Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3: Kue yang Mencairkan Hati yang Dingin

Sejak kejadian di lorong tangga kemarin, suasana di sekolah terasa sedikit berubah. Tatapan orang-orang yang dulu penuh ketakutan dan kebencian kini berganti menjadi rasa ingin tahu dan kebingungan. Di mana pun aku melangkah, bisik-bisik terdengar di sekelilingku—bukan lagi berisi kebencian, melainkan rasa heran. Mereka bilang Lily yang dulu sudah lenyap, digantikan oleh seseorang yang lembut, sopan, dan tak pernah menyakiti siapa pun. Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Biarlah mereka bicara apa saja, yang penting aku bisa hidup tenang dan menjauhi masalah. Setidaknya, itu rencanaku.

Hari ini langit kelabu, awan mendung menggantung rendah di atas gedung sekolah, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Saat bel istirahat berbunyi, aku berjalan menuju taman sekolah yang beratap di sudut halaman—tempat yang sepi, teduh, dan jauh dari keramaian. Di sana, di atas bangku kayu, aku membuka kotak bekal yang disiapkan Tante Lisa pagi ini. Di dalamnya ada sepotong kue keju yang lembut dan harum, serta termos berisi teh susu hangat yang manisnya pas. Aku duduk bersandar di tiang kayu, menikmati pemandangan pepohonan yang mulai basah oleh rintik hujan. Rasanya damai sekali, jauh dari hiruk-pikuk dan tatapan orang-orang.

"Kau duduk di sini sendirian, makan enak, dan tersenyum sendiri? Sedang berbicara dengan hujan?"

Suara berat dan dingin tiba-tiba terdengar dari samping, memecah kesunyian. Aku menoleh dengan cepat, dan di sana, berdiri di antara rintik hujan yang tidak sampai ke tempat berteduh, adalah Ethan. Dia mengenakan seragam yang rapi, rambutnya sedikit basah di ujung karena rintik air, dan di tangannya masih memegang tumpukan buku tebal bersampul keras—sepertinya baru saja dari perpustakaan atau ruang OSIS. Matanya menatapku tanpa ekspresi yang jelas, namun tidak sedingin biasanya.

"Ethan! Mau duduk?" Aku menepuk tempat kosong di sebelahku dengan senyum tulus, tanpa rasa takut atau canggung sama sekali. "Ini kue keju, baru saja dibuat pagi ini, wanginya sampai ke hidung lho. Mau coba? Lumayan buat penghangat tubuh saat hujan begini."

Ethan terdiam di tempatnya, seolah kaget dengan tawaran itu. Selama ini, Lily asli selalu mengejarnya, memohon perhatian, berteriak memanggil namanya di koridor, dan berbuat berlebihan hanya agar ia menoleh. Tapi gadis di depannya ini… malah menawarkan kue seolah mereka adalah teman biasa, tanpa ada niat lain di balik senyumnya.

"Aku tidak suka makanan manis," jawabnya singkat dan tegas, namun ia tidak pergi. Justru ia melangkah maju, duduk di ujung bangku kayu itu, menjaga jarak yang sopan, namun tetap berada di sana. Seolah ada sesuatu yang menariknya untuk tidak pergi.

"Sayang sekali," gumamku pelan sambil mengangkat kue itu dan mengamati lapisan kejunya yang lembut. "Padahal kalau dimakan kue saat hujan begini, rasanya jadi lebih enak. Manisnya lembut di lidah, dan hangatnya menyebar ke seluruh tubuh. Bikin hati jadi tenang dan bahagia. Coba saja kalau tidak percaya, tidak ada ruginya kok."

Ethan melirikku sekilas dari sudut matanya, lalu memandang ke arah hujan yang semakin deras. "Kau selalu bicara hal-hal aneh seperti itu? Seolah kue itu bisa menyembuhkan segala hal?"

"Bukan menyembuhkan segala hal, tapi bisa bikin hati lebih ringan," jawabku polos sambil menggigit ujung kue itu perlahan. Rasanya lembut, gurih, dan manis yang pas. "Dunia ini sudah cukup berat, setidaknya biarkan makanan yang enak bikin kita sedikit lebih bahagia."

Dia tidak menjawab, tapi sudut bibirnya yang biasanya kaku dan tertegas perlahan terlihat sedikit lebih lunak, seolah ada senyum tipis yang hampir tak terlihat. Hujan semakin deras, air jatuh memukul daun-daun di sekitar kami, menciptakan suara yang menenangkan. Di bawah atap kayu itu, kami duduk berdampingan dalam diam, tidak ada yang berbicara, namun tidak ada rasa canggung sama sekali. Justru terasa… nyaman. Seperti kami sudah saling kenal sejak lama.

Saat bel masuk berbunyi, aku segera menutup kotak bekal dan berdiri hendak kembali ke kelas. Kakiku melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, suara Ethan terdengar pelan dari belakangku.

"Lily."

Aku berbalik dan menatapnya. "Ya? Ada apa?"

Dia masih duduk di tempatnya, menatapku lekat-lekat. Ada sesuatu di matanya yang berubah—bukan lagi curiga atau dingin, melainkan lembut dan… penuh perhatian.

"Besok… bawa kue yang sama," ucapnya tegas namun pelan, lalu ia berdiri dan berjalan pergi meninggalkanku tanpa menoleh kembali.

Aku berdiri terpaku di tempat itu, memegang kotak bekal yang masih kosong sebagian. Hah? Bukankah tadi dia bilang tidak suka makanan manis? Lalu kenapa dia memintaku membawakannya besok? Apakah… dia sebenarnya suka, tapi gengsi mengakuinya? Atau… ada alasan lain kenapa dia ingin duduk bersamaku lagi besok?

Aku menggeleng pelan, tersenyum sendiri melihat punggungnya yang menjauh. Apa pun alasannya, setidaknya ini berarti aku mulai bisa berbicara dengannya tanpa membuatnya membenciku. Dan itu langkah pertama yang bagus untuk menjauhi akhir cerita yang tragis itu.

"Baiklah, besok aku bawa kue keju yang lebih besar biar bisa kita bagi dua," gumamku pelan sambil berjalan menuju kelas dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bahagia dari biasanya.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!