Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dampak dari otonomi dan penarikan diri Geng Bone Breakerz dari aktivitas premanisme tidak selamanya membawa kedamaian langsung. Dalam teori geopolitik maupun manajemen perusahaan, mundurnya penguasa lama akan menciptakan kekosongan kekuasaan (Vacuum of Power), yang dengan cepat akan diisi oleh pihak-pihak oportunis.
Hari Rabu, saat jam istirahat siang dan kantin sekolah dipadati siswa. Bella duduk di meja sudutnya, sekarang meja itu selalu bersih mengkilap. Bersama Dion, Rindi, Tono, dan Bono, mereka sedang mengerjakan tugas kelompok Sosiologi sambil menyantap bekal makanan sehat yang disiapkan oleh Bi Inah.
Tiba-tiba, dari arah meja tengah kantin, terdengar suara keributan, seorang siswa kelas sepuluh dengan kacamata tebal tersungkur di lantai. Makanannya tumpah, di depannya berdiri tiga orang siswa kelas sebelas dari kelas IPS 3, dipimpin oleh seorang anak bernama Kevin. Kevin dan kawan-kawannya sebelumnya adalah kelompok kecil (preman kelas teri) yang tidak pernah berani macam-macam saat Bone Breakerz masih menguasai sekolah. Namun, melihat Bella dan gengnya kini menjadi "anak manis", Kevin merasa ini adalah saatnya untuk naik takhta.
"Woy, culun! Kalau lewat lihat-lihat dong! Ganti rugi bakso gue nih, dua puluh ribu sekarang!" bentak Kevin sambil menarik kerah seragam siswa kelas sepuluh tersebut.
Di sudut kantin, Tono dan Bono berhenti mengunyah makanannya. Dion meletakkan pulpennya dengan kasar, urat di leher Dion menonjol. Ini adalah wilayah kekuasaannya. Melihat ada preman level bawah berani memalak di depannya terasa seperti penghinaan langsung terhadap egonya.
"Bos," Dion menoleh ke arah Bella dengan mata berkilat marah. "Si Kevin caper (cari perhatian), dia sengaja bikin masalah buat ngetes kita. Kasih gue izin buat ngeberesin dia, tiga menit aja. Gue patahin hidungnya."
Rindi ikut mengangguk semangat. "Iya, Bos! Kalau kita diam aja, kredibilitas organisasi kita di mata anak-anak sekolah bakal hancur. Mereka bakal ngira kita udah jadi pengecut." Ucap gadis tomboy itu ber-api
Sarah Paramitha mendesah pelan, menghadapi provokasi jalanan adalah hal yang menjengkelkan. Jika ia membiarkan Dion memukul Kevin, maka kesepakatan Otonomi yang baru saja ia buat dengan Pak Surya akan batal, dan KPI Kedisiplinan mereka akan hancur. Namun jika ia diam saja, pengaruh organisasinya akan merosot dan anggotanya akan merasa terdemotivasi.
"Dion, Rindi. Evaluasi opsi," kata Bella tenang, sambil memasukkan sepotong brokoli rebus ke mulutnya. "Opsi A: Kamu memukul Kevin. Kita melanggar SLA sekolah. Kita diskors, bonus bulanan kalian hangus dan pak Surya menarik dukungannya. Opsi B, kita diam saja dan reputasi kita sebagai pelindung teritori merosot."
"Terus kita harus milih opsi C, Bos? Manggil guru BP kayak anak mami?" tanya Dion frustrasi.
"Tidak. Memanggil polisi perusahaan (guru BK) akan membuat kita terlihat lemah," jawab Bella. Ia membersihkan bibirnya dengan tisu, lalu berdiri. "Kita gunakan Opsi D, Sabotase Reputasi dan Manajemen Konflik Tanpa Sentuhan (Non-Contact Conflict Resolution)."
Bella melangkah dengan anggun namun penuh ancaman menuju kerumunan di tengah kantin. Dion, Rindi, Tono, dan Bomo dengan cepat bangkit dan berjalan di belakangnya, membentuk formasi V pelindung. Aura yang dipancarkan kelompok itu seketika membuat siswa-siswa lain yang menonton keributan refleks mundur dan membuka jalan.
Kevin yang sedang sibuk membully siswa kelas sepuluh itu menoleh saat menyadari keheningan mendadak yang menyelimuti kantin. Ia melihat Bella berdiri tepat di belakangnya, wajahnya sedingin es.
"Oh, lihat siapa yang datang," Kevin mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan tawa mengejek. "Bos Bella yang udah tobat! Kenapa, Bel? Mau ceramahin gue pakai ayat-ayat suci?"
Bella tidak mempedulikan ejekan itu. Ia melirik nametag (papan nama) di seragam Kevin, lalu melihat ke arah mangkuk bakso yang tumpah di lantai.
"Berdasarkan analisis visual, tumpahan kuah bakso ini berada tepat di dekat tumit sepatumu, Kevin, dengan percikan mengarah ke depan," kata Bella dengan suara yang sangat jelas hingga terdengar ke seluruh penjuru kantin. "Secara fisika, ini berarti kamu yang mundur dan menabrak siswa ini, bukan dia yang menabrakmu. Kamu merekayasa insiden ini untuk menjustifikasi pemerasan (extortion)."
Wajah Kevin memerah karena taktik kotornya dibongkar secara klinis di depan umum. "S-sok pinter lo! Lo pikir lo siapa?! Bone Breakerz udah mati! Kalian cuma sekumpulan nerd (kutu buku) sekarang!" Kevin melangkah maju, mencoba mengintimidasi Bella.
Dalam sekejap mata, Dion sudah berdiri di depan Bella, dadanya membentur dada Kevin. "Mundur satu langkah, atau gue jamin lo nggak bakal bisa ngunyah makanan keras selama sebulan," desis Dion dengan aura membunuh yang sangat pekat.
Kevin dan dua temannya pucat pasi, insting bertahan hidup mereka langsung menyala. Meskipun geng Bella tampak rapi, Dion tetaplah Dion si monster petarung.
Bella menepuk bahu Dion pelan, menginstruksikannya untuk mundur. "Kekerasan fisik adalah bahasa orang primitif, Dion. Kita adalah kaum profesional."
Bella kembali menatap Kevin. "Saudara Kevin. Dengarkan SOP (Standard Operating Procedure) baru di teritori sekolah ini," ucap Bella dengan intonasi mutlak yang tidak dapat dibantah.
"Satu. Aktivitas pemalakan, pemerasan, dan perundungan fisik di area kantin dan parkir sekolah secara resmi dinyatakan sebagai praktik ilegal oleh manajemen saya. Dua. Jika saya melihatmu atau kelompokmu melakukan operasi pemerasan lagi..."
Bella mengambil ponselnya dari saku rok, memutar layar, dan menunjukkan sebuah foto. Itu adalah foto Kevin sedang merokok di area gudang belakang sekolah minggu lalu.
"...saya akan mengirimkan bukti pelanggaran ini langsung ke hotline WhatsApp grup Guru Disiplin, dilengkapi dengan bukti forensik lainnya. Kamu akan di-DO (Drop Out) dalam hitungan jam. Ini bukan ancaman jalanan, Kevin. Ini adalah Whistleblowing (Sistem Pelaporan Pelanggaran). Saya tidak perlu mengotori tangan saya untuk menyingkirkan hama. Administrasi sekolah yang akan melakukannya untuk saya."
Keringat dingin membasahi dahi Kevin, ia menatap layar ponsel itu dengan horor. Remaja itu sadar jika ia tidak sedang berhadapan dengan preman biasa, tapi berhadapan dengan mafia birokrat.
"S-sialan..." umpat Kevin bergetar. "Ayo cabut!" Ia memberi isyarat kepada teman-temannya dan berlari meninggalkan kantin dengan ekor terselip di antara kaki mereka.
Kantin kembali hening, siswa kelas sepuluh yang tadinya dibully menatap Bella dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Kak Bella..." bisiknya gemetar.
"Bersihkan seragammu dan kembali ke kelas. Efisiensi waktu istirahatmu tinggal sisa tujuh menit," jawab Bella datar, lalu berbalik kembali ke mejanya.
Di belakangnya, Dion dan Rindi saling berpandangan, lalu tersenyum lebar.
"Gila..." bisik Riko. "Bos bahkan nggak perlu nyentuh dia buat bikin dia kencing di celana."
"Gue bilang juga apa," Dion menyeringai bangga. "Manajer kita ini otaknya lebih mematikan dari granat."
Budaya organisasi baru telah berhasil mempertahankan hegemoninya tanpa menumpahkan setetes darah pun. Namun, ujian sesungguhnya belum tiba. Di luar pagar sekolah, Geng Serigala sedang menyiapkan manuver operasional (Corporate Espionage) untuk menghancurkan mereka.