Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Malam semakin larut, tetapi ketegangan di dalam kamar utama Mansion Alexander belum sepenuhnya menghilang. Di atas ranjang empuk, Bunga memiringkan tubuhnya, menatap ke arah sofa tempat Keanu berbaring. Meski pria itu memejamkan mata dengan tangan melipat di dada, Bunga tahu Keanu belum benar-benar tidur, postur tubuhnya begitu bersiaga, seolah siap bereaksi terhadap ancaman sekecil apa pun.
Bunga menghela napas tanpa suara. Rasa takut akan bayang-bayang Panca Wiguna yang mengintainya di pemakaman sore tadi masih membayang, tetapi keberadaan Keanu di ruangan yang sama memberikan rasa aman yang tak ternilai.
Terima kasih, Kak Keanu... bisik Bunga dalam hati, membiarkan kelopak matanya yang berat perlahan tertutup hingga ia lelap dalam tidur nyenyak.
*
*
Keesokan paginya, Bunga terbangun lebih awal. Suasana kamar masih remang-remang diselimuti kabut tipis fajar. Saat Bunga melirik ke arah sofa, Keanu sudah tidak ada di sana. Keadaan selimut dan bantal di sofa tersusun sangat rapi.
Bunga segera membersihkan diri dan mengenakan pakaian kerjanya yang rapi serta hijab yang senada. Begitu turun ke lantai dasar, ia mendengar suara gaduh dari arah ruang kerja Tuan Alexander di lantai satu.
Dengan langkah pelan, Bunga mendekati pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. Di dalam, Keanu berdiri dengan raut wajah mengeras di hadapan sang ayah.
"Pah, aku tidak bercanda!" suara Keanu terdengar berat dan tegas. "Seseorang mengawasi Bunga di pemakaman kemarin sore! Bekas luka di pelipis kiri pria itu persis seperti yang dilukis Bunga. Panca Wiguna benar-benar berkeliaran di dekat kita!"
Tuan Alexander yang duduk di balik meja kerjanya mengusap wajahnya dengan kasar. Wajah sang pemimpin yang biasanya tenang dan dominan, kini menyiratkan kecemasan yang mendalam.
"Panca Wiguna..." gumam Tuan Alexander lirih, suaranya terdengar goyah untuk pertama kalinya. "Keanu, kau harus ekstra hati-hati. Jika benar pria itu yang bergerak, artinya sosok di belakangnya sudah mulai menyadari bahwa Bunga berusaha membuka kembali kasus pembunuhan orang tuanya."
"Maka dari itu, mulai hari ini aku yang akan mengawal Bunga secara langsung," pangkas Keanu tak ingin dibantah. "Aku tidak akan membiarkan dia melangkah sendirian tanpa sepengetahuanku."
Bunga yang mendengarkan dari balik pintu tersentak kaget. Ia memegang dadanya yang berdesir hangat. Sikap Keanu yang begitu protektif membuat rasa bersalah dan haru beradu di dalam hatinya.
Saat Keanu berbalik hendak keluar ruangan, pintu terdorong lebih lebar dan pandangan mata mereka saling bertemu. Keanu sempat tertegun melihat Bunga berdiri di sana, namun raut tegas di wajahnya tidak memudar.
Keanu melangkah keluar, menghampiri Bunga yang menunduk kaku.
"Kau sudah mendengar semuanya?" tanya Keanu dengan nada melunak.
Bunga mengangguk pelan, lalu mengambil buku catatan kecil yang selalu ia bawa di saku blazer nya. Jemarinya dengan cepat menari di atas kertas:
'Maafkan aku, Kak Keanu... Karena masalah masa laluku, Kakak dan Papah jadi ikut terseret dalam bahaya.'
Keanu membaca tulisan itu, lalu menghela napas panjang. Ia memegang kedua bahunya Bunga, menatap langsung ke dalam bola mata jernih istrinya.
"Jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu, Bunga," ujar Keanu mantap, suaranya bergetar penuh keyakinan. "Kejahatan belasan tahun lalu itu harus dibongkar. Orang tuamu berhak mendapatkan keadilan, dan kau berhak hidup tanpa rasa takut. Kita akan hadapi ini bersama-sama."
Bunga menatap Keanu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Di tengah badai ancaman yang kian nyata dari Panca Wiguna dan dalang misterius di belakangnya, Bunga sadar bahwa ia tak lagi sendirian, ada Keanu yang siap menjadi pelindung terbaik dalam hidupnya.
*
*
Setibanya di kantor, Keanu langsung memanggil Adrian ke ruang kerjanya. Kemarin, Keanu telah memerintahkan asistennya itu untuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar pemakaman umum. Namun, raut wajah Adrian tampak keruh saat menyampaikan kabar terbaru.
"Maafkan saya, Tuan Keanu. Rekaman CCTV di sekitar pemakaman pada jam tersebut telah di retas dan dihapus secara permanen. Kami tidak bisa mendapatkan rekaman apa pun di area itu," ujar Adrian menunduk penuh penyesalan.
"Sialan!" Keanu memukul meja kerjanya dengan geram. Rahangnya mengencang membayangkan betapa rapinya pergerakan musuh yang seolah selalu selangkah di depan mereka.
Melihat amarah suaminya yang membumbung tinggi, Bunga melangkah mendekat. Ia menyentuh lengan Keanu perlahan, mencoba menenangkannya. Sensasi lembut sentuhan itu membuat Keanu menghentikan luapan emosinya. Keanu membalikkan telapak tangannya, lalu menggenggam erat tangan Bunga dengan tatapan mata yang berkilat tajam dan penuh keyakinan.
"Aku berjanji padamu, Bunga... secepatnya aku akan menemukan si pelaku dan membongkar siapa sosok di balik semua ini!" tegas Keanu seraya menatap dalam bola mata istrinya.
Sementara itu, di sebuah tempat tersembunyi yang sulit dilacak di sudut kota, Panca Wiguna sedang duduk di kegelapan seraya membersihkan senjatanya. Dering telepon genggam memecah hening. Ia segera mengangkat panggilan dari sosok pria misterius yang mengendalikannya.
"Jangan menampakkan dirimu dulu, apalagi sampai membuntuti Bunga!" perintah pria misterius itu dari balik sambungan telepon dengan suara dingin bernada menekan.
"Tapi Bos, aku hanya ingin memperingatkan wanita bisu itu agar tidak mengusut kembali kasus pembunuhan empat belas tahun yang lalu," sahut Panca dengan suara parau.
"Jangan bertindak bodoh! Kasus itu sudah lama ditutup oleh pihak pengadilan sebagai kasus bunuh diri, bukan pembunuhan! Lagipula, saat itu Bunga hanya bocah yang menjadi saksi kunci satu-satunya dan tidak ada yang memercayainya. Jika kau gegabah dan memancing Keanu Alexander, rencana besar kita bisa berantakan. Tetap bersembunyi sampai ada perintah selanjutnya!" pangkas pria misterius itu sebelum memutuskan sambungan secara sepihak.
Di ruang kerja gedung Alexandria, Keanu membawa Bunga untuk duduk di sofa panjang bersamanya. Sejak kemarin, ada satu rasa penasaran yang mengusik benaknya. Keanu menatap Bunga dengan pandangan lembut dan penuh rasa ingin tahu.
"Bunga..." panggil Keanu pelan. "Apakah kau tidak bisa berbicara sejak lahir... atau ada penyebab lain di balik semua ini?"
Bunga terpaku sejenak. Bayangan kelam masa kecilnya kembali melintas. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia meraih buku catatan kecil dan penanya, lalu mulai menuliskan awal mula tragedi yang merenggut suaranya.
Ia menyodorkan kertas itu kepada Keanu:
'Aku lahir dalam keadaan normal dan bisa berbicara, Kak. Tapi di malam pembunuhan orang tuaku empat belas tahun yang lalu, si pelaku juga berusaha membunuhku. Dia mencekik leherku sangat kuat hingga pita suaraku cedera parah dan tidak berfungsi lagi sampai sekarang.'
Mata Keanu membelalak membaca tulisan itu. Dadanya terasa sesak, namun tulisan Bunga belum selesai. Jemari mungil itu kembali menorehkan kalimat demi kalimat yang kian menyayat hati:
'Ada seorang pria yang berhasil menggagalkan usahanya dan menyelamatkanku malam itu. Dia menyuruhku berlindung dan bersembunyi di panti asuhan. Tapi sehari setelah kejadian... pria yang menyelamatkanku itu tewas ditembak mati tepat di depan mataku sendiri.'
Membaca kenyataan pahit itu, benteng pertahanan Keanu runtuh seketika. Air mata menetes mengaliri di pipi tegas pria angkuh itu, ia tak kuasa menahan kesedihan membayangkan betapa menderita, menakutkan, dan penuh traumatisnya masa kecil yang harus ditanggung oleh wanita polos di hadapannya ini.
Tanpa sanggup berkata-kata lagi, Keanu menarik lengan Bunga dan merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan yang teramat erat.
"Aku bersumpah akan membalas perbuatan mereka padamu, Bunga!" ucap Keanu serak dengan suara bergetar menahan tangis seraya mengusap lembut punggungnya Bunga.
Bunga menyandarkan kepalanya di dada bidang Keanu, meresapi kehangatan dan rasa aman yang mengalir dari dekapan suaminya. Air mata harunya menetes lembut membasahi kemeja Keanu.
"Terima kasih Kak Keanu... Kau begitu baik padaku," batin Bunga tulus seraya melingkarkan kedua tangannya, membalas pelukan Keanu tak kalah erat.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander