seru Calista tanpa henti seperti kerata api tapi terdengar begitu menggemaskan.
Sementara Nyonya Celine yang baru masuk melihat dua boneka yang dibawa putrinya tadi, ditinggalkan di lantai hanya bisa menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya itu.
"Selamat pagi, semua," sapanya ikut masuk ke ruang tamu.
Mereka menoleh dan tersenyum, "Selamat pagi, Kak. Maaf kami semua ada di sini, tak menyambut kedatangan Kakak dan Kak Calista!" seru Fira tak enak hati.