Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
****
Beberapa hari berlalu dalam keheningan yang serasa menghimpit mansion. Sesuai permintaan mutlak Lilianne, kabar mengenai kehamilannya masih tersimpan rapat sebagai rahasia pribadi mereka berdua. Tidak ada staf, pelayan, maupun keluarga besar yang diberi tahu. Namun, sikap Lilianne pada Arya masih membeku sempurna. Putri bangsawan itu memilih membisu, enggan mengajak suaminya bicara jika tidak terdesak.
Siang itu, tatkala Arya sedang menghadiri RUPS di kantor holding, deru mesin sedan mewah milik Raden Ajeng Gayatri terdengar memasuki pelataran. Sang matriark berkunjung secara mendadak karena merasa curiga dan cemas mendengar laporan bahwa menantunya terus mengurung diri di kamar selama beberapa hari terakhir.
Dengan sisa kelelahan akibat serangkaian mual hebat sejak subuh, Lilianne memaksakan dirinya turun ke ruang tamu utama. Wajah mewahnya sedikit pucat, namun gaun linen longgar berwarna cream yang dikenakannya tetap memancarkan keanggunan tak tersentuh.
"Lilianne, Sayang..." sapa Gayatri hangat, melangkah mendekat seraya merengkuh menantunya ke dalam pelukan lembut. "Ibu sangat cemas. Staf bilang kamu kurang sehat dan jarang keluar kamar?"
Lilianne menyunggingkan senyuman tipis nan manis, berusaha mengatur raut wajahnya agar terlihat sesegar mungkin. "Ibu... tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya hanya sedikit lelah dan butuh istirahat ekstra saja akhir-akhir ini."
Keduanya terduduk di sofa beludru, ditemani cangkir teh herbal beraroma chamomile. Lilianne menemani mertuanya berbincang ringan, menanggapi cerita Gayatri mengenai agenda charity klan Soerjoatmodjo dengan sesekali menyisipkan candaan halus untuk mencairkan suasana.
Sebagai seorang wanita berpengalaman dan ibu yang membesarkan Arya, Gayatri sebenarnya menangkap gelagat tak biasa. Binar mata Lilianne yang redup, jemari yang sesekali mengusap perut secara refleks, hingga penolakannya pada aroma teh pekat tak lepas dari pengamatannya. Gayatri sangat menebak ada hal besar yang sedang disembunyikan menantunya. Namun, dengan keanggunan seorang bangsawan senior, sang ibu mertua memilih menghargai privasi tersebut tanpa mendesak.
"Ya sudah kalau kamu memang hanya butuh istirahat," tutur Gayatri lembut seraya mengusap jemari dingin Lilianne. "Tapi ingat pesan Ibu, jangan terlalu memanjakan rasa lelah itu. Jika Arya membuatmu kesal lagi, katakan pada Ibu."
"Baik, Ibu. Terima kasih atas perhatiannya," sahut Lilianne tulus.
**
Malam harinya, jarum jam telah menunjuk angka dua belas malam. Suasana kamar utama diliputi temaram lampu tidur yang remang.
Arya yang baru menyelesaikan dokumen kantor terbaring di samping Lilianne. Pria jangkung itu mengenakan kemeja katun polos tanpa wewangian apa pun, memeluk pinggang ramping istrinya dari belakang dengan begitu posesif dan hati-hati. Meskipun Lilianne masih memunggunginya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak Arya pulang, sang Presdir tetap bertahan menempel pada permaisurinya.
Tiba-tiba, layar ponsel pintar milik Arya yang tergeletak di meja samping tempat tidur menyala terang, disertai getaran beruntun yang membelah keheningan malam.
Lilianne yang sebenarnya belum tertidur lelap akibat perubahan hormon kehamilan seketika membuka matanya. Netra hijau jernihnya melirik tajam ke arah layar ponsel tersebut.
Di atas layar tertera nama kontak seorang wanita: Clarice Vance - Managing Director Vance Corp. Tak lama kemudian, sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar yang terkunci:
'Mr. Arya, maaf mengganggu tengah malam. Dokumen kerja sama akuisisi sudah saya revisi. Apakah besok pagi kita bisa sarapan privat berdua sebelum rapat holding?'
Dada Lilianne seketika bergemuruh hebat. Gejolak cemburu yang tak masuk akal bertabrakan dengan amarah hormon kehamilannya yang tak menentu. Tembok diam yang ia bangun kokoh selama beberapa hari terakhir mendadak runtuh oleh luapan emosi yang meledak-ledak.
Lilianne berbalik secara mendadak, menepis kasar tangan Arya di pinggangnya, lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan napas memburu.
"Mas Arya!" panggil Lilianne dengan suara melengking halus yang sarat akan getaran amarah.
Arya yang setengah terlelap seketika tersentak bangun, membelalakkan matanya cemas melihat istrinya terduduk dengan wajah memerah dan mata yang berkaca-kaca.
"Lilianne? Ada apa, Sayang? Apa perutmu mual lagi?" tanya Arya panik, refleks terulur hendak menyentuh bahu istrinya.
"Jangan sentuh aku!" pangkas Lilianne seraya menunjuk ponsel di meja rias dengan jemarinya yang gemetaran. "Siapa Clarice Vance itu?! Kenapa dia berani berkirim pesan tengah malam begini dan mengajakmu sarapan privat berdua?!"
Arya terpaku sejenak, matanya bergulir menatap layar ponselnya lalu kembali menatap Lilianne.
"Dia hanya rekan bisnis dari Vance Corp, Lilianne. Kami sedang merancang proyek investasi lintas negara—"
"Aku tidak peduli proyek apa itu!" potong Lilianne histeris, air mata jernih yang menahan sesak selama berhari-hari akhirnya pecah membasahi pipi mewahnya. "Kenapa wanita itu harus menghubungimu jam sepuluh malam lewat?! Kenapa harus sarapan privat?! Apa Mas Arya bermaksud menemui wanita itu di saat aku sedang menderita mual setengah mati di rumah ini?!"
Melihat istrinya menangis terisak seraya meluapkan kecemburuan berapi-api, rasa panik Arya seketika berangsur runtuh, berganti menjadi gelombang rasa lega dan keharuan yang luar biasa dahsyat.
Setelah berhari-hari dihukum oleh keheningan dingin Lilianne yang menyiksa batinnya, mendengar suara melengking dan luapan emosi jujur dari istrinya terasa bagaikan oase di tengah gurun. Arya menyadari bahwa di balik kemarahan ini, ada rasa memiliki dan rasa cemburu yang teramat dalam dari permaisurinya.
Arya mendekatkan tubuhnya secara perlahan, menatap wajah sembab Lilianne dengan binar mata yang sarat akan pemujaan murni.
"Saya tidak akan pernah menemui wanita mana pun secara privat, Lilianne," bisik Arya rendah dan lembut, suaranya dipenuhi janji yang tak terbantahkan. "Detik ini juga, saya akan minta sekretaris membatalkan seluruh agenda dengan Vance Corp atau mengalihkan proyek itu ke tim lain."
"Bohong! Mas Arya pasti senang diajak sarapan oleh wanita lain!" tuduh Lilianne makin merajuk, tangannya mengepal kecil seraya memukul dada bidang Arya tanpa tenaga.
Arya tidak menghindar. Ia justru membiarkan pukulan kecil istrinya mendarat di dadanya, lalu dengan gerakan teramat lembut merengkuh kedua pergelangan tangan halus Lilianne, membawa tubuh rapuh yang sedang diselimuti emosi kehamilan itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Demi Tuhan, tidak ada wanita lain di mata dan hidup saya selain kamu, Bunga Liliku," gumam Arya serak, membenamkan wajahnya di leher Lilianne seraya mengecupi pelipis istrinya berkali-kali. "Menangislah... marahi saya... tapi tolong jangan diamkan saya lagi."
Lilianne tersengal-sengal di dalam dekapan Arya. Rasa cemburunya yang gemas dan sensitif mulai mereda tatkala menghirup kehangatan tubuh suaminya yang tulus. Meski begitu, benteng gengsi putri bangsawan itu belum sepenuhnya runtuh. Lilianne tidak lagi mendorong Arya, namun ia memilih menyembunyikan wajah mewahnya di dada tegap Arya—kembali membisu dengan helaan napas merajuk, membiarkan suaminya mengusap punggungnya sepanjang malam dalam kehangatan yang tak terpisahkan.
Bersambung....
hmmm, Lilianne udah mulai cemburu nih wkwkwk
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥