Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Ruhi melangkah mendekati Hana, wajahnya merah padam menahan amarah yang membumbung tinggi. Bibirnya yang bergetar baru saja terbuka hendak menyemburkan kata-kata pedas, namun Hana lebih dulu menyela dengan senyuman miring.

"Aku tahu apa yang akan Mbak Ruhi katakan," potong Hana tajam, menatap lurus ke dalam mata kakak iparnya."Balas budi masa lalu, kan? Saat Mbak dan Ibu membantuku merebut Mas Roni dari Nina?"

Ruhi tersentak, langkahnya terhenti seketika.

Hana menyilangkan kedua tangan di dada

"Aku sudah tidak peduli dengan itu semua. Yang penting sekarang aku sudah resmi menikah dengan adikmu. Tentang janji atau balas budi karena Mbak dan Ibu membantuku dulu, aku sudah tidak peduli lagi."

Kata-kata itu bagaikan tamparan keras yang telanjang. Hana dengan licik memanfaatkan bantuan mereka di masa lalu untuk mendapatkan Roni, dan kini setelah posisinya aman sebagai istri sah, ia menendang pergi semua utang budi itu begitu saja.

Rukmini yang terduduk lemas di kursi meja makan hanya bisa memegang dadanya yang sesak. Tubuhnya yang masih lemah akibat sisa demam, tak lagi memiliki tenaga untuk berteriak. Dengan tangan gemetar, Rukmini menggapai ujung baju Ruhi lalu menggeleng pelan, memberi isyarat agar putrinya diam dan tidak memanjangkan perdebatan.

Ruhi mencengkeram jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Emosinya mendidih sampai ke puncak kepala, rasanya ia ingin mencakar wajah Hana saat itu juga. Namun, akal sehatnya yang tersisa menahannya. Ia menyadari kenyataan pahit bahwa saat ini ia dan ibunya hanyalah menumpang. Jika mereka diusir sekarang, mereka tidak punya tempat tinggal lagi dan tidak mungkin kembali ke rumahnya lagi.

Ruhi terpaksa menelan mentah-mentah keangkuhan Hana. Ia memutar tubuhnya kasar, menuntun ibunya kembali ke dalam kamar tanpa mengucap sepatah kata pun.

***

Sedangkan di tempat lain. Pukul dua belas malam, Herman mulai siuman.

Ia mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang menyilaukan. Suasana sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang mengisi kesunyian. Ternyata saat ini Herman berada di rumah sakit lapas akibat luka babak belur di sel tahanan kemarin. Saat ini ruang perawatan sepi, hanya ada dia sendiri. Rasa sakit masih membalut tubuhnya, namun sedikit demi sedikit ia mulai merasa lebih sadar.

Tiba-tiba terdengar suara srek... srek... srek... dari kelambu samping brangkar yang mengusik ketenangannya.

Seperti ada yang menggeser kelambu itu. Tanpa pikir panjang, Herman menoleh dengan cepat. Tapi yang ia temui hanyalah keheningan. Brangkar di sebelahnya kosong, tidak ada orang.

Perasaan aneh merayapi dirinya. Apakah itu hanya halusinasi akibat rasa sakit atau memang ada sesuatu yang terjadi? Herman menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Namun, perasaan gelisah semakin menguasai hatinya. Ia kembali menatap kelambu itu dengan curiga, matanya mengerjap-ngerjap menangkap setiap gerakan sekecil apa pun. Tak ada yang bergerak lagi. Ruangan tetap hening. Tapi entah mengapa, di dalam hatinya, ia merasa ada yang tidak beres.

Herman kembali memejamkan mata, tapi rasa cemasnya semakin menguat. Sebuah suara samar terdengar di telinganya, seperti bisikan yang datang entah dari mana. Perlahan, bisikan itu semakin jelas dan seakan-akan menyuarakan sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Dengan tubuh yang lemah, ia mencoba bergerak sedikit, menegakkan tubuhnya, dan memeriksa sekeliling. Hanya kesunyian yang menjawab. Matanya berkeliling menatap langit-langit, dinding, dan akhirnya kembali menatap kelambu itu. Tak ada yang berubah.

Pintu ruang perawatan terbuka dengan suara krekk yang keras, memecah keheningan. Herman menoleh, matanya yang lelah mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu remang-remang. Seorang suster masuk mengenakan seragam putih bersih, namun ada sesuatu yang aneh dalam cara dia bergerak. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dan tubuhnya tampak hampir terbungkus bayangan, seolah dia tidak sepenuhnya nyata.

Suster itu mendekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tangan kanannya memegang nampan berisi obat-obatan dan peralatan medis. Herman merasa ada yang tidak biasa. Biasanya petugas medis akan menyapa atau memberikan instruksi, tetapi suster ini justru diam, seakan tak ada niat untuk berbicara.

Herman menatapnya dengan ragu. "Suster...?" suaranya parau dan hampir tak terdengar. Namun suster itu hanya bergerak lebih dekat seakan tak mendengarnya. Ia berhenti di sisi brangkar, memiringkan kepala seperti memeriksa Herman dengan tatapan kosong. Tangannya meletakkan obat-obatan di meja kecil samping brangkar. Ada kekosongan dalam gerakannya, sesuatu yang mekanis seolah dia hanya sosok hampa tanpa jiwa.

Suster itu memeriksa jarum infus di tangan Herman tanpa sepatah kata pun. Tangannya terasa dingin saat mengganti cairan infus yang habis. Herman merasa ketegangan luar biasa. Setelah selesai, lalu berbalik hendak meninggalkan Herman.

"Suster," panggil Herman lagi.

Langkah suster terhenti. Perlahan, tubuhnya berbalik menjawab panggilan itu.

Deg!!!

Jantung Herman serasa berhenti seketika. Pandangannya membeku saat matanya bertemu dengan wajah suster itu. Wajah yang tadinya kosong kini berubah drastis, menyedot habis keberanian di tubuhnya.

Sosok yang berdiri di depan Herman kini bukan lagi suster, melainkan wajah yang sangat dikenalnya, Nina, adik iparnya yang meninggal dalam kebakaran tragis beberapa tahun lalu.

Mata Herman terbelalak tak percaya. Bibirnya terasa kering, dan seluruh udara di ruangan itu serasa terhisap keluar. Nina berdiri di sana menatapnya dengan ekspresi dingin tanpa ekspresi. Wajahnya pucat tenggelam dalam bayangan gelap, dan rambut panjangnya jatuh terurai.

"Ni-Nina...?" Herman akhirnya bisa mengeluarkan suara.

Sosok Nina hanya diam, memandang Herman dengan tatapan kosong yang membuat darah Herman membeku. Tatapan dari entitas yang datang dari tempat jauh dan gelap.

Dengan mulut sulit bergerak, Herman mencoba bertanya lagi, "Mengapa kau di sini? Kau... kau sudah mati!" Suaranya hanya menjadi bisikan lemah.

Tiba-tiba, sosok itu mulai bergerak mendekat. Langkahnya ringan seakan melayang. Tanpa sepatah kata pun, Nina terus mendekat. Udara di sekitar ruangan menjadi semakin berat dan dingin menusuk dada.

"Herman... kau tak bisa lari dariku. Kau pikir aku akan melupakan perbuatanmu? Hihihi" suara itu membuat tubuh merinding.

Sosok suster berwajah Nina itu perlahan membuka bajunya. Bukannya kulit mulus yang tampak, melainkan kulit hitam mengelupas dengan bau daging hangus yang menyengat mendadak meruak. Sosok itu berubah sepenuhnya menjadi penampakan mengerikan!

Herman gemetar hebat tanpa bisa bangkit dari bed perawatan.

Sosok itu terus mendekat. "Ini kan yang kau inginkan dulu?" suara yang keluar dari bibir hantu Nina terdengar serak, dalam, dan mengerikan. "Kau menginginkan tubuhku. Ayo, sekarang lakukan..." Hantu Nina mengelus kulitnya yang mengelupas, membuat serpihan daging hangus rontok ke atas brangkar.

Kata-kata itu menghantam Herman seperti petir. Matanya terpaku pada wajah yang dulu lugu dan cantik, kini penuh dendam membara. Ketakutan menguasai dirinya. Dosa masa lalu, penyesalan, dan rasa bersalah menyatu. Ia tahu bahwa ia sedang menghadapi bayangan paling gelap dari kejahatannya di masa lalu.

"Pergi kau! Jangan ganggu aku!" kaki Herman menendang-nendang brangkar dengan panik. Namun ruangan kedap itu membuat tak ada satu pun petugas yang mendengar keributan Herman.

Hantu Nina tanpa ampun meraih bantal brangkar dan langsung menghentakkannya, menutup rapat wajah Herman! Herman mencoba melepaskan cengkeraman bantal di wajahnya dengan sisa tenaga, namun kekuatannya kalah jauh dari dorongan gaib Nina.

Napas Herman tertahan. Tubuhnya mengejang hebat di atas pembaringan. Beberapa saat kemudian, dorongan kakinya perlahan melemah, terkulai pasrah, dan akhirnya berhenti total.

Herman telah meninggal dunia.

Sosok arwah Nina menyeringai samar di balik kegelapan ruangan, sebelum akhirnya memudar perlahan bagai kabut dan lenyap menembus pintu. Satu sumber penderitaannya kini telah lenyap.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!