Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat
Ia menatap ke arah pintu kayu tebal di sudut ruang utama dimana itu adalah ruang kerja pribadi Alvaro.
Hana tahu, jika ia hanya diam dan menerima kepasrahan ini begitu saja, ia akan benar-benar berubah menjadi cangkang kosong yang bergantung sepenuhnya pada belas kasihan pria itu.
Beban utang ayahnya memang telah lunas, tetapi harga diri dan identitasnya sebagai manusia mandiri tidak boleh ikut lenyap. Ia harus berbicara. Ia harus merebut kembali kendali atas sisa hidupnya.
Dengan langkah pelan namun mantap, Hana melangkah mendekati pintu tersebut. Ia mengangkat jemarinya yang masih sedikit gemetar, lalu mengetuk kayu jati tebal itu tiga kali.
TOK, TOK, TOK.
"Masuk," sahut suara berat dari dalam.
Hana mendorong pintu pelan-pelan. Ruang kerja Alvaro begitu luas, didominasi rak-rak buku menjulang tinggi dan meja kerja kayu mahoni yang dipenuhi tiga layar monitor yang menyala.
Alvaro sedang duduk di balik meja, kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya.
Saat melihat Hana yang berdiri di ambang pintu, pria itu langsung melepas kacamatanya dan menegakkan posisi duduknya.
"Hana? Ada apa?" tanya Alvaro, suasana berubah lembut seketika.
"Ada yang kurang dengan makanannya? Atau kau butuh sesuatu yang lain?" tanya Alvaro lagi.
Hana menggelengkan kepala pelan. Ia melangkah masuk, namun tetap menjaga jarak aman sekitar tiga meter dari meja kerja pria itu.
"Saya... saya mau bicara serius dengan Bapak," kata Hana.
Suaranya terdengar pasrah di awal, namun ada getaran keteguhan yang belum pernah Alvaro dengar sebelumnya dari bibir gadis itu.
Alvaro menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulitnya, menatap Hana dengan perhatian penuh.
"Bicara soal apa? Duduklah dulu." sahutnya lembut.
"Saya tidak perlu duduk, Pak. Ini tidak akan lama," potong Hana cepat. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya.
"Soal pekerjaan saya... Saya mau kembali bekerja sebagai office girl di Adhitama Group." seru wanita itu.
Alvaro mengerutkan alisnya dalam-dalam. Garis-garis tegas di wajahnya mendadak mengetat.
"Apa maksudmu, Hana? Bukankah tadi sudah kujelaskan? Kau tidak perlu bekerja lagi. Seluruh kebutuhan hidupmu sudah..." ucap Alvaro terpotong oleh Hana.
"Saya tidak mau jadi benalu!" pangkas Hana, suaranya meninggi dengan nada tegas yang memotong ucapan sang CEO.
"Bapak boleh melunasi utang-utang almarhum Ayah saya, Bapak boleh memberi saya tempat tinggal yang mewah ini. Tapi Bapak tidak punya hak untuk mencabut harga diri saya!" ucap Hana dengan tegas, dasar wanita memang keras kepala.
"Ini bukan soal mencabut harga diri, Hana!" balas Alvaro, suarasa kembali memberat oleh rasa frustrasi yang tertahan.
"Pekerjaan itu terlalu berat untukmu! Kau harus mengangkat ember, memeras kain pel hingga larut malam, dan menundukkan kepala di hadapan staf-stafku! Kenapa kau harus kembali ke tempat yang menyiksamu itu di saat aku sanggup memberimu segala kemewahan di dunia ini?!" ucap Alvaro mengingatkan bagaimana beratnya nanti jika Hana tetap memilih bekerja.
"Karena itu pekerjaan yang halal, Pak!" tegas Hana, matanya menatap lurus ke dalam mata tajam Alvaro tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Saya bangga dengan pekerjaan saya. Walaupun saya cuma tukang bersih-bersih, saya makan dari keringat saya sendiri, bukan dari uang belas kasihan atau uang rasa bersalah dari pria yang sudah merusak saya!" sahutnya lagi.
Kata-kata itu menghantam Alvaro tepat di dadanya. Pria itu terpaku, rahangnya mengetat keras.
"Saya butuh bekerja supaya saya tahu saya masih hidup, Pak." lanjut Hana, suaranya perlahan melemah, berubah menjadi permohonan yang amat dalam dan jujur.
"Kalau Bapak cuma mengurung saya di penthouse ini, makan gratis, tidur gratis, tanpa melakukan apa-apa... saya merasa seperti barang simpanan yang dibeli. Saya memohon sama Bapak... izinkan saya kembali bekerja seperti semula. Biarkan saya jadi Hana yang dulu." pinta Hana.
Alvaro membisu. Pria berkuasa yang biasa menundukkan ratusan pemegang saham dalam rapat direksi itu kini benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menatap lekat-lekat wajah pucat gadis di hadapannya.
Di balik tubuhnya yang kurus dan luka-luka trauma yang masih berjejak di kulitnya, ada jiwa yang begitu kuat, teguh, dan tak sanggup dibeli oleh lembaran uang triliunan rupiah milik Adhitama Group.
Rasa hormat yang asing mendadak menyusup di antara rasa bersalah di hati Alvaro. Gadis ini benar-benar berbeda dari semua wanita yang pernah hadir dalam lingkungannya.
Alvaro mendesah napas panjang yang sangat berat. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja kerja mahoninya, lalu berhenti dua langkah di depan Hana.
"Kau benar-benar keras kepala, Hana." bisik Alvaro, suarasa penuh kekalahan.
"Saya cuma mempertahankan sisa hidup saya, Pak," balas Hana pelan.
Alvaro menatap mata sembap gadis itu lama, sebelum akhirnya menganggukkan kepala lambat.
"Baik. Aku mengizinkanmu kembali bekerja." ujar Alvaro akhirnya mengalah.
Secercah pendar lega muncul di mata Hana, namun sebelum ia sempat menghembuskan napas lega, Alvaro kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang berubah menjadi sangat dingin dan mutlak.
"Tapi... ada syaratnya," tegas Alvaro.
Hana menegang seketika. "Syarat? Syarat apa, Pak?"
Alvaro menegakkan postur tubuhnya yang jangkung, memancarkan aura dominasi yang tak dapat dibantah.
"Pertama, kau tidak boleh bekerja di shift malam lagi. Aku akan memindahkan jadwal kerjamu ke shift pagi atau siang, dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Aku tidak akan membiarkanmu berada di gedung itu sendirian di tengah malam." ujarnya.
Hana berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik. Saya terima."
"Kedua," lanjut Alvaro, menatap Hana tanpa berkedip.
"Kau tidak boleh lagi naik transportasi umum untuk pergi dan pulang kantor. Nakula akan menyiapkan mobil pribadi beserta sopir khusus yang akan mengantar dan jemput kamu setiap hari langsung dari dan ke penthouse ini."
"Pak, itu berlebihan!" protes Hana cepat.
"Kalau office girl lain lihat saya diantar mobil mewah, mereka akan..." protes Hana terpotong.
"Aku tidak peduli apa kata mereka!" pangkas Alvaro keras.
"Itu syarat mutlak, Hana! Kalau kau menolak poin ini, tidak ada izin bekerja untukmu. Keselamatan dan fisikmu adalah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkanmu terdesak atau kelelahan di bus umum lagi!" tegas Alvaro.
Hana mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menggigit bagian dalam pipinya sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
"Baik... syarat kedua saya terima." seru Hana pasrah.
"Syarat ketiga..." suara Alvaro memelan, matanya memancarkan rasa kepemilikan yang teramat dalam dan tak tergoyahkan.
"Kau harus tetap tinggal di penthouse ini bersamaku. Kau bekerja di siang hari sebagai petugas kebersihan kantor, tetapi tempat pulangmu adalah di sini, di sisiku." seru Alvaro.
.
.
Cerita Belum Selesai.....