Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang mulai terkuak
Beberapa hari setelah konfrontasi Nindi dengan ayahnya, Rafael memutuskan untuk menemui Nindi secara langsung tanpa sepengetahuan Om Hensa, sebuah pertemuan yang dia atur sendiri dengan alasan ingin membicarakan situasi yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Nindi, yang awalnya enggan, akhirnya setuju bertemu di sebuah kafe demi menyelesaikan kesalahpahaman yang mungkin terjadi.
"Nindi, aku denger kamu nolak rencana pertunangan kita. Boleh aku tau alasannya?" tanya Rafael setelah mereka duduk berhadapan, nada suaranya masih terdengar tenang meski ada sedikit ketegangan yang tersirat di baliknya.
"Rafael, aku rasa kamu orang baik, tapi aku nggak punya perasaan itu ke kamu. Aku udah punya orang lain yang aku cintai," jawab Nindi dengan jujur, berharap penjelasan tersebut bisa membuat Rafael memahami situasinya tanpa harus memperpanjang konflik yang tidak perlu.
Mendengar jawaban tersebut, ekspresi Rafael berubah, topeng ramah yang selama ini dia tunjukkan mulai memudar, menampakkan sisi yang jauh lebih dingin dan penuh perhitungan. "Nindi, kamu pikir ini cuma soal perasaan? Kamu nggak paham situasi sebenarnya."
"Maksud kamu apa?" tanya Nindi dengan alis yang mengerut, merasakan kejanggalan dalam nada bicara Rafael yang tiba-tiba berubah tersebut.
"Om kamu, Hensa, udah janjiin saham perusahaan kamu ke keluarga aku kalau pernikahan ini terjadi. Ini bukan cuma soal cinta, Nindi, ini soal bisnis besar yang udah disusun sejak lama," ungkap Rafael dengan nada yang mulai menunjukkan ketidaksabarannya, secara tidak sengaja membocorkan sebagian dari rencana besar yang selama ini disembunyikan dari Nindi.
Pengakuan tersebut membuat Nindi terkejut bukan main, menyadari bahwa dugaannya selama ini mengenai adanya agenda tersembunyi di balik perjodohan tersebut ternyata benar adanya. "Jadi ini semua emang cuma settingan bisnis? Kamu juga tau soal rencana Om aku?"
Rafael, yang menyadari dirinya sudah terlanjur membocorkan informasi penting tersebut, mencoba menutupinya dengan berbagai alasan. "Bukan gitu maksud aku, Nindi. Aku emang tau soal kesepakatan bisnis itu, tapi aku beneran mau serius sama kamu juga."
"Nggak, Rafael. Aku nggak percaya lagi sama kamu. Kamu cuma pengen saham perusahaan aku, bukan beneran cinta sama aku," bantah Nindi dengan tegas, merasa dikhianati oleh kepalsuan yang selama ini disembunyikan dengan begitu rapi oleh pemuda tersebut.
Rafael terdiam sejenak, menyadari bahwa strategi pendekatannya telah gagal total akibat kecerobohannya sendiri. "Nindi, dengerin dulu. Kalau kamu nolak pernikahan ini, kamu nggak cuma bikin masalah buat aku, tapi juga buat Om Hensa kamu sendiri. Ada hal-hal yang nggak kamu ketahui soal kondisi keuangan perusahaan keluarga kamu."
"Maksud kamu apa lagi sekarang?" tanya Nindi dengan nada semakin waspada, merasakan bahwa ada lapisan kebenaran yang jauh lebih dalam dan berbahaya dari yang selama ini dia ketahui.
Namun Rafael, yang menyadari dirinya sudah terlalu banyak bicara, buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. "Nggak, nggak ada apa-apa. Aku cuma bilang, pikirin baik-baik keputusan kamu ya."
Pertemuan tersebut berakhir dengan Nindi yang meninggalkan kafe dengan pikiran yang dipenuhi kecurigaan mendalam mengenai kebenaran sesungguhnya di balik seluruh rencana perjodohan tersebut. Dia segera menghubungi Karin untuk menceritakan kejadian mengejutkan yang baru saja dia alami, menyadari bahwa mereka berdua harus mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Om Hensa dari seluruh anggota keluarga Prameswari.
"Rin, aku baru aja denger dari Rafael sendiri kalau Om Hensa udah janjiin saham perusahaan buat keluarga Rafael kalau pernikahan ini terjadi. Ini pasti ada hubungannya sama sesuatu yang lebih besar," ujar Nindi dengan nada penuh kekhawatiran, menyadari bahwa dia baru saja menemukan petunjuk penting yang bisa mengungkap kebenaran gelap yang selama ini tersembunyi rapi di balik kepercayaan penuh yang diberikan ayahnya kepada Om Hensa, sebuah kebenaran yang akan segera membawa mereka pada pengungkapan yang jauh lebih mengejutkan dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
"Nin, kalau bener ada janji saham kayak gitu, berarti ini bukan sekadar perjodohan biasa. Pasti ada sesuatu yang Om Hensa kamu coba tutupin," ujar Karin melalui telepon, ikut merasa cemas dengan perkembangan yang semakin rumit tersebut.
"Aku juga mikir gitu, Rin. Tapi aku bingung, gimana caranya aku bisa cari tau lebih lanjut tanpa bikin Om aku curiga," jawab Nindi, mempertimbangkan berbagai cara untuk menyelidiki kebenaran yang mulai terkuak sedikit demi sedikit tersebut.
"Coba deh, kamu perhatiin dokumen-dokumen perusahaan yang biasa ada di ruang kerja Papa kamu. Mungkin ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk," saran Karin, memberikan ide yang meski terdengar berisiko, mungkin menjadi satu-satunya cara untuk mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi tersebut.
Nindi menghela napas panjang, menyadari bahwa langkah yang harus dia ambil selanjutnya akan membawa risiko besar, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga berpotensi mengungkap sesuatu yang jauh lebih gelap mengenai kondisi sesungguhnya bisnis keluarganya, sebuah kebenaran yang mungkin akan mengubah segalanya, termasuk hubungannya dengan sang ayah yang selama ini begitu dia percayai meski sering kali mengabaikan perasaannya sendiri.