Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Bertemu sang Mentor

Lampu neon jalanan di sekitar kawasan ruko mulai menyala satu per satu, membiaskan cahaya redup di atas permukaan aspal yang basah oleh sisa gerimis sore.

Intan Saputri duduk di sebuah kursi plastik di teras belakang ruko Katering Barokah, sibuk merapikan tumpukan nota pengiriman yang baru saja ia selesaikan.

Tangan Intan berdebu, bajunya agak kusut, dan kakinya masih terasa pegal akibat seharian bergerak di area proyek Zona Tiga.

Namun, fokusnya tak pernah goyah. Buku catatan hitam kecil milik Intan sudah terbuka di samping tumpukan nota.

Jemarinya sibuk mencoret-coret beberapa poin penting tentang nama PT Rian Cipta Konstruksi dan pola penipuan yang sempat ia dengar dari petugas teknis proyek siang tadi.

"Menulis daftar belanjaan atau sedang menyusun rencana pembunuhan, Mbak?"

Sebuah suara bernada dingin dan berat mendadak menyapa dari arah kegelapan lorong samping ruko.

Intan terkejut, namun tangannya dengan cepat menutup buku catatan hitam itu dan menyelipkannya ke bawah tumpukan nota. Ia mendongak dengan tatapan waspada.

Seorang wanita berusia akhir tiga puluhan melangkah keluar dari bayang-bayang lorong.

Wanita itu mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga ke siku, celana jins gelap, dan sepatu bot kulit yang tampak tangguh.

Rambutnya dipotong pendek gaya bob yang sangat rapi, dan sebuah bekas luka tipis terlihat melintas di atas alis kirinya.

Matanya tajam, meneliti Intan dari atas ke bawah seolah sedang membedai sebuah dokumen rahasia.

"Siapa ya?"

Tanya Intan tenang, mencoba mempertahankan raut wajah datarnya.

Wanita itu terkekeh pelan, menarik sebuah kursi plastik kosong lalu duduk di hadapan Intan tanpa minta izin terlebih dahulu.

Ia mengeluarkan sebungkus rokok, menyalakan sebatang, lalu membiarkan asapnya membubung tipis ke udara.

"Nama saya Maya"

Ujar wanita itu, menghembuskan asap rokok ke samping.

"Pak Budi bilang dia punya staf administrasi baru dari desa yang pendiam tapi sorot matanya seperti mau makan orang."

"Ternyata benar."

Intan menatap wanita bernama Maya itu tanpa berkedip.

"Saya di sini cuma pekerja katering, Mbak."

"Pekerja katering tidak akan sibuk mencatat nama-nama perusahaan kontraktor bermasalah di buku harian."

Potong Maya cepat. Mata tajamnya melirik ke arah sudut buku hitam yang menyembul di bawah nota.

"Dan pekerja katering dari desa yang polos tidak akan menatap petugas teknis proyek dengan sorot mata seperti menagih utang darah."

Jantung Intan berdesir pelan. Wanita di hadapannya ini bukan orang sembarangan. Cara bicaranya langsung menembus pertahanan Intan tanpa jeda.

"Mbak Maya ini siapa sebenarnya?"

Desak Intan, suaranya makin merendah.

"Saya mantan penyelidik independen... atau kamu bisa sebut saya auditor lapangan untuk beberapa perusahaan kontraktor di kawasan ini."

"Tugas saya sederhana: mencari orang-orang yang suka mencuri uang proyek, memalsukan dokumen, dan lari membawa dana investor."

Jelas Maya santai, mengapit rokoknya di antara dua jari.

Intan membelalakkan matanya sedikit.

Seorang auditor lapangan?

Seseorang yang pekerjaannya memang melacak jejak para penipu profesional?

"Pak Budi itu sepupu saya."

Lanjut Maya.

"Dia cerita kamu bertanya-tanya tentang PT Rian Cipta Konstruksi siang tadi ke petugas teknis Zona Tiga."

"Kamu tahu?

"Tindakanmu itu ceroboh sekali, Budak Kecil."

Kata 'ceroboh' membuat Intan mengernyitkan dahi.

"Saya cuma mencari informasi."

"Dan caramu mencari informasi itu bisa bikin kamu dalam bahaya."

Tangkas Maya tegas, condong ke depan hingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter.

"Pria yang memakai nama Rian itu bukan penipu kelas teri yang cuma beroperasi di aplikasi perpesanan."

"Dia bagian dari jaringan penipuan dana proyek dan manipulasi identitas di kota ini."

"Kalau kamu terus-terusan bertanya secara terbuka seperti tadi, orang-orangnya di lapangan akan sadar bahwa ada yang sedang melacak mereka."

Intan terdiam membatu. Rasa dingin merayap di tengkuknya.

Ia baru menyadari bahwa dalam kepolosannya yang baru dibalut dendam, langkah-langkahnya masih sangat amatir.

"Bagaimana Mbak Maya tahu soal dia?"

Tanya Intan pelan.

Maya menyenderkan punggungnya kembali, menatap langit-langit teras ruko yang berdebu.

"Karena 'Rian'—atau siapapun nama aslinya—pernah membuat salah satu klien saya rugi ratusan juta dua tahun lalu."

"Saya mengejarnya sampai ke luar kota, tapi dia licin seperti belut."

"Dia selalu mengincar korban yang rapuh: pengusaha baru yang butuh modal cepat, atau... gadis-gadis polos yang mudah terbuai kata-kata manis di internet."

Sorot mata Maya saat mengucapkan kalimat terakhir mendadak melunak. Ia menatap Intan yang meremas jemarinya di atas meja.

"Uangmu melayang berapa?"

Tanya Maya dingin, namun tanpa nada mengejek.

Intan menundukkan kepala sejenak, lalu mengangkatnya kembali dengan keteguhan yang terkumpul.

"Dua juta rupiah."

"Seluruh simpanan saya."

Maya sempat menaikkan alisnya, terkejut.

"Dua juta?"

"Uang segitu bahkan tidak cukup untuk bayar sewa pengacara di kota ini."

"Tapi kamu sampai nekat meninggalkan desamu, potong rambut, dan kerja serabutan di katering ini cuma demi dua juta rupiah?"

"Ini bukan soal jumlah uangnya."

Jawab Intan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian hari, suaranya bergetar oleh penekanan emosi yang mendalam.

"Ini soal rasa sakit hati."

"Ini soal penghianatan."

"Dia memanfaatkan ketakutan saya, menghancurkan kepercayaan saya, dan menganggap saya bodoh."

"Saya tidak akan pernah bisa tidur tenang sebelum melihat pria itu membayar apa yang sudah dia perbuat!"

Keheningan tercipta di antara mereka berdua. Hanya terdengar deru mesin kendaraan di jalan raya dan suara kipas angin dapur di dalam ruko.

Maya memperhatikan wajah mungil Intan. Di balik tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang awet muda seperti anak sekolah, ada kehendak baja yang luar biasa besar.

Maya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyembunyikan rasa hormat.

Maya mematikan puntung rokoknya di asbak plastik.

"Tekadmu boleh juga."

"Tapi dendam tanpa keahlian cuma akan menjadikanmu mangsa untuk kedua kalinya, Intan."

Intan menatap wanita di hadapannya.

"Kalau begitu... ajari saya."

"Apa?"

"Ajari saya cara melacaknya."

Desak Intan. Mata bulatnya menatap lurus mata Maya tanpa ada keraguan sedikit pun.

 "Mbak Maya bilang dia licin dan punya jaringan."

"Saya punya waktu, saya punya tekad, dan saya ada di tempat yang tepat."

"Ajari saya cara berpikir seperti dia agar saya bisa menangkapnya."

Maya menatap Intan lama. Rasa ketertarikan mulai tumbuh di benaknya.

Selama bertahun-tahun di dunia perburuan jejak penipu, ia jarang sekali menemukan seseorang yang memiliki kobaran api batin sejelas gadis desa di hadapannya ini.

"Dunia yang mau kamu masuki ini kotor, Intan."

"Kamu harus belajar berbohong, belajar memasang perangkap, membaca bahasa tubuh, dan menanggalkan seluruh sisa kepolosanmu."

Ujar Maya memperingatkan.

"Kepolosan saya sudah mati di hari dia memblokir nomor saya."

Jawab Intan dingin.

Maya tertawa pelan, sebuah tawa lepas yang penuh kepuasan. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemeja hitamnya, lalu menepuk bahu Intan pelan.

"Baiklah."

"Mulai besok, selain kerja di katering Pak Budi, kamu ikut saya setiap malam."

"Kita akan belajar bagaimana caranya memburu seekor serigala di tengah belantara kota ini."

Maya berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong remang-remang ruko, meninggalkan Intan yang masih berdiri di teras belakang.

Intan merogoh saku celananya, menggenggam buku catatan hitam kecilnya.

Di tengah kegelapan malam kota yang asing, ia akhirnya menemukan sebuah pegangan. Ia bukan lagi seorang gadis desa yang berjalan sendirian tanpa arah.

Dengan hadirnya sang mentor, perburuannya tak lagi sekadar angan-angan dendam, melainkan sebuah rencana matang yang siap dieksekusi.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe 🤗

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!