Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Bab 28
Niat hati menghindar dari Nilam dan Sinta, tapi Ruby malah tidak tenang. Khawatir Adly malah tidak nyaman dengan kehadiran duo nenek sihir itu.
“Mas, dibungkus aja ya.”
Kedua alis Bara menukik ke tengah, dengan raut wajah heran mendengar permintaan istrinya. Jelas-jelas tadi dengan berani mengajak keluar untuk berduaan karena kangen.
“Katanya kangen.”
“Iya, tapi nggak ninggalin Adly juga,” sahut Ruby. “Mbak, dibungkus aja ya,” titahnya pada pelayan merevisi pesanan.
Bara merangkul bahu Ruby.
“Eh, pegang-pegang. Mulai nakal ya.”
“Kalau aku nakal, kamu apa? Liar? Senangnya menggoda orang. Lihat saja kalau kita sudah pulang, aku balas!”
Ruby terkekeh sambil menjauhkan wajah Bara darinya. “Hadiah dari aku nggak boleh dicuri, harus aku yang kasih ya.”
“Hadiah apa?” wajah Bara kembali mendekat dan merapatkan rangkulannya.
“Mas, geser, ih.” Ruby akan berpindah tempat karena Bara tidak menggeser duduknya, tapi ditahan oleh pria itu.
“Diam!”
“Eh iya mas, dokternya Adly minta kita temui dia. Ada yang mau disampaikan.”
“Dokter?”
“Iya, spesialis ortopedi anak.”
Bara mengangguk. “Nanti aku temui.”
Ruby terkikik membuat Bara lagi-lagi heran, dengan perubahan istrinya. Bahkan salah satu jarinya menunjuk pipi Bara. “Cie, udah aku, aku aja. kemarin masih, saya. Udah suka ya sama Ruby. Perawan ting-ting emang menggoda ya, mas.”
Kembali ke kamar Adly, masih ada ibu dan anak si mantan ipar dan mertua Bara. Nilam bersandar santai di sofa sambil fokus dengan ponsel dan Sinta di samping ranjang Adly entah bicara apa karena Adly menggeleng saat Ruby dan Bara datang.
Nilam langsung merubah duduk lebih kalem dan menepuk sisi di sampingnya. “Mas Bara duduk sini, aku mau bicara.”
Namun, Bara memilih duduk di sofa tunggal. Wajah Nilam berubah suram. Ruby meski tidak memperhatikan dengan sengaja, ingin sekali terbahak.
Dasar valakor, batin Ruby.
“Loh, ini obatnya masih utuh. Minum dulu ya.” Membuka botol air mineral dan menyodorkan pada Adly lengkap dengan 2 butir obat.
Terdengar obrolan basa basi busuk dari sofa, Nilam yang begitu percaya diri memancing percakapan tapi Bara hanya menjawab pendek. Tidak lama Nilam akhirnya mengajak Sinta pulang, mungkin kesal sendiri dengan sikap Bara.
“Akhirnya,” ucap Ruby lalu membuka kotak sarapannya di meja makan. “Mas, makan dulu, dari pada aku makan.”
Bara kembali mendengus mendengar ocehan istrinya. “Aku tunggu saat itu, momen kamu makan aku,” bisik Bara lalu menarik kursi meja makan.
“Ih, merinding tau. Kebiasaan deh, suka bisik-bisik gitu.”
“Mulut kamu juga kebiasaan suka mancing di air keruh.”
“BUnda, aku pinjam hp.” Adly menginterupsi, sepertinya harus terbiasa melihat kemesraan papi dan bundanya.
“Tapi jangan lama ya. Kalau bosan nanti kita keluar lagi kayak kemarin, bunda pinjamkan kursi roda.”
“Iya.”
Ruby menyerahkan ponsel milik Adly. “Mau chat sama pacar ya, bilang salam dari Bunda cantik tidak ada tandingnya dengan pelakor manapun "
“Kamu pacaran?” tanya Bara dan Adly menggeleng.
Ruby terkekeh. “Apa sih mas Bara, nggak usah galak gitu. Cinta monyet, emang gak pernah ngerasain ya. Tapi nggak sama monyet juga sih. Udah, makan dulu.”
Berbeda dengan Ruby yang makannya lebih lambat, Bara sudah berpindah ke sofa. Membuka laptop dan menghubungi seseorang. Urusan pekerjaan di kampus.
“Bun, aku kapan boleh pulang?”
“Nanti bunda tanya kalau ada dokter visit.”
Terdengar ketukan pintu. “Pagi dunia, Meldy datang lagi. Eh, siapa ini om-om ganteng " Meldy melepas kacamata hitamnya lalu bergabung di sofa.
Bara menatap heran pria asing agak gemulai itu.
"Om-om, sembarangan aja. Dia suami gue," ucap Ruby. "Mas Bara itu Meldy, Meldy, dia Mas Bara. barata Airlangga, mas dosen dan mas bojo gue."
Meldy mengulurkan tangan untuk salaman, Bara menyambutnya. "Ya ampun, gak nyesel dong Lo nikah sama duda anak dua ini. Ganteng, macho, dewasa banget. Gemes deh."
Bara menarik tangannya masih bingung dengan status pria itu.
"Kenalin ya om dosen lakinya Ruby, gue Meldy. Manager, asistennya dia. Kadang jadi jongos juga. Emang gak ada akhlak istri Lo."
"Gue potong gaji Lo, Mel."
Ruby merapikan meja bekas dia dan Bara sarapan.
"Nih, pakaian ganti sama daleman Lo. Gua ambil dari apartemen." Meldy meletakan tas ke atas sofa di samping Bara.
"Dalaman? Urusan itu kamu urus juga?"
"Luar dalam si Ruby, gue urus Om."
Bara menatap Ruby seakan minta penjelasan. Ruby cuek saja, ikut duduk di samping Bara membuka tas yang dibawa Meldy. Memilih setelan dan pakaian dalamnya.
Srek. Bara menarik resleting tas menutup rapat tas itu.
"Kamu mau bongkar pakaian dalam kamu di depan pria ini."
"Om ganteng, ya ampun cemburu ya. Gue udah biasa kali, malah kita sering shoping bareng. Gue yang pilihkan pakaian dia termasuk onderdil itu."
"Iya mas, kita kan udah friend. Tapi tenang aja, aku gak pernah ganti baju depan dia ... haram. Dia masih doyan cewek."
"No, sekarang kamu sudah menikah, batasi hubungan kalian."
Ruby dan Meldy terdiam lalu saling tatap, tidak lama mereka terbahak.
"Dia cemburu. Harus patuh Lo sama laki, takut kualat," ujar Meldy.
Ruby merapat, memeluk lengan Bara. "Mas cemburu ya, ih suka deh. Jadi pengen cium."
"Gila Lo, ada bocah." Meldy meninggalkan sofa menyapa Adly.
"Ck, jangan mancing-mancing, bikin sakit kepala aja."
"Mas Bara sakit kepala? Sini aku pijat."
Bara mendengus kesal, membayangkan Ruby melakukan itu. Memijat ....
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭