Indonesia
NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Ganti Mobil

Lalu bibir Arya menyentuh sisa rasa stroberi di sudut bibirnya.

Ciuman itu seharusnya singkat. Kirana hanya mengizinkan sekali, dan Arya berjanji sekali.

Namun “sekali” ternyata tidak menjelaskan berapa lama.

Arya bergerak perlahan, memberi Kirana cukup waktu untuk terbiasa dengan tekanan hangat di bibirnya. Tidak ada rasa tergesa seperti malam di Singapura. Kali ini Kirana sadar penuh pada setiap detik, pada jari Arya yang menahan rahangnya, pada aroma kayu yang memenuhi napas, dan pada rasa stroberi yang berpindah di antara mereka.

Ketika Arya hendak mundur, jemari Kirana masih mencengkeram kemejanya.

Pria itu berhenti. “Rana?”

Satu panggilan rendah itu membuat kewarasan Kirana kembali. Ia melepaskan kain yang diremasnya dan bersandar ke kursi.

“Sudah sekali.”

“Ya.”

Arya benar-benar menjauh. Tidak mencoba mencium lagi, hanya menyapu sudut bibir Kirana dengan ibu jarinya.

“Bobanya sudah bersih.”

Kirana menatap lurus ke kaca depan. “Antar saya pulang.”

“Baik.”

Sepanjang perjalanan, Arya tidak menggodanya. Sikap patuh itu justru membuat Kirana semakin sadar bahwa bibirnya masih terasa panas.

Tepat pukul sepuluh kurang lima, ia berdiri di depan pintu apartemen.

Winda membukanya dengan masker wajah yang sudah mengering. Pandangannya jatuh ke bibir Kirana, lalu pada Arya di ujung koridor.

“Oh,” katanya panjang. “Kompensasi tugasnya kelihatan berhasil.”

Kirana mendorongnya masuk.

***

Keesokan pagi, suara mesin mobil membuat Kirana menoleh dari depan lobi.

Sedan hitam Arya berhenti di area penjemputan. Bukan mobil semalam. Yang ini tampak lebih rendah, lebih mahal, dan jauh lebih menarik perhatian. Dua mahasiswa yang tinggal di gedung sebelah sudah mengangkat ponsel untuk melihat emblem di kap mesin.

Arya turun dan membukakan pintu penumpang.

“Saya bilang semalam saya bisa berangkat sendiri,” kata Kirana.

“Dan saya tidak bilang akan membiarkanmu.”

“Mobil ini terlalu mencolok.”

Arya melihat mobilnya, lalu melihat Kirana. “Warnanya hitam.”

“Bukan warnanya. Harganya.”

“Kamu tahu harganya?”

“Semua orang tahu itu bukan mobil dosen biasa.” Kirana menurunkan suara. “Kalau Prof terus jemput saya begini, orang kampus bakal ngomong. Kita bisa jadi gosip.”

Arya tidak langsung menjawab. “Kamu khawatir terlihat bersama saya?”

“Saya khawatir hubungan dosen dan mahasiswa jadi omongan. Kita bahkan belum punya hubungan apa-apa.”

“Belum,” ulang Arya.

Pipi Kirana menghangat. “Jangan fokus ke kata itu.”

“Baik.” Arya menutup kembali pintu mobil. “Saya ganti.”

Kirana mengerjap. “Sekarang?”

“Sekarang.”

Arya menelepon Rian. Kurang dari dua puluh menit kemudian, sebuah SUV abu-abu yang jauh lebih umum memasuki area apartemen. Rian turun dari mobil dengan wajah seseorang yang sudah menjalani pergantian kendaraan sejak subuh.

“Pagi, Pak. Pagi, Mbak Kirana.”

“Maaf merepotkan, Mas Rian,” kata Kirana.

“Tidak apa-apa, Mbak. Saya sudah biasa.” Rian melirik Arya. “Sangat biasa.”

Arya mengambil kunci tanpa menanggapi. “Bawa mobil ini kembali.”

“Baik, Pak.”

Kirana menahan tawa sampai Rian pergi. “Dia kesal.”

“Dia dibayar.”

“Tetap saja manusia.”

“Saya akan naikkan uang makannya.”

“Masalah selesai menurut Prof?”

“Menurut saya, ya.”

Kirana akhirnya masuk ke SUV. Mobil itu memang lebih rendah hati, meski interiornya masih terlalu mewah untuk disebut biasa.

Di tempat gelas sudah tersedia susu madu dalam botol kecil dan sebungkus roti isi telur.

“Prof bawa sarapan?”

“Kamu belum makan.”

“Saya bisa beli di kantin.”

“Kamu akan minum kopi, lalu bilang tidak sempat.”

Kirana membuka bungkus roti. “Prof terlalu mengatur.”

“Kamu tetap memakannya.”

“Karena sudah dibeli.”

“Alasanmu selalu sama.”

Kirana menggigit roti agar tidak perlu menjawab. Arya menyalakan radio dengan volume rendah. Berbeda dari malam sebelumnya, pagi ini mereka tidak membicarakan ciuman. Namun setiap kali mobil melewati polisi tidur dan bahu mereka nyaris bersentuhan, Kirana kembali merasakan hangat di bibirnya.

“Tentang semalam,” katanya akhirnya.

Tangan Arya tetap tenang di kemudi. “Ya?”

“Jangan anggap itu berarti saya setuju jadi pacar Prof.”

“Saya tidak meminta kamu menjadi pacar saya semalam.”

“Bagus.”

“Saya akan meminta nanti.”

Kirana hampir tersedak roti. Arya menyodorkan botol susu tanpa menoleh, seolah sudah memperkirakan reaksinya.

“Pelan-pelan.”

Kirana minum lalu menatapnya kesal. “Prof selalu seyakin ini?”

“Hanya untuk hal yang saya inginkan.”

“Kalau nggak dapat?”

Arya berhenti di lampu merah dan menatapnya.

“Saya belajar cara mendapatkannya tanpa memaksa.”

Saat mereka tiba di kampus, Arya menurunkannya di sisi belakang gedung agar tidak banyak orang melihat. Di seberang taman, seorang perempuan berkemeja krem berdiri sambil memegang map. Bu Sinta, dosen muda yang pernah Kirana lihat di ruang administrasi, memandang mobil mereka cukup lama.

Kirana menangkap tatapan itu. “Lihat? Sudah ada yang memperhatikan.”

Arya mengikuti arah matanya. Bu Sinta segera berpura-pura membaca map.

“Biar saya yang urus.”

“Jangan urus apa-apa. Kita cuma datang ke kampus.”

“Kamu takut?”

“Saya malas jadi bahan gosip.”

Arya memandangnya sesaat, lalu mengangguk. “Saya akan lebih hati-hati.”

Itu bukan jawaban yang Kirana duga dari pria sekeras kepala Arya. Ia turun dari mobil dengan hati sedikit lebih ringan.

Sore harinya, ketika pulang ke apartemen, Kirana menemukan kantong kertas tergantung di gagang pintu. Di dalamnya ada bubur hangat, susu madu, dan secarik catatan.

Sarapanmu besok. Tidak perlu dijemput. Saya mendengarkan.

Kirana membaca catatan itu dua kali.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Winda masuk.

Kira, Bu Sinta tadi tanya ke gue siapa cewek yang turun dari mobil Prof. Arya.

Senyum Kirana perlahan menghilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!