Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Cuti Militer dan Pesona Singkat di Ujung Pantai
BAB 26: Cuti Militer dan Pesona Singkat di Ujung Pantai
Matahari pagi di kawasan pantai selatan perlahan naik, memantulkan kilau berlian di atas permukaan air laut yang biru jernih.
Hari kedua cuti militer Mayor Aris dan Mayang di vila privat itu dimulai dengan kehangatan yang berbeda dari hari-hari biasanya di Mako Batalyon.
Tidak ada suara alarm barak pukul lima pagi, tidak ada apel siaga, dan tidak ada barisan prajurit yang menunggu instruksi.
Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang tenang dan desiran angin pantai yang menyejukkan.
Mayang terbangun lebih dulu dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menerobos celah gorden putih semi-transparan.
Di sebelah kanannya, Mayor Aris masih terlelap dalam posisi miring, dengan satu lengan kekarnya melingkar erat di pinggang Mayang, seolah takut istrinya itu akan hilang jika ia melepaskannya barang sedetik pun.
Wajah sang Mayor tampak jauh lebih rileks tanpa garis ketegasan militer yang biasanya selalu menghiasi wajah tampannya.
Bekas luka tipis di pelipis kirinya tampak kontras dengan kedamaian ekspresinya saat tidur.
Mayang tersenyum kecil, merasa sangat beruntung bisa melihat sisi lain dari seorang komandan yang dikenal paling ditakuti dan disegani di Batalyon.
Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak membangunkan suaminya, Mayang mencoba melepaskan diri dari lilitan tangan Aris.
Namun, baru saja ia bergeser sedikit, tangan Aris mendadak mengencangkan pelukannya, menarik tubuh Mayang kembali rapat ke dada bidang pria itu.
"Mau kemana, Istriku?" bisik Aris dengan suara serak khas bangun tidur, berat dan terdengar begitu seksi di telinga Mayang. Mata pekat pria itu perlahan terbuka, menatap lekat-lekat ke arah Mayang dengan senyuman tipis penuh kemenangan.
Mayang merona merah, pipinya mendadak terasa panas. "Mas Aris sudah bangun? Lepasin dulu, tangan berat banget kayak barbel barak."
Aris terkekeh rendah, suara tawa yang sangat renyah di pagi hari. Ia justru mendekatkan wajahnya, mengecup singkat ujung hidung Mayang yang tertutup kacamata tipis.
"Mana boleh melepaskan sesuatu yang sudah jadi hak milik sah di hadapan negara dan agama? Tidak ada tugas hari ini, Mayang. Waktunya milik saya sepenuhnya."
"Iya tahu, tapi ini sudah jam delapan pagi, Pak Komandan Cuti," protes Mayang gemas meski ia tidak berusaha melepaskan diri lagi.
"Kita mau sarapan apa di sini? Di vila ini kan tidak ada ibu-ibu Persit yang masakin kita."
"Tenang saja," jawab Aris santai sambil merapikan helaian rambut hitam Mayang yang berantakan di atas bantal.
"Kemarin malam, sebelum kita sampai, saya sudah pesan bahan-bahan makanan segar ke pengelola vila. Hari ini, suami andalanmu ini yang akan memasak sarapan spesial untuk istri tercinta."
Mata Mayang membelalak kaget bercampur tak percaya.
"Hah? Mas Aris bisa masak? Selama di Mako yang saya tahu keahlian Mas Aris cuma manggil pasukan, memberi aba-aba baris-berbaris, atau merakit senjata!"
Aris mengangkat sebelah alisnya, tersenyum penuh percaya diri.
"Jangan meremehkan kemampuan taktis seorang perwira lapangan, Nyonya Aris. Memasak di dapur itu tidak jauh beda strateginya dengan merencanakan taktik pertahanan wilayah. Butuh ketepatan waktu, komposisi bahan, dan eksekusi yang presisi."
Lima belas menit kemudian, keduanya sudah berada di dapur terbuka vila yang menghadap langsung ke arah laut. Aris benar-benar membuktikan ucapannya.
Mengenakan celana pendek santai dan kaos putih polos yang melekat pas di tubuh atletisnya, pria itu tampak sangat cekatan memotong sayuran, memecahkan telur, dan meracik bumbu nasi goreng seafood khusus untuk sarapan pagi mereka.
Mayang duduk di kursi bar kayu sambil memerhatikan suaminya dari dekat.
Sambil menyeruput secangkir teh manis hangat, bibirnya tak henti-hentinya tersenyum melihat betapa telatennya pria yang berhati baja itu memperlakukan wajan dan spatula di depannya.
"Sudah jadi, silakan dicicipi menu spesial dari Mayor Aris," ujar Aris bangga sambil menyajikan dua piring nasi goreng hangat di atas meja makan luar ruangan.
Mayang segera menyuap sesendok nasi goreng buatan suaminya. Matanya langsung berbinar lebar.
"Wah... Mas Aris, ini enak banget! Aslinya kamu jago masak ya? Kenapa waktu di asrama nggak pernah unjuk gigi?"
"Kalau saya tunjukkan keahlian ini dari dulu, nanti ibu-ibu Persit di Mako malah minder karena kalah saing sama Komandannya," canda Aris sambil menarik kursi dan duduk tepat di samping
Mayang, ikut menikmati sarapan mereka dalam suasana pagi yang hangat.
Menjelang siang hari, setelah sarapan dan membereskan dapur bersama, Aris mengajak Mayang keluar dari area vila untuk menjelajahi keindahan alam sekitar pesisir selatan.
Mereka memutuskan menyewa sebuah perahu kayu nelayan tradisional untuk menyeberang ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang terkenal dengan air lautnya yang jernih bagaikan kristal dan terumbu karangnya yang masih sangat terjaga.
Perjalanan menaiki perahu memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Deburan ombak kecil yang menerpa lambung perahu menciptakan cipratan air asin yang segar, sementara angin laut menerbangkan topi pantai yang dikenakan Mayang.
Aris dengan sigap merangkul pundak istrinya, memastikan Mayang duduk dengan aman dan nyaman di atas papan kayu perahu.
Setibanya di pulau kecil tersebut, dunia terasa benar-benar milik mereka berdua.
Tidak ada jejak manusia lain selain hamparan pasir putih bersih yang membentang luas dan deretan pohon kelapa yang melambai-lambai tertiup angin.
"Tempat ini luar biasa, Mas," seru Mayang gembira begitu kakinya menginjak pasir putih yang lembut.
Ia langsung melepaskan sandal-sandalnya, berjalan bebas menyusuri bibir pantai sambil membiarkan ombak kecil menggelitik pergelangan kakinya.
Aris berjalan di belakangnya sambil membawa perlengkapan kecil dan handuk, memperhatikan setiap langkah istrinya dengan senyuman tulus di wajahnya. Bagi Aris, melihat tawa lepas
Mayang seperti ini adalah bayaran yang jauh lebih mahal daripada seluruh bintang jasa atau kenaikan pangkat militer yang pernah ia terima selama berkarier di dunia militer.
"Mayang!" panggil Aris dari agak jauh.
Mayang berbalik, memiringkan kepalanya bingung. "Ada apa, Mas?"
Tanpa aba-aba, Aris berlari kecil mendekat, lalu dalam satu gerakan cepat, ia mengangkat tubuh mungil Mayang ke dalam gendongannya.
Mayang terpekik kaget, refleks melingkarkan kedua tangannya ke leher Aris sambil tertawa renyah.
"Mas Aris! Ih, turunin! Nanti aku jatuh ke air!" protes Mayang pura-pura ngambek meski sudut bibirnya tak bisa menahan senyum lebar.
"Tidak akan saya turunkan sebelum kamu janji jawab satu pertanyaan saya," kata Aris dengan nada suara yang sengaja dibuat serius.
"Pertanyaan apa?"
Aris menatap mata Mayang lekat-lekat, membiarkan deburan ombak kecil membasahi kaki mereka berdua.
"Selama satu tahun kita terpisah jarak, saat kamu harus menghadapi hari-hari berat di Mako sendirian, apakah kamu pernah sedikit pun meragukan cinta saya?"
Pertanyaan itu seketika meredakan gelak tawa mereka.
Suasana berubah menjadi hangat dan sarat akan emosi yang mendalam. Mayang menatap manik mata hitam suaminya yang memancarkan ketulusan mutlak.
Ia merapikan sedikit helian rambut Aris yang terkena angin pantai, lalu menggeleng pelan.
"Tidak pernah, Mas," jawab Mayang dengan suara lembut yang terdengar sangat mantap.
"Meskipun jarak kita ribuan kilometer dan badai perbatasan mengancam setiap detik, hati Mayang tahu persis di mana rumah yang sebenarnya. Rumah Mayang ada di sini, di dalam dekapan pria paling keras kepala yang pernah ada."
Mendengar jawaban tulus itu, senyuman paling manis terukir di wajah Aris. Ia menurunkan tubuh Mayang secara perlahan hingga kakinya kembali menyentuh pasir.
Namun, jarak di antara mereka kini begitu dekat begitu dekat hingga napas mereka berdua seolah menyatu dengan hembusan angin laut.
Aris menangkup wajah Mayang dengan kedua tangan kasarnya, ibu jarinya mengusap lembut pipi sang istri yang tersiram cahaya matahari siang.
Dan di bawah langit biru pulau terpencil yang tenang, Aris mencium bibir Mayang dengan penuh kelembutan, menyalurkan seluruh rasa rindu, cinta, dan janji kesetiaan abadi yang tidak akan pernah luntur oleh tugas negara maupun waktu.
Hari kedua cuti itu ditutup dengan kebahagiaan yang sempurna, memperkuat fondasi cinta mereka sebelum kembali menghadapi ritme kehidupan militer yang disiplin di Mako Batalyon minggu depan.