Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Guncangan hebat yang mengguncang bodi gerbong Vanguard perlahan mereda, digantikan oleh suara dengung elektromagnetik bernada rendah yang bergetar menembus lantai baja ruang medis. Di atas ranjang darurat, Ren menarik napas dalam-dalam. Parunya terasa terbakar untuk sepersekian detik sebelum aliran energi hangat dari The Core Engine menyebar ke seluruh pembuluh darahnya, menstabilkan detak jantungnya yang tadinya berada di ambang kematian.

Ia membuka matanya sepenuhnya. Cahaya lampu palka yang temaram menyambut retinanya, diikuti oleh siluet wajah-wajah yang sangat dikenalnya—Soju, Leo, Gavin, dan Yuna—yang berdiri mengelilingi ranjang dengan napas tertahan dan mata yang masih menyisakan sisa-sisa air mata kelegaan.

"Kapten..." bisik Soju tertahan, jemarinya secara refleks menyentuh ujung mantel Ren seolah memastikan bahwa apa yang mereka lihat bukanlah halusinasi belaka. "Kau benar-benar bangun..."

Ren mencoba menggerakkan tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa tajam memang masih menusuk otot-otot di bahu kirinya, tempat di mana pedang plasma Jenderal Vane sempat merobek zirah dan dagingnya tiga hari yang lalu. Namun, berkat ramuan herbal sistemik tingkat tinggi yang diracik oleh Yuna dan sinkronisasi mutlak dari inti mesin, jaringan selulernya telah menutup dengan sempurna.

Dengan perlahan, Ren mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia menyeka sedikit keringat dingin yang membasahi pelipisnya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Suasana di dalam gerbong terasa begitu sunyi, diwarnai oleh suara desis uap pipa pendingin yang bocor di beberapa titik.

"Di mana... kita?" suara Ren terdengar sangat parau, nyaris seperti gesekan kerikil, namun sarat akan ketenangan yang khas.

"Kita masih terjebak di tepi jurang es Sektor 7," jawab Leo dengan suara berat, rahang mekaniknya mengeras. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap lantai dengan pandangan suram. "Kereta kita... mengalami kerusakan struktural yang sangat parah di bagian bawah lokomotif akibat runtuhan tebing tiga hari lalu. As roda depan bengkok, pelindung baja titanium yang kupasang hancur berkeping-keping, dan sistem penggerak utama kehilangan separuh daya dorongnya."

Ren mendengarkan penjelasan itu dalam keheningan yang dalam. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang kini terasa jauh lebih padat, lebih kuat, dan dialiri oleh sirkulasi energi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tiba-tiba, sebuah proyeksi cahaya biru transparan muncul di hadapan retinanya secara otomatis, memancarkan deretan data sistem yang bergerak cepat tanpa bisa dihentikan:

[ANALISIS PASCA-SURVIVAL SELESAI.]

[EVALUASI ANCAMAN: JENDERAL BINTANG TIGA (KATEGORI APEX-MILITARY).]

[STATUS KELANGSUNGAN HIDUP: BERHASIL BERTAHAN DARI KEMAUAN PEMUSNAHAN TOTAL.]

[PEMBERIAN HADIAH SISTEM: MEMULAI PROSES LEVEL-UP MASSAL UNTUK SELURUH ANGGOTA KRU VANGUARD...]

Ren terperanjat kecil di atas ranjang. Di hadapannya, pendaran cahaya dari The Core Engine mendadak memancarkan gelombang data yang tidak hanya merespons dirinya, tetapi juga merambat melalui kabel jaringan internal kereta ke arah tempat di mana Soju, Leo, Gavin, dan Yuna berdiri.

Seketika itu juga, keempat orang di hadapan Ren terpaku kaku.

Soju terpekik tertahan saat busur balistik di sudut ruangan mendadak berpendar dalam frekuensi sonik biru, memancarkan energi baru yang membuat ketegangan di lengannya lenyap seketika. Leo merasakan getaran hangat menjalar melalui tangan mekaniknya, memperkuat kapasitas motorik dan kepekaannya terhadap struktur logam hingga sepuluh kali lipat. Gavin terbelalak saat layar hologram di tablet kecilnya mendadak mengunduh arsitektur data militer Aether secara otomatis, mempertajam kapasitas otaknya dalam meretas sistem pertahanan. Dan Yuna, sang koki, merasakan aliran energi termal murni mengalir di ujung jemarinya, membuat insting kulinernya mampu merasakan kualitas molekuler bahan makanan paling langka sekalipun di dunia es ini.

[LEVEL-UP MASSAL BERHASIL DIIMPLEMENTASIKAN.] [KAPASITAS KOLEKTIF KRU VANGUARD MENINGKAT KE TINGKAT 2: KELOMPOK ELIT BERTAHAN HIDUP.]

Suasana di dalam ruang medis mendadak sunyi senyap. Keempat anggota kru saling berpandangan dengan mata terbelalak, merasakan perubahan fisik dan mental yang luar biasa drastis di dalam tubuh mereka masing-masing.

Leo menatap telapak tangan dan peralatan mekaniknya dengan napas tertahan, lalu mengalihkan pandangannya tajam ke arah Ren. "Kapten... apa barusan itu? Tubuhku... rasanya seperti baru saja ditempa ulang di dalam pabrik peleburan baja berteknologi tinggi. Energinya... luar biasa besar."

Soju mengusap busurnya yang kini berdengung dalam nada yang jauh lebih tajam dan mematikan. "Jari-jariku... rasanya aku bisa membidik sasaran sejauh dua kilometer tanpa meleset sedikit pun. Apa yang sebenarnya terjadi pada kereta ini, Ren?"

Gavin mengetuk-ngetukkan jarinya di atas udara kosong, terkagum-kagum saat melihat barisan kode rahasia mengalir di retinanya tanpa alat bantu. "Dan datanya... arsip rahasia pertahanan Korporasi Aether terbuka begitu saja di kepalaku. Ini tidak masuk akal. Sistem macam apa yang terpasang di dalam kereta ini?"

Yuna melangkah maju perlahan, matanya menatap Ren dengan penuh selidik namun dibarengi rasa takjub yang mendalam. "Bukan hanya sistem keretanya, Leo. Tubuh kita... kapasitas biologis kita telah ditingkatkan oleh sistem inti ini secara paksa sebagai imbalan karena berhasil bertahan hidup dari amukan seorang Jenderal Bintang Tiga."

Keempat pasang mata kini tertuju sepenuhnya kepada Ren. Ada kebingungan, rasa penasaran yang membuncah, dan tuntutan penjelasan yang tidak bisa lagi ditunda. Selama ini, Ren selalu menyimpan rapat-rapat rahasia tentang asal-usul The Core Engine, masa lalunya di Sektor 7, dan alasan mengapa Jenderal Vane begitu bernyawa ingin mencabut nyawanya.

Ren menundukkan kepalanya sejenak. Ia menarik napas panjang, merasakan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat di dalam dadanya mulai mendesak untuk keluar. Ia tahu, di hadapan orang-orang yang telah mempertaruhkan nyawa dan merawatnya selama tiga hari di ambang kematian, ia tidak lagi memiliki hak untuk berdusta atau menutup diri.

Dengan perlahan, Ren mengangkat wajahnya. Sorot mata peraknya menatap satu per satu rekan-rekannya dengan kejujuran yang telanjang.

"Kalian benar..." suara Ren terdengar sangat berat, memecah kesunyian ruang medis dengan getaran emosional yang pekat. Ia meraba dadanya sendiri, tepat di mana inti mesin biru itu berdenyut. "Inti mesin ini... bukanlah sekadar alat penggerak kereta biasa. Benda ini adalah artefak purba peninggalan peradaban sebelum dunia membeku, sebuah inti energi yang menjadi fondasi dari seluruh teknologi terlarang di bawah tanah."

Leo, Soju, Gavin, and Yuna terdiam membisu, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang meluncur dari bibir sang kapten.

"Sepuluh tahun yang lalu," lanjut Ren, suaranya mulai bergetar pelan, membawa kenangan pahit yang selama ini menjadi racun dalam hidupnya, "Korporasi Aether menemukan lokasi inti ini di dasar Sektor 7. Mereka menggunakan eksperimen manusia untuk mencoba mengendalikannya. Dan adikku... Lily... adalah salah satu subjek uji coba yang dikorbankan secara kejam oleh para petinggi militer."

Gavin terkesiap kecil, sementara Soju menutup mulutnya dengan sebelah tangan, merasakan betapa kelamnya luka yang selama ini disembunyikan oleh pria berambut perak di hadapan mereka.

"Jenderal Vane..." suara Ren mengeras, giginya bergemeretuk menahan amarah yang kembali membara di balik dadanya. "...adalah komandan langsung yang memimpin pembantaian hari itu. Dia bukan hanya musuh korporasi bagi kita. Dia adalah algojo yang merenggut nyawa adikku di hadapan mataku sendiri, saat itu aku terlalu lemah untuk menghentikannya."

Ren menunduk kembali, mengepalkan tangan kanannya hingga kuku jarinya menancap di telapak tangannya. Suaranya berubah menjadi bisikan yang penuh kepedihan dan kebencian terhadap dirinya sendiri.

"Itulah sebabnya... aku diburu. Itulah sebabnya Vane tidak akan pernah berhenti mengejar kereta ini sampai kapan pun. Karena selama The Core Engine ini masih berada di dalam Vanguard, dan selama aku masih bernapas, aku adalah ancaman terbesar bagi kekaisaran es mereka."

Suasana di dalam ruang medis mendadak menjadi sangat hening. Tidak ada yang bersuara. Angin badai salju di luar jendela seolah ikut membeku mendengarkan pengakuan yang begitu berat dan memilukan tersebut.

Leo mengepalkan tangan mekaniknya, lalu melangkah maju mendekati ranjang Ren. Tanpa ragu sedikit pun, mekanik bertubuh kekar itu menepuk bahu kiri Ren dengan kuat—tepat di atas luka yang baru saja menutup.

"Jadi itu alasanmu membawa kami berlari menembus badai es ini," ucap Leo dengan suara tegas namun hangat, menyunggingkan senyongan kecil di bibirnya. "Bukan sekadar mencari pelarian, tapi membawa kami langsung ke sarang singa untuk menuntut keadilan."

Soju mendengus pelan, menghapus sisa air mata di sudut matanya lalu tersenyum miring. "Jenderal Bintang Tiga, ya? Terdengar seperti mangsa yang sangat menantang untuk anak panah sonikku."

Gavin merapikan kacamatanya, menyeringai tajam. "Dan korporasi Aether mengira mereka bisa menyembunyikan kejahatan itu selamanya di balik arsip militer? Sayang sekali bagi mereka, sekarang aku memiliki seluruh akses data rahasia itu di dalam kepalaku."

Yuna melangkah lebih dekat, menatap Ren lurus-lurus dengan kelembutan yang menenangkan jiwa. "Dan kau tidak perlu lagi menanggung beban itu sendirian, Kapten. Seorang koki tidak akan pernah membiarkan kaptennya bertarung dengan lambung kosong dan hati yang membeku."

Ren tertegun. Ia menatap keempat orang di hadapannya dengan mata peraknya yang berbinar basah. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, rasa dingin yang mencengkeram dadanya perlahan-lahan mencair, digantikan oleh kehangatan yang jauh lebih kuat dari api termal mana pun.

Namun, sebelum Ren sempat membuka mulutnya untuk membalas ucapan mereka, layar terminal utama di luar ruang medis mendadak menyala terang secara otomatis.

Bukan lagi sinyal musuh dari darat. Gavin melompat berdiri saat melihat layar monitor utama mendadak menampilkan proyeksi holografik berukuran raksasa yang menyoroti langit di atas Tembok Es Raksasa.

Di layar tersebut, bayangan sebuah armada benteng udara raksasa milik Korporasi Frost-Guard—armada tempur utama yang dipimpin langsung oleh Jenderal Vane—telah tiba di puncak dinding es, mengarahkan meriam pemusnah massal mereka tepat ke arah lokasi jurang tempat kereta Vanguard terperangkap, bersiap melepaskan tembakan pemusnah yang akan meratakan seluruh lembah dalam satu detik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!