Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Bayang-Bayang Sunway
PRANG!
Pecahan kaca jendela berhamburan bagaikan hujan kristal di atas lantai keramik apartemen studio Emily. Refleks yang dilatihnya selama bertahun-tahun membuat Emily melempar tubuhnya ke bawah meja belajar persis saat sebutir peluru berperedam suara menembus dinding gypsum tepat di tempat kepalanya berada sedetik lalu.
"Emily! Emily, kamu nggak apa-apa?!" Suara Sean di seberang telepon panik luar biasa. Gemuruh langkah kaki Sean yang berlari kencang dan suara mesin mobil yang meraung kasar terdengar dari balik panggilan tersebut.
"Aku... aku selamat! Aku di bawah meja!" jerit Emily dengan napas memburu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak.
"Merayap ke arah pintu keluar! Jangan berdiri!" perintah Sean dengan nada berat dan tegas. "Aku ada di parkiran bawah apartemen kamu. Jangan matikan teleponnya!"
Dengan tubuh gemetar dan siku yang tergores pecahan kaca, Emily merayap menyusuri lantai. Ia menarik tas kain kusamnya, menyambar laptop terenkripsi dan ponselnya, lalu meluncur keluar dari pintu kamar. Di koridor lantai tujuh yang sepi, Emily berlari kencang menuju tangga darurat, mengabaikan rasa perih di tangannya yang meneteskan darah segar.
Dua menit yang menyiksa terasa seperti keabadian. Begitu pintu tangga darurat lantai dasar terdorong kaku, sebuah tangan kekar meraih pinggang Emily dan menariknya masuk ke dalam kabin sedan SUV hitam berfase kusam yang terparkir di sudut remang basement.
Pintu mobil tertutup rapat. Pedal gas diinjak dalam-dalam, membuat ban mobil mencicit nyaring membelah kegelapan malam kawasan Subang Jaya.
Dalam remangnya kabin mobil, Emily terduduk lemas di jok penumpang. Saat ia mendongak, matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang selama ini menghiasi mimpi-mimpynya.
Sean.
Cowok itu tidak mengenakan setelan jas kaku ala CEO yang biasa terlihat di koran. Sean mengenakan jaket hoodie hitam kasual, dengan wajah kuyu, lingkaran hitam di bawah mata, dan janggut tipis yang tak terawat. Namun, tatapan matanya saat menatap Emily penuh dengan kehangatan dan penderitaan yang begitu nyata.
"Kamu terluka..." bisik Sean, suaranya bergetar. Tanpa memedulikan kemudi yang ia pegang dengan tangan kiri, tangan kanannya meraih jemari Emily yang berdarah akibat goresan kaca, mengusapnya dengan kelembutan yang amat kontras dengan penampilan garangnya.
"Sean..." Air mata yang ditahan Emily sejak di bandara Zurich akhirnya tumpah. Ia menerjang maju, memeluk leher Sean erat-erat. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau hujan dan uap bensin seketika membungkus indra penciumannya. "Kamu... kamu beneran di sini?"
Sean menghentikan mobilnya di bahu jalan tol menuju Damansara yang sepi, lalu membalas pelukan Emily dengan rengkuhan yang begitu posesif dan protektif. Ia membenamkan wajahnya di leher Emily, menghirup aroma tubuh gadis itu seolah-olah ia baru saja kembali bernapas setelah tenggelam selama empat tahun.
"Maafin aku, Mil... Maafin aku terlambat," bisik Sean dengan suara pecah. "Aku nggak akan biarkan orang-orangnya Gabriel Setiawan atau Wijaya menyentuh kamu lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu, Sean tidak membawa Emily ke hotel mewah atau apartemen kelas atas yang mudah dilacak. Ia membawa Emily ke sebuah rumah townhouse kecil yang tersembunyi di kawasan Petaling Jaya, tempat aman yang disewa Sean menggunakan identitas palsu sejak tiga bulan lalu.
Di dalam rumah sederhana itu, Sean telaten mengobati goresan luka di jemari Emily. Dengan kapas dan antiseptik, jemari Sean yang panjang menekan pelan luka Emily, diringi helaan napas penuh penyesalan setiap kali Emily meringis pelan.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di Sunway?" tanya Emily lirih dari balik kacamata tipisnya, mengamati profil wajah Sean yang makin dewasa dan tegas.
Sean terkekeh hambar, meletakkan perban. "Kamu pikir aku benar-benar melepaskan kamu pas di bandara empat tahun lalu? Setiap bulan, aku bayar tim peretas independen di Eropa buat memastikan kamu aman di Zurich. Dan pas kamu pindah ke Kuala Lumpur buat kuliah... aku tahu aku harus ada di negara yang sama dengan kamu."
Emily tersentak. "Jadi... kamu selama ini bolak-balik Jakarta - Kuala Lumpur?"
"Hampir tiap minggu," aku Sean jujur, menatap langsung ke iris mata Emily. "Di Jakarta aku akting jadi CEO penurut di depan Valerie dan Papaku. Tapi di sini... aku cuma Sean yang lagi menjaga gadis yang aku cintai dari jauh."
Dada Emily bergemuruh hebat. Selama ini ia berpikir ia berjuang sendirian di tengah dinginnya Zurich dan ramainya Sunway. Ternyata, di balik layar, Sean selalu membentangkan perisai tak terlihat untuk melindunginya.
"Tapi kenapa kamu harus tahan serangan sahamku ke Wijaya Group?" tanya Emily bingung. "Uang 50 juta dolar dari Gabriel Setiawan itu bisa bikin Wijaya kehabisan napas, Sean!"
Sean menghela napas berat, meraih kedua tangan Emily dan menggenggamnya erat.
"Karena Gabriel Setiawan sengaja menjebak kamu, Mil," jelas Sean serius. "Saham Wijaya Resources di Malaysia itu sebenarnya jebakan hukum (bear trap). Gabriel pakai uang haram hasil penggelapan pajak internasional buat mendanai Helios. Kalau kamu mengeksekusi short-selling itu sampai habis, Otoritas Jasa Keuangan Malaysia bakal menciduk kamu sebagai pelaku pencucian uang. Gabriel mau pakai kamu sebagai tumbal buat merubuhkan Wijaya, sementara dia kabur dengan bersih."
Emily tertegun. Dingin menjalar di punggungnya. Kepintaran akademisnya di Swiss ternyata hampir saja dibutakan oleh dendam yang dirancang rapi oleh Gabriel Setiawan.
"Lalu... aksi beli (buy order) ratusan miliar yang kamu lakukan tadi malam?" bisik Emily.
"Itu uang pribadi milik Anderson Group yang aku alihkan secara ilegal dari Singapura," sahut Sean dengan senyum tipis yang getir. "Aku sengaja beli saham itu buat menetralkan serangan kamu. Aku mengorbankan posisiku di Anderson Group demi memastikan nama kamu tetap bersih di bursa efek."
Emily menatap Sean dengan mata berkaca-kaca. Cowok ini lagi-lagi mengorbankan reputasi dan kekayaannya sendiri hanya untuk memastikan Emily tidak tersentuh hukum.
"Kita berdua sama-sama bodoh, ya?" bisik Emily dengan tawa kecil yang diwarnai isakan. "Kamu merusak diri kamu buat lindungi aku, dan aku merusak diri aku buat balaskan dendam kamu."
Sean tersenyum lembut, mengusap pipi Emily yang basah. "Nggak ada yang bodoh dalam bertahan hidup, Mil. Tapi mulai malam ini, kita nggak boleh jalan sendiri-sendiri lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, kehidupan ganda Emily sebagai mahasiswi baru di Sunway kembali berjalan, namun dengan dinamika yang sepenuhnya berbeda.
Pukul 08.00 pagi, Emily berjalan menyusuri trotoar kampus bersama Mei Ling. Emily mengenakan pakaian seperti biasa: kaus oblong longgar, celana jins, dan kacamata tipisnya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik penampilan sederhananya, Emily baru saja lolos dari insiden penembakan dan memegang rahasia transaksi keuangan bernilai triliunan rupiah.
"Mil! Kamu tahu nggak?" bisik Mei Ling heboh saat mereka berjalan menuju kantin. "Berita bisnis pagi ini gila banget! Saham Wijaya Resources di bursa KL mendadak dibekukan gara-gara ada perang transaksi misterius semalam! Katanya ada investor raksasa dari Singapura yang mendadak suntik dana!"
Emily menyunggingkan senyum tipis, menyesap kopi ais-nya. "Oh ya? Bagus dong kalau gitu."
"Bagus apanya? Si Steven itu tadi pagi makin belagu!" gerutu Mei Ling kesal. "Dia pamer di grup kelas kalau keluarganya di Jakarta ikut merayakan pembekuan saham itu. Dia makin merasa di atas angin!"
Emily hanya menggeleng pelan. Ia tidak memedulikan Steven lagi. Di matanya, permainan Steven hanyalah tingkah anak kecil di tengah pertempuran para raksasa.
Namun, yang tidak diketahui Mei Ling adalah: Sean kini mengawasi Emily dengan cara yang jauh lebih dekat dan realistis.
Saat Emily duduk di kedai mamak dekat kampus untuk mengerjakan tugas kuliah, di sudut kedai yang agak remang, seorang pria muda mengenakan topi kasti dan kaus hitam santai duduk membelakangi meja Emily. Pria itu memesan teh tarik dan pura-pura membaca koran lokal.
Itu adalah Sean.
Di antara jadwal padatnya mengurus rapat direksi via panggilan terenkripsi dari laptopnya, Sean memilih duduk berjam-jam di kedai murah Sunway hanya untuk memastikan tidak ada pengawal Gabriel Setiawan yang mendekati Emily. Setiap kali Emily mendongak dari laptopnya, mata mereka akan bertemu singkat di antara celah cermin kedai, saling melempar senyum tipis yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
Bagi dunia luar, Sean Anderson adalah CEO berdarah dingin yang bertunangan dengan Valerie Wijaya. Namun di Sunway, Sean hanyalah seorang cowok yang rela duduk di kedai panas demi menjaga gadis kacamata yang sedang menyeduh mi instan.
Saling melindungi ini bukan lagi tentang siapa yang membalas dendam, melainkan tentang bagaimana mereka bertahan hidup bersama di tengah intrik yang makin memanas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, saat Emily sedang menyusun laporan di perpustakaan kampus, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadi Emily.
Pesan dari: Sean.
Isi pesan: "Selesai kelas jam 5 kan? Aku tunggu di stasiun LRT. Kita makan nasi lemak di SS15. Tanpa pengawal, tanpa urusan bisnis."
Bibir Emily mengukir senyum hangat—senyuman tulus yang sudah empat tahun hilang dari wajahnya. Ia membalas pesan itu dengan cepat: "Janji ya, kamu yang bayar."
Namun, tepat saat Emily hendak menutup laptopnya, sebuah email resmi bersubjek khusus masuk ke kotak masuk email kampusnya.
Email dari: Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis.
Isi email: Dear Miss Emily Valencia, diberitahukan bahwa perwakilan jajaran dewan penyokong dana utama kampus dari Wijaya Group, Nona Valerie Wijaya, akan melakukan kunjungan inspeksi resmi dan memberikan kuliah umum di kampus kita besok pagi. Anda telah dipilih sebagai perwakilan mahasiswa baru untuk menyambut beliau.
Tangan Emily membeku di atas papan ketik.
Valerie Wijaya datang ke Kuala Lumpur. Dan wanita itu sengaja menggunakan posisinya sebagai penyokong dana kampus untuk menyudutkan Emily secara langsung di hadapan publik akademisnya.
Perang yang coba ditahan oleh Sean di pasar modal kini meledak langsung di dalam kehidupan kampus Emily.
Bersambung......