Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Pertemuan di Bayang Malam
Pukul satu dini hari, Raka melompati pagar belakang garasi tanpa suara, bergerak melalui rute yang sudah ia hafal dari ratusan malam patroli imajiner yang ia lakukan sendiri demi menjaga insting lamanya tetap hidup. Alamat yang diberikan Bara membawanya ke sebuah bengkel tua di pinggiran kota, jauh dari kilau gedung-gedung Sudirman — tempat yang sengaja dipilih karena tidak ada kamera CCTV dalam radius lima ratus meter.
Bara sudah menunggu di dalam, bersandar di kap mobil tua, wajahnya lebih kurus dari yang Raka ingat, dengan bekas luka baru melintang di rahang kirinya.
"Kau terlihat seperti sopir sungguhan," kata Bara, sedikit menyeringai, meski matanya tidak ikut tersenyum.
"Dan kau terlihat seperti orang yang sudah tiga tahun tidur di tempat yang salah." Raka mendekat, memeluk singkat sahabatnya itu — sesuatu yang tak pernah ia lakukan bahkan pada masa unit mereka masih utuh. "Aku pikir kau mati, Bara."
"Aku memang seharusnya mati." Bara menarik napas panjang. "Aku terjebak di bawah runtuhan gudang senjata selama dua hari sebelum tim evakuasi menemukanku — tim yang, aku baru tahu belakangan, sengaja dikirim terlambat."
Raka mengepalkan tangan. "Siapa yang mengkhianati kita, Bara? Aku sudah menghabiskan tiga tahun berpura-pura tidak peduli, tapi aku tidak pernah berhenti memikirkannya."
Bara mengeluarkan sebuah folder tipis dari balik jaketnya, menyerahkannya tanpa kata. Di dalamnya, sebuah foto: seorang pria berjas mahal, tersenyum di sebuah acara peresmian gedung, berdiri di podium bertuliskan GRUP ANDRATAMA.
"Kolonel Setiawan," desis Raka, mengenali wajah itu meski sudah lebih tua dan lebih gemuk dari yang ia ingat. "Komandan operasi kita. Orang yang memberi perintah terakhir sebelum semuanya hancur."
"Dia bukan cuma memberi perintah, Raka. Dia yang menjualnya. Seluruh rencana misi, lokasi, jadwal — semua bocor ke pihak yang seharusnya kita tangkap, karena mereka membayarnya lebih dari yang bisa dibayangkan negara ini." Bara menepuk foto itu. "Dan sekarang dia bukan cuma pensiun dengan tenang. Dia Wakil Direktur Utama Grup Andratama — grup yang minggu depan akan resmi bergabung dengan kerajaan bisnis mertuamu."
Dada Raka terasa dingin. "Itu bukan kebetulan."
"Tidak ada yang kebetulan soal Setiawan. Dia pasti sudah tahu kau masih hidup, atau setidaknya mencurigainya — kenapa lagi tiga orang bersenjata dikirim untuk merebut dokumen merger di siang bolong, alih-alih menunggu waktu yang lebih aman? Dia ingin memancingmu keluar, Raka. Dan sepertinya berhasil."
Hening sejenak, hanya suara tetes air dari atap bengkel yang bocor.
"Kenapa baru sekarang kau menghubungiku?" tanya Raka akhirnya. "Kau bisa saja datang setahun lalu."
"Karena aku baru berhasil menembus cukup dalam ke jaringan Setiawan bulan ini," jawab Bara. "Dan karena aku baru tahu minggu lalu bahwa istrimu adalah putri Handoko Wijayakusuma. Kau tidak bersembunyi, Raka. Kau berjalan langsung ke sarang laba-laba tanpa menyadarinya."
Raka menutup folder itu perlahan, pikirannya berputar cepat — tentang Cinta, tentang keluarga yang selama ini meremehkannya, tentang tiga tahun yang ia habiskan untuk menjadi tak berarti demi keamanan yang kini terbukti hanya ilusi.
"Apa yang kau inginkan dariku, Bara? Balas dendam, atau sesuatu yang lebih besar?"
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Bara benar-benar mencapai matanya — dingin, tajam, penuh tekad. "Aku ingin kita menghancurkan semua yang Setiawan bangun di atas darah tim kita. Tapi kali ini, kita tidak akan gegabah seperti dulu. Kita bergerak dari dalam bayangan, tepat seperti nama kita."
Dari luar bengkel, sebuah bunyi lembut — ranting terinjak, terlalu presisi untuk seekor kucing liar. Kedua pria itu langsung membeku, insting lama mereka menyala serentak.
"Ada orang," bisik Raka, matanya menyipit ke arah pintu.
Bara sudah bergerak mematikan satu-satunya lampu di bengkel, menyelimuti mereka dalam gelap total. "Kalau Setiawan tahu tentang pertemuan ini," bisiknya, "maka jaringannya lebih cepat dari yang aku kira."