Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awas, Pembunuh!
Bayang-bayang dinding batu raksasa ibukota utara menjulang tinggi, memantulkan bias cahaya kemerahan dari langit senja yang mulai berganti tirai dengan malam. Distrik terluar ibukota tampak padat oleh lalu-lalang pedagang, rakyat jelata, dan para prajurit patroli kekaisaran yang hilir mudik mengenakan baju zirah besi berlambang naga emas.
Rombongan kecil Xia Qinglan bergerak senyap di antara kerumunan orang banyak, memanfaatkan keramaian pasar malam sebagai perisai alami. Tudung jubah hitam yang menutupi separuh wajah mereka terpasang erat, memastikan tidak ada satu pun mata-mata istana atau pos penjagaan gerbang yang mengenali ciri-ciri fisik mereka—terutama Gu Yichen yang kini berstatus sebagai buronan utama atas maklumat fitnah pengkhianatan.
Mereka menyusuri lorong-lorong sempit dan sunyi yang menjauhi pusat keramaian utama, mengarah langsung ke distrik bangsawan lama tempat kediaman keluarga Xia berada. Semakin jauh mereka melangkah, suasana di sekitar menjadi semakin lengang. Bangunan-bangunan tua berarsitektur megah dengan gerbang kayu jati besar berukir naga dan phoenix tampak terbengkalai, diselimuti oleh debu tebal dan rimbunnya tanaman liar yang merambat di dinding pagar.
Kediaman keluarga Xia. Tempat di mana Qinglan menghabiskan masa kecilnya sebelum tragedi berdarah merenggut kedua orang tuanya empat tahun silam akibat intrik busuk Pangeran Ketiga.
Feng Huang menghentikan langkahnya sejenak, mengamati gerbang utama kediaman Xia yang tertutup rapat dengan gembok besi berkarat tebal. Alisnya berkerut samar, merasakan aura kelam yang tertinggal di udara sekitar tempat itu.
“Tempat ini benar-benar tampak seperti kuburan tak bertuan,” gumam Feng Huang pelan, melirik sekilas ke arah Qinglan yang berdiri tepat di samping gerbang. “Apakah kau yakin tempat ini aman untuk dijadikan markas persembunyian kita, Lanlan? Jika para prajurit istana atau pengawas distrik curiga, kita bisa langsung terjebak di dalam sarang laba-laba.”
Qinglan mengulurkan tangannya, meraba permukaan kayu gerbang yang sudah lapuk dimakan usia. Tatapannya menerawang jauh ke dalam halaman luas di balik dinding batu tersebut.
“Justru karena tempat ini dianggap sebagai tanah terlarang dan penuh kutukan, tidak ada seorang pun di istana yang berani mendekatinya,” jawab Qinglan tenang. “Bagi mereka, kediaman Xia adalah monumen kegagalan seorang jenderal yang telah mati tertuduh pengkhianatan. Tapi bagi kita, rahasia di dalam rumah ini jauh lebih aman daripada benteng manapun di ibukota.”
Mingye mengangguk setuju, melangkah maju sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan lorong yang sunyi senyap. “Lanlan benar. Orang-orang bodoh di istana terlalu angkuh untuk mempercayai bahwa musuh yang mereka cari justru kembali bersembunyi di reruntuhan masa lalu.”
Gu Yichen, yang sejak tadi berdiri paling belakang dengan posisi siaga penuh, tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Insting tajam seorang pengawal bayangan langsung bergejolak hebat. Bulu kuduknya meremang, merasakan adanya perubahan tekanan udara yang tidak wajar di sekitar lorong gelap tersebut.
“Tunggu,” bisik Gu Yichen tajam, suaranya sarat akan peringatan keras. Ia langsung mencabut setengah bilah pedangnya dari sarung di pinggang. “Ada yang tidak beres.”
Seketika itu juga, suasana di sekitar gerbang kediaman Xia yang tadinya tenang mendadak membeku.
Syuuussst! Syuuussst! Syuuussst!
Suara desingan angin tajam membelah udara malam secara serentak dari berbagai arah. Puluhan anak panah beracun berwarna kehitaman meluncur deras menembus kegelapan lorong, mengarah langsung ke titik-titik vital tubuh Qinglan, Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen!
“Awas, pembunuh!” teriak Gu Yichen lantang.
Dalam sepersekian detik, situasi berubah menjadi medan pertempuran mematikan. Gu Yichen bergerak secepat kilat, menebaskan pedangnya membentuk lingkaran pelindung untuk memantulkan deretan anak panah yang meluncur ke arah Qinglan.
Trang! Trang! Cling!
Pancaran bunga api berhamburan di udara akibat benturan bilah pedang dan mata panah besi beracun. Di sisi lain, Feng Huang tidak tinggal diam. Manik mata merahnya menyala tajam, dan dalam satu sentakan tenaga dalam berhawa panas, gelombang api tipis melingkupi telapak tangannya, membakar habis anak panah yang mengarah kepadanya sebelum sempat menyentuh kulit.
Mingye melompat mundur, menghindari terjangan anak panah yang menancap dalam-dalam ke lantai batu di bawah kakinya hingga mengeluarkan desisan asap akibat cairan racun yang sangat pekat.
“Sialan! Kita disergap!” maki Mingye geram, langsung mencabut pedangnya dari pinggang, memasang kuda-kuda bertarung dengan mata menyipit tajam menatap ke atas atap bangunan tua di sekitar lorong.
Dari balik kegelapan atap genting dan balik dinding-dinding runtuh, puluhan sosok bayangan hitam melompat turun secara serempak. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, wajah tertutup kain rapat, dan menggenggam bilah pedang pendek berdarah di tangan masing-masing—pembunuh bayaran elit bayangan istana yang bergerak di bawah perintah langsung faksi Pangeran Ketiga.
“Tampaknya informasi kedatangan kita sudah bocor sebelum kita sempat menginjakkan kaki di dalam rumah,” desis Feng Huang penuh amarah, manik mata merahnya menatap tajam para pembunuh yang kini mengepung mereka dari segala penjuru. “Para bajingan licik itu benar-benar menyambut kepulangan kita dengan cara yang sangat meriah.”
Qinglan tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia berdiri tegak di tengah lingkaran perlindungan rekan-rekannya, menarik napas panjang untuk menenangkan sirkulasi tenaga dalam di tubuhnya. Sorot matanya yang jernih kini berubah dingin setajam es.
“Mereka mengira kita adalah buronan lemah yang bisa disergap di lorong gelap,” ucap Qinglan tenang, namun suaranya terdengar mencengkeram jiwa setiap pembunuh yang mendengarnya. “Mereka lupa bahwa kita kembali ke ibukota bukan untuk lari, tetapi untuk menghabisi mereka.”
Pemimpin para pembunuh bayaran itu melangkah maju dari barisan depan, menatap tajam ke arah Qinglan dan Gu Yichen dengan seringai mengerikan di balik kain penutup wajahnya.
“Xia Qinglan... dan buronan pengkhianat Gu Yichen,” ucap sang pemimpin pembunuh dengan suara parau bernada mengejek. “Pangeran Ketiga mengirim kami khusus untuk memastikan kalian tidak pernah melihat matahari terbit esok hari. Serahkan kepala kalian, dan kami akan memberikan kematian yang cepat!”
Gu Yichen mendengus dingin, mempererat cengkeraman pada gagang pedangnya. “Kalian bebas mencoba jika kalian punya nyawa lebih untuk dibuang.”
Tanpa aba-aba lagi, puluhan pembunuh bayaran elit itu menerjang maju secara serentak, mengayunkan pedang mereka dengan niat membunuh yang pekat.
Benturan senjata logam beradu nyaring memecah keheningan malam di distrik bangsawan ibukota. Di bawah bayang-bayang rumah keluarga Xia yang terbengkalai, pertempuran darah pertama resmi meletus—menandai babak baru dari perang urat saraf dan nyawa antara para pewaris takdir bunga plum melawan kekuasaan tirani Pangeran Ketiga.