Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

Pagi di hari kedua diawali dengan cuaca Lembang yang cerah berawan. Sesuai jadwal, destinasi utama hari ini adalah kawasan karya seni outdoor dan galeri arsitektur bambu di daerah Maribaya.

Seluruh mahasiswa telah bersiap di pelataran hotel, mengantre masuk ke dalam bus dengan semangat yang masih membara.

Namun, ketenangan dan keceriaan yang terbangun sejak kemarin seketika runtuh saat sebuah mobil sedan sport berwarna hitam mengkilap melaju perlahan memasuki pelataran hotel, lalu berhenti tepat di samping Bus dua.

Pintu pengemudi terbuka, dan sosok Rangga Dewa Kusuma melangkah keluar. Pria itu mengenakan kemeja kasual semi-formal berwarna krem tanpa dasi, kacamata hitam yang tersangkut di kerah baju, dan senyum percaya diri yang sangat kentara.

Nadhira yang baru saja hendak melangkah naik ke tangga bus seketika membeku di tempat. Wajahnya pucat pasi. "R-Rangga? Kok dia bisa ada di sini?"

Kania yang berdiri di belakang Nadhira membelalak kaget. "Lho, itu bukannya Mas Rangga CEO sponsor pameran kemarin? Dia nyusul kita ke Bandung, Nad?"

Rangga melangkah lebar menghampiri Nadhira, mengabaikan tatapan heran dari puluhan mahasiswa yang ada di sekitar tempat itu.

"Selamat pagi, Nadhira," panggil Rangga dengan suara yang hangat. "Kaget ya lihat aku di sini?"

"Rangga... kamu ngapain ke sini?" tanya Nadhira dengan intonasi tertahan, matanya secara refleks liar melirik ke arah pintu lobby hotel.

"Kemarin aku ada urusan bisnis bentar di pusat kota Bandung," ujar Rangga dengan senyum tanpa beban.

"Terus aku ingat proposal kegiatan kalian kan mencantumkan jadwal kunjungan ke Maribaya hari ini. Daripada aku bosan di hotel kota, mending aku ikut gabung sama rombongan kamu. Aku udah minta izin langsung ke Dekan FSD tadi malam, dan beliau ngizinin aku buat memantau kegiatan kalian sebagai perwakilan sponsor."

Nadhira meremas tali tas punggungnya erat-erat. "Alasan sponsor lagi..." batin Nadhira menjerit panik.

Sebelum Rangga sempat melanjutkan bicaranya, langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari arah lobby. Reyhan melangkah keluar bersama Bu Citra. Pria itu mengenakan mantel kasual abu-abu gelap dan memegang papan klip presensi.

Langkah Reyhan terhenti lima meter dari posisi Rangga dan Nadhira. Dari balik lensa kacamatanya yang jernih, mata cokelat gelap Reyhan meredup seketika.

"Selamat pagi, Pak Reyhan," sapa Rangga memutar tubuhnya, melemparkan senyum tipis.

"Pak Dekan sepertinya sudah menginformasikan kehadiran saya sebagai peninjau lapangan dari pihak Kusuma Design Group untuk hari ini, bukan?"

Reyhan berdiri tegap, posturnya yang jangkung tampak begitu kaku dan berjarak. Jemari tangan kirinya yang memegang papan klip mengetat halus hingga ruas-ruas jarinya memutih.

Tadi malam, Pak Dekan memang mengirimkan pesan resmi kepadanya, memberitahukan bahwa Rangga Dewa Kusuma selaku CEO sponsor utama telah meminta izin untuk menghadiri peninjauan lapangan di Maribaya.

Secara koridor birokrasi dan etika kampus, Reyhan tidak memiliki alasan sah atau dasar akademis untuk menolak kehadiran seorang sponsor yang telah mengantongi izin resmi dari pimpinan tertinggi fakultas.

Reyhan tidak bisa lagi mengusir Rangga seperti yang ia lakukan di aula pameran kemarin. Ia tidak lagi memiliki celah wewenang untuk memasang benteng formalitas di antara Rangga dan Nadhira.

"Selamat pagi, Saudara Rangga," sahut Reyhan.

Suaranya meluncur pelan, datar, dan begitu tenang, lebih tepatnya sebuah ketenangan yang dipaksakan habis-habisan untuk menutupi gejolak cemburu dan amarah yang menguasainya saat ini.

"Izin dari Dekan sudah saya terima. Harap menjaga ketertiban dan tidak mengganggu alur jadwal rombongan," ucap Reyhan.

"Tentu saja, Pak Reyhan. Saya hanya akan menikmati karya seni di Maribaya... bersama Nadhira," jawab Rangga santai, menekankan nama Nadhira di ujung kalimatnya.

Nadhira melirik Reyhan dengan raut wajah panik dan bersalah. Namun, Reyhan sama sekali tidak menatap mata Nadhira. Pria itu dengan sengaja memalingkan wajahnya, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah, lalu berbalik menatap Bu Citra.

"Bu Citra, harap arahkan mahasiswa untuk segera naik ke dalam bus. Kita berangkat lima menit lagi," ucap Reyhan memberi arahan, lalu melangkah naik ke dalam Bus dua tanpa menoleh lagi sedikit pun.

Melihat respons dingin dan ketidakmampuan Reyhan untuk mengintervensi kehadiran Rangga kali ini, dada Nadhira terasa berdenyut nyeri. Ia tahu betul Reyhan sedang menahan amarah dan harga dirinya di balik sikap kaku itu.

Tiba di kompleks galeri bambu Maribaya, suasana tempat yang asri dengan gemericik air sungai dan jembatan gantung bambu yang indah tak sepenuhnya bisa dinikmati oleh Nadhira.

Rangga benar-benar menjalankan niatnya. Pria itu terus-menerus menempel di samping Nadhira. Setiap kali Nadhira berhenti untuk melihat instalasi arsitektur bambu, Rangga berdiri sangat dekat, memberikan komentar, dan mencoba membuka percakapan nostalgia masa SMA mereka.

"Nad, inget gak dulu pas kita perjalanan kelas ke Lembang waktu kelas dua SMA?" bisik Rangga hangat seraya berjalan di samping Nadhira menyusuri jembatan gantung.

"Kamu waktu itu kedinginan banget, dan aku ngasih jaket sekolah aku buat kamu," ujar Rangga mencoba mencairkan suasana.

Nadhira bergeser mendekati Kania di sisi kanan jembatan. "Udah lupa, Ngga. Udah lama banget."

"Tapi aku gak pernah lupa, Nad," balas Rangga pantang menyerah. Tangannya bergerak hendak membantu memegang lengan Nadhira karena jembatan gantung itu sedikit bergoyang. "Hati-hati, licin."

"Nggak usah, Ngga! Aku bisa sendiri!" potong Nadhira cepat, menepis halus tangan Rangga sebelum sempat menyentuh kulitnya.

Di ujung jembatan gantung, berdiri Reyhan.

Pria itu berpura-pura sedang memeriksa peta zonasi galeri bersama beberapa mahasiswa. Namun, pandangan mata di balik kacamatanya menangkap setiap gerakan Rangga yang terus memepet istrinya.

Reyhan menyaksikan bagaimana mantan kekasih Nadhira itu mencoba menyentuh, merayu, dan mencuri perhatian Nadhira di depan matanya sendiri.

Dadanya terasa begitu sesak oleh kelemahan posisinya saat ini. Sebagai dosen pendamping, ia harus menahan sikap. Ia tidak bisa melangkah maju, tidak bisa menarik tangan Nadhira, dan tidak bisa mengklaim wanita itu sebagai istrinya di hadapan publik.

Rasa cemburu yang membakar dipadu dengan keharusan untuk tetap terlihat profesional membuat atmosfer di sekitar Reyhan mendadak begitu mencekam dan dingin.

Mahasiswa yang berdiri di dekat Reyhan bahkan perlahan mundur satu per satu karena tidak tahan dengan hawa mengintimidasi yang dipancarkan sang dosen.

Saat Nadhira berhasil melintasi jembatan dan berjalan melewati posisi Reyhan, mata mereka sempat bertabrakan.

Nadhira menatap Reyhan dengan pandangan penuh permohonan dan rasa bersalah, berharap pria itu memberikan satu instruksi atau tugas yang bisa menyelamatkannya dari Rangga.

Namun, Reyhan hanya menatap Nadhira tanpa ekspresi. Pria itu menundukkan kepalanya tipis, memberikan formalitas kaku seorang dosen, lalu berbalik arah memunggungi Nadhira.

"Pak Reyhan... jangan gini..." batin Nadhira meratapi keheningan suaminya.

Siang harinya, rombongan beristirahat di area paviliun bambu terbuka yang berada di tepi tebing kecil Maribaya untuk makan siang.

Rangga tanpa rasa canggung membawa kotak makan siangnya dan mendudukkan diri di bangku kayu persis di hadapan Nadhira dan Kania.

"Nad, ini aku bawain jus stroberi segar dari kafe depan. Kamu suka stroberi kan?" ujar Rangga menyodorkan segelas jus dingin ke meja Nadhira.

"Makasih, Ngga. Tapi aku lagi gak mau minum es," tolak Nadhira halus, tidak menyentuh gelas tersebut sama sekali.

Di paviliun utama yang berjarak sepuluh meter dari sana, Reyhan duduk bersama Bu Citra dan pengelola tempat. Pria itu sedang menyesap teh hangatnya. Matanya lurus menatap pemandangan lembah, namun indra dan fokusnya sepenuhnya tertuju pada meja kayu tempat Nadhira berada.

Reyhan melihat bagaimana Nadhira terus menunduk, tampak sangat tidak nyaman dan tertekan oleh kehadiran Rangga yang begitu gencar.

Jemari tangan kanan Reyhan yang memegang cangkir keramik mengepal amat keras. Rasa ingin melindungi istrinya bergejolak hebat di dalam dadanya.

Namun, batasan aturan yang mereka sepakati sendiri bahwa hubungan mereka harus dirahasiakan dan Reyhan harus tetap bertindak sebagai dosen profesional.

Reyhan tidak bisa bertindak gegabah. Sekali saja ia melangkah keluar dari batas profesionalismenya tanpa alasan akademis yang sah, kecurigaan mahasiswa dan publik akan terbongkar, dan rahasia pernikahan yang begitu gigih dilindungi Nadhira akan hancur seketika.

"Bertahan, Reyhan. Kamu harus menahan diri," bisik logika di dalam kepalanya, menekan gejolak emosinya yang ingin menghantam Rangga saat itu juga.

Nadhira yang merasa makin tidak tahan dengan atmosfer menghimpit itu akhirnya berdiri dari bangku kayu. "Kania, gue ke toilet sebentar ya."

"Mau gue anterin gak, Nad?" tanya Kania.

"Gak usah, gue bisa sendiri kok," jawab Nadhira cepat, lalu melangkah terburu-buru menyusuri jalan setapak bambu menuju area belakang galeri yang agak sepi.

Melihat Nadhira pergi sendirian, Rangga ikut berdiri dari tempat duduknya. Pria itu menyunggingkan senyum tipis dan melangkah pelan mengekor ke arah jalur belakang tempat Nadhira berjalan.

Dari paviliun utama, Reyhan menangkap pergerakan Rangga yang menyusul istrinya ke area sepi.

Cangkir keramik di tangan Reyhan terhempas pelan namun tegas ke atas meja kayu.

Bu Citra menoleh kaget. "Pak Reyhan? Ada apa?"

Reyhan berdiri dari kursinya. Wajahnya yang kaku kini dilapisi oleh emosi yang terlihat jelas, sebuah batas kesabaran yang akhirnya mencapai titik jenuhnya.

"Saya perlu ke toilet sebentar, Bu Citra," sahut Reyhan.

Tanpa menunggu tanggapan Bu Citra, Reyhan membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan langkah-langkah lebar menyusuri jalan setapak bambu mengejar jalur keberadaan Nadhira dan Rangga.

...Bersambung... ...

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!