Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. Ujian Kepercayaan
Pikiran itu membuat rahangnya mengeras, tetapi keadaan memaksanya mengambil keputusan. Orang kepercayaannya yang lama telah berkhianat. Seseorang yang dulu ia percayai sepenuhnya justru menjual informasi organisasi kepada musuh demi keuntungan pribadi.
Luka akibat pengkhianatan itu belum sepenuhnya hilang. Namun roda organisasi harus tetap berjalan. Ia membutuhkan orang baru, orang yang mampu menggantikan posisi yang kosong itu. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Reval harus membuka kembali pintu kepercayaannya kepada orang lain.
Hingga tak lama kemudian terdengar sebuah ketukan terdengar dari pintu.
"Masuk."
Seorang pria tua berambut perak memasuki ruangan tanpa menunggu izin kedua kalinya. Aura wibawa yang dibawanya membuat suasana ruangan seketika berubah. Algra Arsenalio, Kakek Reval sosok yang bahkan para petinggi organisasi segan untuk menatap terlalu lama.
"Kau masih memikirkan seleksi itu?" tanya Algra.
Reval menghela napas. "Sedikit."
"Sedikit?" Algra terkekeh pendek. "Wajahmu menunjukkan sebaliknya." Pria tua itu berjalan santai menuju sofa lalu duduk dengan tenang.
"Aku tidak suka mempercayai orang yang belum teruji."
"Aku tahu."
"Aku juga tidak tahu siapa yang bisa dipercaya."
Algra menatap cucunya beberapa saat sebelum berkata datar, "Masalahmu bukan hanya itu."
Reval mengangkat alis. "Kau tahu apa yang dibicarakan para tetua akhir-akhir ini?"
"Tidak tertarik."
"Mereka membicarakan keturunan."
Reval langsung memalingkan wajah, sebab ia sudah menduganya sejak kakeknya itu datang. Lagi-lagi persoalan yang sama… masalah yang sama yang sangat Reval hindari selama ini. Karena sampai kapan pun ia tidak akan bisa melakukannya.
"Kakek..."
"Usiamu terus bertambah."
"Aku masih muda."
"Bagiku tidak."
Reval menahan desahan frustrasi.
Algra melanjutkan tanpa belas kasihan. "Kau memimpin organisasi sebesar ini. Musuhmu semakin banyak. Jika suatu hari sesuatu terjadi padamu, siapa yang akan meneruskan semuanya?"
"Kita sedang membahas seleksi orang kepercayaan."
"Keduanya berkaitan."
Reval memijat pelipisnya. "Tidak berkaitan."
"Justru sangat berkaitan."
Algra tersenyum tipis. "Kau membutuhkan penerus. Dan kau membutuhkan orang-orang yang bisa kau percaya untuk menjaga mereka."
Ruangan menjadi sunyi beberapa saat. Reval tidak menjawab. Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu perkataan sang kakek tidak sepenuhnya salah. Masalahnya hanya satu, sejak awal Reval sama sekali tidak mencintai istrinya. Jangankan menyentuhnya, menatap atau bahkan bicara dengannya saja Reval enggan melakukannya. Karena sejak awal Reval hanya mencintai satu wanita yang tidak disetujui oleh keluarganya. Ia malah dipaksa menikahi wanita lain demi keuntungan politik sekaligus menguatkan kekuatan klan Black Gold di negara itu.
“*Cih, mana sudi aku menyentuh wanita itu. Pernikahan ini hanya sebuah pernikahan politik dan juga bisnis, sedangkan wanita yang aku cintai hanya Vara. Tidak mungkin ada yang lain*,” ucap Reval dalam hati.
“Reval?” Panggil Algra menyadarkan lamunannya.
“Baiklah, Kek! Aku akan memikirkannya.” Reval menjawab dengan terpaksa.
“Jangan hanya memikirkannya, tapi kau juga harus melakukannya agar istrimu cepat melahirkan penerus untuk keluarga kita.” Kakek Algra kembali menegaskan kepada cucunya yang keras kepala itu.
Kali ini Reval tidak berniat menjawab, ia hanya mengangguk pelan agar Kakeknya segera meninggalkan ruang kerjanya dan berhenti membahas tentang keturunan. Namun, begitu sang Kakek meninggalkan ruangan itu. Tiba-tiba sebuah ide berlian muncul begitu saja di kepala Reval yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
“Kenapa aku tidak kepikiran dari dulu untuk melakukan itu?” gumam Reval dengan senyum misterius yang ia tunjukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga hari kemudian….
Sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Jauh dari jalur pelayaran, jauh dari pengawasan pemerintah. Empat belas kandidat berdiri berjajar di pantai, termasuk Dhana. Helikopter yang membawa mereka telah pergi. Tidak ada jalan pulang, tidak ada bantuan dan tidak ada komunikasi.
Di hadapan mereka, Reval berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Angin laut menerbangkan rambut hitamnya. "Tugas kalian sederhana."
Semua orang memperhatikan. "Dalam hutan ini ada lima koper. Masing-masing berisi dokumen penting milik Black Gold."
"Ambil satu koper. Bawa kembali ke titik ini. Lalu kalian lulus."
Salah satu kandidat mengernyit. "Hanya itu?"
Senyum Reval melebar, senyum yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Tentu tidak."
Ia memberi isyarat. Beberapa pria bersenjata muncul dari balik pepohonan. Jumlah mereka lebih dari lima puluh orang. Semua mengenakan pakaian tempur dan juga membawa senapan yang lengkap. Berbeda dengan empat belas kandidat yang ikut serta dalam ujian tersebut, mereka hanya diberikan senjata dan amunisi lengkap tanpa pakaian tempur.
"Mulai sekarang kalian menjadi target." Perkataan Reval spontan membuat wajah para kandidat berubah. "Kalian punya waktu dua puluh empat jam."
"Jika tertangkap…." Reval sesaat menggantung ucapannya. "Matilah."
Tak ada yang berani tertawa, karena semua tahu Reval tidak sedang bercanda. Posisi untuk menjadi orang kepercayaan Reval hanya ada lima. Maka sudah bisa dipastikan sembilan dari empat belas kandidat akan tewas dalam ujian kali ini.
"Jika ingin menjadi orang kepercayaanku..." tatapan Reval berubah dingin, "...buktikan bahwa kalian cukup berbahaya untuk bertahan hidup."
“Vin, mulai ujiannya sekarang!” perintah Reval pada salah satu orang yang selama ini menjadi kepercayaannya.
Pria itu bahkan diberikan kekuasaan untuk mengawasi wilayah kekuasaan klan Black Gold di bagian timur. Devin Vernando, itulah nama pria itu yang kini maju mengambil alih ujian.
“Begitu tembakan pertama terdengar, kalian harus mulai bergerak maju. Lalu 30 menit kemudian tembakan kedua akan diluncurkan sebagai tanda perburuan oleh para agen kami resmi dilakukan. Gunakan waktu 30 menit itu untuk menyusun strategi yang bisa mempertahankan hidup kalian dan lulus dalam ujian ini,” ujar Devin.
DOR!
Tanpa buang waktu tembakan pertama langsung terdengar. Raka atau Dhana serta yang lainnya segera bergegas memasuki area hutan sembari memikirkan strategi untuk tetap bertahan sekaligus mendapatkan dan membawa koper itu dengan selamat kehadapan Reval.
DOR!
Dan 30 menit kemudian, suara tembakan kembali terdengar. Para pemburu pun segera bergegas memasuki hutan untuk menemukan target mereka. Sampai 30 menit kembali berlalu, suasana hutan yang menjadi saksi hidup dan mati empat belas kandidat itu masih terasa begitu sunyi.
Hingga satu jam kemudian….
Suara tembakan dan ledakan menggema dari berbagai penjuru hutan. Jeritan terdengar sesekali. Para kandidat mulai berjatuhan satu per satu. Dhana bergerak cepat di antara pepohonan. Napasnya stabil, langkahnya ringan, dan matanya terus mengamati medan.
Pengalaman puluhan operasi militer membuatnya jauh lebih unggul dibanding peserta lain. Namun justru itu masalahnya, ia tidak boleh terlalu menonjol. Tidak boleh terlihat seperti seorang perwira elite. Tidak boleh memperlihatkan kemampuan yang mencurigakan.
Ia harus menang, tetapi dengan cara yang masih masuk akal bagi identitas Raka Vendra. Dhana berhenti di balik batu besar ketika dua pemburu bersenjata melintas. Ia menunggu dengan sabar sembari mulai menghitung.
Satu...
Dua...
Tiga...
BRAK!
Bersambung….