Lilith pernah percaya bahwa cinta pertamanya akan menjadi rumah. Namun sebuah taruhan kejam, pernikahan yang dingin, dan kehilangan putri kecilnya menghancurkan seluruh hidup yang ia kenal. Dengan hati yang patah, ia meninggalkan masa lalu dan membangun ulang dirinya di Milan, berusaha hidup tanpa berharap pada cinta lagi.
Lalu Alessandro Morelli Conti masuk ke hidupnya. Ia berbahaya, berkuasa, dan ditakuti sebagai pemimpin Cosa Nostra. Namun di balik nama besar dan dunia gelap yang mengikutinya, Alessandro melihat luka Lilith tanpa memaksanya sembuh. Ia menawarkan perlindungan, kesabaran, dan cinta yang tidak perlu disembunyikan.
Saat rahasia lama keluarga, perang mafia, dan bayang-bayang masa lalu kembali mengejar, Lilith harus memilih: tetap menjadi perempuan yang hancur oleh kehilangan, atau berdiri sebagai wanita yang dicintai, dilindungi, dan akhirnya berani merebut kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Narasi Alessandro
Aku sedang di dalam mobil, pulang dari rapat dengan Pietro, ketika salah satu pria yang bertanggung jawab atas keamanan Lilith berbicara lewat radio.
"Bos, kami punya situasi."
Seluruh tubuhku langsung siaga.
"Apa yang terjadi?"
"Liam Vanderbilt ada di apartemen Nona Lilith."
Rahangku mengeras.
Selama beberapa detik aku tidak menjawab.
Liam.
Mantan suami.
Pria yang menghancurkan hidupnya.
Pria yang membuatnya menderita.
Pria yang meninggalkan putrinya sendiri.
Apa yang ia lakukan di sana?
Aku sempat melihat pria itu lebih awal masuk ke gedung, tetapi aku tidak membayangkan Lilith akan mengizinkannya naik.
Aku mencengkeram setir.
"Dia sendirian?"
"Negatif."
"Dia datang bersama seorang wanita."
Itu membuatku mengernyit.
Seorang wanita?
Aneh.
Namun hal itu tidak mengurangi kekesalanku.
Aku menginjak pedal gas.
"Terus awasi."
"Siap, Bos."
Sisa perjalanan terasa berlangsung selamanya.
Ketika akhirnya aku tiba di gedung, aku langsung naik ke apartemen.
Begitu pintu terbuka, aku menemukan Liam di dekat pintu keluar.
Di sampingnya berdiri seorang wanita pirang bermata biru.
Mungkin pacarnya.
Pandanganku melintas cepat kepadanya.
Lalu jatuh pada Liam.
Tak satu pun dari kami berkata apa-apa.
Tidak perlu.
Aku tahu siapa dia.
Dan ia tahu persis siapa aku.
Aku berjalan melewatinya.
Menuju Lilith.
Kutarik ia ke dalam pelukanku.
Sikap posesif?
Mungkin.
Namun terutama protektif.
Karena wanita itu adalah keluargaku.
"Kamu baik-baik saja, sayang?"
Ia mengangguk.
"Aku baik-baik saja."
Baru saat itu aku menyadari sebuah kotak di atas meja.
Kotak tua.
Aus dimakan waktu.
Instingku langsung terbangun.
"Apa yang dia inginkan?"
Lilith menghela napas.
"Duduklah, ceritanya panjang."
Itu persis yang kulakukan.
Aku duduk di sampingnya.
Dan mendengarkan semuanya.
Mimpi itu.
Victoria.
Rumah lama Franklin.
Kotak itu.
Pesannya.
Saat ia bercerita, aku kesulitan menentukan bagian mana yang paling tidak masuk akal.
Namun setelah semua yang kujalani di dalam mafia, aku belajar satu hal.
Yang mustahil tidak selalu mustahil.
Ketika ia selesai, aku memandang kotak itu.
"Kamu akan membukanya?"
Ia menatap benda itu selama beberapa detik.
Lalu mengangguk.
"Ya."
Ia mendekat perlahan.
Tangannya gemetar.
Ia membuka tutupnya.
Isi pertama adalah foto-foto.
Banyak foto.
Ratusan.
Kami mulai menyebarkannya di atas meja.
Ada foto Lilith saat bayi di pelukan Franklin.
Foto bersama Ana Cristina.
Foto ulang tahun.
Foto saat ia tersenyum.
Foto saat ia bermain.
Momen-momen dari masa kecil yang bahagia.
Namun kemudian kami menemukan sesuatu yang berbeda.
Sebuah foto langsung menarik perhatian kami.
Di dalamnya ada seorang wanita yang sangat mirip dengan Lilith.
Mata yang sama.
Bentuk wajah yang sama.
Rambut cokelat yang sama.
Wanita itu menggendong seorang bayi.
Dan di sampingnya ada bayi lain.
Kembar.
Lilith menutup mulut dengan tangan.
"Ya Tuhan..."
Aku tahu.
Wanita itu pasti ibu kandungnya.
Lalu kami menemukan sebuah surat.
Amplopnya sudah tua.
Di bagian depan hanya ada satu nama.
Lilith.
Ia membukanya.
Membaca baris-baris pertama.
Dan mulai menangis.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia menarik napas dalam.
Mencoba melanjutkan.
Namun tidak mampu.
"Alessandro..."
Suaranya gagal.
"Aku tidak bisa."
Aku mengambil surat itu.
"Mau aku bacakan?"
Ia hanya mengangguk.
Kubuka kertas itu.
Aku menarik napas dalam.
Dan mulai membaca.
"Lilith tersayang.
Jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di sini untuk mengatakan kebenaran secara langsung.
Sebelum apa pun, aku ingin kamu tahu bahwa kamu selalu dicintai.
Selalu.
Kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.
Ana Cristina juga mencintaimu seperti putrinya sendiri sejak detik pertama.
Ia tidak pernah mencoba menggantikan siapa pun.
Ia hanya memilih untuk mencintaimu."
Lilith mulai menangis lebih keras.
Aku terus membaca.
Franklin menjelaskan semuanya.
Ia menceritakan bahwa Ana Cristina bukan ibu kandung Lilith.
Bahwa ia juga bukan ayah kandung Lilith.
Ia menceritakan bagaimana mereka menerima anak itu.
Bagaimana mereka berjanji melindunginya.
Bagaimana mereka memutuskan membesarkannya sebagai putri mereka.
Tanpa pembedaan.
Tanpa rahasia.
Tanpa kepentingan.
Hanya cinta.
Ketika aku tiba di bagian akhir, perutku terasa berputar.
Karena di sanalah pengungkapan itu.
"Kamu punya saudari kembar.
Saat kamu dipisahkan darinya, kami tidak punya cara untuk menemukannya.
Informasi terakhir yang kami miliki adalah bahwa ia ditinggalkan di sebuah panti asuhan di Brasil."
Nama panti asuhan itu tertulis di sana.
Ketika aku selesai membaca, apartemen tenggelam dalam hening.
Lilith tampak tidak mampu bernapas.
"Ayahku..."
Ia menangis.
"Dia tahu semuanya."
"Ya."
"Dan tidak pernah memberitahuku."
"Dia ingin melindungimu."
Ia menundukkan kepala.
"Seluruh hidupku adalah kebohongan."
Aku memegang wajahnya.
"Tidak."
Ia menatapku.
"Bagaimana bisa tidak?"
"Karena Franklin adalah ayahmu."
"Ana Cristina adalah ibumu."
"Mereka mencintaimu."
"Itu tidak pernah menjadi kebohongan."
Matanya kembali dipenuhi air mata.
Lalu tibalah saat yang paling sulit.
Aku menarik napas dalam.
"Sayang..."
"Ya?"
"Aku harus menceritakan beberapa hal."
Ia langsung melihat dari ekspresiku bahwa ini tidak akan sederhana.
"Baiklah."
Aku menceritakan semuanya.
Mulai dari Boris Volkov.
Mulai dari Maria Vitoria.
Mulai dari bantuan yang diberikan ibuku untuk menyembunyikan anak-anak perempuan itu.
Mulai dari temuan Pietro.
Sampai fakta bahwa Kiara adalah saudari kembarnya.
Ketika aku mengatakan itu, ia membeku.
Benar-benar membeku.
"Apa?"
"Kiara adalah saudarimu."
Keheningan yang mengikuti terasa mutlak.
Lalu ia mulai menangis.
Namun kali ini berbeda.
Itu emosi.
Itu kebahagiaan.
"Saudariku..."
Ia tersenyum di antara air mata.
"Aku menemukan saudariku."
Hal itu membuatku tersentuh lebih daripada yang ingin kuakui.
Namun masih ada lagi.
Aku bercerita tentang Maria Vitoria.
Aku bercerita bahwa ia masih hidup.
Aku bercerita tentang Mabel.
Adik perempuannya.
Dan akhirnya aku bercerita tentang Viktor.
Wajah Lilith kehilangan seluruh warnanya.
"Dia ingin membunuhku?"
"Ya."
"Tapi kenapa?"
Saat itulah kami menemukan amplop lain.
Amplop itu tersembunyi di dasar kotak.
Tua.
Menguning.
Namun ada sesuatu yang langsung menarik perhatianku.
Sebuah segel.
Lambang keluarga Volkov.
Jantungku menghentak.
"Tunggu."
Aku mengambil amplop itu.
Di bagian depan ada kalimat yang tertulis dalam bahasa Rusia.
"Untuk gadis-gadisku."
Lilith menyerahkannya kepadaku.
"Buka."
Begitu aku mengeluarkan dokumen-dokumennya, bulu kudukku meremang.
Ada kontrak.
Catatan resmi.
Akta.
Tanda tangan.
Dokumen asli.
Dan sebuah surat.
Ditandatangani oleh Boris Volkov.
Aku mulai membaca.
Seiring mataku menyusuri baris-barisnya, ekspresiku berubah.
Sampai aku berhenti.
Lilith menyadarinya.
"Alessandro?"
Aku mengangkat mata.
"Ya Tuhan."
"Apa?"
Aku terus membaca.
Dan sisanya membuat darahku membeku.
Boris menegaskan bahwa Lilith dan Kiara adalah satu-satunya putri kandungnya.
Ia menegaskan bahwa Viktor bukan putranya.
Sebenarnya, Viktor adalah putra juru masak di rumah itu.
Seorang anak laki-laki yang ia besarkan sebagai ahli waris karena ia percaya tidak akan pernah menemukan anak-anak perempuannya.
Namun Boris juga menuliskan sesuatu yang mengerikan.
Ia tahu Viktor ambisius.
Ia tahu, jika Viktor mengetahui keberadaan ahli waris yang sebenarnya, pria itu akan mencoba melenyapkan mereka.
Karena itu ia menyembunyikan seluruh dokumentasi tersebut.
Sebagai semacam jaminan.
Ketika aku selesai, aku menatap kertas-kertas itu selama beberapa detik.
Tidak percaya.
"Alessandro..."
Suara Lilith bergetar.
"Ada apa?"
Aku menatapnya langsung.
"Viktor tidak berusaha membunuh kalian hanya karena balas dendam."
"Lalu kenapa?"
Aku menarik napas dalam.
"Karena semuanya milik kalian."
Ia berkedip.
Bingung.
"Maksudmu?"
Aku mengangkat dokumen-dokumen itu.
"Properti."
"Rekening."
"Perusahaan."
"Saham."
"Bahkan Bratva."
Mata Lilith melebar.
"Apa?"
"Kalian adalah ahli waris sejati Boris Volkov."
Keheningan terasa menghancurkan.
Lalu kenyataan itu masuk.
Bagiku.
Baginya.
Bagi semua orang.
Viktor bukan ahli waris sah.
Tidak pernah.
Ia hanyalah penipu yang menduduki takhta yang bukan miliknya.
Takhta yang menjadi milik Lilith dan Kiara.
Dan itu membuat semuanya jauh lebih berbahaya.
Karena sekarang aku tahu persis apa yang akan Viktor lakukan.
Ia tidak akan menyerah.
Tidak akan bernegosiasi.
Tidak akan mundur.
Pria seperti dia tidak menyerahkan kekuasaan.
Pria seperti dia membunuh untuk mempertahankannya.
Aku memandang tunanganku.
Wanita yang kucintai.
Wanita yang memikul warisan yang tidak pernah ia minta.
Dan pada saat itu aku membuat janji diam-diam.
Tidak peduli berapa banyak prajurit yang Viktor miliki.
Tidak peduli berapa banyak negara yang harus kami lewati.
Tidak peduli berapa banyak perang yang diperlukan.
Ia tidak akan pernah menyentuh Lilith.
Karena sekarang ini bukan sekadar perselisihan antar mafioso.
Ini urusan keluarga.
Dan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.