Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Diana pergi ke rumah Kinan, dan Kinan mengajaknya bertemu dengan pamannya yang seorang pengacara itu.
"Jadi, dari apa yang Kinan ceritakan, suamimu berselingkuh, kemudian sekarang justru dia yang mengajukan perceraian dan menginginkan kamu keluar dari pernikahan ini tanpa membawa apa pun, termasuk tidak mendapatkan hak asuh anak?" tanya Wildan memastikan.
Diana mengangguk pelan.
"Dia bilang aku tidak berguna. Dia juga mengatakan anak kami lebih baik bersamanya. Dia punya uang, perusahaan, rumah... sedangkan aku..." Suaranya mengecil, "aku tidak punya apa-apa."
Kinan segera memegang tangan Diana.
Wildan menghela napas panjang, lalu menutup map di hadapannya.
"Diana, dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah menyamakan tidak punya harta atas nama sendiri dengan tidak memiliki hak."
Diana mengangkat wajahnya, dia seperti mendengar secercah harapan.
"Dalam perkara perceraian, ada beberapa hal yang harus kita pisahkan. Pertama, perceraian itu sendiri. Kedua, pembagian harta yang diperoleh selama perkawinan. Ketiga, hak dan kepentingan anak. Keempat, apabila ada bukti perselingkuhan atau perilaku lain yang relevan, itu harus kita dokumentasikan."
Jawaban Wildan terdengar tegas. Dan itu membuat Diana seolah merasa ada harapan untuk dia mendapatkan hak asuh Chia.
"Suamimu boleh mengatakan bahwa dia ingin bercerai. Tetapi keinginannya bukan berarti pengadilan akan mengabulkan semua syarat yang dia tentukan. Dia tidak bisa begitu saja berkata, ‘Diana tidak mendapatkan apa-apa,’ lalu hukum mengikutinya. Pengadilan akan melihat fakta, bukti, kondisi perkawinan, kepentingan anak, serta hak masing-masing pihak."
Kinan yang sejak tadi diam langsung menyela,
"Paman, bagaimana dengan perselingkuhannya?"
"Justru itu yang harus kita buktikan dengan benar," jawab Wildan. "Jangan hanya datang ke pengadilan dengan mengatakan, ‘Suami saya selingkuh.’ Kita membutuhkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Pesan, foto, dokumen, saksi, pengakuan, atau bukti lain yang diperoleh secara sah. Jangan mengedit, memanipulasi, atau mengambil bukti dengan cara yang bisa merugikan Diana sendiri."
Diana terdiam. Dia memang mendengar pengakuan suaminya. Tapi dia tidak merekamnya.
Wildan kemudian sedikit condong ke depan.
"Sekarang mengenai anak. Ini bagian yang paling penting. Hak asuh bukan hadiah yang diberikan kepada orang yang paling kaya."
Diana menatapnya. Memang hal itu yang ingin dia perjuangkan, hak asuh anaknya.
"Suamimu mungkin memiliki uang lebih banyak. Dia mungkin mempunyai rumah besar, mobil, perusahaan, bahkan mampu memberikan fasilitas terbaik. Tetapi kemampuan finansial bukan satu-satunya pertimbangan. Yang dilihat adalah kepentingan terbaik bagi anak. Siapa yang selama ini merawatnya? Siapa yang memenuhi kebutuhan sehari-hari? Bagaimana hubungan anak dengan masing-masing orang tua? Bagaimana lingkungan tempat tinggalnya? Dan apakah ada kondisi tertentu yang dapat memengaruhi kesejahteraan anak?"
"Selama ini saya yang merawat sendiri Chia, tanpa pengasuh. Sejak Chia lahir!" sahut Diana.
"Bagus. Jangan hanya mengandalkan kata-kata" kata Wildan, "Mulai sekarang, kumpulkan bukti. Catatan kesehatan , komunikasi dengan dokwtr, bukti pembayaran kebutuhan anak, jadwal pengobatan jika pernah sakit, foto kegiatan sehari-hari, dan hal-hal lain yang menunjukkan keterlibatanmu sebagai ibu. Bukan untuk menjatuhkan suamimu, tetapi untuk menunjukkan kondisi sebenarnya."
Diana mengangguk dengan cepat. Dia sungguh akan memperjuangkan hal itu.
Setelah mendengar semua yang dikatakan paman Kinan. Diana seolah mendapatkan angin segar di tengah pengapnya kehidupannya beberapa waktu ini.
"Besok, kita akan cari buktinya. Aku temani kamu, aku akan cuti!"
Diana memeluk Kinan. Sahabatnya itu baik sekali. Kalau tidak ada Kinan, dalam situasinya saat ini, Diana mungkin tidak akan bisa memikirkan apapun.
"Aku antar kamu pulang ya!" ucap Kinan yang di angguki oleh Diana.
Tadinya perjalanan pulang mereka biasa saja, tapi ketika sampai di jalan menuju ke ruko. Mereka bahkan didahului oleh sebuah mobil pemadam kebakaran. Mobil itu bergerak cepat sekali.
"Ada apa? ada kebakaran?" gumam Kinan.
Diana tak merespon, tapi dia merasa tidak tenang.
Benar saja, semakin dekat ke arah ruko. Tampak asap mengepul dan orang-orang yang berlarian. Ada dua mobil ambulance yang bergerak dengan cepat, lagi-lagi mendahului mobil Kinan.
"Ruko ayah!" pekik Diana yang segera turun dari dalam mobil begitu mobil Kinan berhenti karena memang tak bisa maju lebih dekat.
Diana berlari dengan mata yang kembali basah.
"Ayah... Ibu"
Seorang tetangga menarik tangan Diana yang sudah mau merangsak masuk ke ruko yang sudah terbakar hebat itu.
Kinan yang menyusul Diana bahkan tak bisa berkata-kata, air matanya mengalir dengan tangan dan kaki gemetaran.
"Ayah, ibu..."
Tetangga Diana sampai harus memeluknya dari belakang, supaya Diana tidak maju.
"Jangan Diana, itu ada petugas yang sudah masuk..."
"Diana, jangan begini!"
Para tetangga sampai menangis melihat betapa histerisnya Diana.
Kinan berdiri di belakang Diana sambil menutup mulutnya tak percaya. Matanya tak berkedip, 25 tahun ruko itu berdiri. Bagaimana bisa terbakar seperti itu.
**
Setelah api padam, semuanya sudah habis. Setengah jam sebelumnya ayah dan ibu Diana sudah di bawa dengan ambulance ke rumah sakit. Ibu Diana mengalami luka bakar cukup parah, tapi ayahnya bahkan harus dioperasi karena ada gangguan saluran pernapasan di paru-parunya dan patah tulang kaki.
Diana yang mendengar penjelasan dokter hanya bisa berusaha berdiri tegar meski tangan dan kakinya gemetaran.
Air matanya belum kering, bahkan dia harus mendengar kondisi ayahnya yang dikatakan kritis.
"Pasien Arman kondisinya sangat patah, patah tulang terbuka dan kompleks, harus diintubasi dan menjalani operasi sesegera mungkin. Jika tidak, akibatnya mungkin akan fatal. Saya akan jadwalkan operasinya, tolong segera diurus administrasinya!"
Dokter itu pergi meninggalkan Diana dan Kinan yang berdiri dengan tatapan bingung dan tak tahu harus bagaimana.
Hingga suara ponsel Diana berdering. Sebuah nomor yang tidak tersimpan di ponselnya menghubunginya.
"Ha... halo..." suaranya masih terdengar lirih dan bergetar.
[Makanya jangan cari masalah denganku! ini cuma peringatan Diana, cepat tanda tangani surat cerai dan jangan banyak tingkah. Hari ini orang tuamu, jika besok kamu belum tanda tangan juga. Sahabatmu dan keluarganya juga akan menanggung akibat kesalahan mu!]
Tut Tut Tut
"Diana..."
"Sandra, Sandra yang membakar ruko orang tuaku!" ucap Diana dengan suara yang begitu pilu.
"Keterlaluan, kita laporkan saja ke polisi!"
Baru Kinan bicara seperti itu, ponselnya berdering.
"Halo, bibi..."
[Kinan, paman kamu kecelakaan. Mas Wildan di tabrak]
Kinan melebarkan matanya. Belum selesai disitu, Kinan juga mendapatkan pesan dari perusahaan tempat dia bekerja.
Diana yang membaca pesan itu sampai memegang dadanya. Kinan di pecat, dari perusahaannya.
Kinan terdiam, Diana yang tahu kalau semua ini mungkin ulah Sandra. Segera menggenggam tangan Kinan.
"Maafkan aku, semua ini karena aku. Aku akan tanda tangani surat itu!"
"Diana!"
Diana segera berlari meninggalkan rumah sakit. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada sahabatnya lebih jauh dari itu.
***
Bersambung...
mana pemilik nya lagi🤣
karyawan aja pada sok ngehina pemilik 🫣
ni orang kepalanya kepentok kali ya
Trus amnesia
eh liat kita sangkanya kita orang yg paling dicintainya 🤣🤣
lah kalau tetibaan dia inget lagi,gimana donk😔
pasti bingung..
ini orang ,mesti gimana ya balesnya?
pandai ny cuma mengeluh aj dy
hitung2 pembalasan dari diana
dia aja bisa seenaknya ngerebut ank lu dengan ga tau malu nya
bisa ngapain lagi ntar nya..
tebak aja
seruu kan hidup lo🤣🤣
marah?
lah emang fakta,gimana donk
udah mokondo ga tau malu lagi🫣🤣
apa yg kau harapkan ketika dia harus Jadi pemimpin banyak orang
ya...ga bakalan mampu lah