Indonesia
NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Nikah Kontrak / Kapten
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Tanda Lahir di Lengan Kiri

Tiga hari kemudian, Amanda mengundang Renata ke sebuah rumah pribadi di Menteng.

Alasannya terdengar masuk akal. Koleksi lama Mystara akan dipindahkan ke ruang penyimpanan baru, dan Amanda ingin sistem keamanannya diperiksa sebelum terhubung dengan arsip digital yang sedang ditangani Renata.

Rumah itu tidak memiliki papan nama. Dua penjaga memeriksa identitas di gerbang, sementara perangkat kerja Renata dicatat satu per satu.

Amanda menyambut di ruang tengah dengan gelang kayu cendana yang sama.

“Terima kasih sudah datang.”

“Pertemuan ini ada di luar ruang lingkup awal,” kata Renata.

“Tagihan tambahan sudah saya setujui.”

Mereka turun ke ruang penyimpanan bawah tanah bersama asisten dan kepala keamanan. Di balik pintu baja terdapat baki-baki perhiasan keluarga, dokumen kepemilikan, serta beberapa prototipe lama Mystara.

Renata tidak menyentuh barang apa pun. Ia memeriksa kamera, jalur sensor, dan titik buta antara pintu pertama dengan meja pencatatan.

“Kamera ini terhubung ke jaringan rumah?”

“Terpisah,” jawab kepala keamanan.

“Tapi panel cadangannya memakai jalur listrik yang sama. Kalau jalur utama mati, kamera dan sensor cadangan ikut kehilangan daya.”

Renata menunjukkan dua bagian lain yang bermasalah. Log pembukaan lemari hanya tersimpan di panel lokal, dan daftar petugas lama belum seluruhnya dihapus.

“Tidak perlu mengganti semua alat,” katanya. “Pisahkan sumber daya cadangan, pindahkan log ke penyimpanan hanya-baca, lalu audit siapa yang masih punya kartu.”

Kepala keamanan yang awalnya kaku mulai bertanya serius. Renata menjawab satu per satu dan menolak ketika diminta memeriksa perhiasan sebagai bagian inventaris.

“Nilai barang bukan bidang saya. Saya hanya memastikan siapa yang bisa mendekatinya.”

Amanda mengamati cara Renata bekerja. Gerakan tangan, kebiasaan menyipit saat membaca angka kecil, bahkan cara perempuan itu menolak pujian mengingatkannya pada Yolanda muda dalam foto keluarga.

Amanda mengangguk kepada asistennya agar mencatat.

Saat mengukur jarak panel di belakang rak, Renata menggulung lengan blus agar kain tidak tersangkut. Cahaya putih dari lampu inspeksi menyapu bagian dalam lengan kirinya.

Di sana terlihat tanda lahir kecil berbentuk hati, warnanya lebih pucat daripada kulit sekitar.

Suara cangkir beradu dengan nampan.

Amanda membeku. Teh yang dibawanya tumpah sedikit ke piring kecil.

Tatapannya terpaku pada lengan Renata.

“Tanda itu...”

Renata langsung menurunkan lengan baju. “Ada apa?”

Amanda melangkah mendekat, lalu berhenti sebelum melewati jarak pribadi.

“Tanda lahir itu sudah ada sejak lahir?”

Renata mundur setengah langkah. “Iya. Kenapa?”

“Bentuknya unik.”

“Anda mengundang saya untuk melihat koleksi atau tanda lahir?”

Wajah Amanda kehilangan ketenangan. Dalam ingatannya muncul seorang bayi yang pernah ia gendong bertahun-tahun lalu. Bayi itu menangis ketika dimandikan, dan di bagian dalam lengan kirinya ada tanda pucat seperti hati kecil.

Amanda masih terlalu muda saat adiknya hilang. Namun tanda tersebut tidak pernah berubah dalam mimpi-mimpinya.

“Maaf,” katanya. Suaranya terdengar serak. “Saya benar-benar minta maaf.”

Renata tidak menerima penjelasan itu begitu saja. Sejak pertemuan pertama, Amanda menatap wajahnya, mengetahui nama JK, dan menanyakan pekerjaan yang berkaitan dengan masa lalu keluarga. Sekarang perempuan itu hampir kehilangan kendali hanya karena tanda lahir.

“Anda sebenarnya mencari apa?”

“Jawaban.”

“Tentang saya?”

Amanda menggenggam gelang kayu. “Saya belum bisa mengatakan sebelum yakin.”

“Kalau begitu saya juga nggak bisa melanjutkan akses ke arsip Anda tanpa menilai risiko pribadi.”

“Saya nggak berniat menyakiti Anda.”

“Orang yang tahu identitas JK lalu mengatur pertemuan untuk melihat tubuh saya memang terdengar aman.”

Amanda memejamkan mata sesaat. “Anda berhak curiga.”

“Saya hentikan proyek kalau Anda memakai data kerja untuk mencari riwayat kesehatan, keluarga, atau lokasi saya.”

“Saya setuju.”

“Tertulis.”

“Tertulis.”

Ketegasan Renata justru membuat dada Amanda semakin sesak. Adiknya tumbuh tanpa keluarga, tetapi tidak menjadi orang yang mudah didorong siapa pun.

Kepala keamanan memandang Amanda menunggu instruksi.

Amanda mengangguk pelan. “Pemeriksaan hari ini cukup. Semua biaya tetap dibayar. Tidak ada data Anda yang akan disimpan dari kunjungan ini.”

“Rekaman kamera?”

“Hanya untuk keamanan lokasi dan tidak boleh disalin.”

Renata meminta ketentuan tersebut diberikan tertulis. Amanda langsung menyetujuinya.

Mereka kembali ke lantai atas. Amanda mencoba memegang cangkir baru, tetapi jemarinya masih bergetar.

“Apakah ibu Anda pernah bercerita tentang tanda itu?” tanyanya.

“Mama bilang sudah ada sejak saya lahir.”

“Ayah Anda?”

“Sudah meninggal.”

“Saya turut berduka.”

“Anda tahu nama keluarga saya sebelum datang.”

Amanda menunduk. “Benar.”

Percakapan berakhir di sana.

Beberapa menit kemudian, Amanda meminta asistennya membatalkan agenda lain dengan alasan kurang sehat. Ia pergi lebih dulu, meninggalkan rumah melalui pintu samping.

Begitu masuk ke mobil, pertahanannya runtuh.

Amanda menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar pengemudi. Asistennya menyerahkan tisu tanpa berkata apa-apa.

Dari dompet, Amanda mengeluarkan foto lama yang warnanya telah menguning. Foto itu memperlihatkan dirinya saat remaja menggendong bayi berselimut putih. Sebagian lengan bayi terlihat, dengan tanda kecil yang bentuknya sama.

Di belakang foto ada tanggal dan tulisan tangan Yolanda. Amanda tidak perlu membacanya untuk mengingat hari itu. Keluarga sedang berkumpul sebelum sebuah pertengkaran memisahkan mereka. Beberapa bulan kemudian, bayi tersebut hilang bersama jejak yang sengaja dikaburkan.

Selama bertahun-tahun Amanda menyimpan foto itu dalam pelindung. Setiap petunjuk palsu membuat sudutnya semakin aus karena terlalu sering dikeluarkan.

“Itu dia,” bisik asistennya.

“Belum.” Amanda mengusap air mata. “Tanda bisa sama. Wajah bisa mirip.”

“Apa lagi yang Anda butuhkan?”

“Bukti yang nggak bisa dibantah.”

Mobil melaju meninggalkan Menteng.

Di ruang penyimpanan, Renata berdiri sendirian setelah petugas keluar. Ia menggulung lengan sekali lagi dan melihat tanda pucat tersebut.

Selama hidupnya, tanda itu tidak pernah berarti apa-apa selain bagian dari tubuh.

Renata memotret surat pembatasan data yang baru ditandatangani Amanda dan mengirim salinan kepada Tania. Ia meminta sahabatnya memeriksa apakah ada permintaan data baru atas nama Renata di klinik, maskapai, atau penyedia layanan resmi. Bukan untuk menyerang, hanya memastikan tidak ada orang melampaui izin.

Tania segera membalas.

Jadi klien misterius itu terobsesi sama tanda lahirmu?

Renata: Entah. Tapi dia tahu sesuatu tentang masa kecilku.

Untuk pertama kalinya, Renata bertanya apakah cerita yang selama ini ia terima tentang kelahirannya memiliki bagian yang sengaja dihilangkan.

Kini seorang perempuan asing melihatnya seperti melihat seseorang yang kembali dari kematian.

Renata menurunkan lengan baju dan menatap lampu belakang mobil Amanda menghilang di balik gerbang.

“Kenapa dia melihat tanda lahirku seperti melihat hantu?” gumamnya.

Pertanyaan itu mengikuti Renata keluar dari rumah, lebih lengket daripada rasa mual yang sejak pagi terus datang dan pergi tanpa peringatan di tubuhnya sendiri.

1
Siti Kamisah Hasnul
Ya Allah sedihnya
Bulan-³
yuk mulai dari awal dengan lebih baik lagi
yuqana
berhasil bikin aku nangis bombay kak, 😭😭😭😭
tri septi
oh, Tante Sisca yang tantenya Nathan sering merendahkan Rena 😣 bisa ada kemungkinan kaitan dengan Cheryl ga? kok ada nyangkut angkasa juga🤔
tri septi
Tante Sisca siapa lagi ya.....🤔 apa harus scroll ke atas🤔🤭😄
Siti Kamisah Hasnul
😍
tri septi
keras kepala 😔
tri septi
penyesalan pada akhirnya 🌧️🌧️🌧️
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
kasihan opa, nama basar keluarga disalah gunakan anaknya dijadikan tameng untuk menutupi kejahatan mereka
tri septi
semangat thor💪
tri septi
mengapa Cheryl kekeh merebut Nathan dan niat menjadi pelakor ? apakah ada keturunan ?😣🤔🤔
tri septi
Cheryl, bisa2nya mengaku-ngaku karya orang lain , oh malunya....😄😄😄😄 🤭
tri septi
lanjut thor 👍💪
tri septi
jadi belibet ya 🤭😄
tri septi
apa itu 🤭
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
banyak kasus dan nama yang perlu pembaca cari sendiri hubungannya
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
jangan terlalu memaksa,, turutilah keinginan Rena
Siti Kamisah Hasnul
lanjutttt.....serruuuuu👍
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
Nathan gak sabaran
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
wowww bom update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!