Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Siang harinya, suasana tenang di teras balai desa mendadak terganggu oleh kedatangan dua mobil sedan hitam mewah berpelat nomor ibu kota. Dari dalam mobil, keluar seorang pria berdasi rapi memegang map tebal berlogo firma hukum ternama, didampingi dua orang pria berbadan tegap yang berakting sebagai pengawal pribadi.

​Pak Kades dan beberapa tokoh warga desa berkumpul di teras dengan raut wajah cemas. Pria berdasi itu melangkah maju dengan angkuh, mengibarkan lembaran surat kuasa di hadapan warga.

​"Perhatikan semuanya," seru pria berdasi itu dengan nada menggurui. "Lahan pemukiman di blok timur desa ini, termasuk seluruh tapak rumah kayu di dekat sungai, telah resmi dibeli oleh klien investor asing kami. Seluruh penghuni diberi waktu tiga hari untuk mengosongkan area!"

​Warga desa berbisik-bisik panik. Kinanti yang sedang menemani Arka berjualan cilok di seberang lapangan memegang erat lengan baju suaminya. Matanya membelalak cemas.

​"Mas... rumah kita kan ada di blok timur dekat sungai itu," bisik Kinanti rapat, suaranya bergetar takut. "Masa kita harus pindah lagi? Padahal kita baru aja betah di sini..."

​Arka mengusap lembut jemari Kinanti yang dingin, memberikan ketenangan mutlak lewat genggamannya. "Tenang ya, Kin. ngga ada yang akan ngusir kita. Mas yang urus."

​Arka melepas celemek jalannya, merapikan kemeja flanel sederhananya, lalu melangkah santai menuju kerumunan warga di balai desa. Kinanti mengekor pelan di belakangnya dengan hati berdebar.

​"Permisi, Pak" sapa Arka dengan nada suara yang sangat ramah namun bergema penuh wibawa di tengah kerumunan.

​Pria berdasi itu menoleh menatap Arka dengan pandangan meremehkan. "Siapa kamu? Tukang cilok? Jangan ikut campur urusan hukum orang dewasa."

​Arka tertawa kecil, melipat kedua tangannya di dada. Ia merogoh ponselnya, menekan satu tombol pangilan cepat, lalu menempelkan ponsel tersebut ke telinganya sebentar sebelum menyerahkannya kepada pria berdasi itu.

​"Bicara dengan atasan firmamu," kata Arka datar.

​Pria berdasi itu mengernyit bingung, namun menerima ponsel Arka dengan enggan. "Halo? Ini siapa..."

​Seketika, raut wajah angkuh pria itu runtuh total. Warna kulit di wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Suara di seberang telepon adalah suara pemilik firma hukum terbesar di Jakarta sekaligus aset rahasia yang dibiayai penuh oleh dana abadi milik Arka.

​"Kau tahu siapa yang kau ajak bicara, bod*h?!" bentak suara dari telepon dengan nada histeris. "Batalkan seluruh transaksi itu detik ini juga! Beli seluruh tanah desa itu atas nama yayasan lokal, lalu hibahkan penuh sertifikatnya kepada warga desa dan bos Arka ! Jika kau gagal dalam lima menit, kerjamu selesai selamanya!"

​Pria berdasi itu gemetar hebat hingga map di tangannya nyaris terjatuh. Ia mengembalikan ponsel Arka dengan kedua tangan yang menggigil, membusungkan dada lalu membungkuk hormat sembilan puluh derajat di hadapan Arka.

​"M-maafkan saya... Maafkan saya sebesar-besarnya!" kata pria berdasi itu gagap, peluh dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia langsung berbalik menatap Pak Kades dan warga yang kebingungan. "A-ada kesalahan data! Lahan ini tidak dijual! Malah... investor kami memutuskan untuk membalikkan seluruh kepemilikan tanah ini menjadi hak milik mutlak warga desa!"

​Warga desa mendadak bersorak gembira, saling berpelukan tak percaya. Pak Kades menjabat tangan Arka dengan penuh rasa terima kasih, menganggap Arka sebagai pembawa keberuntungan bagi desa mereka.

​Di balik kerumunan, Kinanti menatap suaminya dengan mata berbinar-binar penuh kagum dan rasa heran yang menggebu.

​Saat mereka berjalan kembali ke gerobak ciloknya, Kinanti memeluk lengan Arka erat-erat. "Mas Arka... kok bisa orang itu langsung takut banget sama telepon dari Mas?"

​Arka menoleh, tersenyum sangat manis seraya mengacak rambut istrinya gemas. "Mas cuma bilang ke temen Mas di Jakarta kalau ada orang mau ngerusak tempat jualan cilok kita. Teman Mas itu kebetulan bos besar, Kin."

​Kinanti tertawa renyah, menggelengkan kepalanya gemas. "Mas Arka ini banyak rahasianya ya... tapi makasih ya, Mas. Kita nggak jadi diusir!"

​"Sama-sama, Istriku," bisik Arka penuh kehangatan, merangkul bahu Kinanti rapat.

Sore harinya Hujan deras mengguyur pedesaan Bandung , menampar atap seng dan dinding kayu rumah panggung mereka. Hawa dingin yang menusuk tulang merayap masuk lewat celah jendela, namun di dalam kamar utama, udara mendadak pekat oleh kehangatan yang membakar.

​Kinanti berdiri di samping ranjang, baru saja selesai mengeringkan rambut basahnya. Ia mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah marun yang membingkai anggun siluet tubuhnya. Begitu melihat Arka melangkah masuk setelah mengunci pintu depan, tatapan Kinanti tak lagi malu-malu, melainkan mengunci sosok suaminya dengan binar gairah yang intens.

​"Mas... dingin banget," bisik Kinanti pelan, suaranya serak bertenaga.

​Bukannya menunggu Arka melangkah mendekat, Kinanti justru mengambil inisiatif. Ia berjalan menghampiri suaminya, menyusupkan kedua tangannya ke balik kemeja Arka, merasakan kehangatan dan kekokohan dada pria itu.

​"Jangan berdiri di situ aja, Mas..." gumam Kinanti manja seraya menatap manik mata Arka yang mulai meredup pekat. "Peluk aku. Aku mau Mas dekap erat-erat malam ini."

​Arka terkesiap sejenak melihat keberanian istrinya, sebelum senyum tipis yang penuh wibawa terukir di bibirnya. Tangan tegap Arka langsung melingkar di pinggang Kinanti, menarik tubuh mungil itu rapat tanpa jarak.

​"Kamu yakin, Sayang?" bisik Arka sangat rendah di depan bibir Kinanti. "Mas nggak akan lepas kalau kamu memancing begini."

​Kinanti menyunggingkan senyum menantang. Ia berjinjit, mengikis sisa jarak di antara mereka, dan menyambar bibir Arka dengan ciuman yang sarat akan rasa cinta dan tuntutan mendalam. "Aku nggak mau Mas lepas. Buat aku lupa sama dinginnya malam ini, Mas Arka..."

​Mendengar bisikan penuh gairah dari bibir istrinya, kendali Arka runtuh. Ia membalas ciuman Kinanti dalam pagutan hangat yang mendominasi, mengangkat tubuh sang istri ke dalam dekapannya, lalu membawanya perlahan ke atas kasur empuk.

​Di bawah pendar redup lampu tidur, suara gemuruh hujan di luar seolah lenyap, tergantikan oleh bisikan cinta dan kehangatan malam panjang yang sepenuhnya milik mereka berdua.

​Dua jam berlalu, hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis. Kinanti telah terlelap dengan wajah bersemu merah, bersandar nyaman di atas dada bidang Arka. Napas teraturnya berembus lembut, sementara jemari halusnya masih mencengkeram erat kemeja suaminya seolah tak ingin dipisahkan.

​Arka mengusap rambut istrinya dengan sangat protektif, mendaratkan kecupan lembut di pelipis Kinanti yang hangat.

​Namun, saat tatapannya melirik ke arah jendela luar kamar, insting pemangsanya seketika menyala kembali. Di balik keremangan malam dan pekatnya kabut desa, pendar lampu sorot dari sebuah mobil SUV hitam asing terlihat melintas lambat di jalanan tanah, mengarah tepat ke rumah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!