Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Sarif mengusap pelan air mata di pipi istrinya. "Kalau nanti ada sesuatu yang mengganggu hatimu jangan dipendam. Ceritakan. Aku mungkin dokter. Tapi aku tidak bisa mengobati hati yang tidak pernah diberi tahu sedang terluka."

Tara tertawa kecil di sela tangisnya. "Maaf ya, Bang. Besok-besok aku nggak ngitung kalender lagi."

Sarif tertawa heran. "Kalender?"

"Iya. Aku tiap hari nyoret tanggal. Nunggu baksos selesai."

Sarif menggeleng sambil tertawa.."Istriku ini...Aneh. Tapi lucunya cuma kamu."

Malam itu tidak ada pertengkaran besar, tidak ada saling menyalahkan. Hanya dua orang yang memilih duduk, saling mendengarkan, lalu menyelesaikan masalah dengan kejujuran. Tara belajar bahwa rasa cemburu bukanlah kesalahan selama tidak berubah menjadi prasangka.

Sementara Sarif kembali diingatkan bahwa perhatian dan komunikasi adalah cara terbaik untuk menjaga hati istrinya tetap merasa aman. Sejak malam itu, setiap kali ada urusan pekerjaan yang membuatnya harus sering berkomunikasi dengan rekan dinas, Sarif tidak lagi membiarkan Tara menerka-nerka. Ia memilih bercerita lebih dulu, dan Tara pun memilih percaya. Karena di dalam rumah tangga mereka, cinta tidak dibangun oleh dugaan, melainkan oleh komunikasi yang baik.

***

Beberapa hari setelah Tara dan Sarif saling terbuka mengenai rasa cemburu yang sempat mengganggu hati Tara, ada satu hal yang masih membuat Sarif berpikir. Selama mengenal istrinya, Tara dikenal ceria, mudah tertawa, dan jarang sekali larut dalam perasaan negatif. Namun belakangan ini ia lebih mudah tersinggung, cepat menangis, lalu beberapa menit kemudian bisa tertawa lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Awalnya Sarif mengira semua itu hanya karena kelelahan mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan mengurus kelas bahasa Inggris. Sampai suatu pagi, Tara mengeluh mual saat mencium aroma nasi yang baru matang. Padahal biasanya ia paling semangat kalau sudah mencium bau masakan dari dapur. Siang harinya ia tiba-tiba mengantuk berat, lalu malamnya justru ingin makan buah yang sebelumnya tidak pernah ia sukai. Sebagai seorang dokter, Sarif mulai tersenyum sendiri. Ia mengajak Tara melakukan pemeriksaan.

Hasilnya membuat keduanya terdiam beberapa detik. Tara hamil. Tara menatap lembar hasil pemeriksaan itu berkali-kali, seolah takut salah membaca. Lalu perlahan kedua matanya berkaca-kaca. "Bang...Berarti...Aku benar-benar mau jadi ibu?" Ia sampai mengucek kedua matanya beberapa kali.

Sarif mengangguk pelan dengan senyum yang tak mampu disembunyikannya. "Iya."

Tara langsung memeluk suaminya erat. "Pantesan...Pantesan aku sensitif banget akhir-akhir ini. Pantesan aku nangis gara-gara Dokter Anggraini. Pantesan aku ngitung kalender setiap hari. Pantesan aku takut banget Abang tinggalin padahal aku tau Abang cinta mati kan sama aku?"

Sarif tertawa pelan sambil mengusap punggung istrinya. "Jadi selama ini yang cerewet siapa?"

"Bukan aku."

"Terus?"

"Hormonnya."

Sarif terkekeh. "Oh... jadi yang harus aku ajak damai hormonnya?"

Tara ikut tertawa sambil mengangguk cepat. "Iya. Tolong dimaklumi. Aku lagi produksi calon prajurit kecil."

Sarif menggeleng geli. "Belum tentu prajurit, mungkin juga tuan putri?"

"Ya sudah. Calon anak yang sehat."

Sarif kembali memeluk istrinya. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena sudah membawa kebahagiaan sebesar ini ke dalam hidupku."

Tara tersenyum sambil mengusap perutnya yang bahkan belum terlihat membesar. Saat itu ia baru menyadari bahwa perubahan emosi yang sempat membuatnya bingung ternyata bukan tanpa sebab. Tubuhnya sedang bekerja keras menjaga kehidupan baru.

Dan sejak hari itu, setiap kali Tara mendadak ngambek, menangis karena hal sepele, atau tertawa tanpa alasan yang jelas, Sarif tidak lagi panik. Ia hanya tersenyum, lalu dalam hati berkata, "Baiklah... sepertinya hari ini aku sedang menghadapi dua orang sekaligus, istriku dan calon bayi kami."

***

Menikah dengan seorang prajurit berarti Tara harus berdamai dengan satu kenyataan yang sejak awal sudah diingatkan Sarif, negara tidak pernah melihat kalender keluarga. Hari libur, akhir pekan, bahkan tanggal-tanggal yang bagi mereka begitu istimewa bisa saja berubah menjadi hari dinas karena sebuah panggilan tugas.

Tahun pertama pernikahan mereka menjadi buktinya. Sejak beberapa hari sebelumnya, Tara diam-diam telah menyiapkan kejutan untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka. Ia belajar memasak hidangan favorit Sarif dari ibu mertuanya, menghias meja makan dengan taplak terbaik yang mereka miliki, menaruh beberapa lilin kecil di sudut ruang makan, serta membeli sepotong kue sederhana dari hasil tabungannya. Baginya, itulah pesta makan malam paling romantis yang pernah ia rencanakan. Bahkan ia sempat berlatih mengucapkan kalimat romantis di depan cermin, meski setiap kali mencoba, ia sendiri malah tertawa karena merasa canggung.

Menjelang sore, semuanya telah siap. Tara mengenakan gaun yang pernah dipakai saat bulan madu, merapikan rambutnya, lalu berkali-kali melihat jam di dinding. Namun ketika matahari mulai tenggelam, ponsel Sarif berdering. Wajahnya yang semula santai berubah serius. Ia mengangkat telepon, mendengarkan beberapa saat, lalu berdiri mengambil seragam loreng yang baru saja digantung.

Tara langsung mengerti. "Ada tugas ya, Bang?"

Sarif mengangguk pelan. "Maaf. Harus berangkat sekarang.".Tatapan Sarif sempat tertuju pada meja makan yang sudah dihias begitu cantik. Ada rasa bersalah yang jelas terlihat di wajahnya.."Aku benar-benar minta maaf."

Tara menarik napas pelan. Tentu ada rasa kecewa. Ia sudah membayangkan malam itu akan menjadi kenangan manis pertama sebagai pasangan suami istri. Namun hanya sesaat kemudian, ia tersenyum dan membantu Sarif merapikan kerah seragamnya.."Nggak apa-apa. Tugas dulu. Anniversary bisa ditunda. Negara nggak bisa."

Sarif memandang istrinya dengan mata yang penuh rasa syukur.."Terima kasih sudah mengerti."

Tara mengangguk sambil menahan senyum.."Yang penting...Pulang dengan selamat."

Sarif mengecup keningnya sebelum bergegas pergi. Tak lupa ia mengelus perut Tara sebagai tanda perpisahan pada calon anak mereka.

Suara mesin kendaraan dinas perlahan menghilang dari halaman rumah. Tara menutup pintu, lalu kembali ke ruang makan yang kini hanya diterangi cahaya lilin. Ia duduk sendirian di depan dua piring yang sudah tersaji rapi. Ada sedikit rasa sepi yang menyelinap, tetapi tidak ada penyesalan. Dengan senyum tipis, ia mengambil ponselnya, memotret meja makan itu, lalu mengirimkannya kepada Sarif disertai pesan singkat, "Makan malam romantisnya ditunda ya, Bang. Aku simpan semua cintanya sampai Abang pulang."

Tak lama kemudian, balasan dari Sarif masuk. "Maaf membuatmu menunggu. Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang. Terima kasih sudah selalu menjadi rumah yang paling ingin aku pulangi."

Tara tersenyum sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah. Lilin-lilin itu akhirnya ia padamkan satu per satu. Malam romantis memang batal, tetapi cintanya tidak berkurang sedikit pun. Justru malam itu ia semakin memahami bahwa mencintai seorang prajurit bukan hanya tentang menikmati kebersamaan, melainkan juga tentang merelakan waktu-waktu istimewa demi tugas yang lebih besar. Dan selama Sarif selalu pulang kepadanya, bagi Tara, setiap hari akan tetap menjadi hari yang layak dirayakan.

1
Rian Moontero
mampiirr👍👍🤣
Jumi Eko
Bagus
falea sezi
lanjut
falea sezi
lanjut donk
Hara Hari
orang yang iri dengki itu wajahnya bakalan kusut🤣🤣🤣
Hara Hari
Syok ga tuh Ratna hahahahaha, makanya tobat, jangan iri dengki
Hara Hari
beruntungnya punya ibu mertua yang baik
lin sya
apakah ratna akan mnjdi antagonis buat sepupunya tara, hnya krn iri dan gk bersyukur pdhl udh dinasehatin sm nenek dan ibunya, smga gk jdi pelakor ya, pdhl masa remaja tara susah pas dewasa dia beruntung dpt suami dan mertua baik plus kaya💪
lin sya
lbih baik tara fokus sm kelahiran anak dan suami, klo berkunjung kermh nenek jgn trllu dkt tp bkn sombong ya, tkutnya ratna msih pnya sft iri dan mngkin krma krn pernah nyinyirin tara gk kuliah sedangkan ratna gk lulus kuliahnya
Hara Hari
Hara Hari
InshaAllah ✓
Hara Hari
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!