Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan
Udara sore yang mulai mendingin merayap masuk lewat celah jendela kayu ruang tamu Bu Gendis, membawa serta rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Biasanya, ruangan ini selalu terasa hangat, beraroma wangi kopi yang baru diseduh, berbaur dengan semerbak bunga melati yang tersusun rapi di dalam vas keramik tua. Namun sore itu, segalanya terasa berbeda, udara seolah membeku, menekan dada siapa pun yang berada di sana, membuat napas terasa berat dan sesak.
Suasana di ruang tengah itu terasa jauh lebih mencekam dan menegangkan dibandingkan hari-hari biasanya, sejak saat Mawar dan Gala menyampaikan keinginan besar yang seolah meledakkan ketenangan rumah itu.
Ketiga orang itu saling berpandangan dalam keheningan yang panjang dan berat. Mata mereka bertemu, namun bibir terkunci rapat seolah tak ada satu kata pun yang berani keluar lebih dulu, seolah setiap ucapan yang terlantar akan menjadi senjata yang melukai satu sama lain. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah detak jarum jam dinding kayu tua, yang berdentang berirama pelan namun nyaring, terus menambah rasa sesak yang semakin erat menjerat dada.
"Bukannya Ibu menentang hubungan kalian atau tidak suka padamu, Gala," akhirnya Bu Gendis memecah keheningan itu. Suaranya rendah, namun setiap kata yang terucap terasa tajam dan menusuk, berbaur dengan nada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan sama sekali. "Tapi Mawar masih terlalu muda untuk menikah. Usianya belum genap tujuh belas tahun, masih sangat muda dan belum tahu betul beratnya dunia luar. Lagipula, Gala, kau belum punya pekerjaan tetap, belum punya penghasilan yang pasti. Dari mana nanti kalian akan makan? Bagaimana kalian bisa bertahan hidup, membiayai kebutuhan sehari-hari, apalagi membangun rumah tangga?"
Mawar menegakkan punggungnya perlahan, tatapan matanya tenang namun tak goyah sedikit pun. Di dalam hatinya, ia tahu betul bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan emas untuk lari dan menjauh dari bayang-bayang masa lalu yang pahit—dari tatapan, ancaman, dan kejahatan Bima yang selalu menghantui setiap sudut rumah ini, setiap sudut kamarnya, bahkan setiap detik napas yang ia hirup. Menikah dan pergi adalah jalan satu-satunya agar ia bisa kembali bernapas dengan lega.
"Semua hal itu sudah kami pikirkan matang-matang, Bu. Kami tidak berniat hidup bersandar pada keberuntungan saja. Setelah menikah nanti, kami berencana berangkat ke kota besar, mencari pekerjaan apa saja yang halal dan jujur. Kami yakin pasti bisa sukses dan membangun kehidupan yang layak, asalkan kami saling menguatkan, saling membantu, dan tidak mudah menyerah," jawab Mawar mantap, suaranya tenang namun berisi tekad yang kokoh.
Wajah Bu Gendis seketika berubah menjadi tegas dan keras. Kepalanya menggeleng kuat hingga sanggul rambutnya yang rapi sedikit bergerak berantakan.
"Tidak! Ibu tidak setuju sama sekali!" Wanita paruh baya itu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya meninggi, bergema di seisi ruangan.
"Kamu adalah putri bungsu kesayangan Ibu, Nak. Kamu adalah harta paling berharga yang Ibu miliki. Kalau pun nanti kamu sudah menikah, kamu tidak boleh melangkah keluar dari rumah ini! Tetaplah tinggal bersama Ibu, jangan pergi jauh-jauh, jangan meninggalkan Ibu sendirian di sini. Di sini tempatmu aman, di sini tempatmu terlindungi," lanjut Bu Gendis, nada bicaranya berubah menjadi lembut namun tetap berisi larangan yang mutlak.
Mawar tersentak mundur selangkah, seolah baru saja menerima tamparan keras tepat di wajahnya. Matanya terbelalak lebar, napasnya tercekat di tenggorokan hingga ia sulit bernapas.
"Kalau setelah menikah pun aku tetap harus tinggal di sini, lalu apa gunanya semua ini? Apa gunanya aku menikah? Apakah aku harus terus bernapas, tidur, dan hidup di tempat yang penuh luka, noda, dan ketakutan selamanya? Apakah aku harus terus berhadapan dengan mimpi buruk itu setiap kali dia datang berkunjung?" jerit hati Mawar, rasa sakit dan keputusasaan berputar liar di dalam dadanya.
Saat keheningan berat itu hampir kembali melumpuhkan segalanya, Gala memberanikan diri melangkah maju selangkah. Tangan dan kakinya gemetar hebat di balik pakaian sederhana yang ia kenakan, karena ia tahu betul siapa yang sedang ia hadapi, namun ia berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar mantap, berwibawa, dan tegas.
"Mohon maaf, Bu. Saya tidak setuju dengan hal itu. Setelah menikah nanti, tanggung jawab atas diri Mawar sepenuhnya ada di pundak saya sebagai suami. Dia berhak tinggal bersama saya, di tempat yang kami pilih, tempat di mana kami bisa membangun kehidupan kami sendiri," ucap Gala lantang.
Bu Gendis menatap tajam ke arah pemuda itu, rahangnya mengeras kuat, urat-urat di lehernya mulai terlihat menonjol menahan amarah yang meluap.
"Di mana kamu mau bawa dia tinggal? Di gubuk reyot milikmu yang bocor kena hujan dan berdebu saat kemarau itu?!" nada bicara Bu Gendis berubah tajam, kasar, dan penuh penghinaan yang menusuk hati.
"Mawar terbiasa hidup enak, makan makanan bergizi, tidur di atas kasur empuk, hidup nyaman dan tenang sejak kecil. Kalau kamu bawa dia ke tempatmu yang miskin dan susah itu, itu namanya bukan membahagiakan, tapi menyiksa! Kamu hanya akan membuatnya menderita!" lanjut Bu Gendis, suaranya meninggi kembali.
Gala menelan ludah dengan susah payah, rasa malu dan sakit hati terasa menusuk tajam, namun ia tidak menunduk, tidak juga memalingkan wajah. Tatapannya tetap bertemu tajam dengan pandangan Bu Gendis, penuh ketulusan dan keyakinan.
"Saya tahu keadaan saya saat ini belum seberapa, Bu. Tapi saya berjanji, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membangun rumah yang layak, tempat tinggal yang nyaman dan aman buat Mawar. Beri saya waktu beberapa bulan saja, saya tidak akan ingkar janji, saya tidak akan membiarkan dia menderita," Gala mengangkat kedua tangannya ke dada, seolah sedang bersumpah di hadapan langit.
Mawar segera menyentuh lengan Gala dengan lembut, suaranya bergetar bercampur rasa takut, cemas, dan kasih sayang.
"Gala, jangan bicara sembarangan. Kau tahu sendiri keadaan sekarang, di zaman sulit dan paceklik begini, mencari makan saja sudah sangat susah, apalagi mengumpulkan uang untuk membangun rumah. Aku tidak mau kau bersusah payah, kelelahan, atau terjerat masalah berat hanya demi aku. Lebih baik... lebih baik kita batalkan saja rencana ini," ucap Mawar pelan, berharap pemuda itu mau mundur selangkah agar tidak ikut terseret ke dalam penderitaan dan masalah besar yang selama ini ia tanggung sendirian.
Gala menoleh perlahan ke arahnya, matanya terlihat terluka, penuh kekecewaan yang mendalam namun juga penuh ketegasan. Kemudian ia menggenggam bahu gadis itu lembut namun kuat, seolah ingin menanamkan kekuatan ke dalam dirinya.
"Mawar, apakah kau tidak percaya kalau aku bisa menepati janjiku?"
"Aku... aku percaya padamu... hanya saja... aku takut kau menderita karenaku..." ucapan Mawar terputus, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Kalau begitu, percayai saja aku. Biarkan aku yang berjuang untukmu," potong Gala dengan nada meyakinkan. Ia kembali menatap Bu Gendis dengan pandangan mantap.
"Besok pagi saya berangkat ke kota. Saya akan cari pekerjaan. Saya akan kumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai cukup untuk membangun rumah dan menafkahi keluarga. Baru setelah itu saya kembali ke sini, datang melamarmu dengan benar dan pantas."
Bu Gendis mengamati mereka berdua dalam waktu yang cukup lama, matanya meneliti setiap ekspresi, menimbang ketulusan yang terpancar jelas dari mata Gala, ketulusan yang tak pudar sedikit pun meski sudah dihina, direndahkan, dan ditentang sedemikian rupa. Akhirnya wanita paruh baya itu menghela napas panjang, napas berat yang terdengar seperti menyerah sebagian dari keteguhan hatinya.
"Baiklah," ucap Bu Gendis akhirnya, lalu ia mengeraskan kembali nada bicaranya menjadi tegas dan jelas.
"Karena perasaanmu pada Mawar terlihat cukup tulus, dan keinginanmu cukup kuat, Ibu beri kamu waktu tiga bulan. Tidak lebih, tidak kurang. Jika sampai batas waktu itu habis sedangkan uang dan rumah layak belum kau miliki, kau harus melupakan Mawar, menjauh darinya untuk selamanya, dan tak boleh bertemu lagi atau mengganggu hidupnya."
"Setuju!" Gala menjawab cepat, tanpa keraguan sedikit pun, dan segera mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman sebagai tanda perjanjian yang sah.
Tiba-tiba Mawar melangkah maju berdiri tepat di depan mereka, menahan kedua pergelangan tangan itu agar tidak bersentuhan. Tatapan Mawar yang semula ragu dan lembut kini berubah tajam.
"Tunggu dulu," seru Mawar lantang dan tegas. "Gala sudah berjanji dan siap menanggung syarat berat itu. Kalau mau adil, Ibu pun harus berjanji sesuatu pada kami."
Bu Gendis tersentak kaget, matanya membelalak tak percaya. Ia menunjuk ke arah Mawar dengan tangan yang gemetar penuh amarah, wajahnya memerah padam menahan kemarahan yang meluap-luap.
"Mawar! Demi pria rendahan ini, kau sampai berani melawan Ibu?! Kau berani menawar syaratku?!" Bu Gendis memukul-mukul dadanya yang terasa sesak karena marah.
"Aku tidak bermaksud melawan atau membangkang, Bu. Aku hanya minta keadilan saja, supaya perjanjian ini seimbang dan jujur," jawab Mawar, suaranya melembut sedikit namun kakinya tak mundur selangkah pun. Bahkan ada nada memelas yang bercampur dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
Hening sejenak, lalu Bu Gendis mendengus kasar, duduk kembali bersandar di kursi kayu sambil mengibaskan tangan seolah tak peduli.
"Baiklah. Katakan apa maumu. Apa yang kau minta dariku?"
Mawar menegakkan tubuh sepenuhnya, menatap lurus ke manik mata sang ibu, matanya berbinar berani.
"Aku mau Ibu berjanji, kalau Gala berhasil menepati janjinya dalam waktu tiga bulan ini, maka Ibu akan mengizinkan aku pergi dari rumah ini, tinggal bersama Gala, dan tidak akan pernah ikut campur urusan rumah tangga kami nanti. Tak ada larangan, tak ada aturan yang mengikatku lagi, tak ada alasan apa pun yang membuat aku harus kembali tinggal di sini."
Kalimat yang sudah tersusun rapi dan terukir lama di kepala Mawar akhirnya meluncur keluar dengan lantang, tanpa ragu dan tanpa takut.
Tangan Bu Gendis masih terangkat menunjuk ke arah sang putri, dadanya naik turun hebat menahan amarah yang hampir meledak. Mulutnya terbuka hendak membentak keras, namun kata-kata itu terhenti di tenggorokan, tertahan oleh kenyataan bahwa ia tidak punya alasan kuat untuk menolak permintaan yang terdengar wajar itu.
Bersambung...