Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lemon
POV F
Dira meninggalkanku seorang diri. Aku masih tertegun dengan pengakuannya. Bukan aku tidak mempercayainya, aku tahu dia wanita baik-baik yang tidak mungkin mengarang cerita sembarangan. Tapi... Benarkah aku sudah melakukan sejauh itu?
Aku Fariq, akulah laki-laki yang tega menodai kesucian rumah tangga adik kandungku. Sekaligus tega menyakiti wanita yang kucintai.
Ya, aku mencintai Rastadira jauh sebelum aku tahu bahwa ia kekasih Farhan, adikku. Dira tidak pernah tahu perasaanku, Farhan pun demikian. Tidak ada yang mengetahui perasaanku selain Geri, sahabatku.
Malam itu aku benar-benar marah karena melihat Farhan semakin dekat dengan Puput, karyawan magang yang lima bulan belakangan menjadi karyawan tetapku. Berhari-hari kulihat Farhan tidur di kantor, juga seringkali aku lihat dia berboncengan dengan Puput saat malam hari. Pernah kutegur mengapa ia tidak pulang tapi selalu pekerjaan kantor yang dijadikan alasan.
Aku kecewa dengan adikku, juga marah karena ia tidak bisa menjaga kesetiaannya untuk Dira. Meski aku sangat mencintai Dira namun aku juga tidak ingin hubungan mereka kandas, aku ingin rumah tangga mereka tetap baik-baik saja.
Hingga akhirnya aku meminta tolong Geri untuk mengantarku pulang ke rumah orang tuaku.
Sejak Farhan menikah aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumah, aku belum bisa menganggap Dira sebagai adik iparku kala itu. Hati yang terlalu kalut membuatku semakin giat bekerja sehingga terkumpullah pundi untuk membeli sebuah rumah di pinggiran Kota Surabaya. Dan di rumah itulah aku belajar mandiri, memang masih jauh dari kata nyaman tapi bisa membuatku sejenak melupakan patah hatiku.
Mobil Geri tidak berhenti di depan rumah, aku yang memintanya berhenti di depan rumah tetanggaku. Perasaanku campur aduk, ada marah, penasaran, takut, juga rindu yang teramat sangat pada semua penghuni di rumah itu, tak terkecuali Dira. Tiga tahun usia pernikahan Dira dan Farhan, tiga tahun pula aku tidak tinggal di rumah itu. Hanya momen lebaran dan saat mendengar kabar mama atau papa sakit aku pulang, itu pun tidak menginap.
Suasana rumah sangat sunyi, rumah-rumah tetangga pun juga sepi padahal baru jam 8 malam. Rumah ini tidak memiliki bel sehingga aku membuka selot pagar sendiri. Sebagai penghuni lama aku tahu bagaimana cara membuka selot vertikal tanpa membuat orang lewat curiga. Aku masuk dan mulai mengetuk pintu rumah, ada mobil papa di halaman jadi kupikir ada pemiliknya pula di dalam.
Pintu rumah terbuka, ada Dira di baliknya. Wajahnya segar meski matanya terlihat sembab, sepertinya ia baru saja mandi. Seketika pikiranku melayang membayangkan diriku pulang kerja lalu disambut istriku dengan wajah yang segar seperti ini, pastilah segala penat langsung lenyap jika wanita yang ada di depanku kini adalah istriku.
Dira, aku masih menginginkanmu. Jerit hatiku kala itu.
“Mas Fariq?” Sapaan Dira membuyarkan lamunan indahku.
“Iya, Ra. Apa kabar?” Aku berbasa-basi.
“Baik, Mas. Oh ya, Mama sama Papa lagi nggak di rumah. Masih di rumah Febi.” Terangnya saat aku berniat masuk ke rumah.
“Belum pulang?” aku tahu jika minggu lalu Mama dan Papa pamit ke rumah Febi untuk menengok keponakanku, kukira mereka sudah pulang. Ternyata seminggu lebih berlalu mereka masih betah disana.
“Belum, Mas. Nunggu sampai selapan katanya.” Terang Dira.
“Selapan? Berarti masih 4 minggu lagi ya, lama juga.” Dira terlihat mengangguk pelan saat aku berucap demikian.
“Farhan?” tanyaku memastikan. Dira memandangku sejenak, mungkin sedang berhati-hati dalam menjawab karena bagaimanapun aku adalah kakak kandung Farhan, pastilah ia segan jika harus menceritakan keburukan Farhan kepadaku.
“Mm... Belum pulang, Mas.” Jawabnya singkat.
“Padahal kantor sudah bubar dari jam 5 tadi, lho. Apa dia futsal, ya?” aku berpura-pura mengira kemana Farhan pergi, padahal aku tahu betul tadi ia berboncengan erat sekali dengan Puput entah kemana. Maka itulah aku kemari, ingin memberi tahu kedua orang tuaku bahwa Farhan sudah keterlaluan pergi dengan wanita lain. Harapanku, Mama atau Papa atau bahkan keduanya bisa menasihati Farhan agar tak sampai mengorbankan rumah tangganya.
“Sepertinya iya, Mas. Dia bawa semua perlengkapan futsal juga... tadi.” Dira terlihat ragu saat mengucap kata ‘tadi’, kentara sekali jika ia sedang menutupi perselisihannya dengan Farhan.
“Jadi kamu sendirian?” dan Dira mengangguk.
Mendadak naluri kelelakianku terusik, sedari tadi aku berbincang dengan Dira sudah kutahan aroma segar dari lotion yang ia kenakan tapi tetap saja aroma itu menggodaku.
Dira yang saat itu mengenakan dress kaos berwarna abu-abu terlihat anggun, apalagi rambutnya juga terlihat sedikit lembab terurai. Bisikan setan sangat kuat saat itu, mungkin karena emosiku yang sudah memuncak berhari-hari melihat ulah Farhan. Ditambah perasaan khususku terhadap Dira, membuatku ingin merengkuh tubuh Dira dan menenangkan kegelisahannya dalam dekapanku.
Pikiranku berkelana lagi, disambut istri saat pulang kerja dengan penampilan yang seperti ini tentulah membuat suami manapun kembali bersemangat. Kubayangkan Dira meraih tanganku, menciumnya dengan khusyuk lalu mempersilahkanku untuk mandi dengan air hangat yang telah disiapkan. Seusai mandi aku dihidangkan sederet menu yang ia buat khusus untukku seharian, tak lupa secangkir teh hangat bercampur lemon dan madu turut dihadirkan di meja makan istana kami.
Ya, aku ingat kegemaran Dira menyajikan minuman itu saat ada tamu di kosnya. Pertama kali aku mampir kesana, Jeni memberikanku secangkir teh itu.
“Ini kamu yang buat?” Tanyaku pada Jeni, gadis yang kala itu dekat denganku.
“Bukan, adik kosku yang buat ini tadi. Kebetulan ada dua teman laki-lakinya kesini tadi, terus dibuatin ini katanya biar pada gak betah soalnya kan asem. Eh beneran, diminum sedikit doang terus langsung pamit mereka.” Jeni tertawa menceritakan dua tamu yang berhasil pergi karena teh lemon buatan si adik kos.
“Jadi ini sisa 2 bocah tadi?”
“Ya enggak lah, dia bikin satu teko tadi.” Aku mengangguk dan melanjutkan sruputan tehku. Rasa asamnya pas, aroma tehnya juga masih kuat, hanya saja manis dari madunya terasa samar sehingga kurang ramah di lidah orang-orang yang tidak menyukai rasa asam.
“Terlalu asem ya, Riq? Maaf aku tadi nggak sempat icip langsung kutuang aja ke cangkir, sini aku tambahin gula.” Ucap Jeni cemas. Sepertinya ia takut aku kurang suka dengan suguhannya, padahal aku sangat menikmati secangkir teh lemon hangat ini.
“Enak kok, Jen. Nih, sudah tinggal setengah cangkir.” Kuletakkan cangkir itu di meja, tak lupa kulempar senyum pada Jeni supaya tak lagi merasa sungkan.
Terdengar suara gadis tertawa nyaring dari dalam rumah kos, dan ada gadis lain yang tengah menanggapi candaannya. Tak lama keluarlah seorang gadis berkaus merah, posisiku dan Jeni waktu itu berada di kursi teras sehingga kami bisa menyaksikan siapa saja yang keluar masuk rumah.
“Eh, kalian mau kemana?” tanya Jeni ketika ada gadis lain yang mengikuti langkah gadis berkaus merah tadi.
“Beli lemon.” Sahut gadis yang baru saja keluar mengejar temannya, sontak sahutannya disambut riuh oleh seluruh penghuni kos tak terkecuali Jeni.
“Kang Lemonnya nggak ikut?” Tanya Jeni saat tawa mereka sedikit reda.
“Ya ikutlah, kalau nggak ikut nanti siapa yang bisa bedain mana lemon asem sama lemon manis?” Jawab gadis berkaus merah yang kutahu namanya Vina.
“Dira, buruan nanti lemon manisnya keburu diborong orang.” Teriak gadis yang di sebelah Vina.
“Memangnya ada ya lemon yang rasanya manis?” tanyaku polos, ketiga gadis itu tertawa riuh kembali.
“Ada dong, kalau yang bikin manis kayak aku pasti rasanya ikutan manis.” Jawab seorang gadis yang baru keluar dari dalam rumah. Gadis itu tampak manis dengan kaos warna biru muda dan rambut sebahunya yang dibiarkan terurai.
Dialah Dira, yang sejak saat itu berhasil menarik perhatianku. Jika ada istilah jatuh cinta pada pandangan pertama, maka mungkin akulah korbannya.