Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 Desa Yang Terlupakan

Tiga hari sudah Eliya berjalan kaki dari jurang Lembaran Naga. Di pundaknya Zharvion versi kecil mirip seperti kadal bertengger dengan nyaman.

Ia berjalan dengan perut kosong. Pakaiannya masih lusuh, tapi isi kepalanya sangat jernih.

"Aku harus menganalisa situasi. Dunia ini memakai sistem feodal ditambah sihir. Tanpa uang artinya mati. Tanpa nama dan kekuatan artinya mudah diinjak. Aku butuh titik awal. Membangun reputasi."

Ia bergumam sendiri, menatap langit yang terik. Tak ada uang di sakunya, hanya mengandalkan tanaman liar di sepanjang jalan.

"Berjalanlah terus ke depan. Di sana DESA ELORA. Dia akan memberikan apa yang kau butuhkan." Suara Zharvion mengusik telinga, tapi matanya tetap terpejam.

"Asap?" Dahi Eliya mengernyit saat melihat kepulan asap membumbung tinggi ke langit.

"Argh!"

"Tolong!"

"Jangan bunuh kami, Tuan!"

"Lepaskan anak-anak kami!"

Suara teriakan menyusul diiringi tangisan anak-anak dan para wanita. Eliya menggeram, kedua tangannya mengepal. Lapar tak lagi terasa, perih di perut pun ikut menghilang. Suara jeritan itu membuatnya tak bisa tinggal diam.

"Ada apa?" tanyanya pada Zharvion yang mulai membuka mata kecilnya. Ia persis kadal kecil, hanya ia memiliki warna emas yang berkilau.

"Kau lihat di sana!" katanya berdiri dengan kedua kaki di atas pundak Eliya.

Gadis itu menyipitkan mata, menatap lebih jauh pada gerbang desa yang sudah hancur. Sekelompok bandit bersenjata sihir api kelas rendah sedang menjarah desa tersebut.

Dua puluh orang dengan pedang sihir api di tangan mereka, melawan seratus warga sipil yang bahkan tidak bisa menyalakan lilin.

"Ini tidak adil, bukan? Apa yang mereka inginkan dari desa kecil ini?" gumam Eliya geram.

"Kumpulkan semua gadis! Bos mau yang cantik!" teriak salah satu bandit membuat Eliya semakin geram.

Begitu pula dengan Zharvion di pundaknya ikut menggeram pelan.

"Mau ikut campur?" katanya sudah tidak dapat menahan diri.

Eliya diam, ia mengamati situasinya. Pola serangan mereka berantakan. Mereka hanya mengandalkan kekuatan, dan tidak memiliki strategi sama sekali.

Kelemahan mereka adalah terlalu percaya diri. Medan tempur, ada sungai di belakang desa dan jembatan di atasnya.

Ia bergumam di dalam hati, mengamati dengan cermat agar tidak salah mengambil langkah.

"Bagaimana?" Suara Zharvion kembali terdengar.

"Aku tidak punya sihir," bisik Eliya lemah, "mmm ... belum," katanya lagi setelah menjeda beberapa saat.

"Tapi kau punya aku," kata Zharvion dengan bangga.

Eliya menggelengkan kepala. " Aku tidak ingin bergantung kepadamu. Lagipula, belum saatnya memamerkan kartu truf."

Eliya berjongkok, mengambil batu dan ranting yang akan ia gunakan sebagai senjata. Otak analisanya bekerja.

Aku bisa menggunakan tiga langkah untuk mengalahkan mereka. Pertama pecahkan barisan mereka. Kedua, aku bisa memanfaatkan medan, sungai dan jembatan. Langkah ketiga, mungkin aku akan memakai sihir.

Ia bergumam setelah memikirkan strategi sambil melirik Zharvion di pundaknya.

"Hei!" teriaknya dengan lantang, ia berdiri di tengah jalan, "Kalian mencari gadis cantik, bukan? Kemarilah! Aku di sini."

Dua puluh pasang mata menoleh serentak. Lalu, tertawa terbahak. Eliya bergeming, tetap berdiri sambil memegang ranting.

"Hei, lihat si gembel ini!" Salah satu bandit maju, tawanya menggelegak. "Kau mau jadi sukarelawan? Sayang sekali, Bos kami hanya suka yang mulus, bukan yang bau tanah sepertimu!"

Mereka meremehkanku. Ini sempurna.

Eliya tersenyum sambil menatap dirinya yang lusuh, pakaian kotor, tapi itulah yang dia harapkan.

Analisa psikologis, ego tinggi membuat kewaspadaan nol. Estimasi waktu sebelum mereka menyerang, lima detik.

Ia kembali menganalisa dan semakin percaya diri.

"Bau tanah?" Eliya tersenyum tipis sambil memutar ranting di tangannya. "Setidaknya tanah tidak akan membakar kalian hidup-hidup, bukan? Tapi sungai di belakang sana ... mungkin saja."

"Bicara apa kau, keparat!" Bandit itu mengangkat pedangnya. Kobaran api kelas rendah mulai menyelimuti bilahnya.

Dia menerjang.

Langkah pertama dimulai. Eliya bersiap.

Ia tidak bergerak sampai jaraknya hanya menyisakan dua langkah. Tepat saat pedangnya diayunkan, Eliya melemparkan segenggam tanah kering bercampur batu kecil yang sudah ia siapkan di tangan kiri. Tepat ke arah matanya.

"Argh! Mataku!" Dia menjerit sembari menutup matanya.

Pedangnya mengayun membabi-buta, tanpa arah. Eliya merunduk, memanfaatkan momentum tubuh bandit yang condong ke depan, lalu menjegal kaki tumpuannya menggunakan ranting pohon yang tebal.

BRAK!

Dia jatuh tersungkur. Sebelum dia bisa bangkit, Eliya menghentakkan tumitnya keras-keras ke pergelangan tangan bandit itu. Senjata sihir apinya terlepas. Ia menendang pedang tersebut ke arah kerumunan bandit, memicu kepanikan singkat karena bilah berapi itu meluncur liar tanpa arah.

"Sialan! Dia punya kekuatan fisik!" teriak bandit lain. Tiga orang sekaligus langsung merangsek maju, merapalkan mantra api dari telapak tangan mereka. bola-bola api kecil mulai tercipta, dan banyak.

"Zharvion, sekarang! Hembusan angin kecil, arahkan ke debu di bawah kaki mereka!" bisik Eliya cepat.

Zharvion mengepakkan sayapnya sekali. Bukan sihir besar yang mematikan, hanya manipulasi angin minor yang tidak akan memicu kecurigaan. Namun, efeknya fatal bagi mereka yang sedang fokus merapalkan mantra. Debu tebal beterbangan, membutakan pandangan ketiga bandit itu. Bola api mereka melesat liar, justru mengenai tenda dan pasokan logistik mereka sendiri.

"Kebakaran! Padamkan apinya!" teriak para bandit panik.

Suasana menjadi kacau. Barisan mereka pecah sepenuhnya.

Eliya tersenyum, sesuai dengan yang dia harapkan.

Langkah kedua, memanfaatkan medan.

"Kejar dia! Jangan biarkan bocah itu hidup!" teriak sang wakil bos yang mulai menyadari situasinya. Sisa bandit yang berjumlah belasan orang kini mengalihkan fokus dari warga desa dan mulai mengejar Eliya.

Gadis itu berbalik dan berlari kencang. Bukan ke arah hutan, melainkan lurus menuju jembatan kayu tua yang melintasi sungai di belakang desa. Sungai itu dalam dengan arus yang cukup deras.

Ia kembali menganalisa struktur jembatan, kayu lapuk, tali pengikat sebelah kiri sudah berserabut.

Bagus! Beban maksimal hanya lima orang.

Eliya tersenyum. Ia melompati jembatan dengan lincah. Begitu sampai di seberang, ia segera berbalik. Para bandit itu, karena didorong amarah yang memuncak, merangsek naik ke atas jembatan sekaligus tanpa berpikir panjang. Sepuluh orang berada di atas jembatan dalam waktu bersamaan. Eliya tersenyum lebih lebar.

KRATAK!

Suara kayu mulai retak.

"Bodoh! Jembatannya akan ambruk!" salah satu dari mereka tersadar, tapi terlambat.

Eliya menancapkan pedang sihir api milik bandit pertama yang sempat ia pungut tadi saat berlari pada tali pengikat jembatan yang sudah berserabut. Api kelas rendah itu dengan cepat melahap tali yang kering.

Bash!

PUTUS!

Jembatan kayu itu miring seketika, kehilangan keseimbangan, dan ambruk ke dalam sungai. Sepuluh bandit tercebur, terseret arus sungai yang deras bersama persenjataan mereka yang berat. Menyisakan lima orang di seberang sana yang melotot tidak percaya, termasuk sang bos bandit yang baru keluar dari tenda utama.

Langkah ketiga, mungkin akan memakai sihir.

Eliya berjalan kembali ke tepi tebing sungai yang runtuh, menatap lima bandit tersisa yang kini gemetaran melihat bagaimana lima belas teman mereka tumbang dalam waktu kurang dari lima menit oleh seorang yang mereka sebut "gembel bau tanah".

Zharvion merayap ke pundak Eliya, matanya berkilat merah.

"Sekarang saatnya kartu truf?" Dia bertanya dengan penuh semangat.

Eliya tersenyum dingin ke arah Bos bandit yang wajahnya sudah pucat pasi.

"Ya. Mari kita beri mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan."

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!