Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Ketakutannya
Kaivan masih berdiri di tempatnya, mungkin berpikir apakah benar juga yang dikatakan Aisyah, seharusnya dia tidak kembali ke Jakarta.
"Kakak juga pasti lelah, subuh terbang ke Bali, melanjutkan pekerjaan dan sekarang harus kembali. Kakak harus menyayangi diri sendiri, jangan sampai terlalu mementingkan pekerjaan dan akan membuat kesehatan bermasalah, kalau sudah sakit, nanti baru menyesal, jadi adalah sesuatu harus seimbang pekerjaan dan juga kesehatan," ucap Aisyah begitu lembut mengingatkan suaminya.
"Makasih Aisyah, kamu sudah mengingatkan saya. Kamu benar, seharusnya saya tidak memaksakan untuk kembali ke Jakarta, lagi pula percuma ke bandara karena sudah pasti terlambat, penerbangan berikutnya juga harus menunggu 2 jam lagi, kalau begitu saya akan menginap di Bali dan akan mencari hotel," ucap Kaivan.
"Kenapa harus mencari hotel? kenapa tidak di kamar Aisyah saja?" tanya Aisyah menawarkan.
"Hmmmm, maksud Aisyah bukan seperti itu, Kita kan sudah menikah, di rumah Mama juga kita satu kamar dan di apartemen juga satu kamar. Lalu bukankah sama saja jika di Bali," ucap Aisyah menjelaskan agar suaminya itu tidak terlalu berpikiran bahwa dia sangat agresif.
"Iya, kamu benar, baiklah kalau begitu saya akan menginap di kamar kamu," sahut Kaivan.
"Sini saya bawa!" Kaivan mengambil barang-barang yang dipegang istrinya.
"Hmmm, Kak. Aisyah mau ke seberang sebentar, ada barang lagi yang belum dibeli, boleh tidak menunggu sebentar saja," ucap Aisyah sangat hati-hati berbicara.
"Pergilah, saya tunggu kamu," jawab Kaivan.
Aisyah menganggukkan kepala dan kemudian langsung berlalu dari hada Kaivan.
Kaivan memilih untuk menunggu istrinya dengan barang-barang yang sejak tadi dipegang istrinya diletakkan di sebelahnya.
Setelah Aisyah membeli apa yang dia inginkan. Aisyah keluar dari tokoh tersebut yang dilihat dari kejauhan Kaivan.
Kaivan tersenyum melihat istrinya tampak begitu cantik, dari jauh saja kecantikannya sangat menenangkan hati. Kaivan mungkin sudah jatuh cinta pada Aisyah.
Aisyah juga tersenyum dari kejauhan melihat suaminya ternyata masih setia, Asiyah lanjutkan langkahnya Kaivan.
Dratt- Dratt-dratt
Di tengah-tengah langkah Aisyah menyeberang jalan, ponselnya berdering membuat Aisyah merogoh tasnya. Dari tempat Kaivan berdiri, tiba-tiba saja kaget dengan mata melotot saat sebelah kiri terlihat motor melaju kencang.
"Aisyah!" teriak Kaivan memanggil nama istrinya yang tidak menyadari hal itu.
TIN TIN TIN TIN!
Aisyah kaget mendengar suara klakson yang sangat dekat membuatnya menoleh ke arah sebelahnya.
Mata Aisyah melotot saat lampu motor menerpa wajahnya, kelajuan motor tersebut tanpa batasnya dan detik-detik hampir menabrak dirinya dan untung saja tubuhnya tertarik masuk ke dalam pelukan Kaivan yang dengan cepat berlari menolong istrinya dan akhirnya mereka berdua sama-sama terjatuh di aspal yang berhasil mengelakkan kecelakaan yang hampir merenggut nyawa istrinya.
Aisyah di dalam pelukan itu benar-benar takut dengan jantung berdebar dan Kaivan melepas pelukan itu yang membantu Aisyah berdiri dan melihat wajah pucat Aisyah.
"Apa kamu tidak bisa menyeberang dengan hati-hati!" bentak Kaivan dengan nafas terengah-engah dan suaranya menggelegar marah pada Aisyah.
"Bagaimana jika tadi kamu ditabrak!" ucapnya terus mengeluarkan amarahnya.
Sampai akhirnya Kaivan sadar bahwa seharusnya dia tidak membentak Aisya dan membawa Aisyah ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat dengan tubuh bergetar dan Aisyah masih shock dengan apa yang terjadi barusan.
"Maafkan saya Aisyah, seharusnya saya tidak meninggikan suara, saya mohon Aisyah untuk kamu hati-hati ke depannya, saya tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya, tolong jangan lakukan ini, saya benar-benar takut," ucap Kaivan memeluk begitu erat.
Di antara mereka berdua justru Kaivan yang lebih khawatir Aisya hanya schok dan sekarang sudah jauh lebih tenang dengan mengatur nafasnya dan apalagi dipeluk oleh sang suami.
Di tengah pasangan suami istri itu saling berpelukan menenangkan masing-masing, keduanya melepas pelukan dan sama-sama melihat ke atas langit dan ternyata hujan telah turun.
Kaivan tidak mengatakan apapun membantu istrinya dan menggenggam tangannya, kemudian membawa istrinya pergi dan seja Aisya hanya memperhatikan bagaimana Kaivan begitu khawatir kepadanya dan berusaha untuk melindunginya.
*****
Aisyah dan Kaivan saat ini sama-sama sudah berada di dalam kamar hotel Aisyah. Aisyah baru saja keluar dari kamar mandi dengan hijabnya yang dilepas dan rambutnya yang hanya dikeringkan dengan handuk putih Karena sempat basah terkena air hujan.
Aisyah juga sudah mengganti pakaiannya menggunakan dress piyama tidur seperti biasa.
Aisyah melihat suaminya duduk di sofa yang baru saja melepas jasnya.
"Kak!" tegur Aisyah menghampiri Kaivan membuat Kaivan menoleh.
"Ini handuknya," ucap Aisyah memberikan lipatan handuk tersebut membuat Kaivan diri dan mengambilnya.
Kaivan hanya melakukan pada bagian tubuhnya yang basah dan juga pada rambutnya. Mata Aisyah fokus pada lengan Kaivan yang ternyata terdapat goresan di sana.
"Astagfirullah, Kakak ternyata terluka!" ucap Aisyah begitu khawatir yang melihat tangannya Kaivan.
"Ini pasti karena tadi berusaha menolong Aisyah. Aisyah akan bantu untuk obati!" Aisyah merasa bersalah dan kemudian membawa suaminya untuk duduk di sofa.
Aisyah mengambil kotak obat dan pasti dia memiliki perlengkapan obat-obatan juga, seperti biasa jiwa dokternya sudah keluar dan langsung membantu pengobatan pada lengan suaminya akibat gesekan aspal karena menolongnya.
Lagi-lagi Kaivan tersenyum tipis melihat bagaimana kelembutan Aisyah memperlakukannya, Aisyah benar-benar wanita yang tenang dan sepertinya apa yang diucapkan dan dia lakukan membuat orang nyaman berarti di sekitarnya.
Aisyah pintar membawakan dirinya dan selalu berusaha, mungkin mereka menikah dijodohkan tetapi sejak awal pernikahan Kaivan bisa merasakan bagaimana Aisyah selalu berusaha untuk pernikahannya, dari mencoba untuk membuat makanan kepadanya dan ketika makanan itu tidak cocok, Aisyah juga belajar untuk memperbaiki.
"Masih sakit?" tanya Aisyah selesai mengobati lengan itu mengangkat kepala dan melihat suaminya yang sejak tadi menatap dirinya.
"Tidak!" jawab Kaivan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ternyata ada luka di sini juga?" Aisyah memegang pipi Kaivan.
Ada goresan yang terdapat di bagian bawah pipi itu dan lagi-lagi Aisyah langsung mengobati, wajah mereka semakin dekat, nafas mereka saling menerpa dan Kaivan semakin dalam tanpa melepas pandangannya sampai akhirnya Aisyah juga menatap suaminya karena menyadari sejak tadi ditatap.
Keduanya saling menatap, dengan jantung berdebar, Kaivan telihat beberapa kali kesulitan dengan ludah, tangannya perlahan memegang pipi Aisyah dan pengen lembut jempolnya mau masak pipi itu.
Jantung Aisyah semakin berdebar, keduanya benar-benar intens dan mungkin saja Kaivan dapat mendengar suara debaran jantungnya yang tidak menentu.
Tetapi Aisyah berusaha untuk tenang, bagaimanapun pria di hadapannya itu adalah suaminya, bukankah hal itu sangat wajar.
Bersambung .....
suaminya loh ....pengantin baru looh