Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Bayangan Pria Lain
Langkah kaki berirama mantap mendekati meja luar ruangan tempatku menikmati makan siang singkat di sela kesibukan kantor.
Ketukan sol sepatu kulit mahal itu terdengar sangat berbeda dari langkah terburu-buru para pekerja distrik bisnis lainnya. Aku menghentikan pergerakan tanganku yang sedang memegang garpu.
Sebuah bayangan tinggi jatuh menutupi meja bundarku.
Aku mendongak dari layar tablet kerjaku. Seorang pria berjas abu-abu dengan potongan sangat rapi berdiri tepat di hadapanku. Senyum simpul yang memancarkan karisma alami terukir jelas di wajahnya.
Pria ini adalah orang yang sama, yang bersulang ke arahku dari seberang ruang makan VIP tadi malam.
[Memindai Subjek: Hamdan. Posisi: CEO Apex Dynamics.]
[Status Emosi: Ketertarikan Tinggi, Percaya Diri, Ramah.]
[Tingkat Ancaman: Rendah. Tidak Terdeteksi Niat Manipulatif.]
"Boleh saya bergabung, Nona Tera?" sapa Hamdan dengan nada suara bariton yang hangat.
Ia tidak menunggu persetujuanku. Tangan kokohnya menarik kursi besi di seberangku, lalu ia duduk dengan postur santai namun tetap memancarkan kelas seorang eksekutif tingkat atas.
Aku meletakkan garpuku secara perlahan. Aku mempertahankan ekspresi netral. "Saya tidak yakin aturan etika perusahaan mengizinkan seorang asisten khusus CEO Vanguard Corp makan siang satu meja dengan CEO dari perusahaan kompetitor terbesar kami, Pak Hamdan."
Hamdan tertawa pelan. Suara tawanya terdengar lepas dan sangat tulus.
"Aturan etika perusahaan diciptakan untuk mereka yang tidak memiliki cukup keberanian, Tera," balas Hamdan seraya melipat kedua tangannya di atas meja. "Dan berdasarkan apa yang saya saksikan tadi malam, Anda jelas bukan wanita yang peduli pada aturan kaku."
Matanya yang berwarna cokelat terang menatapku lekat-lekat. Tidak ada tatapan merendahkan seperti yang ditunjukkan Bernard atau Dakhan. Yang ada hanyalah apresiasi murni.
"Cara Anda membongkar skema jebakan Bernard... luar biasa," puji Hamdan tanpa basa-basi. "Itu adalah eksekusi logika tingkat tinggi. Sangat sedikit analis di kota ini yang bisa membaca pergeseran frasa hukum menjadi ancaman liabilitas dalam waktu kurang dari satu menit."
Aku menggeser tablet kerjaku sedikit menjauh. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Pak Hamdan. Tidak lebih."
"Anda terlalu merendah." Hamdan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Sakti sangat beruntung menemukan berlian setajam Anda. Dan dia sangat bodoh jika hanya menempatkan Anda sebagai seorang asisten yang membawakan map dokumen."
Tampilan antarmuka sistemku berkedip hijau di sudut penglihatanku.
[Analisis Kalimat Subjek: Subjek sedang melakukan penjajakan awal. Indikasi upaya rekrutmen atau ketertarikan personal terdeteksi.]
"Saya cukup puas dengan posisi saya saat ini," jawabku lugas. "Vanguard Corp membayar saya dengan sangat pantas."
"Untuk saat ini, mungkin," timpal Hamdan cepat. Senyumnya berubah menjadi lebih menantang. "Tetapi wanita dengan kapasitas otak seperti Anda akan segera membutuhkan panggung yang lebih besar dari sekadar meja di depan pintu ruang kerja Sakti."
Aku tidak membalas provokasinya. Aku mengambil serbet kertas dan membersihkan sudut bibirku. Waktu istirahat makan siangku hampir habis.
"Jika Anda datang kemari hanya untuk memberikan pujian atau tawaran terselubung, saya rasa percakapan ini sudah cukup, Pak Hamdan," kataku tegas, bersiap untuk berdiri.
"Tunggu," Hamdan mengangkat satu tangannya, mencegahku pergi.
Ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama hitam berbahan metalik tebal. Ia meletakkannya di atas meja dan mendorongnya ke arahku.
"Ini nomor pribadi saya," ucap Hamdan dengan nada yang tiba-tiba berubah jauh lebih serius. "Jika lingkungan Vanguard Corp menjadi terlalu menekan... atau jika Anda sekadar butuh teman bicara yang mengerti kapasitas Anda, hubungi saya. Kapan pun."
Aku menatap kartu nama itu, lalu menatap wajah Hamdan.
Sebelum aku sempat memberikan respons, sistem A.U.R.A mendadak mengirimkan peringatan darurat berupa kotak merah yang berkedip liar menutupi seluruh pandangan depanku.
[PERINGATAN! Peringatan Ancaman Teritorial!]
[Mendeteksi Titik Fokus Eksternal yang Mengarah pada Inang.]
[Arah: Gedung Vanguard Corp. Lantai Lima Puluh Lima. Kaca Jendela Utama.]
Aku secara refleks memutar kepalaku dan mendongak ke arah atas. Mataku langsung tertuju pada deretan kaca gelap di puncak gedung pencakar langit yang menjulang di seberang jalan.
[Mengaktifkan Mode Zoom-In. Pembesaran Optik Delapan Ratus Persen.]
Pandanganku melesat menembus jarak ratusan meter dalam hitungan milidetik.
Di balik kaca lantai paling atas itu, siluet seorang pria berdiri kaku. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Kacamata peraknya memantulkan cahaya matahari siang.
Sakti.
Pria itu sedang menatap lurus ke arah mejaku di bawah sini. Wajahnya mengeras seperti pahatan es. Aura gelap memancar kuat dari posturnya yang kaku. Ia memperhatikan setiap interaksiku dengan Hamdan dari atas sana.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Sesuatu bergetar hebat di atas meja, mengagetkanku hingga fokus pandanganku kembali normal ke jarak dekat.
Ponselku menyala terang. Layar utamanya menampilkan panggilan masuk dari satu nama.
Bos.
Hamdan melirik layar ponselku dan tersenyum tipis. "Sepertinya atasan Anda memiliki radar pengawasan yang sangat sensitif."
Aku segera menyambar ponsel itu dan menggeser ikon hijau.
"Halo, Pak Sakti," jawabku seprofesional mungkin.
Suara bariton yang berat dan dingin menusuk telingaku dari seberang sambungan.
"Tiga puluh detik."
Hanya dua kata itu. Tidak ada instruksi lanjutan, tidak ada penjelasan.
Sambungan telepon langsung terputus sepihak.
Aku segera berdiri dari kursiku, merapikan setelan kerjaku dengan satu gerakan cepat. Aku membiarkan kartu nama Hamdan tetap tergeletak di atas meja.
"Saya harus kembali bekerja, Pak Hamdan. Permisi," pamitku tanpa basa-basi lagi.
Hamdan hanya mengangguk pelan, masih mempertahankan senyum karismatiknya. "Semoga harimu menyenangkan, Tera."
Aku membalikkan badan dan bergegas melangkah setengah berlari menuju lobi gedung Vanguard Corp.
Teks hijau dari sistem kembali muncul, berkedip tepat di depan mataku.
[Sisa Waktu: 00:28 Detik.]
[Status Emosi Subjek Sakti: Tidak Stabil. Probabilitas Konfrontasi: 99%.]
Aku mempercepat langkahku menerobos pintu putar. Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Kemarahan pria di lantai atas sana adalah sesuatu yang tak bisa diprediksi.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?