Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Armand menutup pintu pantry dengan pelan namun tegas, mengunci ruang privasi di antara mereka.
Suara geseran pintu itu terdengar bagaikan ketukan vonis bagi Siska.
Siska menelan salivanya dengan susah payah saat melihat raut wajah Armand.
Tatapan mata pria itu yang biasanya penuh kelembutan kini menjelma menjadi sorot mata seorang suami yang siap melindungi istrinya dari bahaya apa pun.
Aura wibawa yang terpancar dari Armand membuat Siska mendadak salah tingkah.
"A-ada apa, Pak?" tanya Siska terbata-bata, mencoba mempertahankan sikap profesionalnya meski jantungnya berdegup kencang.
Armand melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
"Apa ada masalah di kantor? Maksudku, apa ada masalah yang berhubungan dengan Nadya?"
Siska meremas jemarinya sendiri, tampak ragu dan serba salah.
Ia teringat perintah tegas dari Nadya untuk merahasiakan hal ini dari suaminya.
"Pak, saya tidak bisa menyatakannya. Nyonya Nadya minta untuk,"
"Siska, tolong katakan ada apa!" potong Armand dengan suara rendah yang sarat akan penekanan tajam, memutus keraguan sekretaris itu.
Armand menatap lurus ke dalam mata Siska, menyalurkan ketegasan mutlak yang tak bisa dibantah.
"Saya suaminya. Kalau ada apa-apa, saya yang bertanggung jawab. Saya tidak akan membiarkan Nadya menghadapi bahaya sendirian sementara saya ditutupi seperti orang asing. Katakan padaku, Siska."
Siska menghembuskan napas pasrah. Melihat kesungguhan dan rasa cinta yang begitu besar dari Armand untuk atasannya, benteng kerahasiaannya akhirnya runtuh juga.
"Baik, Pak." bisik Siska pelan.
"Sebenarnya, detektif swasta kami menemukan fakta bahwa Sarah telah menghubungi seseorang untuk bekerja sama."
"Siapa?" desis Armand dengan rahang yang mengeras.
"Rian, Pak. Pengusaha yang dulu pernah ditolak oleh Nyonya Nadya," terang Siska dengan suara berbisik.
"Sarah dan Rian berencana bertemu malam ini di sebuah restoran untuk menyusun rencana sabotase terhadap proyek seragam baru dan menjatuhkan Nyonya Nadya."
Mendengar nama Sarah dan Rian bersanding dalam satu rencana busuk, darah Armand seketika mendidih.
Dugaan dan kecemasannya sejak pagi tadi akhirnya terbukti.
Nadya sengaja menyembunyikan hal ini sendirian hanya demi melindungi kedamaian pikirannya.
Armand menarik napas dalam-dalam, menguasai gemuruh amarah di dadanya. Senyum dingin yang penuh ketegasan kini terukir di wajahnya.
"Restoran mana dan jam berapa mereka bertemu malam ini?" tanya Armand tenang, namun sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak akan tinggal diam.
"Restoran Bintang Lima di kawasan pusat kota, Pak. Jam delapan malam nanti," jawab Siska dengan suara pelan.
Armand menganggukkan kepalanya paham. "Terima kasih, Siska. Jangan bilang ke Nadya kalau kamu sudah memberitahuku."
"Baik, Pak," balas Siska patuh.
Armand membuka pintu pantry, melangkah keluar, dan berjalan mantap menuju ruangan istrinya.
Begitu mendorong pintu ruang kerja CEO, ia mengubah raut wajahnya menjadi tenang dan ramah, berpura-pura tidak tahu sedikit pun tentang masalah yang sedang berkembang.
Ia ingin istrinya sendiri yang terbuka dan bicara padanya.
Nadya yang sedang merapikan beberapa dokumen di mejanya langsung mendongak. Senyum manis seketika terukir di wajah cantiknya saat melihat sosok sang suami.
"Sudah selesai urusan di ruang produksi, Mas?" tanya Nadya lembut.
"Sudah, Dek. Semuanya berjalan lancar hari ini," jawab Armand hangat seraya berjalan mendekat. Ia mengulurkan tangannya dengan lembut. "Ayo pulang, Sayang."
Nadya menganggukkan kepalanya penuh kehangatan, meraih jemari Armand dan menggenggamnya erat.
Di sepanjang perjalanan menuju area parkir dan selama di dalam mobil, Armand mengemudi dengan tenang, sesekali melirik sang istri yang tampak sedikit melamun.
Ada beban yang jelas sedang dipikul Nadya sendirian, dan Armand dengan sabar menunggu momen yang tepat agar istrinya mau berbagi beban itu kepadanya.
Setibanya di rumah, suasana malam yang hangat kembali menyelimuti mereka.
Usai membersihkan diri dan menikmati makan malam yang disiapkan Bibi, Nadya dan Armand duduk berdua di sofa ruang keluarga.
Armand merengkuh tubuh Nadya ke dalam pelukannya, membiarkan sang istri bersandar nyaman di dada bidangnya.
Ia mengusap rambut panjang Nadya dengan penuh kasih sayang, menciptakan kenyamanan yang melunturkan dinding pertahanan wanita itu.
"Dek, kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, atau ada hal berat yang sedang kamu hadapi, ceritakan pada Mas, ya. Jangan dipendam sendiri."
Nadya tertegun di dalam pelukan suaminya. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Armand yang memancarkan ketulusan dan kesiapan untuk melindungi.
Melihat sorot mata suaminya yang begitu dalam, rasa bersalah karena menyembunyikan sesuatu mulai mendera dada Nadya.
Ia menyadari bahwa Armand bukan lagi pria lemah yang harus selalu ia lindungi dari balik layar, melainkan seorang suami tegap yang siap berdiri di garda terdepan bersamanya.
Kemudian Armand melajukan mobilnya menuju ke rumah, membelah arus lalu lintas sore yang mulai padat dengan ketenangan yang dibuat-buat.
Jemarinya mencengkeram kemudi dengan mantap, namun fokus pikirannya terbagi sepenuhnya pada wanita di sampingnya.
Ponsel Nadya bergetar pelan di atas pangkuannya.
Nadya segera membukanya dan membaca pesan masuk dari Siska.
Pesan itu berisi laporan mendetail dari detektif swasta mengenai pertemuan antara Sarah dan Rian malam ini.
Sepertinya aku harus ke sana, ucap Nadya dalam hati.
Dadanya bergemuruh oleh kebulatan tekad untuk menghadapi dan mematikan pergerakan dua benalu itu sebelum mereka sempat menyentuh suaminya.
Ia perlahan melirik ke arah suaminya yang sedang fokus menyetir.
Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar sealami mungkin.
"Mas, nanti jam setengah delapan aku keluar sebentar, ya. Aku ada meeting mendadak," bohong Nadya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Armand menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum hangat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Namun di balik sikap tenangnya, Armand tahu betul bahwa istrinya baru saja berbohong.
Ia mengerti Nadya melakukan itu demi melindunginya, tetapi Armand juga sudah memantapkan hati: malam ini, ia tidak akan biarkan istrinya melangkah ke sarang serigala sendirian.
Setibanya di rumah Nadya masuk ke kamar mandi dan segera mandi.
Armand masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya.
Ia melihat istrinya yang sudah mandi dan bersiap pergi.
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Usai membersihkan diri dan bersiap-siap, Nadya turun menuju halaman depan tepat pukul tujuh malam.
Ia tampak anggun namun tegas dalam balutan pakaian serba hitam, siap menghadapi permainan kotor Sarah dan Rian.
"Mas, aku berangkat dulu ya. Tidak akan lama," pamit Nadya sambil mencium tangan Armand di dekat pintu utama.
"Hati-hati di jalan, Sayang. Selesaikan urusanmu dengan baik," balas Armand lembut seraya mengecup kening istrinya dengan rasa cinta yang mendalam.
Begitu mobil yang ditumpangi Nadya bergerak meninggalkan halaman rumah, raut kelembutan di wajah Armand seketika sirna, tergantikan oleh ketegasan yang dingin.
Ia berbalik melangkah cepat menuju kamarnya, mengambil kunci mobil cadangan dan jaket kulit hitamnya.
Armand masuk ke dalam mobilnya sendiri, menyalakan mesin, dan mulai membuntut mobil Nadya dari jarak aman menuju Restoran Bintang Lima di pusat kota.
Suasana restoran mewah di lantai atas gedung pencakar langit itu tampak remang dan eksklusif.
Di sebuah meja sudut yang agak tersembunyi, Sarah dan Rian sudah duduk berhadapan.
"Jadi, apa rencana pertamamu untuk menghancurkan proyek seragam baru itu?" tanya Rian seraya menyesap anggur merahnya, sorot matanya penuh dendam.
Sarah menyunggingkan senyum licik. "Kita tinggal menyusupkan bahan berkualitas buruk ke dalam gudang produksi mereka, atau meretas dokumen desain Armand. Setelah reputasi Armand hancur karena gagal, Nadya akan kehilangan kepercayaan investor."
Namun sebelum Rian sempat membalas, sebuah suara dingin berwibawa memotong pembicaraan mereka dari samping meja.
"Rencana yang sangat picik untuk dua orang yang gagal dalam hidupnya."
Sarah dan Rian langsung terkejut ketika melihat Nadya ada disini.
Mereka mendongak dan mendapati Nadya berdiri tegap di sana dengan bersedekap dada, menatap mereka berdua dengan sorot mata penuh hinaan dan kemenangan.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,